Cari Artikel

Mempersiapkan...

Metodologi Tafsir Husain Muhammad Makhluf

 


Nama Mufassir

Husain Muhammad Makhluf Al-‘Adawi, mantan Mufti Ad-Diyār Al-Mishriyyah (Negeri Mesir).

Nama Kitab

صفوة البيان لمعاني القرآن

Ṣofwat Al-Bayān li Ma’ānī Al-Qur’ān.

Aqidahnya

Ia adalah muawwil (orang yang men-ta’wil) untuk sebagian besar Shifāt (sifat-sifat Alloh). terkadang ia memilih At-Tafwīdh (menyerahkan makna) dan menisbatkan hal itu kepada Salaf. ia mencampuradukkan antara madz-hab Salaf dan Kholaf (orang-orang setelah Salaf) dalam muqoddimah kitabnya. Maka seharusnya hal itu dibantah, dan dijelaskan apa yang ada kesalahan di dalamnya.

Ia berkata ketika berbicara tentang Al-Muḥkam wal Mutasyābih (ayat yang jelas dan samar): “termasuk mutasyābih adalah Āyāt Ash-Shifāt (Ayat-Ayat Sifat)!! Seperti:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

“Ar-Rohman (Alloh Yang Maha Pengasih) bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thōhā: 5).

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

“Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya.” (QS. Al-Qoshosh: 88).

وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي

agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (QS. Thōhā: 39).

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ

“Tangan Alloh di atas tangan mereka.” (QS. Al-Fath: 10).

وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ

langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67).

termasuknya adalah Aḥādīṡ Ash-Shifāt (Hadits-Hadits Sifat)!!

madz-hab mayoritas Ahlus Sunnah—dan di antara mereka Sufyan Ats-Tsauri (w. 161 H), Ibnul Mubarok (w. 181 H), Ibnu ‘Uyainah (w. 198 H), Waki’ (w. 197 H), dan Imam yang empat (Abu Hanifah w. 150 H, Malik w. 179 H, Asy-Syafi’i w. 204 H, Ahmad w. 241 H)—adalah wajib mengimaninya dan menyerahkan ilmu tentang makna yang dimaksud darinya kepada Alloh!! Serta meninggalkan ta’wil-nya disertai dengan tanzīh (mensucikan)-Nya ta’ala dari hakikatnya!! Karena kemustahilan penyerupaan-Nya ta’ala dengan makhluk. Alloh berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11).

Kemudian ia menukil ucapan Ummu Salamah rodhiyallahu ‘anha—padahal tidak shohih (valid) darinya—dan ucapan Malik (w. 179 H): “Bagaimana-nya itu tidak masuk akal, dan Al-Istiwa’ (bersemayam) itu tidaklah majhūl (tidak diketahui), dan mengimaninya wajib, dan bertanya mengenainya adalah bid’ah.”

Kemudian ia berkata: “Imam Al-Haromain (Al-Juwaini, w. 478 H) berkata di akhir Ar-Risālah An-Nizhōmiyyah: ‘Yang kami ridhoi sebagai agama, dan kami yakini sebagai ‘aqidah adalah mengikuti Salaf umat ini. Karena mereka menempuh jalan meninggalkan pembahasan makna-maknanya!!”

Kemudian ia berkata:

termasuk orang yang menempuh jalan itu adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H)!! Imam Ibnul Qoyyim (w. 751 H) serta orang yang mengikuti keduanya!! banyak dari para mufassir seperti Al-Baghowi (w. 510 H)!! Ar-Rozi (w. 606 H), Al-Jalaalain (Al-Mahalli (w. 864 H) dan As-Suyuthi (w. 911 H), Al-Alusi (w. 1270 H), dan pemilik Fatḥ Al-Bayān dan selain mereka.”

ia berkata: “sekelompok dari Ahlus Sunnah menempuh jalan ta’wil (interpretasi) terhadap ayat-ayat dan Hadits-Hadits yang diriwayatkan mengenai Shifāt (sifat-sifat Alloh) dengan apa yang layak bagi keagungan-Nya ta’ala, disertai dengan tanzīh (mensucikan)-Nya dari hakikatnya, dan itu adalah madz-hab Kholaf (orang-orang setelah Salaf).”

Imam Ar-Rozi (w. 606 H) berkata: “Yang dipilih oleh para Imam muḥaqqiqūn (peneliti) dari Salaf dan Kholaf adalah meninggalkan pembahasan dalam penentuan ta’wil setelah menegakkan dalil yang qoth’ī (pasti) bahwa mengarahkan lafazh kepada zhōhir-nya (makna lahiriahnya) adalah mustahil!” (selesai).

