Metodologi Tafsir Husain Muhammad Makhluf
Nama
Mufassir
Husain
Muhammad Makhluf Al-‘Adawi, mantan Mufti Ad-Diyār Al-Mishriyyah (Negeri Mesir).
Nama
Kitab
صفوة البيان لمعاني القرآن
Ṣofwat
Al-Bayān li Ma’ānī Al-Qur’ān.
Aqidahnya
Ia adalah muawwil
(orang yang men-ta’wil) untuk sebagian besar Shifāt (sifat-sifat Alloh).
terkadang ia memilih At-Tafwīdh
(menyerahkan makna) dan menisbatkan hal itu kepada Salaf. ia mencampuradukkan antara madz-hab
Salaf dan Kholaf (orang-orang setelah Salaf) dalam muqoddimah kitabnya.
Maka seharusnya hal itu dibantah, dan dijelaskan apa yang ada kesalahan di
dalamnya.
Ia berkata
ketika berbicara tentang Al-Muḥkam wal Mutasyābih (ayat yang jelas dan
samar): “termasuk mutasyābih
adalah Āyāt Ash-Shifāt (Ayat-Ayat Sifat)!! Seperti:
الرَّحْمَٰنُ
عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
“Ar-Rohman
(Alloh Yang Maha Pengasih) bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thōhā: 5).
كُلُّ
شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
“Segala
sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya.” (QS. Al-Qoshosh: 88).
وَلِتُصْنَعَ
عَلَى عَيْنِي
“agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (QS. Thōhā: 39).
يَدُ
اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ
“Tangan
Alloh di atas tangan mereka.” (QS. Al-Fath: 10).
وَالسَّمَاوَاتُ
مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ
“langit digulung dengan tangan kanan-Nya.”
(QS. Az-Zumar: 67).
termasuknya
adalah Aḥādīṡ Ash-Shifāt (Hadits-Hadits Sifat)!!
madz-hab
mayoritas Ahlus Sunnah—dan di antara mereka Sufyan Ats-Tsauri (w. 161 H), Ibnul
Mubarok (w. 181 H), Ibnu ‘Uyainah (w. 198 H), Waki’ (w. 197 H), dan Imam yang
empat (Abu Hanifah w. 150 H, Malik w. 179 H, Asy-Syafi’i w. 204 H, Ahmad w. 241
H)—adalah wajib mengimaninya dan menyerahkan ilmu tentang makna yang dimaksud
darinya kepada Alloh!! Serta meninggalkan ta’wil-nya disertai dengan tanzīh
(mensucikan)-Nya ta’ala dari hakikatnya!! Karena kemustahilan
penyerupaan-Nya ta’ala dengan makhluk. Alloh berfirman:
لَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada
sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS.
Asy-Syuro: 11).
Kemudian ia
menukil ucapan Ummu Salamah rodhiyallahu ‘anha—padahal tidak shohih
(valid) darinya—dan ucapan Malik (w. 179 H): “Bagaimana-nya itu tidak masuk
akal, dan Al-Istiwa’ (bersemayam) itu tidaklah majhūl (tidak diketahui),
dan mengimaninya wajib, dan bertanya mengenainya adalah bid’ah.”
Kemudian ia
berkata: “Imam Al-Haromain (Al-Juwaini, w. 478 H) berkata di akhir Ar-Risālah
An-Nizhōmiyyah: ‘Yang kami ridhoi sebagai agama, dan kami yakini sebagai ‘aqidah
adalah mengikuti Salaf umat ini. Karena mereka menempuh jalan meninggalkan
pembahasan makna-maknanya!!”
Kemudian ia
berkata:
“termasuk orang yang menempuh jalan itu
adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H)!! Imam Ibnul Qoyyim (w. 751 H)
serta orang yang mengikuti keduanya!! banyak
dari para mufassir seperti Al-Baghowi (w. 510 H)!! Ar-Rozi (w. 606 H),
Al-Jalaalain (Al-Mahalli (w. 864 H) dan As-Suyuthi (w. 911 H), Al-Alusi (w.
1270 H), dan pemilik Fatḥ Al-Bayān dan selain mereka.”
ia berkata: “sekelompok dari Ahlus Sunnah menempuh
jalan ta’wil (interpretasi) terhadap ayat-ayat dan Hadits-Hadits yang
diriwayatkan mengenai Shifāt (sifat-sifat Alloh) dengan apa yang layak bagi
keagungan-Nya ta’ala, disertai dengan tanzīh (mensucikan)-Nya
dari hakikatnya, dan itu adalah madz-hab Kholaf (orang-orang setelah Salaf).”
Imam
Ar-Rozi (w. 606 H) berkata: “Yang dipilih oleh para Imam muḥaqqiqūn
(peneliti) dari Salaf dan Kholaf adalah meninggalkan pembahasan dalam penentuan
ta’wil setelah menegakkan dalil yang qoth’ī (pasti) bahwa
mengarahkan lafazh kepada zhōhir-nya (makna lahiriahnya) adalah
mustahil!” (selesai).
