Pesona Surga dalam Ciri dan Fisik Penduduknya
4.1 Amal-Amal
yang Menyebabkan Berhak Mendapatkan Jannah
Penduduk Jannah
adalah orang-orang Mu’min yang mentauhidkan Alloh. Siapa pun yang menyekutukan
Alloh (syirik), atau kufur kepada-Nya, atau mendustakan salah satu dari
pokok-pokok keimanan, maka ia terhalang dari Jannah dan akan berada di
Naar.
Al-Qur’an sering
menyebutkan bahwa penduduk Jannah adalah orang-orang Mu’min yang beramal
sholih. Terkadang, Al-Qur’an merinci amal-amal sholih yang menyebabkan
pelakunya berhak mendapatkan Jannah.
Di antara tempat yang
Al-Qur’an secara jelas menyebutkan bahwa penduduk Jannah berhak
mendapatkan Jannah karena iman dan amal sholih adalah firman-Nya ?:
وَبَشِّرِ
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ? قَالُوا هَ?ذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ
وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ? وَلَهُمْ
فِيهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ ? وَهُمْ
فِيهَا خَالِدُونَ
“sampaikanlah kabar gembira kepada
orang-orang yang beriman dan beramal sholih, bahwa untuk mereka (disediakan) Jannah
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rizqi
buah-buahan dari Jannah, mereka berkata: ‘Inilah yang pernah diberikan
kepada kami dahulu.’ mereka
diberi (buah-buahan) yang serupa, dan di sana bagi mereka ada pasangan-pasangan
yang suci, dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqoroh: 25)
firman-Nya:
وَالَّذِينَ
آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ? لَّهُمْ
فِيهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ ? وَنُدْخِلُهُمْ
ظِلًّا ظَلِيلًا
“orang-orang yang beriman dan beramal
sholih, Kami akan memasukkan mereka ke dalam Jannah yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di dalamnya
mereka mendapat pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat
yang teduh.” (QS. An-Nisa’: 57)
firman-Nya:
وَالَّذِينَ
آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَ?ئِكَ
أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ? هُمْ
فِيهَا خَالِدُونَ
“orang-orang yang beriman dan beramal
sholih, Kami tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Mereka itulah penduduk Jannah, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-A’roof:
42)
firman-Nya:
وَعَدَ
اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ? وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ? ذَ?لِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Alloh menjanjikan
kepada orang-orang Mu’min laki-laki dan perempuan, (akan mendapatkan) Jannah
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan
(mendapatkan) tempat tinggal yang baik di Jannah ‘Adn. keridhoan dari Alloh adalah lebih
besar. Itu adalah keberuntungan yang agung.” (QS. At-Taubah: 72)
firman-Nya:
إِنَّ
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُم بِإِيمَانِهِمْ ? تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي
جَنَّاتِ النَّعِيمِ دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا
سَلَامٌ ? وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Sungguh, orang-orang
yang beriman dan beramal sholih, Robb mereka akan memberi petunjuk kepada
mereka karena keimanan mereka. Mengalir di bawah mereka sungai-sungai di Jannah
An-Na’im. Seruan mereka di dalamnya
adalah: “Sub??nakall?humma (Maha Suci Engkau, ya Alloh),” dan
penghormatan mereka di dalamnya adalah: “Sal?m (keselamatan),” dan
penutup seruan mereka adalah: “Al?amdulill?hi robbil ‘?lam?n (Segala
puji bagi Alloh, Robb semesta alam).” (QS. Y?nus: 9-10)
firman-Nya ?:
أُولَ?ئِكَ
لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ
أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِّن سُندُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ
مُّتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ ? نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا
“Mereka itulah yang
memperoleh Jannah ‘Adn, yang mengalir di bawah mereka
sungai-sungai. Di dalamnya mereka diberi perhiasan gelang dari emas dan mereka
mengenakan pakaian hijau dari sutra halus (sundus) dan sutra tebal (istabroq),
sambil bersandar dengan nyaman di atas dipan-dipan yang indah. Itulah
sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang paling indah.” (QS. Al-Kahfi:
31)
firman-Nya ?:
وَمَن
يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَ?ئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى?
جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ? وَذَ?لِكَ جَزَاءُ مَن تَزَكَّى?
“siapa yang datang kepada-Nya dalam
keadaan beriman, dia telah mengerjakan kebajikan, maka mereka itulah
orang-orang yang memperoleh tingkatan-tingkatan yang tinggi. (Yaitu) Jannah
‘Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.
itulah balasan bagi siapa yang
menyucikan diri.” (QS. Thoha: 75-86)
Di beberapa tempat,
disebutkan bahwa mereka berhak mendapatkan Jannah karena merealisasikan
satu perkara keimanan atau amal sholih. terkadang,
Al-Qur’an merinci amal-amal sholih itu dan memanjangkannya.
Di beberapa tempat,
disebutkan bahwa mereka berhak mendapatkannya karena Iman dan Islam:
يَا عِبَادِ
لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلَا أَنتُمْ تَحْزَنُونَ * الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا
وَكَانُوا مُسْلِمِينَ * ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ
“Wahai hamba-hamba-Ku,
pada hari ini tidak ada rasa takut pada kalian dan tidak (pula) kalian bersedih
hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada
ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang Muslim. Masuklah kalian ke Jannah, kalian dan pasangan-pasangan kalian,
akan digembirakan.” (QS. Az-Zukhruf: 68-70)
Terkadang, disebutkan
bahwa mereka berhak mendapatkannya karena mengikhlaskan agama mereka hanya
untuk Alloh:
إِلَّا
عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ أُولَ?ئِكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَّعْلُومٌ فَوَاكِهُ وَهُم
مُّكْرَمُونَ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ
“Kecuali hamba-hamba
Alloh yang mukhlash?n (dibersihkan/diikhlaskan) Mereka itu memperoleh rizqi
yang sudah ditentukan. (Yaitu) buah-buahan, dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, dan berada di Jannah An-Na’im.” (QS.
Ash-Shoffat: 40-43)
Terkadang, disebutkan
bahwa mereka berhak mendapatkannya karena kuatnya keterkaitan mereka dengan
Alloh, kerinduan mereka kepada-Nya, dan ibadah mereka kepada-Nya:
إِنَّمَا
يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا
بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ تَتَجَافَى? جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ
يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ فَلَا تَعْلَمُ
نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya yang
beriman kepada ayat-ayat Kami hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan
dengannya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji
Robb mereka, dan mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari
tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Robb mereka dengan rasa takut dan penuh
harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rizqi yang Kami berikan kepada
mereka .Maka tidak seorang pun mengetahui berbagai ni’mat yang tersembunyi,
yang (secara istimewa) dipersiapkan untuk mereka, sebagai balasan atas apa yang
selalu mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 15-18)
Di antara amal-amal
itu adalah shobr (kesabaran) dan tawakkal (berserah diri kepada
Alloh):
وَالَّذِينَ
آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُم مِّنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِي
مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ? نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ الَّذِينَ صَبَرُوا
وَعَلَى? رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“orang-orang yang beriman dan beramal
sholih, Kami akan menempatkan mereka pada istana-istana tinggi (ghurof)
di Jannah, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di
dalamnya. Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal. (Yaitu) orang-orang yang bersabar dan hanya kepada Robb mereka
bertawakkal.” (QS. Al-’Ankab?t: 58-59)
Di antaranya adalah
istiqomah di atas keimanan:
إِنَّ
الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا
هُمْ يَحْزَنُونَ أُولَ?ئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا
كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Sungguh, orang-orang
yang berkata: ‘Robb
kami adalah Alloh,’
kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian), maka tidak ada rasa takut
pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka itulah penduduk Jannah, mereka kekal di dalamnya, sebagai
balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-Ahqof: 13-14)
Di antaranya adalah al-ikhb?t
(tunduk dan merendah diri) kepada Alloh Ta’ala:
إِنَّ
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَخْبَتُوا إِلَى? رَبِّهِمْ أُولَ?ئِكَ
أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ? هُمْ
فِيهَا خَالِدُونَ
“Sungguh, orang-orang
yang beriman dan beramal sholih, dan ikhb?t (tunduk) kepada Robb mereka,
mereka itulah penduduk Jannah, mereka kekal di dalamnya.” (QS. H?d:
23)
di antaranya adalah takut
kepada Alloh:
وَلِمَنْ
خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ
“bagi siapa yang takut kepada kedudukan
(Robb)-nya, ada dua Jannah.” (QS. Ar-Rohman: 46)
di antaranya adalah
membenci orang-orang kafir yang musyrik, dan tidak menjalin kasih sayang dengan
mereka:
لَّا
تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ
أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ? أُولَ?ئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ
الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ? وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ? رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Engkau tidak akan
mendapati suatu kaum yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir, saling berkasih
sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, sekalipun
orang-orang itu bapak-bapak mereka, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara
mereka, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang di dalam hati
mereka telah Dia tuliskan keimanan dan Dia kuatkan mereka dengan r??
(pertolongan) dari-Nya. Dia akan memasukkan mereka ke dalam Jannah yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Alloh ridho
kepada mereka, dan mereka pun ridho kepada-Nya.” (QS. Al-Mujadilah: 22)
Di beberapa tempat,
ayat-ayat merinci amal-amal sholih yang menyebabkan pelakunya berhak
mendapatkan Jannah dengan perincian yang banyak.
Dalam Suroh Ar-Ro’d,
disebutkan bahwa mereka berhak mendapatkannya karena keyakinan mereka bahwa apa
yang diturunkan kepada Rosul ? adalah kebenaran, karena mereka menepati
janji-janji, tidak melanggar perjanjian, menyambung apa yang Alloh perintahkan
untuk disambung, takut kepada Alloh, takut akan buruknya hisab, bersabar karena
mengharap Wajah Alloh, mendirikan Sholat, berinfak secara tersembunyi dan
terang-terangan, dan menolak keburukan dengan kebaikan:
أَفَمَن
يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى? ? إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
* الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنقُضُونَ الْمِيثَاقَ * وَالَّذِينَ
يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ
سُوءَ الْحِسَابِ * وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا
الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ
السَّيِّئَةَ أُولَ?ئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ * جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا
وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ? وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن
كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ? فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
“Apakah orang yang
mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Robb-mu itu adalah
kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya ulul alb?b (orang yang
berakal sehat) yang dapat mengambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Alloh dan tidak melanggar
perjanjian orang-orang yang
menghubungkan apa yang diperintahkan Alloh untuk dihubungkan, dan mereka takut
kepada Robb mereka serta takut akan buruknya hisab, dan orang-orang yang
bersabar karena mencari Wajah Robb mereka, mendirikan Sholat, menginfakkan
sebagian dari rizqi yang Kami berikan kepada mereka secara tersembunyi atau
terang-terangan, serta menolak keburukan dengan kebaikan. Mereka itulah yang
mendapat ‘uqba ad-d?r (tempat kesudahan yang baik), yaitu Jannah ‘Adn,
mereka memasukinya bersama orang-orang sholih dari bapak-bapak mereka,
pasangan-pasangan mereka, dan keturunan-keturunan mereka. Sedangkan para
Malaikat masuk kepada mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan): ‘Keselamatan (sal?m) atas kalian berkat
kesabaran kalian.’ Maka
alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ro’d: 19-24)
Di awal Suroh Al-Mu’min?n,
Alloh menetapkan bahwa kemenangan (al-fal??) hanyalah untuk orang-orang
Mu’min. Kemudian Dia menjelaskan amal-amal yang mengantar mereka kepada
kemenangan, dan Dia memberitahu kita bahwa kemenangan mereka adalah dengan
dimasukkannya mereka ke Al-Firdaus, kekal di dalamnya selamanya:
قَدْ
أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ * الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ * وَالَّذِينَ
هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ * وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ * وَالَّذِينَ
هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى? أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ
فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَى? وَرَاءَ ذَ?لِكَ فَأُولَ?ئِكَ هُمُ
الْعَادُونَ * وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ * وَالَّذِينَ
هُمْ عَلَى? صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ * أُولَ?ئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ الَّذِينَ
يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Sungguh, beruntunglah
orang-orang Mu’min. (Yaitu) orang-orang yang
khusyu’ dalam Sholat mereka, orang-orang yang menjauhkan diri dari laghwu
(perkataan atau perbuatan yang tidak berguna), orang-orang yang menunaikan
Zakat, orang-orang yang menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap
pasangan-pasangan mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka mereka
tidak tercela. Tetapi siapa yang mencari-cari di balik itu, maka mereka itulah
orang-orang yang melampaui batas. Juga orang-orang yang
memelihara amanah-amanah dan janji-janji mereka, orang-orang yang memelihara Sholat-Sholat
mereka. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Yaitu) orang-orang yang akan mewarisi Al-Firdaus, mereka kekal di
dalamnya.” (QS. Al-Mu’min?n: 1-11)
Rosululloh ? telah menceritakan kepada kita tentang tiga amal agung yang
menyebabkan pelakunya berhak mendapatkan Jannah. Muslim meriwayatkan
dalam Shohih-nya, dari ‘Iyadh bin Himar Al-Mujasyi’i rodhiyallahu ‘anhu,
bahwa Rosululloh ? bersabda pada suatu hari dalam khutbahnya:
...
وَأَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ، وَرَجُلٌ
رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ، وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ
ذُو عِيَالٍ
“... penduduk Jannah ada tiga: [1] pemimpin
yang adil, banyak bershodaqoh, dan diberi taufiq, [2] laki-laki yang penyayang,
berhati lembut kepada setiap kerabat dan Muslim, dan [3] orang yang menjaga
kehormatan diri dan berusaha menahan diri (dari meminta-minta), serta memiliki
tanggungan keluarga.” (HR. Muslim)
4.2 Jalan
Menuju Jannah itu
Sulit
Jannah adalah tingkatan yang tinggi. Mendaki ke
tempat yang tinggi membutuhkan usaha yang besar. Jalan menuju Jannah di
dalamnya terdapat penentangan terhadap hawa nafsu dan kesenangan-kesenangan
jiwa, dan ini membutuhkan kemauan yang kuat (‘az?mah m??iyah) dan tekad
yang kuat (iroodah qowiyyah).
Dalam Hadits yang
diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu,
ia berkata: Rosululloh ? bersabda:
حُجِبَتِ
النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ
“Naar dihijabi dengan
syahwat, dan Jannah dihijabi dengan hal-hal yang tidak disukai (al-mak?rih).”
Dalam riwayat Muslim,
menggunakan kata ?uffat (dikelilingi) sebagai ganti ?ujibat
(dihijabi). (Jami’ul Ushul: 10/521, no. 8069)
Dalam Sunan An-Nasa’i
(303 H), At-Tirmidzi (279 H), dan Abu Dawud (275 H), dari Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ?
bersabda:
لَمَّا
خَلَقَ اللَّهُ الْجَنَّةَ قَالَ لِجِبْرِيلَ: اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا، فَذَهَبَ
فَنَظَرَ إِلَيْهَا، فَقَالَ: وَعِزَّتِكَ لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا،
فَحَفَّهَا بِالْمَكَارِهِ، فَقَالَ: اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا، فَذَهَبَ فَنَظَرَ
إِلَيْهَا، ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ: وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا يَدْخُلَهَا
أَحَدٌ
“Ketika Alloh
menciptakan Jannah, Dia berfirman kepada Jibril: ‘Pergilah dan lihatlah
ia.’ Maka Jibril pergi dan melihatnya, lalu ia berkata: ‘Demi Keagungan-Mu,
tidak ada seorang pun yang mendengarnya melainkan ia akan memasukinya.’ Lalu
Alloh mengelilinginya dengan hal-hal yang tidak disukai (al-mak?rih).
Dia berfirman: ‘Pergilah dan lihatlah ia.’ Maka Jibril pergi dan melihatnya,
kemudian ia datang dan berkata: ‘Demi Keagungan-Mu, aku khawatir tidak ada
seorang pun yang akan memasukinya.’” (Jami’ul Ushul: no. 8068)
An-Nawawi (676 H)
berkomentar dalam Syarh ‘ala Muslim tentang Hadits pertama: “Ini adalah
salah satu ucapan yang indah, fasih, dan komprehensif yang dianugerahkan kepada
Nabi ?, berupa perumpamaan yang bagus. Maknanya: Jannah tidak
dapat dicapai kecuali dengan menghadapi hal-hal yang tidak disukai, dan Naar
dicapai dengan syahwat. Begitu juga, keduanya dihijabi dengan hal-hal tersebut.
Siapa yang merobek hijab itu, ia akan sampai kepada yang dihijabi. Merobek
hijab Jannah adalah dengan menerjang hal-hal yang tidak disukai. merobek hijab Naar adalah dengan
melakukan syahwat. Adapun al-mak?rih (hal-hal yang tidak disukai)
meliputi: ijti??d (bersungguh-sungguh) dalam ibadah, muw?zhobah
(tekun) dalam ibadah, bersabar atas kesulitan-kesulitannya, menahan, memaafkan,
berlemah lembut, shodaqoh, berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk, menahan
diri dari syahwat, dan yang semisalnya.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim:
17/165)
4.3 Penduduk Jannah Mewarisi Bagian Penduduk Naar di Jannah
Alloh telah menetapkan
bagi setiap anak Adam dua tempat: satu tempat di Jannah, dan satu tempat
di Naar. Kemudian, siapa yang ditetapkan sebagai orang yang sengsara dari
kalangan orang-orang kafir dan musyrik, mereka akan mewarisi tempat penduduk Jannah
yang seharusnya menjadi bagian mereka di Naar. siapa yang ditetapkan sebagai orang yang berbahagia dari
penduduk Jannah, mereka akan mewarisi tempat penduduk Naar yang
seharusnya menjadi bagian mereka di Jannah.
Alloh ? berfirman mengenai orang-orang Mu’min yang
beruntung, setelah menyebutkan amal-amal mereka yang memasukkan mereka ke Jannah:
أُولَ?ئِكَ
هُمُ الْوَارِثُونَ * الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Mereka itulah
orang-orang yang akan mewarisi. (Yaitu) orang-orang yang
akan mewarisi Al-Firdaus, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’min?n: 10-11)
Ibnu Katsir (774 H)
berkata dalam menafsirkan ayat ini: “Ibnu Abi Hatim (327 H) berkata – dan ia
menyebutkan sanadnya sampai kepada Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu – ia
berkata: Rosululloh ? bersabda:
مَا مِنْكُمْ
مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَلَهُ مَنْزِلَانِ: مَنْزِلٌ فِي الْجَنَّةِ، وَمَنْزِلٌ فِي النَّارِ،
فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَبْنِي بَيْتَهُ الَّذِي فِي الْجَنَّةِ، وَيَهْدِمُ بَيْتَهُ
الَّذِي فِي النَّارِ
‘Tidak ada seorang pun
di antara kalian melainkan memiliki dua tempat: satu tempat di Jannah,
dan satu tempat di Naar. Adapun orang Mu’min, ia akan membangun rumahnya yang
di Jannah, dan meruntuhkan rumahnya yang di Naar.’”
Diriwayatkan dari Sa’id
bin Jubair (95 H) yang serupa. Orang-orang Mu’min mewarisi tempat-tempat orang
kafir, karena mereka diciptakan untuk beribadah kepada Alloh semata, tiada
sekutu bagi-Nya. Ketika orang-orang Mu’min melaksanakan apa yang wajib atas
mereka berupa ibadah, dan orang-orang kafir meninggalkan apa yang diperintahkan
kepada mereka, yang untuknya mereka diciptakan, maka orang-orang Mu’min ini
mendapatkan bagian orang-orang kafir seandainya mereka taat kepada Robb mereka ‘Azza
wa Jalla. Bahkan lebih dari itu, yaitu apa yang tetap dalam Shohih
Muslim, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy’ari rodhiyallahu ‘anhu,
dari Nabi ?, beliau bersabda:
يَجِيءُ
نَاسٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ بِذُنُوبٍ أَمْثَالِ الْجِبَالِ، فَيَغْفِرُهَا
اللَّهُ لَهُمْ، وَيَضَعُهَا عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى
“Akan datang pada hari
Kiamat sekelompok orang dari kaum Muslimin dengan dosa-dosa sebesar gunung.
Alloh akan mengampuni dosa-dosa mereka, dan menimpakannya kepada orang-orang
Yahudi dan Nashoro.”
Dalam lafazh lain: Rosululloh
? bersabda:
إِذَا
كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ دَفَعَ اللَّهُ لِكُلِّ مُسْلِمٍ يَهُودِيًّا أَوْ نَصْرَانِيًّا،
فَيُقَالُ: هَذَا فِكَاكُكَ مِنَ النَّارِ
“Jika hari Kiamat
tiba, Alloh akan menyerahkan kepada setiap Muslim seorang Yahudi atau Nashroni,
lalu Ada yang menyeru: ‘Ini adalah tebusanmu dari Naar.’”
Hadits ini serupa
dengan firman-Nya ?:
تِلْكَ
الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَن كَانَ تَقِيًّا
“Itulah Jannah
yang Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertaqwa.” (QS.
Maryam: 63)
firman-Nya:
وَتِلْكَ
الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“itulah Jannah yang diwariskan
kepada kalian disebabkan apa yang dahulu kalian kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf:
72)
Maka mereka
(orang-orang Mu’min) mewarisi bagian orang-orang kafir di Jannah. (Tafsir Ibnu Katsir: 5/10)
4.4
Orang-Orang Lemah Lebih Banyak Menjadi Penduduk Jannah
Kebanyakan yang masuk Jannah
adalah orang-orang lemah (adh-dhu’af?’) yang tidak dihiraukan oleh
manusia, tetapi mereka mulia di sisi Alloh, karena ikhb?t (ketundukan)
mereka kepada Robb mereka, kerendahan diri mereka kepada-Nya, dan pelaksanaan
hak penghambaan kepada Alloh.
Al-Bukhori dan Muslim
meriwayatkan dari Haritsah bin Wahb rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh
? bersabda:
أَلَا
أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ؟ قَالُوا: بَلَى، قَالَ: كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعَّفٍ،
لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ
“Maukah kalian aku
beritahu tentang penduduk Jannah?” Mereka menjawab: “Tentu.” Beliau
bersabda: “Setiap orang yang lemah (dho’?f) dan dianggap lemah (muta?ho’af),
yang seandainya ia bersumpah atas nama Alloh, niscaya Alloh akan
mengabulkannya.” (Jami’ul Ushul: 10/535)
An-Nawawi (676 H)
berkata dalam Syarh ‘ala Hadits: “Maknanya: dianggap lemah oleh manusia,
diremehkan, dan mereka berbuat sewenang-wenang kepadanya karena keadaannya yang
lemah di dunia. Yang dimaksud adalah bahwa mayoritas penduduk Jannah
adalah mereka... dan bukan berarti mencakup seluruhnya.” (An-Nawawi ‘ala
Muslim: 17/187)
Dalam Shohihain
dan Musnad Ahmad, dari Usamah bin Zaid rodhiyallahu ‘anhuma, ia
berkata: Rosululloh ? bersabda:
قُمْتُ
عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ، فَكَانَ عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ، وَأَصْحَابُ
الْجَدِّ مَحْبُوسُونَ غَيْرَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّارِ قَدْ أُمِرَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ،
وَقُمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ
“Aku berdiri di pintu Jannah,
maka kebanyakan yang memasukinya adalah al-mas?k?n (orang-orang miskin).
