Pesona Surga dalam Sifat dan Kondisi di Jannah
3.1 Jannah Tidak Ada Tandingannya
Keni’matan Jannah melampaui deskripsi, dan khayalan
pun tidak mampu menjangkaunya. Keni’matannya tidak memiliki padanan dalam apa
yang diketahui oleh penduduk dunia. Sehebat apa pun kemajuan yang dicapai
manusia di dunia mereka, apa yang mereka raih akan tetap menjadi sesuatu yang
remeh jika dibandingkan dengan keni’matan Akhirah.
Jannah, sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa ?ts?r
(riwayat dari Salaf), tidak ada tandingannya. “Ia adalah cahaya yang
berkilauan, tanaman wangi yang bergoyang, istana yang menjulang, sungai yang
mengalir, buah-buahan yang matang, istri yang cantik jelita, dan pakaian yang
melimpah, di tempat tinggal yang abadi, dalam kegembiraan dan keceriaan, di
istana-istana yang tinggi, selamat, dan indah.”[1]
Para Shohabat pernah bertanya kepada Rosululloh ? tentang pembangunan Jannah. Rosululloh ?
pun memperdengarkan kepada kita deskripsi yang menakjubkan dalam jawaban
beliau. Beliau ? bersabda tentang sifat pembangunannya:
لَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ، وَلَبِنَةٌ
مِنْ فِضَّةٍ، وَمِلَاطُهَا الْمِسْكُ الْأَذْفَرُ، وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤُ وَالْيَاقُوتُ،
وَتُرْبَتُهَا الزَّعْفَرَانُ، مَنْ يَدْخُلُهَا يَنْعَمُ وَلَا يَبْأَسُ، وَيَخْلُدُ
وَلَا يَمُوتُ، وَلَا يَبْلَى ثِيَابُهَا، وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُمْ
“Satu bata dari emas, dan satu bata dari perak. Adukan
(mil?th: bahan yang diletakkan di antara dua bata)nya adalah misik yang sangat
wangi (adzfar), kerikilnya adalah mutiara dan yaqut, dan tanahnya adalah
zafaran (kunyit). Siapa yang memasukinya akan merasakan keni’matan dan tidak
akan sengsara. Dia akan kekal dan tidak akan mati, pakaiannya tidak akan usang,
dan masa mudanya tidak akan sirna.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ad-Darimi.
Lihat Misykatul Mashobih: 3/89)[2]
sungguh benar
firman Alloh ?:
وَإِذَا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ
نَعِيمًا وَمُلْكًا كَبِيرًا
“apabila
engkau melihat (keadaan) di sana (Jannah), niscaya engkau akan melihat
berbagai keni’matan dan kerajaan yang besar.” (QS. Al-Insan: 20)
Apa yang Alloh sembunyikan dari kita berupa keni’matan Jannah
adalah sesuatu yang agung, tidak dapat dijangkau oleh akal, dan pikiran tidak
sampai pada hakikatnya.
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ
لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Maka tidak seorang pun mengetahui berbagai ni’mat yang
tersembunyi, yang (secara istimewa) dipersiapkan untuk mereka, sebagai balasan
atas apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17)
Telah datang dalam Hadits Shohih, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu
‘anhu, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:
قَالَ اللَّهُ: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ
الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ
بَشَرٍ، فَاقْرَؤُوا إِنْ شِئْتُمْ: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن
قُرَّةِ أَعْيُنٍ
“Alloh berfirman: ‘Aku telah persiapkan untuk hamba-hamba-Ku
yang sholih, keni’matan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar
telinga, dan belum pernah terlintas di hati manusia. Bacalah jika kalian mau: ‘Maka
tidak seorang pun mengetahui berbagai ni’mat yang tersembunyi, yang (secara
istimewa) dipersiapkan untuk mereka, sebagai balasan atas apa yang selalu
mereka kerjakan.’ (QS. As-Sajdah: 17).” (HR. Al-Bukhori. Fathul
Baari: 6/318)
Muslim meriwayatkannya dari beberapa jalur dari Abu Huroiroh
rodhiyallahu ‘anhu, dan dalam sebagian jalurnya disebutkan:
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ
مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ ذُخْرًا،
بَلْهَ مَا أَطْلَعَكُمُ اللَّهُ عَلَيْهِ، ثُمَّ قَرَأَ: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا
أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ
“Aku telah persiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang sholih, keni’matan
yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah
terlintas di hati manusia, sebagai simpanan. Balha (tinggalkan/abaikan)[3]
apa yang telah Alloh perlihatkan kepada kalian.” Kemudian beliau membaca: “Maka
tidak seorang pun mengetahui berbagai ni’mat yang tersembunyi, yang (secara
istimewa) dipersiapkan untuk mereka, sebagai balasan atas apa yang selalu
mereka kerjakan) (QS. As-Sajdah: 17).” (HR. Muslim no. 2824)
Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi rodhiyallahu
‘anhu, ia berkata: Aku menyaksikan satu majelis dari Rosululloh ? yang di dalamnya beliau menjelaskan sifat Jannah hingga
selesai. Kemudian di akhir Haditsnya, Nabi ?