Ini adalah
ucapannya, dan di dalamnya ada penjelasan ‘aqidah-nya. bantahan kami terhadapnya dari beberapa aspek:
Pertama: Ucapannya bahwa Āyāt Ash-Shifāt
(Ayat-Ayat Sifat) dan Hadits-Haditsnya termasuk mutasyābih (hal yang samar)
yang maknanya tidak diketahui, dan itu adalah madz-hab para Imam umat ini!
mereka menyerahkan ilmu tentang makna-maknanya kepada Alloh adalah ucapan
yang batil lagi ditolak. Karena tidak diketahui bahwa ada satu pun dari para
Imam—tidak Imam Ahmad (w. 241 H) bin Hanbal dan tidak pula selainnya—yang
menjadikan Nama-Nama dan Sifat-sifat Alloh termasuk mutasyābih yang ta’wil-nya
tidak diketahui kecuali oleh Alloh. Ia seperti ucapan bahasa asing yang tidak
dipahami. mereka tidak berkata
Alloh menurunkan ucapan yang tidak dipahami maknanya oleh siapa pun. mereka hanyalah berkata ia memiliki
makna yang shohih (valid). mereka
berkata: “Ia dijalankan sebagaimana ia datang.” mereka melarang dari ta’wīlāt (interpretasi) Jahmiyyah
dan membantahnya serta membatalkannya, karena isinya adalah ta’ṭīl
(penolakan sifat) terhadap nuṣūṣ (teks-teks) dari apa yang
ditunjukkannya. makna ucapan mereka: “Ia dijalankan sebagaimana ia datang,”
bukanlah maknanya tidak dipahami. Akan tetapi maksud mereka adalah kata-katanya
tidak diselewengkan dari tempatnya, sebagaimana yang dilakukan oleh banyak Asya’iroh
dan selain mereka dan mereka menamakan penyelewengan itu ta’wīl!!
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) rohimahullahu (semoga Alloh
merohmatinya) telah membatalkan pendapat ini dengan bantahan yang memuaskan dan
mencukupi. Ia berkata setelah ucapannya yang semisalnya yang telah didahului: “dalil atas bahwa ini bukanlah mutasyābih
(hal yang samar) yang maknanya tidak diketahui (yakni bab Al-Asmā’ was Shifāt)
adalah kami berkata: Tidak diragukan lagi bahwa Alloh menamai diri-Nya dalam
Al-Qur’an dengan Nama-Nama seperti: Ar-Rohman, Al-Wadūd, Al-‘Azīz, Al-Jabbār,
Al-‘Alīm, Al-Qodīr, Ar-Ro’ūf, dan yang semisalnya. Dia mensifati diri-Nya
dengan Shifāt seperti Surat Al-Ikhlash, dan Ayat Al-Kursī, dan awal Surat
Al-Hadid, dan akhir Surat Al-Hasyr, dan firman-Nya:
إِنَّ
اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Alloh Maha
Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh: 282), dan
إِنَّ
اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh: 284)
Dia
mencintai orang-orang yang bertaqwa, orang-orang yang adil, dan orang-orang
yang berbuat baik. Dia meridhoi orang-orang yang beriman dan beramal sholih. firman-Nya:
فَلَمَّا
آسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ
“Maka
ketika mereka membuat Kami murka, Kami membalas mereka.” (QS. Az-Zukhruf:
55).
ذَٰلِكَ
بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ
“Hal itu
karena mereka mengikuti apa yang membuat Alloh murka.” (QS. Muhammad: 28).
وَلَٰكِنْ
كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ
“Akan
tetapi Alloh tidak menyukai keberangkatan mereka.” (QS. At-Taubah: 46).
الرَّحْمَٰنُ
عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
“Ar-Rohman
(Alloh Yang Maha Pengasih) bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thōhā: 5).
ثُمَّ
اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا
وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ
“Kemudian
Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke bumi dan apa
yang keluar darinya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik di dalamnya.
Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4).
وَهُوَ
الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَٰهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَٰهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ
“Dia-lah
Ilāh (Sesembahan) di langit dan Ilāh di bumi. Dia Maha Bijaksana lagi Maha
Mengetahui.” (QS. Az-Zukhruf: 84).
إِلَيْهِ
يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
“Kepada-Nya
naik perkataan-perkataan yang baik dan amal sholih mengangkatnya.” (QS.
Fathir: 10).
إِنَّنِي
مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ
“Aku
bersama kalian berdua, Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thōhā: 46).
وَهُوَ
اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ
“Dia-lah
Alloh di langit dan di bumi.” (QS. Al-An’Am: 3).
مَا مَنَعَكَ
أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ
“Apa yang
menghalangimu untuk bersujud kepada apa yang Aku ciptakan dengan kedua
tangan-Ku.” (QS. Shod: 75).
بَلْ
يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ
“Bahkan
kedua tangan-Nya terbentang, Dia menafkahkan sekehendak-Nya.” (QS. Al-Ma’idah:
64).
وَيَبْقَىٰ
وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“tetap kekal Wajh (Wajah) Robbmu yang
memiliki Keagungan dan Kemuliaan.” (QS. Ar-Rohman: 27).
