Cari Artikel

Mempersiapkan...

Metologi Tafsir Ath-Tsa’alibi (w. 876 H)

 


Nama Mufassir

Abu Zaid Abdurrohman bin Muhammad bin Makhlof Ath-Tsa’alibi Al-Maliki Al-Jaza’iri.[1]

kitabnya telah dicetak dalam empat jilid, cetakan Al-Mu’assasah Al-Wathoniyyah lil Kitāb (Yayasan Buku Nasional) - Aljazair.

Nama Tafsirnya

الجواهر الحسان في تفسير القرآن

Al-Jawāhir Al-Hisān fi Tafsir Al-Qur’an.

Aqidahnya

Ia adalah muawwil (orang yang men-ta’wil) Asy’ari. Ia menukil ungkapan Ibnu ‘Athiyyah (w. 541 H) dan membenarkannya (lihat ucapan tentang Ibnu ‘Athiyyah).

Deskripsi Umum Tafsir

Penulisnya berkata: ia meringkasnya dari Tafsir Ibnu ‘Athiyyah (w. 541 H). ia menambahkan padanya faidah-faidah yang ia petik dari hampir 100 karya tulis dari kitab-kitab para imam yang terkenal. sebagiannya tidak dicetak sekarang. ia tidak menukil sedikit pun darinya dengan makna (hanya maksudnya) karena takut jatuh pada kesalahan. ia menyebutkan bahwa apa yang ia nukil dari Ath-Thobari (w. 310 H) adalah dari ringkasan Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah bin Ahmad Al-Lakhmi An-Nahwi (ahli Nahwu). ia menyebutkan bahwa setiap yang di akhirnya ada kata intaha (selesai), maka itu bukan dari ucapan Ibnu ‘Athiyyah (w. 541 H), melainkan ia sendiri yang menukilnya dari selainnya. ia menjadikan tanda ‘ت’ sebagai ganti dari ucapannya: قلتُ (aku berkata). tanda ‘A’ sebagai isyarat kepada Ibnu ‘Athiyyah. tanda ‘Sh’ sebagai isyarat kepada ringkasan Ash-Shoffaqsi untuk Tafsir Abu Hayyan (w. 745 H). apa yang ditambahkan oleh Ash-Shoffaqsi padanya diberi tanda ‘M’.

Maka ia adalah kitab yang mengumpulkan ringkasan kitab-kitab yang bermanfaat, tidak ada di dalamnya hal yang tidak penting atau membosankan.

Sikapnya terhadap Hadits dan Sanad

Ia menukil dari Al-Kutub As-Sittah (Enam Kitab Induk Hadits), Al-Adzkar karya An-Nawawi (w. 676 H), At-Targhib wat Tarhib karya Al-Mundziri (w. 656 H), At-Tadzkiroh karya Al-Qurthubi (w. 671 H), Al-Aqibah karya Abdul Haq Al-Isybili (w. 582 H), Mashobih As-Sunnah karya Al-Baghowi (w. 510 H), dan selainnya, tanpa sanad pada umumnya. sebagiannya tanpa menisbatkan kepada sumbernya. Bahkan ia mendahuluinya dengan perkataannya: rūwiya ‘an ‘Ā’isyah kadzā wa kadzā (diriwayatkan dari ‘Aisyah demikian dan demikian...). Atau ia berkata: qōla Rosūlullōhi (Rosululloh bersabda).

Sikapnya terhadap Hukum Fiqih

Ia menyebutkan pendapat para fuqoha’ (ahli Fiqih) dari kalangan Salaf dalam masalah-masalah Fiqih. Khususnya madz-hab Malik (w. 179 H), dan itu secara ringkas. ia me-rojih-kan (menguatkan) di beberapa kesempatan.

Sikapnya terhadap Bahasa, Nahwu, dan Syair

Ia memperhatikan aspek ini dalam kitabnya. Ia meng-i’rob banyak tempat dalam Al-Qur’an dengan menukil dari Ibnu ‘Athiyyah (w. 541 H) dan dari ringkasan Ash-Shoffaqsi untuk Abu Hayyan (w. 745 H). ia menyebutkan syawahid syi’riyyah (bukti-bukti dari syair) untuk lafazh-lafazh Al-Qur’an.

Sikapnya terhadap Qiro’at

Ia menyebutkan Al-Qiro’at As-Sab’ (Tujuh Qiro’at) dalam kitabnya dan juga yang syadzah (menyimpang) terkadang.

Sikapnya terhadap Isro’iliyyat

Ia menyebutkan sebagian riwayat Isro’iliyyah. ia mengomentarinya dengan apa yang menunjukkan ketidakshohihannya, atau tidak adanya kepastian akan keshohihannya.

 


 



[1] Biografinya terdapat dalam: Adh-Dhō’ Al-Lāmi’ li Ahli Al-Qorni At-Tāsi’ karya As-Sakhōwi (w. 902 H) (4/152), Al-A’lam (3/331), Mu’jam Al-Mufassirin (1/276).

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url