Ini adalah ucapannya, dan di dalamnya ada penjelasan ‘aqidah-nya. bantahan kami terhadapnya dari beberapa aspek:

Pertama: Ucapannya bahwa Āyāt Ash-Shifāt (Ayat-Ayat Sifat) dan Hadits-Haditsnya termasuk mutasyābih (hal yang samar) yang maknanya tidak diketahui, dan itu adalah madz-hab para Imam umat ini! mereka menyerahkan ilmu tentang makna-maknanya kepada Alloh adalah ucapan yang batil lagi ditolak. Karena tidak diketahui bahwa ada satu pun dari para Imam—tidak Imam Ahmad (w. 241 H) bin Hanbal dan tidak pula selainnya—yang menjadikan Nama-Nama dan Sifat-sifat Alloh termasuk mutasyābih yang ta’wil-nya tidak diketahui kecuali oleh Alloh. Ia seperti ucapan bahasa asing yang tidak dipahami. mereka tidak berkata Alloh menurunkan ucapan yang tidak dipahami maknanya oleh siapa pun. mereka hanyalah berkata ia memiliki makna yang shohih (valid). mereka berkata: “Ia dijalankan sebagaimana ia datang.” mereka melarang dari ta’wīlāt (interpretasi) Jahmiyyah dan membantahnya serta membatalkannya, karena isinya adalah ta’ṭīl (penolakan sifat) terhadap nuṣūṣ (teks-teks) dari apa yang ditunjukkannya. makna ucapan mereka: “Ia dijalankan sebagaimana ia datang,” bukanlah maknanya tidak dipahami. Akan tetapi maksud mereka adalah kata-katanya tidak diselewengkan dari tempatnya, sebagaimana yang dilakukan oleh banyak Asya’iroh dan selain mereka dan mereka menamakan penyelewengan itu ta’wīl!!

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) rohimahullahu (semoga Alloh merohmatinya) telah membatalkan pendapat ini dengan bantahan yang memuaskan dan mencukupi. Ia berkata setelah ucapannya yang semisalnya yang telah didahului: “dalil atas bahwa ini bukanlah mutasyābih (hal yang samar) yang maknanya tidak diketahui (yakni bab Al-Asmā’ was Shifāt) adalah kami berkata: Tidak diragukan lagi bahwa Alloh menamai diri-Nya dalam Al-Qur’an dengan Nama-Nama seperti: Ar-Rohman, Al-Wadūd, Al-‘Azīz, Al-Jabbār, Al-‘Alīm, Al-Qodīr, Ar-Ro’ūf, dan yang semisalnya. Dia mensifati diri-Nya dengan Shifāt seperti Surat Al-Ikhlash, dan Ayat Al-Kursī, dan awal Surat Al-Hadid, dan akhir Surat Al-Hasyr, dan firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh: 282), dan

إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh: 284)

Dia mencintai orang-orang yang bertaqwa, orang-orang yang adil, dan orang-orang yang berbuat baik. Dia meridhoi orang-orang yang beriman dan beramal sholih. firman-Nya:

فَلَمَّا آسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ

“Maka ketika mereka membuat Kami murka, Kami membalas mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 55).

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ

“Hal itu karena mereka mengikuti apa yang membuat Alloh murka.” (QS. Muhammad: 28).

وَلَٰكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ

“Akan tetapi Alloh tidak menyukai keberangkatan mereka.” (QS. At-Taubah: 46).

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

“Ar-Rohman (Alloh Yang Maha Pengasih) bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thōhā: 5).

ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ

“Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke bumi dan apa yang keluar darinya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik di dalamnya. Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4).

وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَٰهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَٰهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ

“Dia-lah Ilāh (Sesembahan) di langit dan Ilāh di bumi. Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Az-Zukhruf: 84).

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

“Kepada-Nya naik perkataan-perkataan yang baik dan amal sholih mengangkatnya.” (QS. Fathir: 10).

إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

“Aku bersama kalian berdua, Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thōhā: 46).

وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ

“Dia-lah Alloh di langit dan di bumi.” (QS. Al-An’Am: 3).

مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

“Apa yang menghalangimu untuk bersujud kepada apa yang Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” (QS. Shod: 75).

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ

“Bahkan kedua tangan-Nya terbentang, Dia menafkahkan sekehendak-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 64).

وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

tetap kekal Wajh (Wajah) Robbmu yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan.” (QS. Ar-Rohman: 27).

يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

Mereka menginginkan Wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28).

وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي

"agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (QS. Thōhā: 39).

yang semisalnya.

