Metodologi Tafsir Al-Jalaalain (864 H dan 911 H)
Nama
Para Mufassir
Jalaaluddin
Al-Mahalli Muhammad bin Ahmad Al-Mufassir Al-Ushuli Asy-Syafi’i (791 - 864 H).[1]
Jalaaluddin
As-Suyuthi Abdurrohman bin Abi Bakr (849 - 911 H).[2]
Nama
Tafsir
تفسير الجلالين
Tafsir Al-Jalaalain.
Deskripsi
Umum Tafsir
Dua Jalaal
(Al-Mahalli dan As-Suyuthi) berpartisipasi dalam tafsir ini. Al-Mahalli memulai
tafsirnya dari Surat Al-Kahfi hingga akhir Surat An-Nas, dan ia memulai tafsir
Surat Al-Fatihah kemudian wafat. As-Suyuthi (w. 911 H) menyempurnakannya. Maka
ia memulai dari Surat Al-Fatihah hingga Surat Al-Isro’. Tafsir ini ringkas,
ungkapan-ungkapannya padat. tafsir
ini terkenal di kalangan masyarakat karena kemudahan dan keringkasannya.
Keyakinan
Keduanya dalam Kitab
Keduanya
adalah muawwil (orang yang men-ta’wil) terhadap Shifat
(sifat-sifat Alloh) sesuai madz-hab Asya’iroh.
Adapun
Al-Mahalli (w. 864 H), ia men-ta’wil Ar-Rohmah (kasih sayang) dengan
kehendak kebaikan bagi ahlinya, sebagaimana dalam Ar-Rohman Ar-Rohim. ia berkata tentang Al-Wadud (Yang Maha
Mengasihi): Yang membuat diri-Nya dikasihi oleh para wali-Nya dengan kemuliaan.
ia men-ta’wil Al-Haya’
(malu) dengan At-Tark (meninggalkan), padahal itu termasuk kelaziman Shifat
Al-Haya’, sebagaimana dalam:
وَاللَّهُ
لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ
“Alloh tidak
merasa malu untuk (menerangkan) kebenaran.” (QS. Al-Ahzab: 53)
ia men-ta’wil
Al-Mahabbah (cinta) dengan pertolongan dan pemuliaan! Dalam firman-Nya:
إِنَّ
اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا
“Alloh
mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur.” (QS.
Ash-Shoff: 4)
ia men-ta’wil
Al-Qobdhoh (genggaman) dengan kepemilikan dan pengelolaan, dan Al-Yamin (tangan
kanan) dengan kekuasaan, dalam firman-Nya:
وَالْأَرْضُ
جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ
“bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya
pada hari Kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS.
Az-Zumar: 67)
ia men-ta’wil
datangnya Alloh dalam firman-Nya: wa jā’a robbuka wal malaku (dan Robbmu
datang serta Malaikat) dengan datangnya perintah-Nya. ia menetapkan ru’yah (melihat) kaum Mu’minin kepada
Robb mereka dalam firman-Nya: ilā robbihā nāzhirōh (kepada Robbnya
mereka memandang) (QS. Al-Qiyamah: 23).
ia berkata
tentang ayat-ayat Al-Istiwa’ (bersemayam): Istiwa’ yang layak bagi-Nya, dan ini
adalah ucapan yang global. Kemudian ia berkata dalam firman-Nya: ilaihi yash’adu
al-kalimu ath-thoyyib (kepada-Nya naik perkataan-perkataan yang baik) (QS.
Fathir: 10): Dia mengetahuinya!!
Adapun
As-Suyuthi (w. 911 H), di antara contoh ta’wil-nya dalam kitab ini
adalah:
Ta’wil Al-Haya’ (malu) dengan At-Tark
(meninggalkan) dalam firman-Nya:
إِنَّ
اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا
“Alloh
tidak merasa malu untuk membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih
rendah dari itu.” (QS. Al-Baqoroh: 26). ta’wil Ar-Rohmah (kasih sayang) dengan Ats-Tsawāb
(pahala) sebagaimana dalam firman Alloh: ulā’ika yarjūna roḥmatallōh
(mereka itu mengharapkan rohmat Alloh) (QS. Al-Baqoroh: 218). Al-Istihza’
(mengolok-olok) dalam firman-Nya: Allōhu yastahzi’u bihim (Alloh
mengolok-olok mereka) dengan pembalasan atas ejekan mereka. ta’wil Al-Mahabbah (cinta) dengan
Ats-Tsawāb (pahala) sebagaimana dalam firman Alloh:
قُلْ
إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah:
jika kalian mencintai Alloh, maka ikutilah aku, niscaya Alloh akan mencintai
kalian.” (QS. Ali ‘Imron: 31).
ta’wil
Al-Ityān (mendatangi) dalam firman Alloh:
هَلْ
يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ
“Tidaklah
yang mereka tunggu-tunggu melainkan kedatangan Alloh dalam naungan awan.” (QS.
Al-Baqoroh: 210), ia berkata: yakni perintah-Nya!
ta’wil
Al-Yadain (dua tangan) dalam firman Alloh:
بَلْ
يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ
“Bahkan
kedua tangan-Nya terbentang, Dia menafkahkan sekehendak-Nya.” (QS. Al-Ma’idah:
64) dengan perkataannya: Berlebihan dalam mensifati dengan kedermawanan dan
menggandakan kata tangan untuk menunjukkan banyaknya (pemberian)! Karena batas
maksimal yang dikeluarkan oleh orang dermawan dari hartanya adalah memberi
dengan kedua tangannya!
Sikapnya
Keduanya terhadap Hadits dan Sanad
Disebutkan
di dalamnya Hadits-Hadits, asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat),
dan atsar (jejak-jejak ucapan/perbuatan Salaf) tanpa sanad. pada umumnya tanpa menisbatkan
sumbernya. terkadang sumbernya
disebutkan.
Sikapnya
Keduanya terhadap Hukum Fiqih
Disebutkan
di dalamnya pendapat-pendapat yang dikuatkan oleh kedua mufassir tanpa
bertele-tele.
Sikapnya
Keduanya terhadap Bahasa, Nahwu, dan Syair
Disebutkan
di dalamnya i’rob (analisis tata bahasa) secara ringkas.
Sikapnya
Keduanya terhadap Qiro’at
Di dalamnya
diperingatkan mengenai qiro’at yang terkenal secara ringkas.
Sikapnya
terhadap Isro’iliyyat
Disebutkan
di dalamnya makna-makna Isro’iliyyat ketika menafsirkan sebagian ayat, tanpa
peringatan mengenainya, yang terkadang mengandung penghinaan terhadap sebagian
Nabi (sebagaimana dalam tafsir fitnah Dawud ‘alaihis salām dalam Surat
Shod).
[1] Biografinya
terdapat dalam: Syadzarot Adz-Dzahab (7/303-304) Adh-Dhō’ Al-Lāmi’
(7/39-41) Thobaqot Al-Mufassirin karya Ad-Dawudi (w. 945 H) (2/84), Mu’jam
Al-Mufassirin (2/485).
[2] Biografinya
terdapat dalam: Adh-Dhō’ Al-Lāmi’ (4/65-70) Al-Badr Ath-Tholi’
(1/328) Syadzarot Adz-Dzahab (8/51) Mu’jam Al-Mufassirin (1/264).
