Metodologi Tafsir Al-Qurthubi (w. 671 H)
Nama Mufassir
Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Farh Al-Anshori
Al-Khozroji Al-Andalusi Al-Qurthubi, Sang Imam.[1]
Nama Tafsirnya
الجامع
لأحكام القرآن
Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an.
Aqidahnya
Ia adalah muawwil (orang yang men-ta’wil) Asy’ari
dalam ‘aqidah (keyakinan). Siapa yang mengikuti tafsirnya dan kitabnya Al-Asna
fi Syarh Asma’ Alloh Al-Husna akan mengetahui hal ini. Dalam bab Al-Asma’
was Shifat (Nama dan Sifat Alloh), ia mengandalkan nukilannya dari para imam
Asya’iroh seperti Al-Juwaini (w. 478 H), Al-Baqillani (w. 403 H), Ar-Rozi (w.
606 H), Ibnu ‘Athiyyah (w. 541 H), dan selain mereka.
di dalamnya
terdapat beberapa tempat di mana ia membantah Ahl At-Tashowwuf (kaum Sufi), dan
ia mengingkari perbuatan serta ucapan mereka yang bertentangan dengan Syari’at.
Deskripsi Umum Tafsir
Penulisnya menggambarkannya sebagai: “Sebuah komentar
ringkas yang memuat poin-poin dari tafsir, kebahasaan, i’rob (analisis
tata bahasa), qiro’at, bantahan terhadap ahli penyimpangan dan kesesatan, dan
banyak Hadits yang menjadi saksi bagi hukum-hukum yang kami sebutkan dan
sebab-sebab turunnya ayat, yang mengumpulkan makna-maknanya dan menjelaskan apa
yang sulit darinya dengan pendapat-pendapat Salaf dan orang-orang setelah
mereka yang mengikuti mereka.”
Sikapnya terhadap Hadits dan Sanad
Ia banyak menyebutkan Hadits-Hadits Nabawi, dan ia mewajibkan
dirinya untuk menisbatkannya kepada penulis-penulisnya, dan ia meriwayatkannya
tanpa sanad pada umumnya.
Sikapnya terhadap Hukum Fiqih
Ia mengulas secara panjang lebar ayat-ayat hukum,
menyebutkan masalah-masalah perbedaan pendapat yang berkaitan dengan ayat, baik
secara dekat maupun jauh, disertai penjelasan dalil-dalil pendapat tersebut. Ia
adalah seorang yang adil, tidak fanatik terhadap madz-hab Maliki-nya, bahkan ia
berjalan bersama dalil ke mana pun dalil itu berjalan.
Sikapnya terhadap Qiro’at
Ia membahas penyebutan qiro’at secara ringkas.
Sikapnya terhadap Isro’iliyyat
Ia berkata dalam muqoddimah kitabnya: “aku tinggalkan banyak kisah dan berita
dari para ahli sejarah, kecuali yang sangat dibutuhkan.”
Sikapnya terhadap Bahasa, Syair, dan Nahwu
Ia membahas i’rob (analisis tata bahasa) dan
menjelaskan kata-kata asing dari lafazh-lafazh Al-Qur’an. Ia banyak menjadikan
bahasa sebagai rujukan, dan banyak menggunakan syair-syair Arob sebagai bukti.
[1] Biografinya terdapat
dalam Thobaqot Al-Mufassirin karya As-Suyuthi (w. 911 H) () dan Thobaqot
Al-Mufassirin karya Ad-Dawudi (w. 945 H) (2/69-70) dan Syadzarat
Adz-Dzahab (5/335), Mu’jam Al-Mufassirin karya ‘Adil Nuwaihidh
(2/479).