Sedangkan Ash-habul Jadd (orang-orang kaya/beruntung) tertahan, hanya saja
Ash-habun Naar (penduduk Naar) telah diperintahkan untuk dimasukkan ke Naar. aku berdiri di pintu Naar, ternyata
kebanyakan yang memasukinya adalah kaum wanita.” (Misykatul Mashobih: no.
5233)
Dalam Shohihain,
dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:
اطَّلَعْتُ
فِي الْجَنَّةِ، فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ
فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ
“Aku melihat ke Jannah,
lalu aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir. aku melihat ke Naar, lalu aku melihat
kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita.” (Misykatul Mashobih: 2/663, no.
5234)
4.5 Apakah
Laki-Laki Lebih Banyak di Jannah atau
Perempuan?
Laki-laki dan
perempuan berselisih dalam hal ini ketika para Shohabat masih hidup. Dalam Shohih
Muslim, dari Ibnu Sirin (110 H) ia berkata: “Laki-laki dan perempuan
berselisih: siapa yang lebih banyak di Jannah?”
Dalam riwayat lain: “Entah
mereka saling membanggakan diri, atau saling mengingat: Apakah laki-laki di Jannah
lebih banyak atau perempuan?”
Mereka bertanya kepada
Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu. Maka Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu
berdalil bahwa perempuan di Jannah lebih banyak dengan sabda Rosululloh ?:
إِنَّ
أَوَّلَ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ،
وَالَّتِي تَلِيهَا عَلَى أَضْوَأِ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ، لِكُلِّ امْرِئٍ
مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ اثْنَتَانِ، يُرَى مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ،
وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ
“Rombongan pertama
yang masuk Jannah, rupa mereka seperti rupa bulan di malam purnama. rombongan yang mengikutinya seperti
bintang yang paling terang di langit. Bagi setiap orang dari mereka ada dua
istri, yang sumsum betisnya terlihat dari balik daging karena keindahannya. tidak ada orang bujangan (a’zab)
di Jannah.” (HR. Muslim, no. 2834)
Hadits ini jelas
menunjukkan bahwa perempuan di Jannah lebih banyak daripada laki-laki.
Sebagian ulama berdalil bahwa laki-laki lebih banyak dengan Hadits: “Aku
melihat kalian (para wanita) adalah mayoritas penduduk Naar.”
Jawabannya adalah,
tidak mesti bahwa karena mereka adalah mayoritas penduduk Naar, maka mereka
menjadi minoritas penghuni Jannah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu
Hajar Al-‘Asqolani (852 H). (Fathul Baari: 6/325)
Maka, cara
mengkompromikan kedua Hadits ini adalah bahwa perempuan adalah mayoritas
penduduk Naar dan mayoritas penduduk Jannah. Dengan demikian, jumlah
mereka (perempuan) lebih banyak secara keseluruhan dalam penciptaan.
Dapat juga dikatakan
bahwa Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu menunjukkan bahwa jenis
perempuan di Jannah lebih banyak, baik dari kalangan wanita dunia maupun
dari kalangan al-??r al-’?n (bidadari). pertanyaannya adalah: Mana yang lebih banyak di Jannah:
laki-laki dunia atau perempuan dunia?
Al-Qurthubi (671 H)
mengkompromikan dua nash tersebut dengan mengatakan bahwa perempuan menjadi
mayoritas penduduk Naar sebelum adanya syafa’at dan sebelum keluarnya pelaku
dosa besar dari ahli tauhid dari Naar. Jika mereka telah keluar darinya dengan
syafa’at para pemberi syafa’at dan rohmat
Dzat Yang Paling Penyayang, maka mereka (perempuan) menjadi mayoritas penduduk Jannah. (At-Tadzkiroh, Al-Qurthubi: 475)
Apa yang menunjukkan
sedikitnya jumlah perempuan di Jannah adalah riwayat yang dikeluarkan
oleh Ahmad dan Abu Ya’la (307 H) dari ‘Amr bin Al-‘Ash rodhiyallahu ‘anhu,
ia berkata: “Ketika kami bersama Rosululloh ? di
lembah ini, beliau bersabda: ‘Lihatlah, apakah kalian melihat sesuatu?’ Kami
berkata: ‘Kami melihat beberapa burung gagak, di antaranya ada gagak yang a’shom
(putih/merah) moncong dan kakinya merah.’ Rosululloh ?
bersabda:
لَا يَدْخُلُ
الْجَنَّةَ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَنْ كَانَ مِنْهُنَّ مِثْلُ هَذَا الْغُرَابِ فِي
الْغِرْبَانِ
‘Tidak ada perempuan
yang masuk Jannah melainkan yang jumlahnya seperti gagak ini di antara
gagak-gagak lain.’” (Silsilatu Al-Ahadits Ash-Shohihah no. 1851)
4.6: Mereka
yang Wafat Sebelum Taklif (Dibebani Hukum Syar’i)
4.6.1 Anak-Anak Orang Mu’min
Anak-anak orang Mu’min
yang belum mencapai usia baligh (al-?ilm) berada di Jannah In sy?’
Alloh (jika Alloh menghendaki), berkat karunia dan rohmat Alloh.
Alloh ? berfirman:
وَالَّذِينَ
آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ ? كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“orang-orang yang beriman, dan keturunan
mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan gabungkan keturunan mereka
dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.
Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang ia kerjakan.” (QS. Ath-Th?r: 21)
‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu
‘anhu berdalil dengan firman Alloh ?:
كُلُّ
نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
“Setiap orang
bertanggung jawab atas apa yang ia kerjakan (kasab?t).” (QS.
Al-Muddatstsir: 38)
Bahwa anak-anak orang
Mu’min berada di Jannah, karena mereka belum berbuat sehingga tidak
dipertanggungjawabkan atas perbuatan mereka. (At-Tadzkiroh, Al-Qurthubi: 511)
Al-Bukhori (256 H)
membuat bab dalam Shohih-nya dengan judul: “Bab Keutamaan Siapa yang
Meninggal Anaknya Lalu Ia Bersabar (Ihtasab).”
ia menyebutkan Hadits Anas rodhiyallahu
‘anhu, ia berkata: Nabi ? bersabda:
مَا مِنَ
النَّاسِ مُسْلِمٌ يُتَوَفَّى لَهُ ثَلَاثَةٌ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُ
اللَّهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ
“Tidak ada seorang
Muslim pun yang meninggal tiga orang anaknya yang belum mencapai baligh, melainkan
Alloh akan memasukkannya ke Jannah dengan karunia rohmat-Nya kepada
mereka.”
Hadits Abu Sa’id rodhiyallahu
‘anhu, bahwa para wanita berkata kepada Nabi ?: “Tetapkanlah
satu hari bagi kami.” Maka beliau memberi nasihat kepada mereka, dan bersabda:
أَيُّمَا
امْرَأَةٍ مَاتَ لَهَا ثَلَاثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ كَانُوا لَهَا حِجَابًا مِنَ النَّارِ
“Wanita mana pun yang
meninggal tiga orang anaknya yang belum mencapai baligh, niscaya mereka akan
menjadi penghalang baginya dari Naar.” Seorang wanita bertanya: “dua orang?” Beliau bersabda:
وَاثْنَانِ
“dua orang.” (HR. Al-Bukhori, Fathul
Baari: 3/118)
ia (Al-Bukhori) membuat bab
lain dengan judul: “Bab Tentang Apa yang Dikatakan Mengenai Anak-Anak Orang
Musyrik”.
Di dalamnya ia
menyebutkan Hadits Anas rodhiyallahu ‘anhu yang telah lalu, dan Hadits
Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu dari Nabi ?:
مَنْ
مَاتَ لَهُ ثَلَاثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ كَانُوا لَهُ حِجَابًا
مِنَ النَّارِ أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Siapa yang meninggal
tiga orang anaknya yang belum mencapai baligh, niscaya mereka akan menjadi
penghalang baginya dari Naar, atau ia masuk Jannah.”
Hadits Al-Baro’ rodhiyallahu
‘anhu, ia berkata: “Ketika Ibrohim (‘alaihis salam) meninggal, Rosululloh
? bersabda:
إِنَّ
لَهُ مُرْضِعًا فِي الْجَنَّةِ
‘Ia memiliki ibu
susuan di Jannah.’” (HR. Al-Bukhori, secara mu’allaq)
Jalur pengambilan
dalil dalam Hadits-Hadits yang disebutkan Al-Bukhori bahwa anak-anak orang Mu’min
di Jannah – sebagaimana yang dikatakan Ibnu Hajar (852 H) – adalah: “Orang
yang menjadi sebab terhalangnya Naar dari kedua orang tuanya, maka ia lebih
utama untuk terhalang dari Naar. Karena ia adalah asal dari rohmat dan sebabnya.” (Fathul Baari: 3/244)
Telah datang nash-nash
yang shorih (jelas) tentang dimasukkannya keturunan orang-orang Mu’min ke
Jannah. Di antaranya adalah Hadits ‘Ali rodhiyallahu ‘anhu yang marfu’
(sampai kepada Nabi ?) di sisi ‘Abdulloh bin Ahmad dalam Ziy?d?t
Al-Musnad:
إِنَّ
الْمُسْلِمِينَ وَأَوْلَادَهُمْ فِي الْجَنَّةِ
“Orang-orang Muslim
dan anak-anak mereka berada di Jannah.” (Fathul Baari: 3/245)
Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu
‘anhu dalam Musnad Ahmad yang marfu’:
مَا مِنْ
مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ لَهُمَا ثَلَاثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ
إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ وَإِيَّاهُمْ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ الْجَنَّةَ
“Tidak ada dua orang
Muslim yang meninggal tiga orang anaknya yang belum mencapai baligh, melainkan
Alloh akan memasukkan keduanya dan mereka ke Jannah dengan karunia rohmat-Nya.” (Fathul Baari: 3/245)
Muslim meriwayatkan
dalam Shohih-nya, dan Ahmad dalam Musnad-nya, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu
‘anhu, bahwa Rosululloh ? bersabda:
صِغَارُهُمْ
دَعَامِيصُ الْجَنَّةِ، يَتَلَقَّى أَحَدُهُمْ أَبَاهُ أَو قَالَ: أَبَوَيْهِ، فَيَأْخُذُ
بِثَوْبِهِ، أَو قَالَ بِيَدِهِ، كَمَا آخُذُ أَنَا بِصِنْفَةِ ثَوْبِكَ هَذَا، فَلَا
يَتَنَاهَى، أَو قَالَ: فَلَا يَنْتَهِي حَتَّى يُدْخِلَهُ اللَّهُ وَإِيَّاهُ الْجَنَّةَ
“Anak-anak kecil
mereka adalah da’?m?s (pelayan raja)[1] Jannah.
Salah seorang dari mereka menyambut bapaknya atau kedua orang tuanya lalu ia
memegang pakaiannya atau tangannya, sebagaimana aku memegang ujung pakaianmu
ini. Ia tidak berhenti ia tidak melepaskan
hingga Alloh memasukkannya dan kedua orang tuanya ke Jannah.” (Silsilatu
Al-Ahadits Ash-Shohihah: 1/174, no. 432)
Imam Ahmad (241 H),
Ibnu Hibban (354 H), dan Al-Hakim (405 H) meriwayatkan dari Abu Huroiroh rodhiyallahu
‘anhu, bahwa Nabi ? bersabda:
ذَرَارِيُّ
الْمُسْلِمِينَ فِي الْجَنَّةِ يَكْفُلُهُمْ إِبْرَاهِيمُ ?
