Cari Artikel

Mempersiapkan...

Metodologi Tafsir Ath-Thobari (w. 310 H)

 


Nama Mufassir

Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid Ath-Thobari, Sang Imam, Al-Allamah, Al-Hafizh, Al-Mu’arrikh (Ahli Sejarah).[1]

Nama Kitab

جامع البيان في تأويل أي القرآن

Jami’ Al-Bayan fi Ta’wil Ayi Al-Qur’an.

Deskripsi Umum Tafsir

Tafsir ini, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dalam Muqoddimah Ushul At-Tafsir halaman 90, adalah salah satu tafsir ma’tsur (berdasarkan riwayat) yang paling mulia dan paling agung nilainya. Selain itu, ia juga mengumpulkan ilmu-ilmu lain dari Al-Qur’an, seperti qiro’at (bacaan-bacaan Al-Qur’an) dan maknanya, hukum-hukum Fiqih yang diambil dari ayat-ayat, dan penjelasan makna ayat-ayat dari bahasa Arob, syair, dan lainnya.

Aqidahnya

Ia memiliki kitab tentang keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Golongan yang Berpegang Teguh pada Sunnah dan Jamaah Shohabat) yang ia namakan Shorih As-Sunnah (telah dicetak). Adapun Aqidahnya dalam tafsir, ia adalah seorang Imam yang diikuti. Ia menolong madz-hab Salaf, berhujjah untuknya, dan membelanya. Akan tetapi, dalam shifat (sifat) Al-Ghodhob (marah) dan Al-Haya’ (malu), ia menyebutkan pendapat para mufassir tanpa me-rojih-kan (menguatkan) salah satu pun di antaranya.

Sikapnya terhadap Sanad

Ia berpegang teguh pada penyebutan riwayat-riwayat dengan sanadnya dan pada umumnya ia tidak mengomentarinya dengan tashih (penshohihan) maupun tadh’if (pendho’ifan).

Sikapnya terhadap Hukum Fiqih

Ia menyebutkan hukum-hukum Fiqih yang terdapat dalam ayat, pendapat para ulama dan madz-hab mereka. Ia memilih salah satunya dan me-rojih-kannya dengan dalil-dalil ilmiah, dan ia menyebutkan ijma’ (konsensus) umat sebagai bagian dari hal yang ia gunakan untuk me-rojih-kan pendapat. Ia adalah seorang Imam mujtahid muthlaq (mujtahid mandiri). Para mufassir merujuk kepada perkataannya, dan mereka bergantung padanya.

Sikapnya terhadap Qiro’at

Ia adalah salah satu ulama qiro’at yang terkenal. Oleh karena itu, ia mencurahkan perhatian untuk menyebutkan qiro’at dan maknanya, dan ia membantah qiro’at syadz (yang menyimpang) darinya dan apa yang dikandungnya berupa perubahan dan penggantian terhadap Kitab Alloh.

Sikapnya terhadap Isro’iliyyat

Dalam tafsirnya, ia menyebutkan riwayat dan kisah dari Ka’ab Al-Ahbar, Wahb bin Munabbih, Ibnu Juroij, dan As-Suddi. Ia mengomentarinya dengan kritik, tetapi ia mengkritik semua yang ia riwayatkan.

Sikapnya terhadap Syair, Nahwu, dan Bahasa

Kitab ini memuat bagian-bagian yang besar dari pembahasan kebahasaan dan nahwu. Dengan itu, kitab ini mendapatkan ketenaran yang luar biasa. Ia sering merujuk kepada ucapan orang Arob, dan terkadang me-rojih-kan sebagian pendapat dengannya. Ia menyebutkan syair-syair Arob kuno dan menggunakannya sebagai dalil secara luas. Ia sering membahas madz-hab para ahli nahwu, mengarahkan pendapat mereka, dan me-rojih-kan sebagian pendapat atas yang lain dengannya.


 



[1] Biografinya terdapat dalam: Tarikh Baghdad (2/162), Al-Muntazhom karya Ibnu Al-Jauzi (6/170), Tahdzib Al-Asma’ wal Lughot karya An-Nawawi (1/78-79), Mizan Al-I’tidal karya Adz-Dzahabi (3/498), Lisan Al-Mizan karya Ibnu Hajar (5/100), Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir (11/145), Syadzarot Adz-Dzahab karya Ibnu Al-Imad (2/260), Mu’jam Al-Mufassirin karya ‘Adil Nuwaihidh (2/508), dan Muqoddimah At-Tafsir karya Mahmud Syakir.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url