Maka dikatakan kepada orang yang mengklaim bahwa ini adalah mutasyābih (hal yang samar) yang maknanya tidak diketahui: Apakah kamu berkata ini pada semua yang Alloh namai dan sifati dengannya diri-Nya atau hanya pada sebagiannya? Jika kamu berkata: Ini pada semuanya, maka ini adalah penentangan yang jelas dan pengingkaran terhadap apa yang diketahui secara darurat dari agama Islam, bahkan kekufuran yang terang. Karena kita memahami makna dari firman-Nya: innallōha bi kulli syai’in ‘alīm (Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu), dan kita memahami makna dari firman-Nya: innallōha ‘alā kulli syai’in qodīr (Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu) yang tidak sama dengan yang pertama. kita memahami makna dari firman-Nya: innallōha ‘azīzun dzū intiqōm (Alloh Maha Perkasa pemilik balasan). anak-anak kaum Muslimin, bahkan setiap orang yang berakal memahami hal ini.

Aku melihat sebagian orang yang berbuat bid’ah dan mengingkari dari Ahlul Maghrib (penduduk Barat) meskipun ia menisbatkan diri kepada Hadits, tetapi filsafat yang rusak telah mempengaruhinya, ia berkata: kami menamai Alloh Ar-Rohman Al-‘Alīm Al-Qodīr sebagai nama-nama tertentu tanpa kami memahami darinya makna yang menunjukkan pada sesuatu sedikit pun!! Demikian juga dalam firman-Nya: wa lā yuḥīṭūna bi syai’in min ‘ilmihī (dan mereka tidak melingkupi sesuatu pun dari ilmu-Nya), lafazh ini diucapkan tanpa kami berkata bahwa Dia memiliki ilmu. Ghuluw (berlebihan) yang zhōhir (lahiriah) ini termasuk jenis ghuluw Qorōmiṭoh yang bāṭin (batiniah). Akan tetapi yang ini lebih kering dan yang itu lebih kafir” hingga akhir ucapannya rohimahullahu (semoga Alloh merohmatinya).[1]

Aspek Kedua:

Adapun klaimnya bahwa madz-hab Salaf umat ini dan para Imamnya—dan di antara mereka Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyyah, w. 728 H) dan Ibnul Qoyyim (w. 751 H)—adalah At-Tafwīdh (menyerahkan makna)! Maka itu adalah ucapan yang kosong dari keshohihan, dan dalam ucapan yang telah didahului ada pembatalan untuknya. bagaimana bisa seorang Muslim berkata Rosul dan para Shohabat serta Tabi’in yang mengikuti mereka dengan kebaikan tidak mengetahui apa yang mereka baca dari Al-Kitab!! Padahal Alloh mencela orang yang membaca Kitab-Nya dan tidak merenungkannya serta memahaminya dan berakal dengannya, Dia berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ

“Maka apakah mereka tidak merenungkan perkataan (Al-Qur’an)?” (QS. Al-Mu’minun: 68).

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka merenungkan ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shod: 29)

Dan yang semisalnya dari nuṣūṣ (teks-teks) yang menjelaskan Alloh mencintai agar manusia merenungkan seluruh Al-Qur’an. Dia menjadikannya cahaya dan petunjuk bagi hamba-hamba-Nya. mustahil. Itu termasuk apa yang maknanya tidak dipahami.

Imam Ahmad (w. 241 H) telah mengarang kitab untuk membantah Jahmiyyah dan menamainya Ar-Rodd ‘alā Az-Zanādiqah wal Jahmiyyah fīmā Syakkat fīhi min Mutasyābih Al-Qur’ān wa Ta’awwalathu ‘alā Ghoiri Ta’wīlihī (Bantahan terhadap Zanādiqoh dan Jahmiyyah dalam apa yang mereka ragukan dari Mutasyābih Al-Qur’an dan mereka ta’wil selain ta’wil-nya). Maka Ahmad (w. 241 H) mencela mereka bahwa mereka menafsirkan Al-Qur’an dengan selain maknanya. Ahmad (w. 241 H) dan tidak ada satu pun dari para Imam yang berkata: Rosul tidak mengetahui makna Āyāt Ash-Shifāt (Ayat-Ayat Sifat) dan Hadits-Haditsnya. mereka tidak berkata: para Shohabat dan Tabi’in yang mengikuti mereka dengan kebaikan tidak mengetahui tafsir Al-Qur’an dan makna-maknanya.

Aspek Ketiga:

Adapun penisbatan madz-hab At-Tafwīdh (menyerahkan makna) kepada Ibnu Taimiyyah (w. 728 H), maka itu adalah perkara yang diketahui kebatilannya oleh setiap orang yang mengetahui Syaikh dan karya tulisnya dalam ‘aqidah. ia telah membatalkan madz-hab ini di banyak tempat dari kitab-kitabnya. kami nukilkan untukmu—saudaraku pembaca—satu tempat dan kami mengisyaratkan kepada yang lain.