“Keturunan orang-orang
Muslim berada di Jannah, diurus oleh Ibrohim ‘alaihis salam.” (Silsilatu
Al-Ahadits Ash-Shohihah: 2/156, no. 603)[2]
Abu Nu’aim (430 H)
dalam Akhb?r Ashbah?n, Ad-Dailami (509 H), dan Ibnu ‘Asakir (571 H)
meriwayatkan dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ? bersabda:
أَطْفَالُ
الْمُؤْمِنِينَ فِي الْجَنَّةِ يَكْفُلُهُمْ إِبْرَاهِيمُ وَسَارَةُ، حَتَّى يَدْفَعُوهُمْ
إِلَى آبَائِهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Anak-anak kecil orang
Mu’min berada di Jannah, diurus oleh Ibrohim dan S?roh, hingga mereka
menyerahkan mereka kepada bapak-bapak mereka pada hari Kiamat.” (Silsilatu
Al-Ahadits Ash-Shohihah: 3/451, no. 1468)
An-Nawawi (676 H)
menukil ijm?’ (konsensus) ulama yang pendapatnya diakui bahwa siapa pun
anak Muslim yang meninggal, ia berada di Jannah. Ia juga menukil bahwa
sebagian ulama tawaqquf (menahan diri dari berpendapat) dalam hal itu. (Fathul Baari: 3/244)
Al-Qurthubi (671 H)
menyebutkan tawaqquf dari Hammad bin Zaid (179 H), Hammad bin Salamah
(167 H), dan Is??q bin R?h?yah (238 H). (At-Tadzkiroh, Al-Qurthubi:
511)
An-Nawawi (676 H)
berkata: “Sebagian ulama tawaqquf dalam hal itu karena Hadits ‘Aisyah,
yaitu yang dikeluarkan Muslim dengan lafazh:
تُوُفِّيَ
صَبِيٌّ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَقُلْتُ: طُوبَى لَهُ لَمْ يَعْمَلْ سُوءًا وَلَمْ يُدْرِكْهُ،
فَقَالَ النَّبِيُّ ?: أَغَيْرُ ذَلِكَ يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللَّهَ
خَلَقَ لِلْجَنَّةِ أَهْلًا
“Seorang anak kecil dari Anshor meninggal. Aku
berkata: ‘Th?b? (kebahagiaan) baginya, ia tidak berbuat buruk dan tidak sempat mengalaminya.’
Nabi ? bersabda: ‘Ada yang lain dari itu, wahai ‘Aisyah. Alloh
menciptakan untuk Jannah penduduk...’
Jawabannya adalah
bahwa mungkin beliau melarangnya dari tergesa-gesa memastikan tanpa dalil, atau
beliau mengatakannya sebelum beliau mengetahui bahwa anak-anak Muslim berada di
Jannah.” (Fathul Baari: 3/244)
Aku (penulis kitab)
katakan: Mungkin yang benar adalah bahwa Hadits itu mengarah pada tidak
bolehnya kita memastikan secara spesifik untuk seseorang bahwa ia adalah
penduduk Jannah, meskipun kita bersaksi secara mutlak bagi mereka dengan
Jannah.
hal kedua adalah larangan
tergesa-gesa dalam hal itu agar manusia tidak berani melakukan hal serupa,
seperti yang terjadi di zaman kita, di mana para pelayat mengklaim bahwa si
mayit berada di Jannah, meskipun ia adalah orang yang paling fasik.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
(728 H) ro?imahull?hu berkata: “Tidak boleh bersaksi secara spesifik
bagi setiap anak Mu’min bahwa ia di Jannah, meskipun bersaksi secara
mutlak bagi mereka dengan Jannah.” (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam:
4/281)
4.6.2 Anak-Anak Orang Musyrik
Al-Bukhori (256 H)
membuat bab dalam Shohih-nya dengan judul: “Bab Tentang Apa yang
Dikatakan Mengenai Anak-Anak Orang Musyrik”. Di dalamnya ia menyebutkan
Hadits Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Rosululloh ? ditanya tentang anak-anak orang musyrik.” Beliau bersabda:
اللَّهُ
إِذْ خَلَقَهُمْ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ
“Alloh ketika
menciptakan mereka, Dia lebih mengetahui apa yang akan mereka kerjakan.”
Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu
‘anhu, ia berkata: “Nabi ? ditanya tentang keturunan orang-orang
musyrik.” Beliau bersabda:
اللَّهُ
أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ
“Alloh lebih
mengetahui apa yang akan mereka kerjakan.”
Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu
‘anhu, ia berkata: Nabi ? bersabda:
كُلُّ
مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ، هَلْ تَرَى فِيهَا
جَدْعَاءَ
“Setiap anak yang
dilahirkan, ia dilahirkan di atas fithroh (kesucian), lalu kedua orang tuanya
yang menjadikannya Yahudi, atau Nashroni, atau Majusi. Seperti halnya hewan
melahirkan hewan, apakah kalian melihat padanya ada yang terpotong telinganya?”
(HR. Al-Bukhori, Fathul Baari: 3/246)
Al-Bukhori ro?imahull?hu
– sebagaimana yang dikatakan Ibnu Hajar (852 H) – mengisyaratkan dengan judul
bab ini bahwa ia tawaqquf (menahan diri dari berpendapat) tentang
anak-anak orang musyrik. Setelah itu, ia memastikan dalam tafsir Suroh Ar-R?m
dari Shohih-nya sesuatu yang menunjukkan pilihannya bahwa mereka berada
di Jannah. Ia juga menyusun Hadits-Hadits bab ini dengan susunan yang
mengisyaratkan kepada madzhab (pendapat) yang dipilih. Ia memulainya dengan
Hadits yang menunjukkan tawaqquf, kemudian yang kedua dengan Hadits yang
menguatkan bahwa mereka di Jannah, kemudian yang ketiga dengan Hadits
yang secara jelas menyebutkan hal itu dalam konteks sabdanya: “Adapun anak-anak
kecil yang di sekelilingnya, maka mereka adalah anak-anak manusia.” Al-Bukhori
mengeluarkannya dalam At-Ta’b?r dengan lafazh:
وَأَمَّا
الْوِلْدَانُ الَّذِينَ حَوْلَهُ فَكُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَقَالَ
بَعْضُ الْمُسْلِمِينَ: وَأَوْلَادُ الْمُشْرِكِينَ؟ فَقَالَ: وَأَوْلَادُ الْمُشْرِكِينَ
“Adapun anak-anak
kecil (wild?n) yang di sekelilingnya, mereka adalah setiap anak yang dilahirkan di atas fithroh.”
Sebagian Muslimin bertanya: “anak-anak
orang musyrik juga?” Beliau bersabda: “anak-anak orang musyrik.” (Fathul
Baari: 3/246)
Ibnu Hajar (852 H)
berkata: “diperkuat oleh riwayat
Abu Ya’la (307 H) dari Hadits Anas rodhiyallahu ‘anhu yang marfu’:
سَأَلْتُ
رَبِّي اللَّاهِينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ الْبَشَرِ أَنْ لَا يُعَذِّبَهُمْ فَأَعْطَانِيهِمْ
‘Aku meminta kepada
Robb-ku al-l?h?n dari keturunan manusia agar Dia tidak mengadzab mereka,
lalu Dia memberikannya kepadaku.’ Sanadnya ?asan.” Telah datang tafsir al-l?h?n
sebagai anak-anak kecil dari Hadits Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma
yang marfu’ (sampai kepada Nabi ?)
yang dikeluarkan oleh Al-Bazzar (292 H).
Ahmad meriwayatkan
dari jalur Khons?’ bintu Mu’awiyah bin Shor?m, dari bibinya, ia berkata: “Aku
berkata: ‘Wahai Rosululloh, siapa yang di Jannah?’ Beliau bersabda:
النَّبِيُّ
فِي الْجَنَّةِ، وَالشَّهِيدُ فِي الْجَنَّةِ، وَالْمَوْلُودُ فِي الْجَنَّةِ
‘Nabi di Jannah,
orang yang mati syahid di Jannah, dan anak kecil di Jannah.’” Sanadnya ?asan.
Mereka juga berdalil
dengan sabda Nabi ?:
أَطْفَالُ
الْمُشْرِكِينَ خَدَمُ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Anak-anak kecil orang
musyrik adalah pelayan penduduk Jannah.”[3]
Pendapat bahwa mereka
di Jannah adalah pendapat sekelompok ulama, dan itu adalah pilihan Abul
Faroj Ibnul Jauzi (597
H). (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam: 24/372)
An-Nawawi (676 H)
berkata tentang madzhab ini: “Ia adalah madzhab (pendapat) yang shohih, yang
dipilih oleh para mu?aqqiq?n (peneliti) berdasarkan firman Alloh ?:
وَمَا
كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى? نَبْعَثَ رَسُولًا
“Kami tidak akan
mengadzab sebelum Kami mengutus seorang Rosul.” (QS. Al-Isro’: 15)
ia berdalil dengan
dalil-dalil yang disebutkan Al-Bukhori dan selainnya.” (Fathul Baari: 3/247)
Aku (penulis kitab)
katakan: Pendapat ini juga yang dikuatkan oleh Al-Qurthubi (671 H). Al-Qurthubi
mengkompromikan nash-nash yang tampak bertentangan dalam masalah ini bahwa Nabi
? pada awalnya bersabda mereka bersama bapak-bapak mereka, yaitu
di Naar. Kemudian beliau tawaqquf (menahan diri dari berpendapat) dalam
hal itu, lalu bersabda: “Alloh lebih mengetahui apa yang akan mereka kerjakan.”
Kemudian diwahyukan kepadanya bahwa tidak ada seorang pun yang diadzab karena
dosa orang lain:
وَلَا
تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى?
“seseorang tidak akan memikul dosa orang
lain.” (QS. Al-Isro’: 15)
Maka beliau menetapkan
bahwa mereka di Jannah. ia
menyebutkan Hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abd Ar-Rozzaq (211 H) dalam hal itu.
Tetapi Hadits itu dho’if (lemah), sebagaimana yang dikatakan Ibnu Hajar Al-‘Asqolani (852 H). (Fathul Baari: 3/247)
Yang menjadi masalah
dengan kompromi yang disebutkan Ibnu Hajar adalah bahwa masalah ini bukanlah
masalah nadhzor (pemikiran/penelitian) dan ijti??d, melainkan masalah ghoib
yang tidak dibicarakan kecuali dengan wahyu, Wallohu A’lam.
bisa jadi yang menjadi
masalah dengan pendapat bahwa anak-anak orang Mu’min dan musyrik di Jannah
adalah apa yang disebutkan dari nash-nash yang menunjukkan bahwa Alloh telah
mengetahui penduduk Jannah dan Naar sejak azali. Malaikat ketika
mengunjungi rahim (kandungan) menulis rizqi janin, ajalnya, kesengsaraan atau
kebahagiaannya.
Maka bisa dijawab: siapa
yang meninggal dalam keadaan masih kecil sebelum berbuat (sebelum kasab),
maka ia termasuk orang yang ditulis sebagai orang yang berbahagia (su’ad?’)
sejak ia di perut ibunya, Wallohu A’lam bi Ash-Show?b.
