Metotologi Tafsir Abu As-Sa’ud (w. 982 H)
Nama
Mufassir
Abu As-Sa’ud
Muhammad bin Muhammad bin Musthofa Al-‘Imadi Al-Faqih (Ahli Fiqih) Al-Hanafi
Al-Mufassir Al-Ushuli Asy-Sya’ir (Penyair).[1]
Nama
Tafsirnya
إرشاد العقل السليم إلى مزايا الكتاب الكريم
Irsyād
Al-‘Aqli As-Salīm ilā Mazāyā Al-Kitāb Al-Karīm.
Aqidahnya
Ia adalah muawwil
(orang yang men-ta’wil) Asy’ari. Ia mengikuti Ar-Rozi (w. 606 H) dalam
ucapannya tentang Shifat (sifat-sifat Alloh). ia
menukil penguatan pendapat-pendapatnya dan membenarkannya.
Deskripsi
Umum Tafsir
Dikatakan
tentangnya: Ia tafsir yang baik, tidak terlalu panjang hingga membosankan, dan
tidak terlalu pendek hingga mengurangi substansi. Ia mengandung kelembutan dan
poin-poin penting, serta meliputi faidah-faidah dan petunjuk. Penulisnya
mencurahkan perhatian di dalamnya untuk mengungkap rahasia balaghoh
(retorika) Al-Qur’an. ia
bersandar dalam tafsirnya pada Al-Kasysyaf (karya Az-Zamakhsyari, w. 538
H) dan Al-Baidhōwi (w. 705 H).
Sikapnya
terhadap Hukum Fiqih
Ia
menyebutkan madz-hab Fiqih secara ringkas, dan ia hampir tidak masuk ke dalam
diskusi-diskusi Fiqih.
Sikapnya
terhadap Bahasa, Nahwu, dan Syair
Ia sangat
tertarik pada penyebutan aspek balaghoh (retorika) Al-Qur’an dan rahasia
mukjizatnya dalam susunan dan gayanya. Khususnya dalam Al-Fashl wal Washl
(pemisahan dan penyambungan kalimat), Al-Ijaz wal Ithnāb (pemadatan dan
perpanjangan kalimat), At-Taqdīm wat Ta’khīr (mendahulukan dan mengakhirkan),
Al-I’tirādh (sisipan), dan At-Tadzyīl (penutup). terkadang ia membahas aspek Nahwu.
Sikapnya
terhadap Qiro’at
Ia
menyebutkan qiro’at sekadar untuk menjelaskan makna. ia memperhatikan penyebutan aspek-aspek kesesuaian antara
ayat-ayat.
Sikapnya
terhadap Isro’iliyyat
Ia sedikit
menyebutkan Isro’iliyyat. jika ia
menyebutkannya terkadang ia mendahuluinya dengan perkataannya: rūwiya
(diriwayatkan) atau qīla (dikatakan). Namun ia menyebutkan Hadits-Hadits
maudhu’ (palsu) tentang keutamaan suroh-suroh di akhir tafsir setiap suroh!
[1] Lihat
biografinya dalam: Al-Badr Ath-Tholi’ (1/261) dan Asy-Syadzarot
(8/398) dan Mu’jam Al-Mufassirin (2/625-626).