يُرِيدُونَ
وَجْهَهُ
“Mereka
menginginkan Wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28).
وَلِتُصْنَعَ
عَلَى عَيْنِي
"agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (QS. Thōhā: 39).
yang semisalnya.
Maka
dikatakan kepada orang yang mengklaim bahwa ini adalah mutasyābih (hal
yang samar) yang maknanya tidak diketahui: Apakah kamu berkata ini pada semua
yang Alloh namai dan sifati dengannya diri-Nya atau hanya pada sebagiannya?
Jika kamu berkata: Ini pada semuanya, maka ini adalah penentangan yang jelas
dan pengingkaran terhadap apa yang diketahui secara darurat dari agama Islam,
bahkan kekufuran yang terang. Karena kita memahami makna dari firman-Nya: innallōha
bi kulli syai’in ‘alīm (Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu), dan kita
memahami makna dari firman-Nya: innallōha ‘alā kulli syai’in qodīr
(Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu) yang tidak sama dengan yang pertama. kita memahami makna dari firman-Nya: innallōha
‘azīzun dzū intiqōm (Alloh Maha Perkasa pemilik balasan). anak-anak kaum Muslimin, bahkan setiap
orang yang berakal memahami hal ini.
Aku melihat
sebagian orang yang berbuat bid’ah dan mengingkari dari Ahlul Maghrib (penduduk
Barat) meskipun ia menisbatkan diri kepada Hadits, tetapi filsafat yang rusak
telah mempengaruhinya, ia berkata: kami menamai Alloh Ar-Rohman Al-‘Alīm
Al-Qodīr sebagai nama-nama tertentu tanpa kami memahami darinya makna yang
menunjukkan pada sesuatu sedikit pun!! Demikian juga dalam firman-Nya: wa lā
yuḥīṭūna bi syai’in min ‘ilmihī (dan mereka tidak melingkupi sesuatu pun
dari ilmu-Nya), lafazh ini diucapkan tanpa kami berkata bahwa Dia memiliki
ilmu. Ghuluw (berlebihan) yang zhōhir (lahiriah) ini termasuk jenis ghuluw
Qorōmiṭoh yang bāṭin (batiniah). Akan tetapi yang ini lebih kering dan yang itu
lebih kafir” hingga akhir ucapannya rohimahullahu (semoga Alloh
merohmatinya).[1]
Aspek
Kedua:
Adapun
klaimnya bahwa madz-hab Salaf umat ini dan para Imamnya—dan di antara mereka Syaikhul
Islam (Ibnu Taimiyyah, w. 728 H) dan Ibnul Qoyyim (w. 751 H)—adalah At-Tafwīdh
(menyerahkan makna)! Maka itu adalah ucapan yang kosong dari keshohihan, dan
dalam ucapan yang telah didahului ada pembatalan untuknya. bagaimana bisa seorang Muslim berkata
Rosul ﷺ dan
para Shohabat serta Tabi’in yang mengikuti mereka dengan kebaikan tidak
mengetahui apa yang mereka baca dari Al-Kitab!! Padahal Alloh mencela orang
yang membaca Kitab-Nya dan tidak merenungkannya serta memahaminya dan berakal
dengannya, Dia berfirman:
أَفَلَا
يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka
apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?” (QS.
Muhammad: 24).
أَفَلَمْ
يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ
“Maka
apakah mereka tidak merenungkan perkataan (Al-Qur’an)?” (QS. Al-Mu’minun:
68).
كِتَابٌ
أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو
الْأَلْبَابِ
“Kitab yang
Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka merenungkan ayat-ayatnya dan
agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shod: 29)
Dan yang
semisalnya dari nuṣūṣ (teks-teks) yang menjelaskan Alloh mencintai agar
manusia merenungkan seluruh Al-Qur’an. Dia menjadikannya cahaya dan petunjuk
bagi hamba-hamba-Nya. mustahil. Itu
termasuk apa yang maknanya tidak dipahami.
Imam Ahmad
(w. 241 H) telah mengarang kitab untuk membantah Jahmiyyah dan menamainya Ar-Rodd
‘alā Az-Zanādiqah wal Jahmiyyah fīmā Syakkat fīhi min Mutasyābih Al-Qur’ān
wa Ta’awwalathu ‘alā Ghoiri Ta’wīlihī (Bantahan terhadap Zanādiqoh dan
Jahmiyyah dalam apa yang mereka ragukan dari Mutasyābih Al-Qur’an dan
mereka ta’wil selain ta’wil-nya). Maka Ahmad (w. 241 H) mencela
mereka bahwa mereka menafsirkan Al-Qur’an dengan selain maknanya. Ahmad (w. 241
H) dan tidak ada satu pun dari para Imam yang berkata: Rosul ﷺ tidak mengetahui makna Āyāt Ash-Shifāt (Ayat-Ayat Sifat) dan
Hadits-Haditsnya. mereka tidak
berkata: para Shohabat dan Tabi’in yang mengikuti mereka dengan kebaikan tidak
mengetahui tafsir Al-Qur’an dan makna-maknanya.