bersabda:
فِيهَا مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ،
وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ، ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ:
تَتَجَافَى? جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا
وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن
قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Di dalamnya ada apa yang belum pernah dilihat mata, belum
pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di hati manusia.” Kemudian
beliau membaca ayat ini: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa
kepada Robb mereka dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan
sebagian dari rizqi yang Kami berikan kepada mereka Maka tidak seorang pun
mengetahui berbagai ni’mat yang tersembunyi, yang (secara istimewa)
dipersiapkan untuk mereka, sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan.”
(QS. As-Sajdah: 16-17).” (HR. Muslim no. 2824)
3.2 Pintu-Pintu Jannah
Jannah memiliki pintu-pintu yang akan dimasuki oleh
orang-orang Mu’min, sebagaimana pula dimasuki oleh para Malaikat.
جَنَّاتِ عَدْنٍ مُّفَتَّحَةً
لَّهُمُ الْأَبْوَابُ
“(Yaitu) Jannah ‘Adn yang pintu-pintunya
terbuka lebar bagi mereka.” (QS. Shod: 50)
وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ
عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
“Sedang para Malaikat masuk kepada mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan): “Keselamatan
(salam) atas kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat
kesudahan itu.” (QS. Ar-Ro’d: 23-24)
Alloh ?
mengabarkan kepada kita bahwa pintu-pintu ini akan dibuka ketika orang-orang Mu’min
sampai di sana, dan para Malaikat akan menyambut mereka dengan ucapan selamat
atas keselamatan kedatangan mereka:
حَتَّى? إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ
أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُم طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا
خَالِدِينَ
“Sehingga apabila mereka sampai ke Jannah itu, dan
pintu-pintunya telah dibuka, penjaga-penjaga Jannah itu berkata kepada
mereka: ‘Keselamatan (salam) dilimpahkan kepadamu. Berbahagialah! Masuklah ke
dalamnya, sedang kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zumar: 73)
Rosul kita ? juga mengabarkan
bahwa pintu-pintu Jannah dibuka setiap tahun pada bulan Romadhon. Dari
Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ?
bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ
أَبْوَابُ الْجَنَّةِ
“Jika Romadhon datang, pintu-pintu Jannah dibuka.” (HR. Al-Bukhori no. 1898 dan Muslim no. 1079)
Jumlah pintu Jannah ada 8. Salah satu dari
pintu-pintu ini dinamakan Ar-Royyan, dan ini khusus bagi orang-orang yang
berpuasa. Dalam Shohihain, dari Sahl bin Sa’d rodhiyallahu ‘anhu,
bahwa Rosululloh ? bersabda:
فِي الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ،
بَابٌ مِنْهَا يُسَمَّى الرَّيَّانَ، لَا يَدْخُلُهُ إِلَّا الصَّائِمُونَ، فَإِذَا
دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ غَيْرُهُمْ
“Di Jannah ada 8 pintu. Salah satu pintu dinamakan
Ar-Royyan. Tidak ada yang memasukinya kecuali orang-orang yang berpuasa. Jika
mereka telah masuk, pintu itu ditutup, dan tidak ada yang masuk selain mereka.”
(An-Nihayah, Ibnu Katsir: 2/214)
Ada pula pintu bagi orang-orang yang banyak Sholat, pintu
bagi orang-orang yang bershodaqoh, dan pintu bagi para mujahid, selain pintu
bagi orang-orang yang berpuasa yang dinamakan Ar-Royyan. Dalam Hadits Muttafaq
‘Alaih (disepakati Al-Bukhori dan Muslim), dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu,
ia berkata: Rosululloh ? bersabda:
مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ مِنْ مَالِهِ، دُعِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ، وَلِلْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ
أَبْوَابٍ، فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ، وَمَنْ
كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ
الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ
مِنْ بَابِ الصِّيَامِ
“Siapa yang menginfakkan zaujain (dua pasang atau dua jenis harta) di jalan Alloh
dari hartanya, ia akan dipanggil dari pintu-pintu Jannah. Jannah
memiliki 8 pintu. Siapa yang termasuk ahli Sholat, ia akan dipanggil dari pintu
Sholat. Siapa yang termasuk ahli shodaqoh, ia akan dipanggil dari pintu shodaqoh.