Sekelompok ulama
berpendapat bahwa mereka (anak-anak orang musyrik) berada di bawah masyi’atulloh
(kehendak Alloh Ta’ala). Ini dinukil dari Hammad bin Zaid (179 H), Hammad bin Salamah (167 H), Ibnul
Mub?rok (181 H), dan Is??q bin R?h?yah (238 H). Al-Baihaqi (458 H) menukilnya
dalam Al-I’tiqood dari Asy-Syafi’i (204 H) khusus untuk anak-anak orang
kafir. Ibnu ‘Abd Al-Barr (463 H) berkata: “Ini adalah konsekuensi dari
perbuatan Malik (179 H), dan ia tidak memiliki nash dalam hal ini. Hanya saja
murid-muridnya menyatakan bahwa anak-anak orang Muslim di Jannah, dan
anak-anak orang kafir secara khusus berada di bawah masyi’atulloh.
Dalilnya adalah Hadits:
اللَّهُ
أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ
‘Alloh lebih
mengetahui apa yang akan mereka kerjakan.’” (Fathul Baari: 3/246)
Pendapat ini
disebutkan oleh Abul Hasan Al-Asy’ari (330 H) dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam: 4/281-404, 24/372)
ini adalah pilihan Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah (728 H). Ia memilih bahwa anak-anak orang musyrik berada
di bawah masyi’atulloh, dan mereka akan diuji pada hari Kiamat. Ia
menisbatkan pendapat ini kepada Abul Hasan Al-Asy’ari dan Imam Ahmad (241 H).
Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyyah)
berkata: “Yang benar adalah dikatakan tentang mereka: ‘Alloh lebih
mengetahui apa yang akan mereka kerjakan,’ dan tidak dipastikan bagi
seseorang di antara mereka bahwa ia di Jannah atau Naar. Telah datang
dalam beberapa Hadits bahwa pada hari Kiamat mereka akan diuji di ‘Aroshot
Al-Qiy?mah (lapangan Kiamat), mereka diperintah dan dilarang. Siapa yang taat
akan masuk Jannah, dan siapa yang durhaka akan masuk Naar. Ini adalah
yang disebutkan oleh Abul Hasan Al-Asy’ari dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” (Majmu’
Fatawa Syaikhul Islam: 4/281-404, 24/372)
Dia berkata di tempat
lain: “Anak-anak orang musyrik yang tidak dibebani hukum di dunia, akan
dibebani hukum di Akhiroh, sebagaimana yang disebutkan oleh banyak Hadits. Ini
adalah pendapat yang disebutkan oleh Abul Hasan Al-Asy’ari tentang anak-anak
orang musyrik, sebagaimana yang tetap dalam Shohihain bahwa Nabi ? ditanya tentang mereka, lalu beliau bersabda:
اللَّهُ
أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ
‘Alloh lebih
mengetahui apa yang akan mereka kerjakan.’” (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam:
4/281)
Ibnu Hajar (852 H)
menyebutkan bahwa mereka akan diuji di Akhiroh dengan ditampakkan api Naar bagi
mereka. Siapa yang memasukinya, api itu akan menjadi dingin dan keselamatan
baginya. siapa yang menolak, ia
diadzab. Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bazzar (292 H) dari Hadits Anas dan Abu
Sa’id. Ath-Thobroni (360 H) mengeluarkannya dari Hadits Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu
‘anhu. masalah ujian ini
telah shohih dalam hal orang gila, dan orang yang berada di masa fatroh
(kekosongan Rosul) dari jalur-jalur yang shohih. Al-Baihaqi (458 H) menyebutkan
dalam Kitab Al-I’tiqood bahwa itu adalah madzhab yang shohih.
Yang menunjukkan
keshohihan pendapat ini adalah apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an yang kokoh,
dalam kisah hamba sholih yang didatangi Nabi Musa ‘alaihis salam di
tempat pertemuan dua lautan. Ia menjelaskan rahasia di balik pembunuhan anak
laki-laki itu:
وَأَمَّا
الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا
وَكُفْرًا
“adapun anak muda itu, kedua orang
tuanya Mu’min. Kami khawatir dia akan memaksa keduanya kepada kesesatan dan
kekafiran.” (QS. Al-Kahfi: 80)
Dalam Shohih Muslim,
dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ? bersabda tentang anak laki-laki yang dibunuh oleh Khidhir:
طُبِعَ
يَوْمَ طُبِعَ كَافِرًا، وَلَوْ تُرِكَ لَأَرْهَقَ أَبَوَيْهِ طُغْيَانًا وَكُفْرًا
“Ia dicetak
(ditakdirkan) pada hari ia dicetak sebagai orang kafir. seandainya ia dibiarkan hidup, niscaya ia akan memaksa kedua
orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran.”
Ibnu Taimiyyah (728 H)
berkomentar tentang Hadits ini: “Yaitu Alloh mencetaknya di Ummul Kit?b (Lauhul
Mahfuzh), yaitu Dia menetapkannya dan menulisnya sebagai orang kafir.
Maksudnya, jika ia hidup, ia akan kufur dengan perbuatan.”
Al-Qurthubi (671 H)
melemahkan madzhab ini dengan berdalil bahwa Akhiroh adalah Darul Jaz?’ (negeri
pembalasan) bukan D?rul Ibtil?’ (negeri ujian). Dalam At-Tadzkiroh,
penulis (yaitu Al-Qurthubi) berkata: “Hal itu dilemahkan (pendapat ujian di ‘Aroshot
Al-Qiy?mah) dari sisi makna bahwa Akhiroh bukanlah D?rut Takl?f (negeri
pembebanan hukum), melainkan D?rul Jaz?’: pahala dan siksa. Al-?al?mi (403 H)
berkata: ‘Hadits ini tidak ts?bit (tetap), dan ia bertentangan dengan
pokok-pokok ajaran Muslimin, karena Akhiroh bukanlah D?rul Imti??n (negeri
ujian). Karena ma’rifah (pengetahuan) tentang Alloh Ta’ala di sana akan
terjadi secara dhor?roh (otomatis), dan tidak ada ujian jika sudah dhor?roh
(pasti).’” (At-Tadzkiroh: 514)
keberatan yang ia
(Al-Qurthubi) sampaikan, bahwa takl?f (pembebanan hukum) terputus dengan
kematian, itu tidak benar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) telah
membantah hal ini.
Dia berkata: “Takl?f
(pembebanan hukum) hanya terputus dengan masuknya D?rul Jaz?’ (negeri
pembalasan), yaitu Jannah dan Naar. Adapun ‘Aroshoot Al-Qiy?mah
(lapangan Kiamat), mereka diuji di dalamnya, sebagaimana mereka diuji di
Barzakh (alam kubur). Maka dikatakan kepada salah seorang dari mereka: ‘Siapa
Robb-mu? Apa agamamu? Siapa Nabimu?’ Alloh ?
berfirman:
يَوْمَ
يُكْشَفُ عَن سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ
“Pada hari ketika
betis disingkapkan dan mereka diperintahkan untuk bersujud, tetapi mereka tidak
mampu.” (QS. Al-Qolam: 42)
Telah tetap dalam
Hadits Shohih dari beberapa jalur, dari Nabi ?,
bahwa beliau bersabda:
يَتَجَلَّى
اللَّهُ لِعِبَادِهِ فِي الْمَوْقِفِ، إِذَا قِيلَ لِيَتْبَعْ كُلُّ قَوْمٍ مَا كَانُوا
يَعْبُدُونَ، فَيَتَّبِعُ الْمُشْرِكُونَ آلِهَتَهُمْ، وَيَبْقَى الْمُؤْمِنُونَ، فَيَتَجَلَّى
لَهُمُ الرَّبُّ الْحَقُّ فِي غَيْرِ الصُّورَةِ الَّتِي كَانُوا يَعْرِفُونَ، فَيُنْكِرُونَهُ،
ثُمَّ يَتَجَلَّى لَهُمْ فِي الصُّورَةِ الَّتِي يَعْرِفُونَ، فَيَسْجُدُ لَهُ الْمُؤْمِنُونَ،
وَتَبْقَى ظُهُورُ الْمُنَافِقِينَ كَقُرُونِ الْبَقَرِ، فَيُرِيدُونَ أَنْ يَسْجُدُوا
فَلَا يَسْتَطِيعُونَ، وَذَلِكَ لِقَوْلِهِ: يَوْمَ يُكْشَفُ عَن سَاقٍ
‘Alloh akan
menampakkan Diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya di Mauqif (lapangan Kiamat), ketika
Ada yang berpendapat: ‘Hendaknya setiap kaum mengikuti apa yang mereka sembah.’
Maka orang-orang musyrik mengikuti ilah-ilah (sesembahan) mereka, dan
tersisalah orang-orang Mu’min. Lalu Ar-Robb Al-?aqq (Robb yang Haq/Benar)
menampakkan Diri-Nya kepada mereka dalam bentuk yang bukan mereka kenali, lalu
mereka mengingkari-Nya. Kemudian Dia menampakkan Diri-Nya kepada mereka dalam
bentuk yang mereka kenali, lalu orang-orang Mu’min bersujud kepada-Nya.
Sedangkan punggung orang-orang munafik tetap tegak seperti tanduk sapi, mereka
ingin bersujud tetapi tidak mampu. itu
adalah karena firman-Nya: (Pada hari ketika betis disingkapkan).’ (Majmu’
Fatawa Syaikhul Islam: 24/372. lihat:
17/309)
Maka ujian itu tidak
berhenti kecuali dengan masuknya Jannah dan Naar. apa yang disebutkan oleh Al-Qurthubi
bahwa ma’rifah (pengetahuan) tentang Alloh pada hari itu adalah dhor?riy
(otomatis), itu benar. Hanya saja, ujian itu terjadi dengan perintah dan
larangan, sebagaimana disebutkan dalam sebagian nash bahwa Alloh membebani
mereka pada hari itu dengan perintah masuk Naar. Siapa yang taat, ia termasuk
penduduk kebahagiaan (sa’?dah), dan siapa yang durhaka, ia termasuk
penduduk kesengsaraan (syaq?wah).
4.7 Jumlah
Umat Ini yang Masuk Jannah
Dari umat ini akan
masuk Jannah dalam jumlah yang banyak, yang hanya Alloh yang tahu
jumlahnya.
Dalam Shohih
Al-Bukhori, dari Sa’id bin Jubair (95 H), ia berkata: Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu
‘anhuma menceritakan kepadaku, ia berkata: Nabi ?
bersabda:
عُرِضَتْ
عَلَيَّ الْأُمَمُ، فَأَخَذَ النَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الْأُمَّةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ
مَعَهُ النَّفَرُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الْعَشَرَةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ
مَعَهُ الْخَمْسَةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ وَحْدَهُ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ كَثِيرٌ،
قُلْتُ: يَا جِبْرِيلُ هَؤُلَاءِ أُمَّتِي؟ قَالَ: لَا، وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ،
فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ كَثِيرٌ، قَالَ: هَؤُلَاءِ أُمَّتُكَ، وَهَؤُلَاءِ سَبْعُونَ
أَلْفًا قُدَّامَهُمْ لَا حِسَابَ عَلَيْهِمْ وَلَا عَذَابَ
“Diperlihatkan
kepadaku umat-umat. Maka ada Nabi yang lewat bersama satu umat, ada Nabi yang
lewat bersama sekelompok orang, ada Nabi yang lewat bersama 10 orang, ada Nabi
yang lewat bersama 5 orang, dan ada Nabi yang lewat sendirian. Lalu aku melihat
saw?d (rombongan) yang banyak. Aku bertanya: ‘Wahai Jibril, apakah
mereka ini umatku?’ Ia menjawab: ‘Bukan, tapi lihatlah ke ufuk.’ Aku pun
melihat, ternyata ada saw?d yang banyak. Ia berkata: ‘Itu umatmu, dan 70.000 yang berada di depan, yang tidak ada hisab
atas mereka dan tidak ada adzab.’” (HR. Al-Bukhori, Fathul Baari: 11/406)
Saw?d pertama yang Nabi ?
sangka adalah umatnya adalah Bani Isro’il, sebagaimana dalam sebagian riwayat
di Shohih: “Aku berharap itu adalah umatku, lalu ada yang berkata: ‘Ini Musa
dan kaumnya.’” (Fathul Baari: 11/407)
Tidak diragukan bahwa
umat Muhammad ? lebih banyak daripada Bani Isro’il. Dalam
Hadits: “Tiba-tiba ada saw?d (rombongan) yang banyak.” Ibnu Hajar (852
H) berkata: “Dalam riwayat Sa’id bin Mansh?r (227 H): ‘Agung.’ ditambahkan: ‘Lalu dikatakan kepadaku:
Lihatlah ke ufuk.’ Aku melihat, ternyata ada saw?d yang agung. Lalu
dikatakan kepadaku: ‘Lihatlah ke ufuk yang lain, yang semisalnya.’” Dalam
riwayat Ibnu Fudhoil (195
H): “Tiba-tiba ada saw?d yang memenuhi ufuk. Lalu dikatakan kepadaku: ‘Lihatlah
ke sini, dan ke sini di ufuk-ufuk langit.’” Dalam Hadits Ibnu Mas’ud rodhiyallahu
‘anhu: “Tiba-tiba ufuk tertutup oleh wajah-wajah manusia.”
