Cari Artikel

Mempersiapkan...

Metodologi Tafsir Az-Zamakhsyari (w. 538 H)

 


Nama Mufassir

Abul Qosim Mahmud bin ‘Umar bin Muhammad Al-Khowarizmi Al-Hanafi Al-Mu’tazili yang diberi julukan Jaarulloh (Tetangga Alloh).[1]

Nama Tafsirnya

الكشاف عن حقائق التنزيل

Al-Kasysyaf ‘an Haqo’iq At-Tanzil wa ‘Uyun Al-Aqowil fi Wujuh At-Ta’wil.

Aqidahnya

Ia adalah salah satu imam Mu’tazilah. Ia membela madz-hab Mu’tazilahnya, dan mendukungnya dengan segala kekuatan hujjah dan otoritas dalil yang ia miliki. Adz-Dzahabi (w. 748 H) berkata dalam Al-Mizan (4/78): “Ia sholih, tetapi ia adalah penyeru kepada i’tizal (Mu’tazilah), semoga Alloh menyelamatkan kita. Maka berhati-hatilah dari Al-Kasysyaf-nya.”

Ia sangat berhati-hati untuk mengambil dari ayat-ayat apa yang menjadi saksi bagi madz-hab-nya yang batil, dan men-ta’wil (menginterpretasikan) setiap ayat yang bertentangan dengannya. Ia juga mengarahkan ayat-ayat yang ditujukan kepada orang-orang kafir kepada Ahlus Sunnah (kaum Sunni), yang ia namakan: Hasysyawiyyah (kaum literalis), Mujbiroh (kaum yang meyakini amal hamba dipaksa Alloh), dan Musyabbihah (kaum yang menyerupakan Alloh dengan makhluk).

Deskripsi Umum Tafsir

Tafsir ini unggul dalam mengungkap keindahan Al-Qur’an dan daya tarik balaghoh (retorika)-nya, karena penulisnya mahir dalam menguasai bahasa Arob dan mengetahui syair-syair mereka. Namun, ia membawa hujjah (argumen) atas madz-hab Mu’tazilah yang batil di mana ia menyajikannya dalam ayat-ayat Al-Qur’an melalui cara-cara balaghoh. Oleh karena itu, wajib berhati-hati darinya, terutama bagi orang yang baru memulai dalam bidang ini.

Sikapnya terhadap Hukum Fiqih

Ia membahas masalah-masalah Fiqih tanpa bertele-tele, dan ia bersikap moderat, tidak fanatik terhadap madz-hab Hanafiyah-nya.

Sikapnya terhadap Bahasa, Nahwu, dan Syair

Ia mencurahkan perhatian untuk menjelaskan kekayaan balaghoh (retorika) dalam Al-Qur’an, baik dalam makna maupun gaya bahasa. Namun, jika ia melewati suatu lafazh (kata) yang tidak sesuai dengan madz-hab-nya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membatalkan makna zhohir (jelas) dari lafazh tersebut. Ia akan menetapkan makna lain untuk lafazh itu yang ada dalam bahasa, atau ia menganggapnya sebagai bentuk majaz (kiasan), isti’aroh (metafora), dan tamtsil (perumpamaan).

Sikapnya terhadap Isro’iliyyat

Ia sedikit menyebutkan Isro’iliyyat, dan apa yang ia sebutkan didahului dengan lafazh “diriwayatkan” atau ia berkata di akhirnya: “Alloh yang lebih tahu.” Namun, ia menyebutkan Hadits-Hadits maudhu’ (palsu) tentang keutamaan suroh-suroh di akhir tafsir setiap suroh!


 



[1] Biografinya terdapat dalam Al-Mizan (4/78), Tadzkiroh Al-Huffazh (4/1283), As-Siyar (20/151-156)—semuanya karya Adz-Dzahabi (w. 748 H), Al-Bidayah wan Nihayah (12/219), Lisan Al-Mizan (4/6), Thobaqot Al-Mufassirin karya As-Suyuthi (127).

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url