Cari Artikel

Mempersiapkan...

Metodologi Tafsir Asy-Syinqithi (w. 1393 H)

 


Nama Mufassir

Muhammad Al-Amin bin Muhammad Al-Mukhtār Al-Jikni Asy-Syinqithi. Guru dari guru-guru kami rohimahullōhu ta’ala (semoga Alloh merohmatinya).[1]

Nama Kitab

أضواء البيان في إيضاح القرآن بالقرآن

Adhwā’ Al-Bayān fī Īdhooḥ Al-Qur’ān bil Qur’ān.

Aqidahnya

Ia adalah salah satu ulama Salafi yang terkemuka yang menolong ‘aqidah Salafiyyah dengan ucapan dan tulisan mereka. Ia telah mengarang risalah dalam bab ini tentang Al-Asmā’ was Shifāt (Nama dan Sifat Alloh) yang dinamakan Āyāt Ash-Shifāt (Ayat-Ayat Sifat). Di dalamnya ia menjelaskan madz-hab Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari penetapan Nama-nama dan Sifat-sifat Alloh tanpa tamtsīl (penyerupaan) dan tasybīh (penyamaan). ia berkata ketika menafsirkan firman Alloh: ṡumma istawā ‘alāl ‘arsyi yaghsyīl lail an nahār (kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, Dia menutupkan malam kepada siang...): “Ayat yang mulia ini dan yang semisalnya dari Āyāt Ash-Shifāt (Ayat-Ayat Sifat) seperti firman-Nya: yadullōhi fauqo aidīhim (tangan Alloh di atas tangan mereka) (QS. Al-Fath: 10) dan yang semisalnya, telah menjadi masalah yang sulit bagi banyak orang. Karena masalah yang sulit itu, banyak makhluk yang tersesat yang tidak terhitung jumlahnya. Maka ada kaum yang jatuh pada ta’ṭīl (penolakan sifat) dan ada kaum yang jatuh pada tasybīh (penyerupaan)—Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari semua itu setinggi-tingginya—.

Alloh jalla wa ‘alā menjelaskan hal ini sejelas-jelasnya. Dia tidak meninggalkan di dalamnya sedikit pun kerancuan dan kesulitan. ringkasan dari pembebasan masalah ini adalah bahwa Dia jalla wa ‘alā menjelaskan bahwa Al-Haqq (kebenaran) dalam Āyāt Ash-Shifāt (Ayat-Ayat Sifat) tersusun dari dua hal:

Salah satunya: Tanzīh (mensucikan) Alloh jalla wa ‘alā dari penyerupaan dengan makhluk dalam sifat-sifat mereka, subḥānahu wa ta’Alā ‘uluwwan kabīrō (Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari hal itu setinggi-tingginya).

yang kedua: Mengimani semua yang Alloh sifati dengannya diri-Nya dalam Kitab-Nya, atau Rosul-Nya sifati dengannya Dia. Karena tidak ada yang lebih tahu tentang Alloh dari Alloh: a antum a’lamu amillōh (apakah kalian yang lebih mengetahui atau Alloh) (QS. Al-Baqoroh: 140). tidak ada yang lebih tahu tentang Alloh setelah Alloh dari Rosululloh yang difirmankan tentangnya:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

tiadalah ia (Muhammad) mengucapkan sesuatu menurut hawa nafsunya. Tiadalah itu melainkan wahyu yang diwahyukan.” (QS. An-Najm: 3-4)