Dalam lafazh Ahmad:
فَرَأَيْتُ
أُمَّتِي قَدْ مَلَؤُوا السَّهْلَ وَالْجَبَلَ، فَأَعْجَبَنِي كَثْرَتُهُمْ وَهَيْئَتُهُمْ،
فَقِيلَ: أَرَضِيتَ يَا مُحَمَّدُ؟ قُلْتُ: نَعَمْ يَا رَبِّ
“Aku melihat umatku
telah memenuhi dataran dan gunung. Aku kagum dengan banyaknya mereka dan
penampilan mereka. Lalu Ada yang berpendapat: ‘Apakah engkau ridho, wahai
Muhammad?’ Aku berkata: ‘Ya, wahai Robb.’” (Fathul Baari: 11/408)
Telah disebutkan dalam
sebagian Hadits bahwa bersama setiap seribu dari 70.000 itu ada 70.000 lagi,
dan tiga kali cakupan (?atsay?t) dari cakupan Alloh. Dalam Musnad
Ahmad, Sunan At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Abu Umamah rodhiyallahu
‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh ?
bersabda:
وَعَدَنِي
رَبِّي أَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعِينَ أَلْفًا لَا حِسَابَ عَلَيْهِمْ،
وَلَا عَذَابَ، مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفًا، وَثَلَاثُ حَثَيَاتٍ مِنْ حَثَيَاتِ
رَبِّي
“Robb-ku menjanjikanku
untuk memasukkan Jannah dari umatku 70.000 tanpa hisab, dan tanpa adzab.
Bersama setiap 1.000 ada
70.000, dan tiga kali cakupan (?atsay?t) dari cakupan Robb-ku.” (Misykatul
Mashobih: no. 5556)[4]
Tidak diragukan bahwa
tiga kali cakupan itu akan memasukkan banyak sekali makhluk ke Jannah.
Rosul kita ? berharap umat ini menjadi setengah dari penduduk Jannah.
Dalam Hadits Muttafaq ‘Alaih dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu,
dari Rosululloh ?, dalam menyebutkan Ba’ts An-N?r (utusannya
Naar), beliau ? bersabda di akhirnya:
وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Demi Dzat yang jiwaku
ada di Tangan-Nya, aku berharap kalian (umatku) menjadi seperempat dari
penduduk Jannah.”
Maka kami bertakbir.
Beliau bersabda:
أَرْجُو
أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Aku berharap kalian
menjadi sepertiga dari penduduk Jannah.”
Maka kami bertakbir.
Beliau bersabda:
أَرْجُو
أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Aku berharap kalian
menjadi setengah dari penduduk Jannah.”
Maka kami bertakbir.
Beliau bersabda:
مَا أَنْتُمْ
فِي النَّاسِ إِلَّا كَالشَّعَرَةِ السَّوْدَاءِ فِي جِلْدِ ثَوْرٍ أَبْيَضَ، أَوْ
كَشَعَرَةٍ بَيْضَاءَ فِي جِلْدِ ثَوْرٍ أَسْوَدَ
“Kalian di antara
manusia tidak lain hanyalah seperti sehelai rambut hitam di kulit sapi putih,
atau seperti sehelai rambut putih di kulit sapi hitam.” (Misykatul Mashobih:
no. 5541)
Bahkan disebutkan
dalam sebagian Hadits bahwa umat ini mencapai dua pertiga penduduk Jannah.
Dalam Sunan At-Tirmidzi dengan sanad ?asan, Sunan Ad-Darimi (255 H), dan
Al-Ba’ts wan Nusy?r karya Al-Bayhaqi (458 H), dari Buroidah rodhiyallahu
‘anhu, ia berkata: Rosululloh ?
bersabda:
أَهْلُ
الْجَنَّةِ عِشْرُونَ وَمِائَةُ صَفٍّ، ثَمَانُونَ مِنْهَا مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ،
وَأَرْبَعُونَ مِنْ سَائِرِ الْأُمَمِ
“Penduduk Jannah
ada 120 shoff (barisan). 80 di antaranya dari umat ini,
dan 40 dari umat-umat yang lain.” (Misykatul Mashobih: no. 5644)
Dalam Shohih Muslim,
dari Anas rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:
أَنَا
أَوَّلُ شَفِيعٍ فِي الْجَنَّةِ لَمْ يُصَدَّقْ نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ مَا صُدِّقْتُ،
وَإِنَّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ نَبِيًّا مَا صَدَّقَهُ مِنْ أُمَّتِهِ إِلَّا رَجُلٌ
وَاحِدٌ
“Aku adalah orang
pertama yang memberikan syafa’at di Jannah. Tidak ada seorang Nabi pun
dari para Nabi yang dibenarkan (umatnya) seperti aku dibenarkan. sungguh, ada Nabi yang tidak dibenarkan
dari umatnya kecuali oleh satu orang laki-laki.” (Misykatul Mashobih: no.
5744)
Rahasia di balik
banyaknya orang yang beriman dari umat ini adalah bahwa mukjizat terbesar Rosululloh
? adalah wahyu yang dibacakan, yang berbicara kepada akal dan
hati. mukjizat ini abadi dan
terjaga hingga hari Kiamat.
Dalam Shohihain,
dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:
مَا مِنَ
الْأَنْبِيَاءِ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا قَدْ أُعْطِيَ مِنَ الْآيَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ
عَلَيْهِ الْبَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ
إِلَيَّ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidak ada seorang
Nabi pun dari para Nabi melainkan telah diberi ?y?t (mukjizat) yang
dengannya manusia beriman. Apa yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Alloh
wahyukan kepadaku. aku berharap
akulah yang paling banyak pengikutnya pada hari Kiamat.” (Misykatul
Mashobih: no. 5746)
4.8 Para
Pemimpin Penduduk Jannah
4.8.1 Pemimpin Orang-Orang Dewasa Penduduk Jannah
Sekelompok Shohabat
meriwayatkan, di antaranya ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu, Anas
bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, Abu Ju?aifah rodhiyallahu ‘anhu,
Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallahu ‘anhu, dan Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu
‘anhu, bahwa Rosululloh ? bersabda:
أَبُو
بَكْرٍ وَعُمَرُ سَيِّدَا كُهُولِ أَهْلِ الْجَنَّةِ مِنَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ
“Abu Bakr dan ‘Umar
adalah pemimpin orang-orang dewasa penduduk Jannah, dari kalangan
orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian.”
Syaikh Nashiruddin
Al-Albani (1420 H) menyebutkan jalur-jalur periwayatannya dalam kitab-kitab
Sunnah, dan ia berkata di akhir takhrij-nya untuk Hadits ini: “Kesimpulannya,
Hadits ini dengan kumpulan jalur periwayatannya adalah shohih tanpa keraguan,
karena sebagian jalurnya adalah ?asan secara dzatnya, dan sebagiannya bisa
dijadikan sy?hid (penguat)...” (Silsilatu Al-Ahadits Ash-Shohihah: no. 824)
4.8.2 Pemimpin Pemuda Penduduk Jannah
Rosululloh ? mengabarkan kepada kita bahwa Al-?asan dan Al-?usain rodhiyallahu
‘anhuma adalah pemimpin pemuda penduduk Jannah. Ini telah tetap dari
jalur-jalur yang banyak yang mencapai derajat mutawatir. Syaikh Nashiruddin Al-Albani (1420 H) telah
mengumpulkan jalur-jalur Hadits ini dalam kitabnya yang berharga: Silsilatu
Al-Ahadits Ash-Shohihah.
At-Tirmidzi (279 H),
Al-Hakim (405 H), Ath-Thobroni (360 H), dan Ahmad (241 H) serta selain mereka,
meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh
? bersabda:
الْحَسَنُ
وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Al-?asan dan
Al-?usain adalah pemimpin pemuda penduduk Jannah.”
At-Tirmidzi (279 H),
Ibnu Hibban (354 H), Ahmad (241 H), Ath-Thobroni (360 H), dan selain mereka,
meriwayatkan dari ?udzaifah rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku
mendatangi Nabi ?, lalu aku Sholat Maghrib bersamanya.
Kemudian beliau berdiri Sholat hingga Sholat Isya. Kemudian beliau keluar, lalu
aku mengikutinya. Beliau bersabda:
عُرِضَ
لِي مَلَكٌ اسْتَأْذَنَ رَبَّهُ أَنْ يُسَلِّمَ عَلَيَّ وَيُبَشِّرَنِي فِي أَنَّ الْحَسَنَ
وَالْحُسَيْنَ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Seorang Malaikat
menampakkan diri kepadaku. Ia meminta izin kepada Robb-nya untuk mengucapkan
salam kepadaku dan memberiku kabar gembira bahwa Al-?asan dan Al-?usain adalah
pemimpin pemuda penduduk Jannah.”
Al-Hakim (405 H) dan
Ibnu ‘Asakir (571 H) mengeluarkannya dari ‘Abdulloh bin ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma,
bahwa Rosululloh ? bersabda:
ابْنَايَ
هَذَانِ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Dua anakku ini adalah
pemimpin pemuda penduduk Jannah.”[5]
4.8.3 Para Pemimpin Wanita Penduduk Jannah
Pemimpin yang sejati
adalah siapa yang Robb-nya memujinya dan bersaksi untuknya. wanita yang utama adalah siapa yang
Robb-nya ridho kepadanya, dan menerimanya dengan penerimaan yang baik.
Wanita-wanita yang paling utama adalah yang meraih Jannah An-Na’im.
Wanita-wanita penduduk Jannah bertingkat-tingkat.
Para pemimpin wanita
penduduk Jannah adalah Khodijah (wafat tahun 10 kenabian), Fathimah (11 H), Maryam, dan
?siyah.
Dalam Musnad Ahmad
(241 H), Musykil Al-?ts?r karya Ath-Tho??wi (321 H), dan Mustadrok
Al-Hakim (405 H), dengan sanad shohih, dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma,
ia berkata: Rosululloh ? membuat 4 garis di tanah, kemudian beliau
bersabda:
تَدْرُونَ
مَا هَذَا؟
“Tahukah kalian apa
ini?” Mereka menjawab: “Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui.”