Siapa yang termasuk ahli Jihad, ia akan dipanggil dari pintu Jihad. siapa yang termasuk ahli puasa, ia akan
dipanggil dari pintu puasa.”
Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Demi Alloh,
tidak ada kerugian bagi siapa pun yang dipanggil dari pintu mana pun. Apakah
ada seseorang yang dipanggil dari semua pintu itu, wahai Rosululloh?”
Beliau ? bersabda:
نَعَمْ، وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ
مِنْهُمْ
“Ya, dan aku berharap engkau termasuk dari mereka.” (An-Nihayah,
Ibnu Katsir: 2/214)
Pertanyaan Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu itu maksudnya
adalah seseorang yang menyatukan semua kebaikan, seperti Sholat, puasa,
shodaqoh, Jihad, dan lain-lain, sehingga ia dipanggil dari semua pintu
tersebut. Rosululloh ? juga mengabarkan
bahwa siapa yang menginfakkan zaujain di jalan Alloh, ia akan dipanggil
dari ke8 pintu Jannah.
Rosululloh ? juga mengabarkan
bahwa siapa yang berwudhu dengan baik, kemudian mengangkat pandangannya ke
langit dan mengucapkan:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
“Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan yang benar)
kecuali Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa
Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya,” maka 8 pintu Jannah akan dibukakan
untuknya, dan ia dipersilakan masuk dari pintu mana pun yang ia kehendaki.
Sungguh, Muslim meriwayatkan dalam Shohih-nya, dari
Amirul Mu’minin ‘Umar bin Al-Khoththob rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh
? bersabda:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ
فَيُبْلِغُ (أَو يُسْبِغُ) الْوُضُوءَ، ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ
الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ، يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ
“Tidak ada seorang pun di antara kalian yang berwudhu lalu
menyempurnakan wudhunya, kemudian ia mengucapkan: ‘Aku bersaksi bahwa tidak
ada ilah (sesembahan yang benar) kecuali Alloh, dan sungguh Muhammad adalah
hamba dan Rosul-Nya,’ kecuali 8 pintu Jannah akan dibukakan
untuknya, ia masuk dari pintu mana pun yang ia kehendaki.” (HR. Muslim no.
234)
Rosululloh ? juga mengabarkan
bahwa Alloh mengkhususkan bagi mereka yang tidak dihisab dengan pintu khusus
yang berbeda dari yang lain, yaitu pintu Jannah Al-Aiman (pintu
kanan). Sementara sisanya akan berbagi dengan umat-umat lain di pintu-pintu
yang lain. Dalam Hadits Muttafaq ‘Alaih sebelumnya, dari Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu
‘anhu dalam Hadits Syafa’at:
فَيَقُولُ اللَّهُ: يَا مُحَمَّدُ:
أَدْخِلْ مَنْ لَا حِسَابَ عَلَيْهِ مِنْ أُمَّتِكَ مِنَ الْبَابِ الْأَيْمَنِ، وَهُمْ
شُرَكَاءُ النَّاسِ فِي الْأَبْوَابِ الْأُخْرَى
“Maka Alloh berfirman: ‘Wahai Muhammad, masukkanlah siapa
dari umatmu yang tidak ada hisab atasnya dari pintu kanan (Al-Aiman). mereka (sisa umatmu) bersama manusia (umat
lain) di pintu-pintu yang lain.’”
Kemudian beliau menjelaskan dalam Hadits ini luasnya
pintu-pintu Jannah, bahwa jarak antara dua sisi pintu adalah seperti
jarak antara Makkah dan Hajar, atau seperti jarak antara Makkah dan Bushro.