Maka siapa yang meniadakan dari Alloh suatu Shifat yang Dia tetapkan untuk diri-Nya dalam Kitab-Nya yang mulia, atau Rosul-Nya tetapkan dengannya Dia, dengan mengklaim bahwa Shifat itu menuntut apa yang tidak layak bagi Alloh jalla wa ‘alā, maka ia telah menjadikan dirinya lebih tahu dari Alloh dan Rosul-Nya tentang apa yang layak bagi Alloh jalla wa ‘alā. Subḥānaka hādzā buhtānun ‘azhīm (Maha Suci Engkau, ini adalah kebohongan yang besar)!! siapa yang meyakini bahwa Shifat Alloh serupa dengan Shifāt makhluk, maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan), mulḥid (orang yang menyimpang), lagi dhōl (sesat). siapa yang menetapkan bagi Alloh apa yang Dia tetapkan untuk diri-Nya, atau Rosul-Nya tetapkan dengannya Dia, disertai dengan tanzīh (mensucikan)-Nya jalla wa ‘alā dari penyerupaan dengan makhluk, maka ia adalah Mu’min (orang yang beriman) yang menggabungkan antara keimanan terhadap Shifāt Al-Kamāl wal Jalāl (Sifat-Sifat Kesempurnaan dan Keagungan) dan tanzīh (mensucikan) dari penyerupaan dengan makhluk, yang selamat dari bencana tasybīh (penyerupaan) dan ta’ṭīl (penolakan sifat). ayat yang Alloh jelaskan dengannya hal ini adalah firman-Nya ta’ala:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)

Dia meniadakan dari diri-Nya jalla wa ‘alā keserupaan dengan makhluk dengan firman-Nya: laisā kamitslihi syai’un (tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya). Dia menetapkan untuk diri-Nya Shifāt Al-Kamāl wal Jalāl (Sifat-Sifat Kesempurnaan dan Keagungan) dengan firman-Nya: wa huwas samī’ul bashīr (dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat). Maka Dia menjelaskan secara terang-terangan dengan ayat yang mulia ini peniadaan keserupaan disertai dengan penyifatan diri dengan Shifāt Al-Kamāl wal Jalāl (Sifat-Sifat Kesempurnaan dan Keagungan). (Adhwā’, 2/304-305)

ia panjang lebar dalam menetapkan madz-hab Salaf pada ayat ini. kami hanyalah menyebutkan apa yang sesuai dengan topik secara ringkas.

Deskripsi Umum Kitab

Asy-Syinqithi (w. 1393 H) rohimahullahu (semoga Alloh merohmatinya) menjelaskan rencananya dalam kitabnya dan pendorongnya mengarangnya, ia berkata: “Adapun setelah itu, ketika kami mengetahui berpalingnya mayoritas orang yang menamakan diri mereka dengan nama Muslimin pada hari ini dari Kitab Robb mereka, penolakan mereka terhadapnya di belakang punggung mereka, tidak adanya keinginan mereka terhadap janji-Nya, tidak adanya rasa takut mereka dari ancaman-Nya; kami mengetahui bahwa hal itu adalah sesuatu yang membantu bagi siapa yang Alloh berikan ilmu tentang Kitab-Nya untuk menjadikan perhatiannya dalam pelayanannya dari penjelasan makna-maknanya, dan menampakkan kebaikan-kebaikannya, dan menghilangkan masalah yang sulit darinya, dan menjelaskan hukum-hukumnya, serta menyeru untuk mengamalkannya dan meninggalkan semua yang menyalahinya. ketahuilah bahwa Sunnah seluruhnya termasuk dalam satu ayat dari lautan yang luas, yaitu firman Alloh:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

apa yang Rosul berikan kepada kalian, maka ambillah. apa yang ia larang kalian darinya, maka hentikanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Di antara tujuan terpenting dalam kitab yang diberkahi ini—yang merupakan biografinya—ada dua hal:

Salah satunya: Penjelasan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Karena konsensus ulama bahwa jenis tafsir yang paling mulia dan paling agung adalah tafsir Kitab Alloh dengan Kitab Alloh. Karena tidak ada yang lebih tahu tentang makna firman Alloh jalla wa ‘alā dari Alloh jalla wa ‘alā. kami berkomitmen bahwa kami tidak akan menjelaskan Al-Qur’an kecuali dengan qiro’ah sab’iyyah (bacaan Tujuh Qiro’at), baik itu qiro’ah lain dalam ayat yang dijelaskan itu sendiri, atau ayat lain selainnya. kami tidak bersandar pada penjelasan dengan qiro’at syādzah (bacaan yang menyimpang). terkadang kami menyebutkan qiro’ah syādzah sebagai bukti untuk penjelasan dengan qiro’ah sab’iyyah.