Beliau bersabda:
أَفْضَلُ
نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، فَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ،
وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ
“Wanita-wanita
penduduk Jannah yang paling utama adalah Khodijah binti Khuwailid,
Fathimah binti Muhammad, Maryam binti ‘Imron, dan ?siyah binti Muz?him, istri
Fir’aun.” (Silsilatu Al-Ahadits Ash-Shohihah: no. 1508)
Maryam dan Khodijah rodhiyallahu
‘anhum? adalah yang paling utama di antara keempatnya. Dalam Shohih
Al-Bukhori, dari ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ?, beliau bersabda:
خَيْرُ
نِسَائِهَا مَرْيَمُ، وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ
“Wanita terbaik dari
masanya adalah Maryam, dan wanita terbaik dari masanya adalah Khodijah.” (HR.
Al-Bukhori.
Fathul Baari: 7/133)
Maryam adalah pemimpin
wanita yang pertama dan wanita yang paling utama secara mutlak. Ath-Thobroni
(360 H) meriwayatkan dengan sanad shohih menurut syarat Muslim, dari Jabir rodhiyallahu
‘anhu, ia berkata: Rosululloh ?
bersabda:
سَيِّدَاتُ
نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ بَعْدَ مَرْيَمَ ابْنَةِ عِمْرَانَ: فَاطِمَةُ، وَخَدِيجَةُ،
وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ
“Para pemimpin wanita
penduduk Jannah setelah Maryam binti ‘Imron adalah Fathimah, Khodijah,
dan ?siyah istri Fir’aun.” (Silsilatu Al-Ahadits Ash-Shohihah: no. 1424)
Bahwa ia adalah wanita
yang paling utama secara mutlak telah dijelaskan secara shorih (jelas)
dalam Al-Qur’an:
وَإِذْ
قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ
عَلَى? نِسَاءِ الْعَالَمِينَ
“Dan
(ingatlah) ketika para Malaikat berkata: “Wahai Maryam! Alloh telah memilihmu,
menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas wanita-wanita seluruh alam.” (QS. Ali
‘Imron: 42)
Bagaimana mungkin ia
tidak demikian, padahal Alloh secara jelas berfirman bahwa Dia menerimanya:
بِقَبُولٍ
حَسَنٍ وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا
“Dengan penerimaan
yang baik, dan menumbuhkannya dengan pertumbuhan yang baik.” (QS. Ali ‘Imron:
37)
Keempat wanita ini
adalah contoh yang luar biasa bagi wanita-wanita yang sempurna dan sholihah.
Maryam binti ‘Imron
dipuji oleh Robb-nya dalam firman-Nya:
أَحْصَنَتْ
فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ
وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ
“Ia memelihara
kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (rahim)-nya sebagian dari r?? Kami. ia
membenarkan kalimat-kalimat Robb-nya dan kitab-kitab-Nya, dan ia termasuk
orang-orang yang taat.” (QS. At-Ta?r?m: 12)
Khodijah Ash-Shidd?qah
yang beriman kepada Rosululloh ?
tanpa ragu, menguatkan beliau, dan menghibur beliau dengan jiwa dan hartanya.
Robb-nya telah memberinya kabar gembira di masa hidupnya dengan istana di Jannah
dari qoshob (rongga mutiara/ emas/ perak), yang di dalamnya tidak ada
kebisingan dan tidak ada keletihan.
Al-Bukhori meriwayatkan
dalam Shohih-nya, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, ia
berkata: “Jibril (‘alaihis salam) mendatangi Nabi ? lalu berkata: ‘Wahai Rosululloh, ini Khodijah telah datang
membawa wadah berisi lauk-pauk, atau makanan, atau minuman. Jika ia
mendatangimu, sampaikanlah salam kepadanya dari Robb-nya dan dariku. berikan kabar gembira kepadanya dengan
rumah di Jannah dari qoshob, yang di dalamnya tidak ada
kebisingan (shokhob) dan tidak ada keletihan (nashob).’” (HR. Al-Bukhori)
?siyah istri Fir’aun,
ia menganggap remeh kerajaan dunia dan keni’matannya, lalu ia kufur kepada Fir’aun
dan ketuhanannya. Suaminya menyiksanya, lalu ia bersabar hingga rohnya keluar
menuju Penciptanya:
وَضَرَبَ
اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ
لِي عِندَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي
مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Alloh membuat
perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir’aun, ketika ia
berkata: ‘Wahai Robb, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah di Jannah,
dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari
kaum yang zholim.’” (QS. At-Ta?r?m: 11)
Fathimah Az-Zahr?’ (11
H) putri Rosululloh ? yang sabar, mu?tasibah (mengharap
pahala dari Alloh), bertaqwa, dan wara’. Ia adalah cabang dari pohon yang suci,
dan didikan dari Guru Umat Manusia.
4.9 Sepuluh Orang yang Dijamin Masuk Jannah
Rosululloh ? secara shorih (jelas) menyebutkan bahwa 10 orang dari
Shohabat beliau adalah penduduk Jannah.
Dalam Musnad Ahmad
(241 H), dari Sa’id bin Zaid rodhiyallahu ‘anhu, dan Sunan
At-Tirmidzi (279 H), dari ‘Abdurro?m?n bin ‘Auf rodhiyallahu ‘anhu,
dari Nabi ?, beliau bersabda:
أَبُو
بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ
فِي الْجَنَّةِ، وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ، وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَبْدُ
الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ، وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ فِي الْجَنَّةِ،
وَسَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ فِي الْجَنَّةِ، وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ
“Abu Bakr di Jannah,
‘Umar di Jannah, ‘Utsman di Jannah, ‘Ali di Jannah,
Tholhah di Jannah, Az-Zubayr di Jannah, ‘Abdurro?m?n bin ‘Auf di Jannah,
Sa’d bin Abi Waqq?sh di Jannah, Sa’id bin Zaid di Jannah, dan Abu
‘Ubaidah bin Al-Jarr?? di Jannah.” Sanadnya shohih (HR. Al-Jami’
Ash-Shoghir: no. 50)
Al-Imam Ahmad (241 H),
Abu Dawud (275 H), Ibnu Majah (273 H), dan Adh-Dhiy?’ (643 H) dalam Al-Mukht?roh
meriwayatkan Hadits dari Sa’id bin Zaid rodhiyallahu ‘anhu dengan lafazh
yang sedikit berbeda dari yang sebelumnya. Lafazhnya:
عَشَرَةٌ
فِي الْجَنَّةِ: النَّبِيُّ فِي الْجَنَّةِ، وَأَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ
فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ، وَطَلْحَةُ
فِي الْجَنَّةِ، وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِي الْجَنَّةِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ
بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ، وَسَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ فِي الْجَنَّةِ
“10 orang di Jannah:
Nabi di Jannah, Abu Bakr di Jannah, ‘Umar di Jannah, ‘Utsman
di Jannah, ‘Ali di Jannah, Tholhah di Jannah, Az-Zubair
bin Al-’Aww?m di Jannah, ‘Abdurro?m?n bin ‘Auf di Jannah, dan Sa’id
bin Zaid di Jannah.” Sanadnya shohih (HR. Al-Jami’ Ash-Shoghir: no.
3905)
Kitab-kitab Sunnah
menyebutkan kepada kita bahwa Rosululloh ? pada
suatu hari sedang duduk di sumur Ar?s, dan Abu Musa Al-Asy’ari rodhiyallahu ‘anhu
menjadi penjaga pintunya. Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu datang
lalu meminta izin masuk. Rosululloh ?
bersabda kepadanya:
ائْذَنْ
لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ
“Izinkan ia masuk dan
berikan kabar gembira kepadanya dengan Jannah.”
Kemudian ‘Umar rodhiyallahu
‘anhu datang. Beliau bersabda:
ائْذَنْ
لَهُ، وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ
“Izinkan ia masuk dan
berikan kabar gembira kepadanya dengan Jannah.”
Kemudian ‘Utsman rodhiyallahu
‘anhu datang. Beliau bersabda:
ائْذَنْ
لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ عَلَى بَلْوَى تُصِيبُهُ
“Izinkan ia masuk dan
berikan kabar gembira kepadanya dengan Jannah setelah ujian yang akan
menimpanya.” (HR. Al-Bukhori, Muslim, dan At-Tirmidzi)
Ibnu ‘Asakir (571 H)
meriwayatkan dengan sanad shohih, dari Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu,
dari Nabi ?, beliau bersabda:
الْقَائِمُ
بَعْدِي فِي الْجَنَّةِ، وَالَّذِي يَقُومُ بَعْدَهُ فِي الْجَنَّةِ، وَالثَّالِثُ
وَالرَّابِعُ فِي الْجَنَّةِ
“Pemimpin setelahku di Jannah, dan yang
menjadi pemimpin setelahnya di Jannah, dan yang ketiga dan keempat di Jannah.”
(HR. Al-Jami’ Ash-Shoghir: no. 4311)
Yang beliau maksud
dengan al-q?’im ba’d? (pemimpin setelahku) adalah orang yang memegang
kekuasaan setelah wafatnya. keempat
orang ini adalah Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali rodhiyallahu ‘anhum ajma’?n.
At-Tirmidzi (279 H)
dan Al-Hakim (405 H) meriwayatkan dengan sanad shohih, dari ‘Aisyah rodhiyallahu
‘anha, bahwa Rosululloh ? bersabda kepada Abu Bakr:
أَنْتَ
عَتِيقٌ مِنَ النَّارِ
“Engkau adalah orang
yang dibebaskan dari Naar.” (HR. Al-Jami’ Ash-Shoghir: no. 1494)
4.10 Sebagian
yang Disebutkan Secara Jelas Berada di Jannah
Selain yang Telah Disebutkan
1- 2- Ja’far bin Abi
Tholib dan ?amzah bin ‘Abdul Muththolib:
Di antara mereka yang Rosululloh
? kabarkan bahwa mereka di Jannah adalah Ja’far rodhiyallahu
‘anhu dan ?amzah rodhiyallahu ‘anhu.
Dalam Sunan
At-Tirmidzi (279 H), Musnad Abu Ya’la (307 H), Mustadrok Al-Hakim
(405 H), dan selain mereka, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh
? bersabda:
رَأَيْتُ
جَعْفَرَ بْنَ أَبِي طَالِبٍ مَلَكًا يَطِيرُ فِي الْجَنَّةِ بِجَنَاحَيْنِ
“Aku
melihat Ja’far bin Abi Tholib sebagai Malaikat yang terbang di Jannah
dengan dua sayap.”[6]
Ath-Thobroni (360 H),
Ibnu ‘Adiy (365 H), dan Al-Hakim (405 H) meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu
‘anhuma, bahwa Nabi ? bersabda:
دَخَلْتُ
الْجَنَّةَ الْبَارِحَةَ، فَنَظَرْتُ فِيهَا، فَإِذَا جَعْفَرٌ يَطِيرُ مَعَ الْمَلَائِكَةِ،
وَإِذَا حَمْزَةُ مُتَّكِئٌ عَلَى سَرِيرٍ
“Aku masuk Jannah
semalam, lalu aku melihat ke dalamnya, ternyata Ja’far sedang terbang bersama
para Malaikat, dan ternyata ?amzah sedang bersandar di atas dipan.” Sanadnya
shohih (HR. Al-Jami’: no. 3358)
Telah shohih bahwa Rosululloh
? bersabda:
سَيِّدُ
الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
“Pemimpin para Syuhada’
adalah ?amzah bin ‘Abdul Muththolib.” (HR. Al-Jami’: no. 3569)
3- ‘Abdulloh bin
Sallam:
Ahmad (241 H),
Ath-Thobroni (360 H), dan Al-Hakim (405 H) meriwayatkan dengan sanad shohih,
dari Mu’adz rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:
عَبْدُ
اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ عَاشِرُ عَشَرَةٍ فِي الْجَنَّةِ
“‘Abdulloh bin Sallam
adalah orang yang ke-10 dari 10
orang di Jannah.” (HR. Al-Jami’ Ash-Shoghir: no. 3870)
4- Zaid bin ??ritsah:
Ar-R?y?ni (307 H) dan
Adh-Dhiy?’ (643 H) meriwayatkan dari Buroidah rodhiyallahu ‘anhu, bahwa
Nabi ? bersabda:
دَخَلْتُ
الْجَنَّةَ، فَاسْتَقْبَلَتْنِي جَارِيَةٌ شَابَّةٌ، فَقُلْتُ: لِمَنْ أَنْتِ؟ قَالَتْ:
لِزَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ
“Aku masuk Jannah,
lalu seorang gadis muda menyambutku. Aku bertanya: ‘Milik siapa engkau?’ Ia
menjawab: ‘Milik Zayd bin ??ritsah.’” (HR. Al-Jami’: no. 3361)
5- Zaid bin ‘Amr bin Nufail:
Ibnu ‘Asakir (571 H)
meriwayatkan dengan sanad ?asan, dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, ia
berkata: Rosululloh ? bersabda:
دَخَلْتُ
الْجَنَّةَ، فَرَأَيْتُ لِزَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ دَرَجَتَيْنِ
“Aku masuk Jannah,
lalu aku melihat Zaid bin ‘Amr
bin Nufail memiliki dua tingkatan.”