Aspek
Ketiga:
Adapun
penisbatan madz-hab At-Tafwīdh (menyerahkan makna) kepada Ibnu Taimiyyah (w.
728 H), maka itu adalah perkara yang diketahui kebatilannya oleh setiap orang
yang mengetahui Syaikh dan karya tulisnya dalam ‘aqidah. ia telah membatalkan madz-hab ini di
banyak tempat dari kitab-kitabnya. kami
nukilkan untukmu—saudaraku pembaca—satu tempat dan kami mengisyaratkan kepada
yang lain.
Ia berkata
dalam Majmū’ Al-Fatāwā (4/67-68) dalam penjelasan orang-orang yang
keluar—dari metode para pendahulu yang pertama dari Muhajirin dan Anshor dan
orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan—dalam ucapan Rosul ﷺ mereka ada tiga metode: ṭorīqot at-takhayyul (metode
pembayangan), ṭorīqot at-ta’wīl (metode interpretasi), dan ṭorīqot
at-tajhīl (metode penganggapan bodoh). Ia berkata: “Adapun jenis ketiga:
yang mereka berkata bahwa mereka adalah pengikut Salaf. Maka mereka berkata:
Rosul ﷺ tidak mengetahui makna apa yang diturunkan kepadanya dari
ayat-ayat, dan para Shohabat beliau tidak mengetahui makna hal itu. Bahkan
kelaziman ucapan mereka: ia sendiri tidak mengetahui makna apa yang ia ucapkan
dari Aḥādīṡ Ash-Shifāt (Hadits-Hadits Sifat). Bahkan ia mengucapkan ucapan yang
ia tidak tahu maknanya. orang-orang
yang menisbatkan diri kepada madz-hab Salaf berkata: mereka tidak mengetahui
makna nuṣūṣ (teks-teks). Bahkan mereka mengatakan itu pada Rosul ﷺ. ucapan ini
adalah ucapan yang paling batil!!
termasuk yang
mereka sandarkan padanya dari hal itu adalah apa yang mereka pahami dari firman
Alloh: wa mā ya’lamu ta’wīlahu illallōh (dan tiada yang mengetahui ta’wil-nya
kecuali Alloh) (QS. Ali ‘Imron: 7). mereka
menyangka bahwa Ta’wīl adalah makna yang mereka namakan ta’wīl,
dan ia menyalahi zhōhir (makna lahiriah)-nya!
Kemudian
mereka ini terkadang berkata: Nuṣūṣ (teks-teks) dijalankan sesuai zhōhir-nya,
dan ta’wil-nya tidak diketahui kecuali oleh Alloh. mereka menginginkan dengan At-Ta’wīl
apa yang menyalahi zhōhir (makna lahiriah). ini adalah pertentangan dari mereka. sekelompok menginginkan dengan zhōhir hanya
lafazh-lafazh nuṣūṣ saja. kedua
kelompok itu keliru dalam memahami ayat” (hingga akhir ucapannya rohimahullahu
(semoga Alloh merohmatinya).[2]
Adapun
Ibnul Qoyyim (w. 751 H), maka lihat bantahannya terhadap Ahl At-Tajhīl
(At-Tafwīdh /orang yang menyerahkan makna) dalam Mukhtaṣor Ash-Ṣawā’iq
(1/81-83).
Kemudian
penulis datang dengan klaim lain, yaitu ta’wil (interpretasi) Āyāt
Ash-Shifāt (Ayat-Ayat Sifat) dan Hadits-Haditsnya, dan tanzīh (mensucikan)
Alloh dari hakikatnya!! adalah madz-hab sekelompok dari Ahlus Sunnah!!
Kemudian ia berkata: “itu adalah
madz-hab Kholaf (orang-orang setelah Salaf)?!”
diketahui bahwa
Ahlus Sunnah tidak jatuh pada ta’wil (interpretasi) nuṣūṣ
(teks-teks) dan memalingkannya dari zhōhir-nya (makna lahiriahnya) tanpa
hujjah (argumen) dan tanpa dalil. yang
jatuh pada hal itu hanyalah Jahmiyyah Al-Mu’aṭṭilah (yang menolak sifat-sifat
Alloh) dan yang menyerupai mereka dari Asya’iroh dan Mātūrīdiyyah, yang
menyelewengkan makna Al-Kitab dan As-Sunnah dan memalingkannya kepada
makna-makna yang layak bagi Alloh menurut klaim mereka! Alloh benar ketika
berfirman: qul a antum a’lamu amillōh (katakanlah: apakah kalian yang
lebih mengetahui atau Alloh?) (QS. Al-Baqoroh: 140).
Adapun
madz-hab Ahlus Sunnah, maka ia adalah mengimani apa yang diriwayatkan dari
Alloh ta’ala dan dari Rosul-Nya ﷺ
dalam Al-Asmā’ was Shifāt (Nama dan Sifat Alloh) tanpa mereka mengingkari
sesuatu pun darinya. mereka
menetapkan hakikatnya tanpa tasybīh (penyerupaan). mereka mensucikan Robb mereka tanpa ta’ṭīl
(penolakan sifat). mereka
menyerahkan kaifiyyah-nya (bagaimana-nya) kepada Alloh. Maka yang
diserahkan itu adalah kaifiyyah (bagaimana-nya), bukan ilmu tentang
makna. dengan ini mereka berbeda
dari semua Ahlul Bid’ah (ahli bid’ah) dalam bab ini.