Ia berkata dalam Majmū’ Al-Fatāwā (4/67-68) dalam penjelasan orang-orang yang keluar—dari metode para pendahulu yang pertama dari Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan—dalam ucapan Rosul mereka ada tiga metode: ṭorīqot at-takhayyul (metode pembayangan), ṭorīqot at-ta’wīl (metode interpretasi), dan ṭorīqot at-tajhīl (metode penganggapan bodoh). Ia berkata: “Adapun jenis ketiga: yang mereka berkata bahwa mereka adalah pengikut Salaf. Maka mereka berkata: Rosul tidak mengetahui makna apa yang diturunkan kepadanya dari ayat-ayat, dan para Shohabat beliau tidak mengetahui makna hal itu. Bahkan kelaziman ucapan mereka: ia sendiri tidak mengetahui makna apa yang ia ucapkan dari Aḥādīṡ Ash-Shifāt (Hadits-Hadits Sifat). Bahkan ia mengucapkan ucapan yang ia tidak tahu maknanya. orang-orang yang menisbatkan diri kepada madz-hab Salaf berkata: mereka tidak mengetahui makna nuṣūṣ (teks-teks). Bahkan mereka mengatakan itu pada Rosul . ucapan ini adalah ucapan yang paling batil!!

termasuk yang mereka sandarkan padanya dari hal itu adalah apa yang mereka pahami dari firman Alloh: wa mā ya’lamu ta’wīlahu illallōh (dan tiada yang mengetahui ta’wil-nya kecuali Alloh) (QS. Ali ‘Imron: 7). mereka menyangka bahwa Ta’wīl adalah makna yang mereka namakan ta’wīl, dan ia menyalahi zhōhir (makna lahiriah)-nya!

Kemudian mereka ini terkadang berkata: Nuṣūṣ (teks-teks) dijalankan sesuai zhōhir-nya, dan ta’wil-nya tidak diketahui kecuali oleh Alloh. mereka menginginkan dengan At-Ta’wīl apa yang menyalahi zhōhir (makna lahiriah). ini adalah pertentangan dari mereka. sekelompok menginginkan dengan zhōhir hanya lafazh-lafazh nuṣūṣ saja. kedua kelompok itu keliru dalam memahami ayat” (hingga akhir ucapannya rohimahullahu (semoga Alloh merohmatinya).[2]

Adapun Ibnul Qoyyim (w. 751 H), maka lihat bantahannya terhadap Ahl At-Tajhīl (At-Tafwīdh /orang yang menyerahkan makna) dalam Mukhtaṣor Ash-Ṣawā’iq (1/81-83).

Kemudian penulis datang dengan klaim lain, yaitu ta’wil (interpretasi) Āyāt Ash-Shifāt (Ayat-Ayat Sifat) dan Hadits-Haditsnya, dan tanzīh (mensucikan) Alloh dari hakikatnya!! adalah madz-hab sekelompok dari Ahlus Sunnah!! Kemudian ia berkata: “itu adalah madz-hab Kholaf (orang-orang setelah Salaf)?!”

diketahui bahwa Ahlus Sunnah tidak jatuh pada ta’wil (interpretasi) nuṣūṣ (teks-teks) dan memalingkannya dari zhōhir-nya (makna lahiriahnya) tanpa hujjah (argumen) dan tanpa dalil. yang jatuh pada hal itu hanyalah Jahmiyyah Al-Mu’aṭṭilah (yang menolak sifat-sifat Alloh) dan yang menyerupai mereka dari Asya’iroh dan Mātūrīdiyyah, yang menyelewengkan makna Al-Kitab dan As-Sunnah dan memalingkannya kepada makna-makna yang layak bagi Alloh menurut klaim mereka! Alloh benar ketika berfirman: qul a antum a’lamu amillōh (katakanlah: apakah kalian yang lebih mengetahui atau Alloh?) (QS. Al-Baqoroh: 140).

Adapun madz-hab Ahlus Sunnah, maka ia adalah mengimani apa yang diriwayatkan dari Alloh ta’ala dan dari Rosul-Nya dalam Al-Asmā’ was Shifāt (Nama dan Sifat Alloh) tanpa mereka mengingkari sesuatu pun darinya. mereka menetapkan hakikatnya tanpa tasybīh (penyerupaan). mereka mensucikan Robb mereka tanpa ta’ṭīl (penolakan sifat). mereka menyerahkan kaifiyyah-nya (bagaimana-nya) kepada Alloh. Maka yang diserahkan itu adalah kaifiyyah (bagaimana-nya), bukan ilmu tentang makna. dengan ini mereka berbeda dari semua Ahlul Bid’ah (ahli bid’ah) dalam bab ini.

Kecuali jika yang ia maksud dengan Ahlus Sunnah adalah yang berlawanan dengan Rofidhoh, maka ini ada sisi benarnya.