Dalam Hadits Muttafaq ‘Alaih sebelumnya, Rosululloh ? bersabda:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ:
إِنَّ بَيْنَ الْمِصْرَاعَيْنِ مِنْ مَصَارِيعِ الْجَنَّةِ، أَوْ مَا بَيْنَ عَضَادَتَيِ
الْبَابِ، كَمَا بَيْنَ مَكَّةَ وَهَجَرَ، أَوْ كَمَا بَيْنَ مَكَّةَ وَبُصْرَى
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, sungguh
jarak antara dua daun pintu dari pintu-pintu Jannah, atau jarak antara
dua tiang pintu, adalah seperti jarak antara Makkah dan Hajar, atau seperti
jarak antara Makkah dan Bushro.” (An-Nihayah, Ibnu Katsir: 2/221)
Rosululloh ? juga mengabarkan kepada
kita bahwa pintu-pintu Jannah dibuka pada bulan Romadhon. Dalam Shohihain
dan Musnad Ahmad, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, ia
berkata: Rosululloh ? bersabda:
إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ
فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَفِي رِوَايَةٍ: فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ
أَبْوَابُ النَّارِ
“Jika bulan Romadhon tiba, pintu-pintu langit dibuka —dalam riwayat lain:
Pintu-pintu Jannah dibuka—,
dan pintu-pintu Naar ditutup.” (Misykatul Mashobih: 1/612)
Disebutkan dalam sebagian Hadits bahwa jarak antara dua daun
pintu adalah perjalanan 40 tahun. Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya,
dan Abu Nu’aim (430 H) dalam Al-Hilyah, dari Hakim bin Mu’awiyah, dari
bapaknya, Mu’awiyah rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ? bersabda:
إِنَّ مَا بَيْنَ الْمِصْرَاعَيْنِ
فِي الْجَنَّةِ مَسِيرَةُ أَرْبَعِينَ سَنَةً، وَلَيَأْتِيَنَّ عَلَيْهِ يَوْمٌ، وَإِنَّهُ
لَكَظِيظٌ
“Sungguh, jarak antara dua daun pintu di Jannah
adalah perjalanan 40 tahun. sungguh
akan datang suatu hari, dan pintu itu dalam keadaan penuh sesak (berdesakan).” sanadnya shohih.
Muslim dan Ahmad meriwayatkan dari ‘Utbah bin Ghozwan rodhiyallahu
‘anhu, ia berkata: “Telah disebutkan kepada kami bahwa jarak antara dua
daun pintu di Jannah adalah perjalanan 40 tahun. sungguh akan datang suatu hari, dan pintu itu dalam keadaan
penuh sesak karena berdesakan.”
Ath-Thobroni (360 H) meriwayatkan dalam Al-Mu’jam
Al-Kabiir, dari ‘Abdulloh bin Sallam rodhiyallahu ‘anhu:
إِنَّ مَا بَيْنَ الْمِصْرَاعَيْنِ
فِي الْجَنَّةِ مَسِيرَةُ أَرْبَعِينَ سَنَةً، يُزَاحَمُ عَلَيْهِ كَازْدِحَامِ الْإِبِلِ
وَرَدَتْ لِخَمْسٍ ظِمَا
“Sungguh, jarak antara dua daun pintu di Jannah
adalah perjalanan 40 tahun. Pintu itu akan dipenuhi desakan seperti desakan
unta yang didatangkan setelah 5 hari kehausan.”[4]
3.3 Tingkatan Jannah (Darajat)
3.3.1 Dalil-Dalil
Bahwa Jannah Bertingkat, dan Penduduknya Berbeda-Beda Ketinggiannya
Jannah memiliki tingkatan (darojat), sebagiannya di atas sebagian yang
lain. Penduduknya pun bertingkat-tingkat di dalamnya sesuai dengan kedudukan
mereka. Alloh ? berfirman:
وَمَن يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ
عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَ?ئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى?
“siapa yang
datang kepada-Nya dalam keadaan beriman dan telah mengerjakan amal sholih, maka
mereka itulah orang-orang yang memperoleh tingkatan-tingkatan yang tinggi.” (QS.
Thoha: 75)
Di antara ulama yang menjelaskan masalah ini adalah Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah (728 H). Ia berkata: “Jannah memiliki
tingkatan-tingkatan yang berbeda-beda secara sangat besar. Para wali Alloh yang
Mu’min dan bertaqwa berada di tingkatan-tingkatan tersebut sesuai dengan
keimanan dan ketaqwaan mereka.”
Alloh ?
berfirman:
مَن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ
عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ
يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا * وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى? لَهَا سَعْيَهَا
وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَ?ئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا * كُلًّا نُّمِدُّ هَ?ؤُلَاءِ
وَهَ?ؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا * انظُرْ
كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى? بَعْضٍ وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ
تَفْضِيلًا
“Siapa yang menghendaki kehidupan sekarang (dunia), Kami
segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi siapa yang Kami
kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di Akhiroh) Jahannam; dia akan
memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. siapa
yang menghendaki Akhiroh dan berusaha ke arah itu dengan usaha yang
sungguh-sungguh, sedangkan dia adalah orang yang beriman, maka mereka itulah
orang yang usahanya dibalas dengan baik. Kepada masing-masing (golongan), baik
golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Robb-mu. kemurahan Robb-mu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah,
bagaimana Kami telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.