Kecuali
jika yang ia maksud dengan Ahlus Sunnah adalah yang berlawanan dengan Rofidhoh,
maka ini ada sisi benarnya.
Adapun apa
yang ia sebutkan tentang Shifāt (sifat-sifat Alloh) dalam kitabnya:
Ia berkata
dalam firman Alloh:
إِنَّ
رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
“Rohmat Alloh
itu dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’rof: 56): “Rohmat
Alloh adalah anugerah dan ni’mat-Nya atas hamba-hamba-Nya atau pahala-Nya!!” itu adalah ta’wil (interpretasi)
terhadap Shifat dengan kelazimannya.
ia berkata
tentang Shifat Al-Ghodhob (sifat marah): “Sifat yang Alloh tetapkan untuk
diri-Nya dengan cara yang layak bagi keagungan Dzat-Nya. Kami mengimaninya, dan
kami menyerahkan ilmu tentang hakikatnya kepada-Nya ta’ala relatif
kepada-Nya. Disertai dengan tanzīh (mensucikan)-Nya dari penyerupaan
dengan makhluk. pengaruhnya
adalah Al-Intiqōm (pembalasan) dan Al-‘Adzāb (siksa)” (halaman 3).” Kemudian ia
kembali menafsirkan Al-Ghodhob dengan Al-‘Iqōb (siksa)! dalam (QS. Thōhā:
81).
ia men-ta’wil
Shifat Ar-Riḍō (sifat ridho) dengan Al-Ḥamd (pujian) dan Al-Madḥ (sanjungan) (QS.
Az-Zumar: 7). dengan
penerimaan amal dan pembalasan atasnya (QS. Al-Bayyinah: 8).
ia men-ta’wil
Al-Istihza’ (mengolok-olok) dengan penghinaan terhadap orang-orang kafir atau
dengan adzab (siksa) sebagai pembalasan atas ejekan mereka terhadap kaum Mu’minin.
Itu termasuk bab Al-Musyākalah Al-Lafzhīyyah (kesamaan lafazh) (QS.
Al-Baqoroh: 15).
ia menyebutkan
dalam Shifat Al-Haya’ (sifat malu) (QS. Al-Baqoroh: 26) madz-hab Salaf.
Kemudian ia menyebutkan madz-hab Kholaf (orang-orang setelah Salaf) yaitu ta’wil
Al-Haya’ dengan kelazimannya yaitu At-Tark (meninggalkan)!
dalam Shifat
Al-Makr (sifat tipu daya) dalam (QS. Ali ‘Imron: 54) ia berkata: “Makr
Alloh adalah karena Dia menyelamatkan Rosul-Nya ﷺ
dari mereka. Maka tidak ada kebutuhan untuk mengklaim Al-Musyākalah
Al-Lafzhīyyah (kesamaan lafazh) dalam menyandarkan Al-Makr kepada-Nya ta’ala.
yang dimaksud dengannya hanyalah
hak-Nya subḥānahu makna yang layak bagi kesempurnaan-Nya.” yang benar adalah dikatakan: Al-Makr
termasuk Shifāt (sifat-sifat Alloh) yang disandarkan kepada-Nya sebagaimana
diriwayatkan. tidak boleh
dibentuk darinya nama (bagi Alloh), maka tidak dikatakan bahwa termasuk
Nama-Nama-Nya adalah Al-Mākir (Yang Menipu). makr
(tipu daya) Alloh terjadi terhadap orang yang melakukan tipu daya terhadap para
Rosul dan wali-wali-Nya. itu
adalah terpuji.
dalam Al-Ityān
(mendatangi) dan Al-Maji’ (datang) ia menukil ucapan Salaf (QS. Al-Baqoroh:
210). Akan tetapi dalam (QS. Al-An’Am: 158) dan dalam (QS.
Al-Fajr: 22) ia menyebutkan ucapan Salaf dan ucapan Kholaf (orang-orang
setelah Salaf) yang dinisbatkan kepada Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma
dan Al-Hasan (w. 110 H), padahal tidak shohih (valid) dari keduanya... ia men-ta’wil Shifat Al-Maḥabbah
(sifat cinta) dengan Ar-Riḍō (ridho). Ia berkata dalam firman Alloh:
إِنَّ
اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا
“Alloh mencintai
orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur.” (QS.