Adapun apa yang ia sebutkan tentang Shifāt (sifat-sifat Alloh) dalam kitabnya:

Ia berkata dalam firman Alloh:

إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Rohmat Alloh itu dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’rof: 56): “Rohmat Alloh adalah anugerah dan ni’mat-Nya atas hamba-hamba-Nya atau pahala-Nya!!” itu adalah ta’wil (interpretasi) terhadap Shifat dengan kelazimannya.

ia berkata tentang Shifat Al-Ghodhob (sifat marah): “Sifat yang Alloh tetapkan untuk diri-Nya dengan cara yang layak bagi keagungan Dzat-Nya. Kami mengimaninya, dan kami menyerahkan ilmu tentang hakikatnya kepada-Nya ta’ala relatif kepada-Nya. Disertai dengan tanzīh (mensucikan)-Nya dari penyerupaan dengan makhluk. pengaruhnya adalah Al-Intiqōm (pembalasan) dan Al-‘Adzāb (siksa)” (halaman 3).” Kemudian ia kembali menafsirkan Al-Ghodhob dengan Al-‘Iqōb (siksa)! dalam (QS. Thōhā: 81).

ia men-ta’wil Shifat Ar-Riḍō (sifat ridho) dengan Al-Ḥamd (pujian) dan Al-Madḥ (sanjungan) (QS. Az-Zumar: 7). dengan penerimaan amal dan pembalasan atasnya (QS. Al-Bayyinah: 8).

ia men-ta’wil Al-Istihza’ (mengolok-olok) dengan penghinaan terhadap orang-orang kafir atau dengan adzab (siksa) sebagai pembalasan atas ejekan mereka terhadap kaum Mu’minin. Itu termasuk bab Al-Musyākalah Al-Lafzhīyyah (kesamaan lafazh) (QS. Al-Baqoroh: 15).

ia menyebutkan dalam Shifat Al-Haya’ (sifat malu) (QS. Al-Baqoroh: 26) madz-hab Salaf. Kemudian ia menyebutkan madz-hab Kholaf (orang-orang setelah Salaf) yaitu ta’wil Al-Haya’ dengan kelazimannya yaitu At-Tark (meninggalkan)!

dalam Shifat Al-Makr (sifat tipu daya) dalam (QS. Ali ‘Imron: 54) ia berkata: “Makr Alloh adalah karena Dia menyelamatkan Rosul-Nya dari mereka. Maka tidak ada kebutuhan untuk mengklaim Al-Musyākalah Al-Lafzhīyyah (kesamaan lafazh) dalam menyandarkan Al-Makr kepada-Nya ta’ala. yang dimaksud dengannya hanyalah hak-Nya subḥānahu makna yang layak bagi kesempurnaan-Nya.” yang benar adalah dikatakan: Al-Makr termasuk Shifāt (sifat-sifat Alloh) yang disandarkan kepada-Nya sebagaimana diriwayatkan. tidak boleh dibentuk darinya nama (bagi Alloh), maka tidak dikatakan bahwa termasuk Nama-Nama-Nya adalah Al-Mākir (Yang Menipu). makr (tipu daya) Alloh terjadi terhadap orang yang melakukan tipu daya terhadap para Rosul dan wali-wali-Nya. itu adalah terpuji.

dalam Al-Ityān (mendatangi) dan Al-Maji’ (datang) ia menukil ucapan Salaf (QS. Al-Baqoroh: 210). Akan tetapi dalam (QS. Al-An’Am: 158) dan dalam (QS. Al-Fajr: 22) ia menyebutkan ucapan Salaf dan ucapan Kholaf (orang-orang setelah Salaf) yang dinisbatkan kepada Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma dan Al-Hasan (w. 110 H), padahal tidak shohih (valid) dari keduanya... ia men-ta’wil Shifat Al-Maḥabbah (sifat cinta) dengan Ar-Riḍō (ridho). Ia berkata dalam firman Alloh:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا

“Alloh mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur.” (QS. Ash-Shoff: 4): “Yakni Dia ta’ala meridhoi orang-orang yang berperang di jalan keridhoan-Nya.”

dalam Shifat Al-Yad (sifat tangan) ia menyebutkan madz-hab Salaf dan Kholaf (orang-orang setelah Salaf) (halaman 75) tanpa tarjih (penguatan). ia menyebutkan dalam firman Alloh: was samāwātu maṭwiyyātun biyamīnihī (dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya) (QS. Az-Zumar: 67) ucapan Az-Zamakhsyari (w. 538 H) dalam ta’wil Al-Yamīn (tangan kanan) dan Al-Qobḍ (genggaman).

ia menetapkan Shifat Al-Kalām (sifat berbicara) dalam (QS. Al-A’rof: 143) wa kallamahu robbuhu (dan Robbnya berbicara kepadanya), ia berkata: yakni Dia menghilangkan hijab antara Musa ‘alaihis salām dan kalām-Nya (firman-Nya). Maka ia mendengarnya tanpa perantara dengan huruf dan suara. itu tidak serupa dengan kalām makhluk. ia menetapkan ru’yah (melihat) kaum Mu’minin kepada Robb mereka (QS. Al-An’Am: 103).