Qiro’ah Abu Ja’far (w. 130 H), Ya’qub (w. 205 H), dan Kholaf (w. 229 H) bukanlah termasuk syādz (menyimpang) di sisi kami dan di sisi para muhaqqiqūn (peneliti) dari ahli ilmu qiro’at.

yang kedua: Penjelasan hukum-hukum Fiqih dalam semua ayat yang dijelaskan (dengan fatḥ) dalam kitab ini. Maka kami menjelaskan hukum-hukum yang ada di dalamnya dan dalil-dalilnya dari As-Sunnah, dan pendapat-pendapat ulama dalam hal itu. me-rojih-kan (menguatkan) apa yang tampak bagi kami bahwa ia adalah yang rojih (kuat) dengan dalil tanpa fanatisme terhadap madz-hab tertentu, dan tidak pula terhadap ucapan orang tertentu. Karena kami melihat pada substansi ucapan, bukan kepada orang yang mengatakannya. Karena setiap ucapan di dalamnya ada yang diterima dan ada yang ditolak kecuali ucapan Beliau (Muhammad ). diketahui bahwa Al-Haqq (kebenaran) adalah haqq meskipun orang yang mengatakannya adalah orang yang hina.”

ia berkata: “ketahuilah bahwa termasuk apa yang kami komitmenkan dalam kitab yang diberkahi ini adalah: jika bagi ayat yang mulia itu ada penjelasan dari Al-Qur’an yang tidak mencukupi untuk tujuan kesempurnaan penjelasan, maka kami menyempurnakan penjelasan dari As-Sunnah, karena ia adalah tafsir bagi yang menjelaskan.”

Sikapnya terhadap Sanad

Ia menyebutkan Hadits-Hadits dan atsar (jejak-jejak ucapan/perbuatan Salaf) tanpa menyebutkan sanad pada umumnya. Disertai dengan menisbatkannya kepada sumbernya, setelah penjelasannya terhadap ayat dengan Al-Qur’an. itu adalah untuk menyempurnakan penjelasan makna ayat, sebagaimana ia sebutkan dalam muqoddimah kitabnya.

ia meluaskan pembahasan dalam riwayat-riwayat disertai dengan penjelasan keshohihan dan kelemahannya. ia memiliki pengetahuan luas dalam hal itu terhadap ucapan ulama mengenainya. ia men-dho’if-kan (melemahkan) sebagian madz-hab dalam masalah-masalah Fiqih dengan men-dho’if-kan dalil-dalilnya dari segi Hadits.

Sikapnya terhadap Hukum Fiqih

Asy-Syinqithi (w. 1393 H) rohimahullahu (semoga Alloh merohmatinya) meskipun ia tumbuh di lingkungan yang penduduknya ber-madz-hab Maliki dan ia mempelajarinya di awal pencarian ilmunya, namun ia rohimahullahu (semoga Alloh merohmatinya) tidak fanatik terhadapnya dan tidak pula terhadap yang lain. Sebagaimana ia berkata dalam muqoddimah kitabnya: “kami me-rojih-kan (menguatkan) apa yang tampak bagi kami bahwa ia adalah yang rojih (kuat) tanpa fanatisme terhadap madz-hab tertentu dan tidak pula terhadap ucapan orang tertentu. Karena kami melihat pada substansi ucapan, bukan kepada orang yang mengatakannya. Karena setiap ucapan di dalamnya ada yang diterima dan ada yang ditolak kecuali ucapan beliau . diketahui bahwa Al-Haqq (kebenaran) adalah haqq meskipun orang yang mengatakannya adalah orang yang hina. Tidakkah kamu melihat bahwa Ratu Saba’ (Balqis) pada saat ia menyembah matahari selain Alloh dan kaumnya, ketika ia mengucapkan ucapan yang haqq (benar), Alloh membenarkannya, dan kekufurannya tidak menghalangi dari pembenarannya dalam Al-Haqq yang ia katakan. itu dalam ucapannya yang Alloh sebutkan darinya:

إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً

“Raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka akan merusaknya dan menjadikan orang-orang mulia penduduknya sebagai orang-orang yang hina.” (QS. An-Naml: 34)

Alloh berfirman membenarkannya dalam ucapannya:

وَكَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ

demikianlah mereka akan berbuat.” (QS. An-Naml: 34)

seorang penyair berkata:

Janganlah kamu meremehkan pendapat, padahal ia sesuai dengan hukum yang benar, jika ia datang dari orang yang tidak sempurna.