Ash-Shoff: 4): “Yakni Dia ta’ala meridhoi orang-orang yang berperang
di jalan keridhoan-Nya.”
dalam Shifat
Al-Yad (sifat tangan) ia menyebutkan madz-hab Salaf dan Kholaf (orang-orang
setelah Salaf) (halaman 75) tanpa tarjih (penguatan). ia menyebutkan dalam firman Alloh: was
samāwātu maṭwiyyātun biyamīnihī (dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya)
(QS. Az-Zumar: 67) ucapan Az-Zamakhsyari (w. 538 H) dalam ta’wil
Al-Yamīn (tangan kanan) dan Al-Qobḍ (genggaman).
ia menetapkan
Shifat Al-Kalām (sifat berbicara) dalam (QS. Al-A’rof: 143) wa
kallamahu robbuhu (dan Robbnya berbicara kepadanya), ia berkata: yakni Dia
menghilangkan hijab antara Musa ‘alaihis salām dan kalām-Nya
(firman-Nya). Maka ia mendengarnya tanpa perantara dengan huruf dan suara. itu tidak serupa dengan kalām makhluk. ia menetapkan ru’yah (melihat)
kaum Mu’minin kepada Robb mereka (QS. Al-An’Am: 103).
ia menyebutkan
dalam Al-Istiwa’ (bersemayam) (QS. Al-A’rof: 54) madz-hab Salaf.
Kemudian ia menyebutkan madz-hab Kholaf (orang-orang setelah Salaf). Akan
tetapi ia membatasi diri pada penyebutan madz-hab Salaf di tempat-tempat
berikutnya dalam Āyāt Al-Istiwa’ (Ayat-Ayat Bersemayam). ia berkata tentang Al-’Arsy
(singgasana) (QS. Al-A’rof: 54): “‘Arsy Alloh ta’ala sebagaimana
yang dikatakan oleh Ar-Roghib (w. 502 H): termasuk apa yang tidak diketahui
oleh manusia kecuali dengan nama!! itu
tidak seperti apa yang dipikirkan oleh dugaan orang awam. Karena seandainya
demikian, niscaya ia akan menjadi pembawa bagi-Nya—Maha Tinggi Dia dari hal
itu—bukan yang dibawa!”
Aku
berkata: Ucapan bahwa kita tidak mengetahui tentang Al-‘Arsy kecuali nama!!
bukanlah shohih (benar). Karena Dia ta’ala telah mengabarkan kepada kita
dalam Kitab-Nya bahwa ‘Arsy-Nya adalah Majīd yakni luas dan agung dan Karīm
(yakni indah). Ia berada di atas air. ia memiliki para pembawa dari Malaikat
yang membawanya. yang lain
mengelilinginya, mereka bertasbih dengan pujian Robb mereka dan memohon ampunan
bagi orang-orang yang beriman. Ia dibawa pada hari Kiamat oleh delapan dari Malaikat.
Semua itu ada dalam Al-Kitab. Nabi ﷺ
mengabarkan bahwa berat Al-‘Arsy termasuk berat yang paling berat, dalam sabda
beliau kepada Ummul Mu’minin Juwairiyyah rodhiyallahu ‘anha: “Aku telah
mengucapkan setelahmu empat kalimat, seandainya ia ditimbang dengan apa yang
kamu ucapkan, niscaya ia akan menimbangnya: Subḥānallōhi ‘adada kholqihī,
Subḥānallōhi riḍō nafsihī, Subḥānallōhi zīnata ‘arsyihī, Subḥānallōhi midāda
kalimātihī” (HR. Muslim no. 2726)
Maka
penyebutan beratnya bersama urusan-urusan yang tidak terhitung banyaknya ini
adalah dalil atas keagungan beratnya.
Ia memiliki
tiang-tiang, sebagaimana Nabi ﷺ
berkata: “...Manusia pingsan pada hari Kiamat... Aku mendapati Musa berpegangan
pada salah satu tiang ‘Arsy...” (Muttafaq Alaih)
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa atap Jannah Al-Firdaus adalah ‘Arsy Alloh
dalam sabdanya: idzā sa’altumullōhā ‘azza wa jalla fas’Alūhul firdausa fa
innahu saqful firdausi wa a’lāl jannati wa fauqahu ‘arsyu ar-roḥmān wa minhu
tafajjaru anhārul jannah (Jika kalian meminta kepada Alloh maka mintalah
Al-Firdaus. Karena ia adalah atap Al-Firdaus dan yang paling tinggi dari
Jannah. di atasnya ada ‘Arsy
Ar-Rohman (Yang Maha Pengasih). darinya
memancar sungai-sungai Jannah. (HR. Al-Bukhōri)
Maka
bagaimana dikatakan setelah itu bahwa kita tidak mengetahui tentang Al-‘Arsy
kecuali nama?!
Deskripsi
Umum Tafsir
Ia tafsir
ringkas tanpa mengurangi substansi dan tanpa bertele-tele. penulis menyebutkan sebab ia mengarang
kitabnya dan metodenya di dalamnya, ia mengatakan bahwa banyak dari penuntut
ilmu yang berkeinginan kepada tafsir Al-Qur’an yang paling lemah dari sisi
penyampaian, yang menjelaskan ungkapan-ungkapan internalnya. Membatasi diri
pada apa yang ada di dalam ayat-ayat dan kosa kata. memadai dari kitab-kitab yang panjang lebar. ia memadai dari pembahasan-pembahasan
yang bercabang dan banyaknya ucapan. Ia telah bertekad untuk menyimpulkan
makna-makna Al-Qur’an darinya dengan gaya bahasanya yang mudah dan
kejelasannya. ia mencukupkan diri
dengan ringkasan-ringkasan darinya yang mudah bagi akal untuk memahaminya, dan
ia menyingkirkan kesulitan tempatnya dalam penyusunannya. Maka ia mencari
pertolongan kepada Alloh azza wa jalla dan meminta kebaikan dari-Nya.