ia menyebutkan dalam Al-Istiwa’ (bersemayam) (QS. Al-A’rof: 54) madz-hab Salaf. Kemudian ia menyebutkan madz-hab Kholaf (orang-orang setelah Salaf). Akan tetapi ia membatasi diri pada penyebutan madz-hab Salaf di tempat-tempat berikutnya dalam Āyāt Al-Istiwa’ (Ayat-Ayat Bersemayam). ia berkata tentang Al-’Arsy (singgasana) (QS. Al-A’rof: 54): “‘Arsy Alloh ta’ala sebagaimana yang dikatakan oleh Ar-Roghib (w. 502 H): termasuk apa yang tidak diketahui oleh manusia kecuali dengan nama!! itu tidak seperti apa yang dipikirkan oleh dugaan orang awam. Karena seandainya demikian, niscaya ia akan menjadi pembawa bagi-Nya—Maha Tinggi Dia dari hal itu—bukan yang dibawa!”

Aku berkata: Ucapan bahwa kita tidak mengetahui tentang Al-‘Arsy kecuali nama!! bukanlah shohih (benar). Karena Dia ta’ala telah mengabarkan kepada kita dalam Kitab-Nya bahwa ‘Arsy-Nya adalah Majīd yakni luas dan agung dan Karīm (yakni indah). Ia berada di atas air. ia memiliki para pembawa dari Malaikat yang membawanya. yang lain mengelilinginya, mereka bertasbih dengan pujian Robb mereka dan memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman. Ia dibawa pada hari Kiamat oleh delapan dari Malaikat. Semua itu ada dalam Al-Kitab. Nabi mengabarkan bahwa berat Al-‘Arsy termasuk berat yang paling berat, dalam sabda beliau kepada Ummul Mu’minin Juwairiyyah rodhiyallahu ‘anha: “Aku telah mengucapkan setelahmu empat kalimat, seandainya ia ditimbang dengan apa yang kamu ucapkan, niscaya ia akan menimbangnya: Subḥānallōhi ‘adada kholqihī, Subḥānallōhi riḍō nafsihī, Subḥānallōhi zīnata ‘arsyihī, Subḥānallōhi midāda kalimātihī(HR. Muslim no. 2726)

Maka penyebutan beratnya bersama urusan-urusan yang tidak terhitung banyaknya ini adalah dalil atas keagungan beratnya.

Ia memiliki tiang-tiang, sebagaimana Nabi berkata: “...Manusia pingsan pada hari Kiamat... Aku mendapati Musa berpegangan pada salah satu tiang ‘Arsy...” (Muttafaq Alaih)

Nabi mengabarkan bahwa atap Jannah Al-Firdaus adalah ‘Arsy Alloh dalam sabdanya: idzā sa’altumullōhā ‘azza wa jalla fas’Alūhul firdausa fa innahu saqful firdausi wa a’lāl jannati wa fauqahu ‘arsyu ar-roḥmān wa minhu tafajjaru anhārul jannah (Jika kalian meminta kepada Alloh maka mintalah Al-Firdaus. Karena ia adalah atap Al-Firdaus dan yang paling tinggi dari Jannah. di atasnya ada ‘Arsy Ar-Rohman (Yang Maha Pengasih). darinya memancar sungai-sungai Jannah. (HR. Al-Bukhōri)

Maka bagaimana dikatakan setelah itu bahwa kita tidak mengetahui tentang Al-‘Arsy kecuali nama?!

Deskripsi Umum Tafsir

Ia tafsir ringkas tanpa mengurangi substansi dan tanpa bertele-tele. penulis menyebutkan sebab ia mengarang kitabnya dan metodenya di dalamnya, ia mengatakan bahwa banyak dari penuntut ilmu yang berkeinginan kepada tafsir Al-Qur’an yang paling lemah dari sisi penyampaian, yang menjelaskan ungkapan-ungkapan internalnya. Membatasi diri pada apa yang ada di dalam ayat-ayat dan kosa kata. memadai dari kitab-kitab yang panjang lebar. ia memadai dari pembahasan-pembahasan yang bercabang dan banyaknya ucapan. Ia telah bertekad untuk menyimpulkan makna-makna Al-Qur’an darinya dengan gaya bahasanya yang mudah dan kejelasannya. ia mencukupkan diri dengan ringkasan-ringkasan darinya yang mudah bagi akal untuk memahaminya, dan ia menyingkirkan kesulitan tempatnya dalam penyusunannya. Maka ia mencari pertolongan kepada Alloh azza wa jalla dan meminta kebaikan dari-Nya. Bertawakkal kepada-Nya subḥānahu wa ta’ala agar Dia memberinya taufiq kepada yang benar. Dia menjaganya dari apa yang tercela dan Dia membalasnya pada hari perhitungan.

