Metodologi Tafsir Ibnu Katsir (w. 774 H)
Nama Mufassir
Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir
Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i, Sang Imam, Al-Hafizh, Al-Mu’arrikh (Ahli Sejarah).[1]
Nama
Kitab
تفسير القرآن العظيم
Tafsir Al-Qur’an
Al-‘Azhim.
Deskripsi
Umum Tafsir
Tafsir Ibnu
Katsir adalah yang paling terkenal dari apa yang dibukukan dalam tafsir bil
ma’tsur (berdasarkan riwayat). Ia berada di urutan kedua setelah Tafsir
Ibnu Jarir (Ath-Thobari, w. 310 H). Ia juga sangat memperhatikan riwayat. Ia
menafsirkan Kitab Alloh dengan Hadits-Hadits dan atsar (jejak-jejak
ucapan/perbuatan Shohabat dan Tabi’in) yang di-musnad-kan (bersanad)
kepada pemiliknya. Ia sangat memperhatikan penyebutan ayat-ayat yang serupa
dengan ayat yang ingin ia tafsirkan. itulah
yang dinamakan tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an.
Aqidahnya
Ia adalah
Salafi dalam ‘aqidah (keyakinan). tidak
mengherankan, karena ia adalah salah satu murid dari Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah (w. 728 H). —rohimahumallōhu ta’ala (semoga Alloh merohmati
keduanya)—. Ia memiliki risalah tentang ‘aqidah yang dinamakan Al-Aqō’id.
Di dalamnya ia menjelaskan ‘aqidah Salaf dari penetapan Shifat (sifat-sifat
Alloh) seperti As-Sam’u (mendengar), Al-Bashor (melihat), Al-‘Ain (mata),
Al-Wajh (wajah), Al-‘Ilmu (ilmu), Al-Kalām (berbicara), Ar-Ridho (ridho),
As-Sakhoth (murka), Al-Hubb (cinta), Al-Bughdh (benci), Al-Farah (senang), dan
Adh-Dhahk (tertawa). Tanpa takyif (menanyakan bagaimana-nya), tasybih
(penyerupaan), tahrif (penyelewengan), dan tabdil (penggantian). dalam tafsirnya, ia menetapkan sebagian
besar Shifat secara umum. sebagiannya
ia tafsirkan dengan kelaziman Shifat tersebut, mengikuti Ibnu Jarir
(Ath-Thobari, w. 310 H). Seperti Shifat Al-Haya’ (malu) dan Al-‘Ain (mata).
Sikapnya
terhadap Sanad
Ia menyebutkan
Hadits-Hadits dan atsar (jejak-jejak ucapan/perbuatan Salaf) dengan
sanadnya. Ia memperhatikan tashih (penshohihan) dan tadh’if (pendho’ifan)
riwayat serta menyebutkan Al-Jarh wat Ta’dil (ilmu kritik rowi). Ia adalah
seorang Hafizh (ahli Hadits) yang memiliki pengetahuan tentang cabang-cabang
ilmu Hadits dan para rowinya. ia
memiliki karya tulis dalam hal itu.
Sikapnya
terhadap Hukum Fiqih
Ia
menyebutkan diskusi-diskusi Fiqih, pendapat para ulama dan dalil-dalil mereka
ketika menafsirkan ayat-ayat hukum. Akan tetapi tanpa berlebihan. ia merujuk kepada kitab-kitab Fiqih
bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan.
Sikapnya
terhadap Qiro’at
Ia membahas
penyebutan qiro’at namun secara ringkas.
Sikapnya
terhadap Isro’iliyyat
Ia unggul
dalam mengkritik Isro’iliyyat dan memperingatkan darinya secara umum. Disertai
kritikan terhadapnya pada umumnya, ketika ia menyebutkan sesuatu darinya.
Sikapnya
terhadap Bahasa, Syair, dan Nahwu
Ia jarang
membahas i’rob (analisis tata bahasa) dan Nahwu. Demikian pula
keadaannya terhadap syair.
[1] Biografinya terdapat
dalam: Ad-Duror Al-Kaminah karya Ibnu Hajar (w. 852 H) (1/399), Al-Badr
Ath-Tholi’ (1/153), Syadzarot Adz-Dzahab (6/231) Thobaqot
Al-Mufassirin karya Ad-Dawudi (w. 945 H) (1/111-113), dan Syaikh Ahmad
Syakir rohimahullahu (semoga Alloh merohmatinya) membuat biografinya
dalam ‘Umdah At-Tafsir.
