Metodologi Tafsir Sayyid Qutb (w. 1387 H/1966 M)
Nama
Mufassir
Sayyid bin
Qutb bin Ibrohim.[1]
Nama
Kitab
في ظلال القرآن
Fī Zhilāl
Al-Qur’ān.
Aqidahnya
Ia men-ta’wil
sebagian Shifāt (sifat-sifat Alloh) seperti Al-Istiwa’ (bersemayam), Al-‘Uluw
(ketinggian), Al-Kalām (berbicara), Al-Mahabbah (cinta), dan Al-Yad (tangan). ia berkata: “Aku tidak menemukan
Hadits-Hadits yang shohih (valid) mengenai urusan Al-Kursī (kursi) dan Al-‘Arsy
(singgasana) yang menafsirkan dan menentukan maksud dari apa yang diriwayatkan
darinya dalam Al-Qur’an!!”
ia berkata
tentang firman Alloh:
وَمَا
قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ
“mereka tidak memuliakan Alloh dengan pemuliaan
yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat
dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67).
Ia berkata:
“segala apa yang diriwayatkan
dalam Al-Qur’an dan dalam As-Sunnah yang semisalnya ini hanyalah upaya
pendekatan terhadap hakikat! Alloh tabāroka wa ta’ala menyajikannya
dalam gaya bahasa yang dengannya Dia mendekatkannya dan membuat perumpamaan. ini adalah ungkapan Az-Zamakhsyari (w.
538 H).”
ia menyebutkan
dalam tafsir firman Alloh dari Surat Al-Hadid:
هُوَ
الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dia-lah
Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhōhir (Tampak) dan Yang Bāṭin
(Tersembunyi), dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid: 3).
demikian juga dalam tafsir Surat
Al-Ikhlash, ucapan yang darinya dapat diambil pendapat waḥdatul wujūd
(kesatuan wujud).
ia diberi udzur
(dimaafkan) dalam hal itu, bahwasanya ia disibukkan dengan urusan dakwah dan
pergerakan untuk menegakkan hukum Alloh di bumi. Maka ia tidak mengetahui apa
yang ditulis oleh para imam Salaf dalam bab ini.
Deskripsi
Umum Tafsir
Ia memulai
tafsirnya dengan penyajian ringkas yang menyeluruh tentang suroh dan
topik-topik yang dibahasnya serta masalah-masalah yang ditanganinya. Kemudian
ia merinci dan menafsirkan ayat demi ayat, dengan gaya sastra yang kuat. Ia
berhati-hati dalam hal itu untuk mengobati penyakit-penyakit masyarakat Islam
kontemporer, mengarahkan mereka kepada berpegang teguh pada Syari’at, dan
menegakkan hukum Alloh di dalamnya. Ia menjelaskan kebaikan-kebaikan agama dan
keburukan-keburukan jahiliyyah (kebodohan) serta akhlak dan sistemnya.
Oleh karena
itu, ia bermanfaat bagi setiap dai (penyeru) yang bekerja di bidang dakwah
kepada Islam, terutama karena penulisnya adalah salah satu dai kontemporer yang
aktif dan berpengalaman.
Sikapnya
terhadap Sanad
Ia
menyebutkan apa yang diriwayatkan dari Hadits-Hadits dan atsar
(jejak-jejak ucapan/perbuatan Salaf) dalam tafsir ayat-ayat tanpa sanad,
disertai dengan menisbatkannya kepada rowi asalnya. terkadang ia meluaskan pembahasan dalam penyebutan
riwayat-riwayat.
Sikapnya
terhadap Hukum Fiqih
Ia membahas
masalah-masalah Fiqih yang terdapat dalam ayat-ayat dengan gaya bahasa yang
dicirikan dengan kemudahan dan menjauhi perincian para fuqoha’ (ahli Fiqih). ia menukil perbedaan pendapat di
dalamnya tanpa bertele-tele. terkadang
ia me-rojih-kan (menguatkan) apa yang ia anggap benar.
Sikapnya
terhadap Isro’iliyyat
Ia
berpaling dari penyebutan Isro’iliyyat dan kisah-kisah. ia tidak membahas nama-nama yang disamarkan oleh Al-Qur’an. Ia
berkata dalam tafsir firman Alloh:
أَوْ
كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا
“Atau
seperti orang yang melewati suatu kampung yang (bangunan-bangunannya) telah
roboh menimpa atap-atapnya.” (QS. Al-Baqoroh: 259),
Ia berkata:
“Siapa orang yang melewati kampung itu? Apa kampung yang ia lewati yang
bangunan-bangunannya telah roboh menimpa atap-atapnya? Al-Qur’an tidak
menjelaskan sedikit pun tentang keduanya. seandainya
Alloh menghendaki niscaya Dia akan menjelaskannya. seandainya hikmah nash tidak terwujud kecuali dengan
penjelasan ini, niscaya Al-Qur’an tidak akan mengabaikannya. Maka hendaklah kita
berhenti—dengan metode kita dalam Zhilāl (Naungan) ini—pada batasan zhilāl
(naungan/bayangan) itu.”
Sikapnya
terhadap Bahasa, Nahwu, dan Syair
Ia
menafsirkan ayat-ayat dengan bahasa yang enak didengar dan mudah, tidak ada
kerumitan di dalamnya. ia tidak
menyebutkan pembahasan kebahasaan dan Nahwu. Demikian juga syawahid syi’riyyah
(bukti-bukti dari syair).
[1] Biografinya
terdapat dalam: Sayyid Qutb wa Turāṡuhu Al-Adabī wal Fikrī (Sayyid Qutb dan Warisan Sastra dan Pemikirannya) karya Ibrohim
Al-Bulaihi, Mu’jam Al-Mufassirīn (1/220).