Mutiara, padahal ia adalah sesuatu yang paling berharga yang dikumpulkan, tidak merendahkan nilainya kehinaan orang yang menyelamkannya.

ia terkadang memanjangkan pembahasan dalam menjelaskan masalah-masalah Fiqih yang terkandung dalam ayat. pembahasannya memanjang hingga berhalaman-halaman yang di dalamnya ia menyajikan penelitian yang menyenangkan lagi berharga. Di antaranya adalah penyebutannya terhadap pembahasan wajibnya mengangkat kholīfah (pemimpin) bagi kaum Muslimin dan Shifāt (sifat-sifat) yang wajib ada padanya, saat menjelaskan firman Alloh:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Dan (ingatlah) ketika Robbmu berfirman kepada Malaikat: ‘Aku akan menjadikan di bumi seorang kholīfah.” (QS. Al-Baqoroh: 30) (1/58-74)

Demikian juga penjelasannya yang luas mengenai tholaq (perceraian) dan hukum-hukumnya dalam Tafsir Surat Al-Baqoroh. Ia menafsirkan Surat Al-Hajj, membahas semua masalahnya disertai dengan perbedaan pendapat yang terjadi di dalamnya dalam (752) halaman.

ia sangat memperhatikan pembahasan Ushūliyyah (Prinsip-Prinsip Fiqih) di dalam penelitian-penelitian itu. tidak aneh dalam hal itu, karena ia adalah seorang ahli Ushūl yang mahir. ia memiliki karya tulis dalam hal itu, yaitu Al-Mudzakkirah fī Ushūl Al-Fiqh ‘alā Rawdhoti An-Nāẓir karya Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah (w. 620 H).

Sikapnya terhadap Qiro’at

Telah didahului ucapannya bahwa ia berkomitmen untuk tidak menjelaskan Al-Qur’an kecuali dengan qiro’ah sab’iyyah (bacaan Tujuh Qiro’at). ia tidak bersandar pada qiro’at syādzah (bacaan yang menyimpang). terkadang ia menyebutkannya sebagai bukti untuk penjelasan dengan qiro’ah sab’iyyah. di sisinya qiro’ah Abu Ja’far (w. 130 H), Ya’qub (w. 205 H), dan Kholaf (w. 229 H) bukanlah termasuk syādz (menyimpang). ia menyebutkan bahwa ini adalah ucapan para muhaqqiqūn (peneliti) dari ahli ilmu qiro’at.

Sikapnya terhadap Isro’iliyyat

Ia berpaling dari penyebutan Isro’iliyyat dalam kitabnya. ini adalah hal yang patut dipuji darinya.

Sikapnya terhadap Bahasa, Nahwu, dan Syair

Ia memperhatikan aspek ini dan terkadang meluaskannya, sebagaimana ia berkata dalam muqoddimah kitabnya: “Kitab ini telah memuat urusan-urusan yang lebih dari itu, seperti penelitian sebagian masalah kebahasaan, dan apa yang dibutuhkan dari shōrf (morfologi) dan i’rob (analisis tata bahasa), serta penggunaan syair Arob sebagai bukti.”

penulis memiliki ilmu yang luas tentang bahasa Arob dan syair-syair. Oleh karena itu, jika ia berbicara mengenainya, ia me-rojih-kan (menguatkan) dan membedakan yang benar dari yang salah. ia memberikan dalil atas apa yang ia katakan, rohimahullōhu rohmatan wāsi’ah (semoga Alloh merohmatinya dengan rohmat yang luas).

 


 



[1] Biografinya terdapat dalam: Masyahir ‘Ulama’ Najd (Ulama-Ulama Terkenal Najd) (517 dan 540), dan biografi oleh ‘Athiyyah Muhammad Sālim dalam jilid kesembilan dari Adhwā’ Al-Bayān, Mu’jam Al-Mufassirīn (2/496).

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url