(HR. Al-Jami’ Ash-Shoghir: no. 3362)
Zaid ini adalah orang
yang menyeru kepada tauhid (keesaan Alloh) di masa Jahiliyyah, dan ia berada di
atas Al-?an?fiyyah (agama Nabi Ibrohim).
6- ??ritsah bin An-Nu’m?n:
At-Tirmidzi (279 H)
dan Al-Hakim (405 H) meriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, bahwa
Rosululloh ? bersabda:
دَخَلْتُ
الْجَنَّةَ، فَسَمِعْتُ فِيهَا قِرَاءَةً، فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالُوا: حَارِثَةُ
بْنُ النُّعْمَانِ، كَذَلِكُمُ الْبِرُّ، كَذَلِكُمُ الْبِرُّ
“Aku masuk Jannah,
lalu aku mendengar bacaan (Al-Qur’an) di dalamnya. Aku bertanya: ‘Siapa ini?’
Mereka menjawab: ‘??ritsah bin An-Nu’m?n.’ Begitulah Al-Birr (kebajikan),
begitulah Al-Birr.” (HR. Al-Jami’ Ash-Shoghir: no. 3366)
7- Bil?l bin Rob??:
Ath-Thobroni (360 H)
dan Ibnu ‘Adiy (365 H) meriwayatkan dengan sanad shohih, dari Abu Umamah rodhiyallahu
‘anhu, dari Nabi ?, beliau bersabda:
دَخَلْتُ
الْجَنَّةَ، فَسَمِعْتُ خَشْفَةً بَيْنَ يَدَيَّ، قُلْتُ: مَا هَذِهِ الْخَشْفَةُ؟
فَقِيلَ: هَذَا بِلَالٌ يَمْشِي أَمَامَكَ
“Aku masuk Jannah,
lalu aku mendengar suara langkah (khosf?h) di depanku. Aku bertanya: ‘Suara
langkah apa ini?’ Ada yang berpendapat: ‘Ini Bil?l sedang berjalan di depanmu.’”
(HR. Al-Jami’ Ash-Shoghir: no. 3364)
Dalam Musnad Ahmad
(241 H) dengan sanad shohih, dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, dari
Nabi ?, beliau bersabda:
دَخَلْتُ
الْجَنَّةَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي، فَسَمِعْتُ مِنْ جَانِبِهَا وَجْسًا، فَقُلْتُ:
يَا جِبْرِيلُ مَا هَذَا؟ قَالَ: بِلَالٌ الْمُؤَذِّنُ
“Aku masuk Jannah
pada malam aku di-Isro’-kan, lalu aku mendengar dari sisinya suara lirih. Aku
bertanya: ‘Wahai Jibril, apa ini?’ Ia menjawab: ‘Bil?l sang muadzin.’” (HR. Al-Jami’
Ash-Shoghir: no. 3367)
8- Abu Ad-Da?d??:
Muslim (261 H) dalam Shohih-nya,
Abu Dawud (275 H), At-Tirmidzi (279 H), dan Ahmad (241 H) meriwayatkan dari
Jabir bin Samuroh rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ? bersabda:
كَمْ
مِنْ عِذْقٍ مُعَلَّقٍ لِأَبِي الدَّحْدَاحِ فِي الْجَنَّةِ
“Betapa banyak tandan
kurma yang tergantung untuk Abu Ad-Da?d?? di Jannah.” (HR. Al-Jami’
Ash-Shoghir: no. 4450)
Abu Ad-Da?d?? ini
adalah orang yang bershodaqoh dengan kebunnya, Bairo??’, kebun kurma terbaik di Madinah, ketika
ia mendengar Alloh berfirman:
مَن ذَا
الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً
? وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ
تُرْجَعُونَ
“Siapa yang mau
meminjamkan kepada Alloh pinjaman yang baik, maka Alloh akan melipatgandakan
(balasan) untuknya dengan lipat ganda yang banyak. Alloh menggenggam dan
melapangkan, dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan.” (QS. Al-Baqoroh: 245)
9- Waroqoh bin Naufal:
Al-Hakim (405 H)
meriwayatkan dengan sanad shohih, dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, bahwa
Rosululloh ? bersabda:
لَا تَسُبُّوا
وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلٍ، فَإِنِّي قَدْ رَأَيْتُ لَهُ جَنَّةً أَوْ جَنَّتَيْنِ
“Jangan kalian mencela
Waroqoh bin Nawfal, karena aku telah melihat baginya Jannah atau dua Jannah.”
(HR. Al-Jami’ Ash-Shoghir: no. 7197)
Waroqoh (wafat sebelum
kenabian) beriman kepada Rosululloh ?
ketika Khodijah rodhiyallahu ‘anha datang membawa Rosululloh ? untuk pertama kalinya. ia
berharap kepada Alloh agar ia sempat menjumpai munculnya urusan Rosululloh ? sehingga ia bisa menolong beliau.
4.11 Jannah Bukan Harga untuk Amal
Jannah adalah sesuatu yang agung, yang tidak mungkin
diraih seseorang dengan amal-amal yang ia kerjakan. Melainkan ia diraih dengan
Rohmat dan karunia Alloh.
Muslim (261 H)
meriwayatkan dalam Shohih-nya, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu,
ia berkata: Rosululloh ? bersabda:
لَنْ
يَدْخُلَ أَحَدٌ مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ
“Amal seseorang dari
kalian tidak akan memasukkannya ke Jannah.”
Mereka (para Shohabat)
bertanya: “Tidak juga engkau, wahai Rosululloh?”
Beliau bersabda:
وَلَا
أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ مِنْهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ
“Tidak juga aku, melainkan
Alloh meliputiku dengan karunia dan Rohmat dari-Nya.” (HR. Muslim: no. 2816)
Hal ini mungkin
menjadi masalah dengan nash-nash yang mengisyaratkan bahwa Jannah adalah
harga untuk amal, seperti firman-Nya ?:
فَلَا
تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ
“Maka tidak seorang
pun mengetahui berbagai ni’mat yang tersembunyi, yang (secara istimewa)
dipersiapkan untuk mereka, sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan.”
(QS. As-Sajdah: 17)
firman-Nya:
تِلْكُمُ
الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Itulah Jannah
yang diwariskan kepada kalian disebabkan apa yang dahulu kalian kerjakan.” (QS.
Al-A’roof: 43)
Tidak ada pertentangan
antara ayat-ayat itu dengan yang ditunjukkan Hadits. Ayat-ayat itu menunjukkan
bahwa amal adalah sebab untuk masuk Jannah, bukan harganya. Sementara
Hadits itu menafikan bahwa amal adalah harga untuk Jannah.
Dua kelompok telah
tersesat dalam masalah ini: Al-Jabariyyah (golongan Jabariyah) yang berdalil
dengan Hadits bahwa balasan tidak terkait dengan amal, karena hamba tidak
memiliki peran dalam amalnya. Al-Qodariyyah (golongan Qodariyah) berdalil
dengan ayat-ayat, dan berkata bahwa ayat-ayat itu menunjukkan bahwa Jannah
adalah harga untuk amal, dan hamba berhak masuk Jannah dari Robb-nya
dengan amalnya.
Sy?rihul
Thohawiyyah (penjelas kitab
Al-’Aqidah Ath-Tho??wiyyah, yaitu Ibn Abil ‘Izz Al-Hanafi, 792 H) berkata dalam
masalah ini:
“Adapun terkaitnya
balasan dengan amal, Al-Jabariyyah dan Al-Qodariyyah telah tersesat di
dalamnya, dan Alloh memberi petunjuk kepada Ahlus Sunnah, dan bagi-Nya segala
puji dan karunia. Karena B?’ (huruf ‘ba’ yang berarti ‘dengan’) dalam
penafian tidak sama dengan B?’ dalam penetapan.
B?’ yang dinafikan
dalam sabda Nabi ?:
لَنْ
يَدْخُلَ الْجَنَّةَ أَحَدٌ بِعَمَلِهِ
‘Amal seseorang tidak
akan memasukkannya ke Jannah,’
adalah B?’ Al-’Iwadh
(huruf ‘ba’ yang berarti ‘sebagai ganti’), yaitu amal itu sebagai harga untuk
masuk Jannah, sebagaimana klaim Mu’tazilah bahwa pelaku amal berhak
masuk Jannah dari Robb-nya dengan amalnya. Melainkan, itu (masuk Jannah)
adalah dengan karunia dan rohmat
Alloh.
Sedangkan B?’
yang terdapat dalam firman-Nya:
جَزَاءً
بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Sebagai balasan atas
apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17)
dan yang lainnya,
adalah b?’ as-sabab (huruf ‘ba’ yang berarti ‘disebabkan’), yaitu
disebabkan amal kalian. Alloh Ta’ala adalah Dzat yang menciptakan
sebab-sebab dan akibat-akibat. Maka, semuanya kembali kepada murni karunia dan
Rohmat Alloh.” (Syarhut Thohawiyah: 495)
[1] Yang dimaksud dengan ad-da’m?sh di sini
adalah pelayan yang diizinkan masuk ke hadapan para raja dan melayani mereka.
[2] Muhaqqiq menyebutkan bahwa Al-Hakim
menshohihkan sanadnya dan Adz-Dzahabi (748 H) menyetujuinya, hanya saja Syaikh
Nashir (Al-Albani) berkata: “Ia hanya ?asan saja.”
[3] HR. Ibnu Mandah (395 H) dalam Al-Ma’rifah,
Abu Nu’aim (430 H) dalam Al-?ilyah, dan Abu Ya’la (307 H) dalam Musnad-nya.
Syaikh Nashiruddin Al-Albani (1420 H) menetapkan keshohihannya dengan kumpulan
jalur periwayatannya. (Silsilatu
Al-Ahadits Ash-Shohihah: 3/452, no. 1468)
[4] At-Tirmidzi menghasankannya, dan Syaikh Nashir
(Al-Albani) menshohihkan sanadnya.
[5] Jika engkau ingin mengetahui rowinya, dan yang
mengeluarkannya dari kitab-kitab Sunnah, maka rujuklah ke Silsilatu
Al-Ahadits Ash-Shohihah: 2/438, no. 797.
[6] Syaikh Nashir (Al-Albani) berkata dalam Silsilatu
Al-Ahadits Ash-Shohihah: 3/226, Hadits no. 1226: “Hadits shohih yang datang
dari jalur-jalur dari Abu Huroiroh, Ibnu ‘Abbas, ‘Ali bin Abi Tholib, Abu
‘Amir, dan Al-Baro’.” ia
menyebutkan jalur-jalurnya.