Bertawakkal kepada-Nya subḥānahu wa ta’ala agar Dia memberinya taufiq kepada
yang benar. Dia menjaganya dari apa yang tercela dan Dia membalasnya pada hari
perhitungan.
“aku memulai
dengan menjelaskan kosa kata Al-Qur’an dengan penjelasan yang memadai, dan
disusun dengan susunan sistem yang mulia. Tidak secara urutan kamus kebahasaan.
Agar makna dapat diketahui dengan mudah saat membaca atau mendengar. Disertai
dengan penjelasan makna sebagian ayat yang disusun oleh kosa kata ini.”
Sikapnya
terhadap Sanad
Ia adalah
tafsir ringkas Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya. Tidak disebutkan di dalamnya
Hadits-Hadits kecuali sedikit, seperti asbabun nuzul (sebab-sebab
turunnya ayat). ia tidak
dinisbatkan kepada sumbernya kecuali sedikit juga.
Sikapnya
terhadap Hukum Fiqih
Ia
menjelaskan ayat-ayat secara umum dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya
dengan penjelasan yang ringkas lagi mudah. ia
tidak menyebutkan perbedaan pendapat para fuqoha’ (ahli Fiqih) di dalamnya. ia merujuk kepada kitab-kitab Fiqih
jika ingin tambahan dan perincian (halaman 729).
Sikapnya
terhadap Qiro’at
Ia tidak
menyebutkan qiro’at di dalamnya.
Sikapnya
terhadap Isro’iliyyat
Ia
berpaling dari penyebutan Isro’iliyyat. ia
terkadang membantah sebagiannya, sebagaimana ia berkata dalam (QS.
Al-Baqoroh: 102): “apa yang
diriwayatkan oleh para mufassir dalam kisah Harut dan Marut tidak ada asalnya. itu adalah kebohongan Isro’iliyyah.
Maka tidak boleh mengandalkannya.” Yang mengingkarinya adalah lebih banyak dari
para Imam: Al-Qodhi ‘Iyyadh (w. 544 H), dan Imam Ar-Rozi (w. 606 H), dan Syihab
Al-‘Iroqi (w. 826 H), dan Ibnu Katsir (w. 774 H), dan Al-Alusi (w. 1270 H).
Sikapnya
terhadap Bahasa, Nahwu, dan Syair
Ia
memperhatikan penjelasan kosa kata Al-Qur’an tanpa bertele-tele. Adapun Nahwu
dan syair, ia tidak membahasnya karena ia bermaksud untuk meringkas kitabnya.
Bab Catatan-Catatan atas
Tafsir Juz ‘Amma karya Husain Muhammad Makhluf
Dari Tafsirnya yang ringkas yang dinamakan Kalimāt Al-Qur’ān
Tafsīr wa Bayān.
aku menulisnya
sebagai respons atas permintaan sebagian saudara-saudara yang mulia untuk
meninjau kembali bagian ini.
Dalam Surat
Al-Burūj, ia berkata: min syāhidin wa masyhūdin (yang menyaksikan dan
yang disaksikan). Ia berkata: “Yang menyaksikan atas yang lain di dalamnya.”
Telah diriwayatkan
dalam Hadits shohih (valid) dari Hadits Malik Al-Asy’ari rodhiyallahu ‘anhu
sabda Rosululloh ﷺ: “Yang dijanjikan adalah hari
Kiamat, dan hari Jum’at, dan yang disaksikan.” (HR. Ath-Thobari no. 310)
dalam Al-Kabīr dengan sanad yang baik. ia
memiliki syāhid (bukti) dari Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu
yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (w. 279 H) dan Al-Baihaqi (w. 458 H) (lihat
Ash-Shohihah no. 1502).
ia juga berkata
tentang Al-Wadūd (Yang Maha Mengasihi): “Yang mengasihi para wali-Nya dengan kemuliaan.”
yang benar adalah dikatakan:
Al-Wadūd adalah Yang mencintai para Rosul-Nya dan para wali-Nya dan mereka
mencintai-Nya, maka Dia lebih dicintai oleh setiap sesuatu.
Dalam Surat
Ath-Thōriq, ia berkata tentang firman Alloh:
إِنْ
كُلُّ نَفْسٍ لَمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ
“Setiap jiwa
pasti ada penjaganya.” (QS. Ath-Thōriq: 4)
Ia berkata:
“Yang mengawasi dan menjaga dan Dia adalah Alloh ta’ala.”
setelah itu:
yang benar
adalah ditafsirkan bahwa setiap jiwa memiliki penjaga dari Malaikat yang
menghitung amal dan ucapan mereka.
itu adalah apa
yang disebutkan oleh Ibnu Jarir (Ath-Thobari, w. 310 H) dan ia memilihnya dari
Qotadah (w. 118 H) dengan sanad yang baik.
ia menyebutkan
selainnya. Demikian juga ia berkata dalam tafsirnya (4/698) tentang firman
Alloh ta’ala: lahū mu’aqqibātun min baini yadaihi wa min kholfihi yaḥfazhūnahū
min amrillōh (baginya para pengiring yang silih berganti di hadapannya dan
di belakangnya, mereka menjaganya dari perintah Alloh) (QS. Ar-Ra’d: 11).
