Metodologi Tafsir Al-Baghowi (w. 510 H)
Nama Mufassir
Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud yang dikenal sebagai
Al-Farro’ Al-Baghowi, Muhyi As-Sunnah (Penghidup Sunnah), Sang Imam, Al-Hafizh.[1]
Nama Tafsirnya
معالم التنزيل في تفسير القرآن
Ma’alim
At-Tanzil fii Tafsiril
Qur’an.
Deskripsi Umum Tafsir
Ia membahas ayat dengan kalimat yang mudah dan ringkas.
Tafsirnya ini aslinya adalah ringkasan dari tafsir Ath-Tsa’alibi, namun
ia menjaga tafsirnya dari pendapat-pendapat bid’ah dan Hadits-Hadits maudhu’
(palsu)—sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H)
dalam Muqoddimah fi Ushul At-Tafsir (halaman 76)—dan ia menukil
perbedaan pendapat dari kalangan Salaf dalam tafsir tanpa me-rojih-kan
(menguatkan) satu riwayat pun atas riwayat yang lain.
Aqidahnya
Ia adalah Salafi dalam ‘aqidah (keyakinan). Ia menetapkan
bagi Alloh apa yang Alloh tetapkan untuk diri-Nya berupa Nama dan Sifat.
ia telah
menetapkan hal itu dalam muqoddimah (kata pengantar) kitabnya yang
berharga, Syarh As-Sunnah. Dalam tafsirnya, yang dominan adalah
penetapan (sifat-sifat Alloh), namun terjadi ta’wil darinya dalam
beberapa Shifat (sifat), seperti Ar-Rohmah (kasih sayang), Al-Haya’ (malu), dan
Al-Ghodhob (marah). Ia men-ta’wil Ar-Rohmah dengan kehendak Alloh akan
kebaikan bagi ahlinya (1/12), men-ta’wil Al-Haya’ dengan meninggalkan
dan mencegah (1/42), dan Al-Ghodhob dengan kehendak untuk membalas (1/3).
Sikapnya terhadap Sanad
Ia menukil apa yang datang dari kalangan Salaf dalam
menafsirkan ayat-ayat tanpa menyebutkan sanad pada umumnya, karena ia telah
menyebutkan sanad-sanadnya kepada mereka di muqoddimah tafsirnya. Ia
berhati-hati dalam menjaga keshohihan apa yang ia sandarkan kepada Rosululloh ﷺ pada umumnya, dan ia berpaling dari Hadits-Hadits munkar dan maudhu’
(palsu), namun terkadang ia meriwayatkan dari Al-Kalbi dan rowi dho’if
(lemah) lainnya.
Sikapnya terhadap Hukum Fiqih
Ia membahas masalah-masalah Fiqih dengan gaya bahasa yang
mudah, dan menukil perbedaan pendapat tanpa bertele-tele.
Sikapnya terhadap Qiro’at
Ia membahas penyebutan qiro’at tanpa berlebihan.
Sikapnya terhadap Isro’iliyyat
Ia menyebutkan sebagian Isro’iliyyat dan tidak
mengomentarinya.
Sikapnya terhadap Syair, Bahasa, dan Nahwu
Ia menghindari pembahasan yang meluas dalam masalah i’rob
(analisis tata bahasa) dan poin-poin balaghoh (retorika), dan ia hanya
menyebutkan hal-hal yang penting untuk mengungkap makna ayat.
[1] Biografinya terdapat
dalam: Tadzkiroh Al-Huffazh (1257), Al-Bidayah wan Nihayah
(12/193), Syadzarot Adz-Dzahab (4/33), Thobaqot
Al-Mufassirin karya Ad-Dawudi (1/171-172), Mu’jam Al-Mufassirin
(1/161).