“aku memulai dengan menjelaskan kosa kata Al-Qur’an dengan penjelasan yang memadai, dan disusun dengan susunan sistem yang mulia. Tidak secara urutan kamus kebahasaan. Agar makna dapat diketahui dengan mudah saat membaca atau mendengar. Disertai dengan penjelasan makna sebagian ayat yang disusun oleh kosa kata ini.”

Sikapnya terhadap Sanad

Ia adalah tafsir ringkas Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya. Tidak disebutkan di dalamnya Hadits-Hadits kecuali sedikit, seperti asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat). ia tidak dinisbatkan kepada sumbernya kecuali sedikit juga.

Sikapnya terhadap Hukum Fiqih

Ia menjelaskan ayat-ayat secara umum dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya dengan penjelasan yang ringkas lagi mudah. ia tidak menyebutkan perbedaan pendapat para fuqoha’ (ahli Fiqih) di dalamnya. ia merujuk kepada kitab-kitab Fiqih jika ingin tambahan dan perincian (halaman 729).

Sikapnya terhadap Qiro’at

Ia tidak menyebutkan qiro’at di dalamnya.

Sikapnya terhadap Isro’iliyyat

Ia berpaling dari penyebutan Isro’iliyyat. ia terkadang membantah sebagiannya, sebagaimana ia berkata dalam (QS. Al-Baqoroh: 102): “apa yang diriwayatkan oleh para mufassir dalam kisah Harut dan Marut tidak ada asalnya. itu adalah kebohongan Isro’iliyyah. Maka tidak boleh mengandalkannya.” Yang mengingkarinya adalah lebih banyak dari para Imam: Al-Qodhi ‘Iyyadh (w. 544 H), dan Imam Ar-Rozi (w. 606 H), dan Syihab Al-‘Iroqi (w. 826 H), dan Ibnu Katsir (w. 774 H), dan Al-Alusi (w. 1270 H).

Sikapnya terhadap Bahasa, Nahwu, dan Syair

Ia memperhatikan penjelasan kosa kata Al-Qur’an tanpa bertele-tele. Adapun Nahwu dan syair, ia tidak membahasnya karena ia bermaksud untuk meringkas kitabnya.

Bab Catatan-Catatan atas Tafsir Juz ‘Amma karya Husain Muhammad Makhluf

Dari Tafsirnya yang ringkas yang dinamakan Kalimāt Al-Qur’ān Tafsīr wa Bayān.

aku menulisnya sebagai respons atas permintaan sebagian saudara-saudara yang mulia untuk meninjau kembali bagian ini.

Dalam Surat Al-Burūj, ia berkata: min syāhidin wa masyhūdin (yang menyaksikan dan yang disaksikan). Ia berkata: “Yang menyaksikan atas yang lain di dalamnya.”

Telah diriwayatkan dalam Hadits shohih (valid) dari Hadits Malik Al-Asy’ari rodhiyallahu ‘anhu sabda Rosululloh : “Yang dijanjikan adalah hari Kiamat, dan hari Jum’at, dan yang disaksikan.” (HR. Ath-Thobari no. 310) dalam Al-Kabīr dengan sanad yang baik. ia memiliki syāhid (bukti) dari Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (w. 279 H) dan Al-Baihaqi (w. 458 H) (lihat Ash-Shohihah no. 1502).

ia juga berkata tentang Al-Wadūd (Yang Maha Mengasihi): “Yang mengasihi para wali-Nya dengan kemuliaan.” yang benar adalah dikatakan: Al-Wadūd adalah Yang mencintai para Rosul-Nya dan para wali-Nya dan mereka mencintai-Nya, maka Dia lebih dicintai oleh setiap sesuatu.

Dalam Surat Ath-Thōriq, ia berkata tentang firman Alloh:

إِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ

“Setiap jiwa pasti ada penjaganya.” (QS. Ath-Thōriq: 4)

Ia berkata: “Yang mengawasi dan menjaga dan Dia adalah Alloh ta’ala.”

setelah itu:

yang benar adalah ditafsirkan bahwa setiap jiwa memiliki penjaga dari Malaikat yang menghitung amal dan ucapan mereka.

itu adalah apa yang disebutkan oleh Ibnu Jarir (Ath-Thobari, w. 310 H) dan ia memilihnya dari Qotadah (w. 118 H) dengan sanad yang baik.

ia menyebutkan selainnya. Demikian juga ia berkata dalam tafsirnya (4/698) tentang firman Alloh ta’ala: lahū mu’aqqibātun min baini yadaihi wa min kholfihi yaḥfazhūnahū min amrillōh (baginya para pengiring yang silih berganti di hadapannya dan di belakangnya, mereka menjaganya dari perintah Alloh) (QS. Ar-Ra’d: 11).