Ibnu
Al-Qoyyim (w. 751 H) menyebutkan dalam kitabnya Aqsām Al-Qur’ān
(Sumpah-Sumpah Al-Qur’an) (halaman 64) pendapat ini dan tidak membantahnya
sedikit pun.
Dalam Surat
Al-Ghosyiyah, ia berkata tentang firman Alloh ta’ala: ‘āmilatun nāṣibah:
“Yang mengalami kesulitan dan belenggu di Naar dan ia adalah balasan dari apa
yang mereka temui di dalamnya dari adzab (siksa).”
ia menyebutkan
selain Ibnu Jarir (Ath-Thobari, w. 310 H) dari Qotadah (w. 118 H) yang
semisalnya (10/202).
Tafsir lain
yang disebutkan oleh Al-Bukhōri (w. 256 H) secara mu’allaq (tanpa sanad
yang lengkap) dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma adalah: ‘āmilatun
nāṣibah: Orang-orang Nashōro.
Ibnu Abi
Hatim (w. 327 H) menyambungkannya dari jalan Syabīb bin Bisyr (ṣodūq yang melakukan
kesalahan) dari ‘Ikrimah (w. 105 H) dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma
dan ia menambahkan: Orang-orang Yahudi.
ia memilih Ibnu
Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnya (4/502) ia berkata: yakni ia telah banyak
beramal dan ia sampai pada Naar pada hari Kiamat dengan perlindungan.
Dalam Surat
Al-Fajr, ia berkata tentang firman Alloh ta’ala: fir’auna dzīl autād
(Firaun pemilik pasak-pasak): “Pasukan yang banyak yang dengannya ia menguatkan
kerajaannya.”
Ibnu Jarir
(Ath-Thobari, w. 310 H) men-dho’if-kan (melemahkan) pendapat ini dan ia
berkata: “Aku men-ta’wilnya sesuai dengan yang benar, yang paling benar
dari pendapat yang dikatakan: yakni dengan pasak-pasak yang ia tegakkan, baik
itu dari kayu atau besi. Karena itu adalah yang diketahui dari makna
pasak-pasak. ia mensifatinya
demikian karena ia dapat menyiksa manusia dengannya, atau ia dapat bermain-main
dengannya.
Maka tafsir
Al-Autād (pasak-pasak) adalah: yang dengannya ia mengikat orang yang ingin ia
siksa, atau rumah-rumah yang agung yang ia tegakkan dengan pasak-pasak.
Dalam Surat
Al-Balad, ia berkata tentang firman Alloh ta’ala: bihādzāl balad
(dengan negeri ini) (QS. Al-Balad: 1): “Maknanya adalah Makkah yang
halāl (suci) bagimu untuk melakukan apa yang kamu lakukan padanya di hari
penaklukan.”
ia tidak
mengetahui makna Al-Balad (negeri) yang halāl (suci) yang ada padanya
kesamaran.
yang paling baik
adalah dikatakan: ia adalah Makkah yang Alloh bersumpah dengannya karena
kemuliaannya dan kesuciannya. wa
anta ḥillum bi hādzāl balad (dan kamu halal (bebas) di negeri ini) (QS.
Al-Balad: 2): yakni kamu ingin membunuh siapa yang ingin kamu bunuh.
Dalam Surat
Asy-Syams, ia berkata tentang firman Alloh ta’ala: fa qoddama ‘alaihā
(maka ia mendahului mereka) (QS. Asy-Syams: 14): “Dia membinasakan
mereka dan menimpakan adzab atas mereka dan menyamakan mereka.”
ia menyebutkan
makna damdama (menghancurkan) dari Ad-Damdamah (kehancuran) yaitu kemarahan. ia adalah Al-Ghodhob (kemarahan). Ibnu
Katsir (w. 774 H) menafsirkannya (4/517) demikian. Maka ia berkata: Maka Dia
marah kepada mereka. Maka ia menjadikan Ad-Damdamah sebagai Ghodhob
(kemarahan). Maka ia menjadikan siksaan turun atas mereka secara setara.
Dalam Surat
Al-Mā’ūn, ia berkata tentang firman Alloh ta’ala: wa yamna’ūnal mā’ūn
(dan enggan (menolong dengan) barang-barang berguna) (QS. Al-Ma’un: 7): “Apa
yang dipinjamkan manusia di antara mereka dengan kikir.”
di dalamnya ada
kesamaran. yang paling baik
adalah dikatakan: ia adalah apa yang dipinjamkan manusia sebagian dari mereka
kepada sebagian yang lain, seperti periuk, kapak, ember, dan yang semisalnya.
