Metodologi Tafsir Al-Mawardi (w. 450 H)
Nama Mufassir
Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Mawardi Al-Bashri
Asy-Syafi’i.[1]
Nama Kitab
النكت والعيون
An-Nukat wal ‘Uyun.
Aqidahnya
Ia adalah muawwil (orang yang melakukan ta’wil),
seorang Asy’ari. Ia memenuhi kitabnya dengan ta’wil. Di beberapa tempat
dalam kitabnya, ia memilih pendapat Mu’tazilah dan apa yang mereka bangun di
atas prinsip-prinsip mereka yang rusak. Ia juga sepakat dengan mereka dalam
masalah qodar (takdir). Oleh karena itu, Adz-Dzahabi (w. 748 H) berkata dalam Al-Mizan:
“Ia jujur pada dirinya sendiri, tetapi ia adalah seorang Mu’tazili.”
Sikapnya terhadap Sanad
Ia tidak menyebutkan sanad, dan ia tidak menisbatkan riwayat
kepada para rowi asalnya dari penulis kitab Ash-Shihah As-Sittah (Enam
Kitab Shohih) dan lainnya. Kebanyakan yang ia nukil dari Hadits, asbabun
nuzul (sebab-sebab turunnya ayat), dan perkataan para Shohabat serta Tabi’in,
adalah dari Tafsir Ath-Thobari.
Sikapnya terhadap Hukum Fiqih
Al-Mawardi (w. 450 H) adalah seorang Syafi’i yang mendalam
ilmunya dalam madz-hab. Ia adalah imam madz-hab Syafi’i pada masanya. Ia telah
mengarang kitab Fiqih madz-hab yang berjudul Al-Hawi, yang terdiri dari
lebih dari 20 jilid (dan masih berupa manuskrip). Hal ini memengaruhi
tafsirnya. Ia mencurahkan perhatian untuk menyebutkan pendapat Imam Asy-Syafi’i
(w. 204 H) dalam masalah-masalah Fiqih dan me-rojih-kannya. Ia juga
menyinggung pendapat para imam madz-hab lainnya seperti Abu Hanifah (w. 150 H),
Malik (w. 179 H), dan Dawud Azh-Zhohiri (w. 270 H), kecuali Imam Ahmad (w. 241
H). Barangkali ia menganggapnya sebagai ahli Hadits, bukan ahli Fiqih!
Sikapnya terhadap Qiro’at
Ia menyebutkan Al-Qiro’at As-Sab’ (Tujuh Qiro’at) dan yang syadz
(menyimpang) di beberapa ayat. Ia menjelaskan maknanya dan mengarahkannya,
namun ia tidak menyinggung sumber-sumber yang ia nukil darinya.
Sikapnya terhadap Isro’iliyyat
Ia menyebutkan Isro’iliyyat tanpa berlebihan, dan terkadang
ia mengkritiknya.
Sikapnya terhadap Syair, Nahwu, dan Bahasa
Ia banyak menukil dari kitab-kitab yang dikarang tentang
makna Al-Qur’an, ghorib-nya (kata-kata asing), dan i’rob-nya
(analisis tata bahasa). Anda akan mendapati nukilan-nukilan di dalamnya dari
Al-Kisa’i (w. 189 H), Al-Farro’ (w. 207 H), Al-Akhfasy (w. 215 H), Tsa’lab (w.
291 H), Al-Mubarrid (w. 285 H), Al-Mufadhdhol bin Salamah (w. 290 H), Az-Zajjaj
(w. 311 H), Mu’arrij bin ‘Umar (w. 195 H), Quthrub (w. 206 H), Ma’mar bin
Al-Mutsanna (w. 210 H), Ibnu Qutaibah (w. 276 H), dan lainnya.
[1] Biografinya terdapat
dalam: Tarikh Baghdad (12/102), Al-Muntazhom (8/199), Mizan
Al-I’tidal (3/155), Lisan Al-Mizan (4/260), Al-Bidayah wan
Nihayah (12/80), Asy-Syadzarot (3/285).