Ibnu Al-Qoyyim (w. 751 H) menyebutkan dalam kitabnya Aqsām Al-Qur’ān (Sumpah-Sumpah Al-Qur’an) (halaman 64) pendapat ini dan tidak membantahnya sedikit pun.

Dalam Surat Al-Ghosyiyah, ia berkata tentang firman Alloh ta’ala: ‘āmilatun nāṣibah: “Yang mengalami kesulitan dan belenggu di Naar dan ia adalah balasan dari apa yang mereka temui di dalamnya dari adzab (siksa).”

ia menyebutkan selain Ibnu Jarir (Ath-Thobari, w. 310 H) dari Qotadah (w. 118 H) yang semisalnya (10/202).

Tafsir lain yang disebutkan oleh Al-Bukhōri (w. 256 H) secara mu’allaq (tanpa sanad yang lengkap) dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma adalah: ‘āmilatun nāṣibah: Orang-orang Nashōro.

Ibnu Abi Hatim (w. 327 H) menyambungkannya dari jalan Syabīb bin Bisyr (ṣodūq yang melakukan kesalahan) dari ‘Ikrimah (w. 105 H) dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma dan ia menambahkan: Orang-orang Yahudi.

ia memilih Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnya (4/502) ia berkata: yakni ia telah banyak beramal dan ia sampai pada Naar pada hari Kiamat dengan perlindungan.

Dalam Surat Al-Fajr, ia berkata tentang firman Alloh ta’ala: fir’auna dzīl autād (Firaun pemilik pasak-pasak): “Pasukan yang banyak yang dengannya ia menguatkan kerajaannya.”

Ibnu Jarir (Ath-Thobari, w. 310 H) men-dho’if-kan (melemahkan) pendapat ini dan ia berkata: “Aku men-ta’wilnya sesuai dengan yang benar, yang paling benar dari pendapat yang dikatakan: yakni dengan pasak-pasak yang ia tegakkan, baik itu dari kayu atau besi. Karena itu adalah yang diketahui dari makna pasak-pasak. ia mensifatinya demikian karena ia dapat menyiksa manusia dengannya, atau ia dapat bermain-main dengannya.

Maka tafsir Al-Autād (pasak-pasak) adalah: yang dengannya ia mengikat orang yang ingin ia siksa, atau rumah-rumah yang agung yang ia tegakkan dengan pasak-pasak.

Dalam Surat Al-Balad, ia berkata tentang firman Alloh ta’ala: bihādzāl balad (dengan negeri ini) (QS. Al-Balad: 1): “Maknanya adalah Makkah yang halāl (suci) bagimu untuk melakukan apa yang kamu lakukan padanya di hari penaklukan.”

ia tidak mengetahui makna Al-Balad (negeri) yang halāl (suci) yang ada padanya kesamaran.

yang paling baik adalah dikatakan: ia adalah Makkah yang Alloh bersumpah dengannya karena kemuliaannya dan kesuciannya. wa anta ḥillum bi hādzāl balad (dan kamu halal (bebas) di negeri ini) (QS. Al-Balad: 2): yakni kamu ingin membunuh siapa yang ingin kamu bunuh.

Dalam Surat Asy-Syams, ia berkata tentang firman Alloh ta’ala: fa qoddama ‘alaihā (maka ia mendahului mereka) (QS. Asy-Syams: 14): “Dia membinasakan mereka dan menimpakan adzab atas mereka dan menyamakan mereka.”

ia menyebutkan makna damdama (menghancurkan) dari Ad-Damdamah (kehancuran) yaitu kemarahan. ia adalah Al-Ghodhob (kemarahan). Ibnu Katsir (w. 774 H) menafsirkannya (4/517) demikian. Maka ia berkata: Maka Dia marah kepada mereka. Maka ia menjadikan Ad-Damdamah sebagai Ghodhob (kemarahan). Maka ia menjadikan siksaan turun atas mereka secara setara.

Dalam Surat Al-Mā’ūn, ia berkata tentang firman Alloh ta’ala: wa yamna’ūnal mā’ūn (dan enggan (menolong dengan) barang-barang berguna) (QS. Al-Ma’un: 7): “Apa yang dipinjamkan manusia di antara mereka dengan kikir.”

di dalamnya ada kesamaran. yang paling baik adalah dikatakan: ia adalah apa yang dipinjamkan manusia sebagian dari mereka kepada sebagian yang lain, seperti periuk, kapak, ember, dan yang semisalnya.



[1] Lihat Daqō’iq At-Tafsīr (1/115-118) cetakan Dār Al-Anshār.

[2] lihat Majmū’ Al-Fatāwā (5/34, 35, 38) (17/372-443, 450-452) (16/410-422) dan banyak lagi yang lain.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url