Padahal kehidupan Akhiroh lebih tinggi tingkatan-tingkatan (darojat)nya dan
lebih besar keutamaannya.” (QS. Al-Isro’: 18-21)
Maka Alloh ?
menjelaskan bahwa Dia memberikan bantuan kepada siapa yang menghendaki dunia
dan siapa yang menghendaki Akhiroh dari karunia-Nya, dan karunia-Nya tidak
terhalang dari orang baik maupun orang durhaka. Kemudian Dia ?
berfirman:
انظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ
عَلَى? بَعْضٍ وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا
“Perhatikanlah, bagaimana Kami telah melebihkan sebagian
mereka atas sebagian yang lain. Padahal kehidupan Akhiroh lebih tinggi
tingkatan-tingkatan (darojat)nya dan lebih besar keutamaannya.” (QS. Al-Isro’:
21)
Maka Alloh ?
menjelaskan bahwa penduduk Akhiroh bertingkat-tingkat di dalamnya lebih banyak
daripada perbedaan tingkatan manusia di dunia, dan tingkatan-tingkatan Akhiroh
lebih besar daripada tingkatan-tingkatan dunia.
Perbedaan tingkatan para Nabi ‘alaihimussalam adalah
seperti perbedaan tingkatan hamba-hamba-Nya yang lain yang beriman. Alloh ? berfirman:
تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ
عَلَى? بَعْضٍ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ وَآتَيْنَا
عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ
“Rosul-Rosul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian
yang lain. Di antara mereka ada yang diajak bicara
langsung oleh Alloh, dan sebagian lagi Dia tinggikan beberapa derajat. Kami berikan kepada ‘Isa putra Maryam
mukjizat-mukjizat yang nyata dan Kami kuatkan dia dengan Ruhul Qudus (Jibril).”
(QS. Al-Baqoroh: 253)
Alloh ?
berfirman:
وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ
عَلَى? بَعْضٍ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا
“sungguh, Kami
telah melebihkan sebagian Nabi-Nabi atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan
Zabur kepada Dawud.” (QS. Al-Isro’: 55)
Dalam Shohih Muslim, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu
‘anhu, dari Nabi ?, beliau bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ
وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ
عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ
فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ
وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Orang Mu’min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Alloh
daripada orang Mu’min yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan.
Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada
Alloh, dan janganlah lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata: ‘Seandainya
aku melakukan ini dan itu, niscaya akan terjadi begini dan begitu.’ Tetapi
katakanlah: ‘Itu takdir Alloh, apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena
perkataan ‘seandainya’ membuka pintu perbuatan Syaitan.”
Dalam Shohihain, dari Abu Huroiroh dan ‘Amr bin Al-‘Ash
rodhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi ?,
beliau bersabda:
إِذَا اجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ
فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا اجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ
“Jika seorang hakim berijtihad lalu ia benar, maka ia
mendapatkan dua pahala. jika ia
berijtihad lalu ia salah, maka ia mendapatkan satu pahala.”
Alloh ?
berfirman:
لَا يَسْتَوِي مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ
مِن قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَ?ئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِّنَ الَّذِينَ أَنفَقُوا
مِن بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى?
“Tidaklah sama di antara kalian orang yang menginfakkan
(hartanya) sebelum Fath (penaklukan Makkah) dan berperang. Mereka itu lebih
agung derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) sesudah itu
dan berperang. Tetapi secara keseluruhan, Alloh menjanjikan kepada
masing-masing mereka Al-?usn? (balasan yang terbaik alias Jannah).” (QS.
Al-Hadid: 10)
Alloh ?
berfirman:
لَّا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ
عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى? وَفَضَّلَ اللَّهُ
الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا دَرَجَاتٍ مِّنْهُ وَمَغْفِرَةً
وَرَحْمَةً وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Tidaklah sama antara orang-orang Mu’min yang duduk (tidak
ikut berperang) – yang tidak mempunyai udzur (halangan) – dengan orang-orang
yang berjihad di jalan Alloh dengan harta dan diri mereka. Alloh melebihkan
orang-orang yang berjihad dengan harta dan diri mereka atas orang-orang yang
duduk satu derajat. Kepada masing-masing (golongan) itu Alloh menjanjikan
Al-?usn? (Jannah). Alloh melebihkan orang-orang yang berjihad atas
orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar (yaitu) beberapa derajat
(darajat) dari-Nya, serta ampunan dan rohmat. Alloh Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. An-Nisa’: 95-96)
Alloh ?
berfirman:
أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ
وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَوُونَ عِندَ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ
الظَّالِمِينَ * الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ
وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللَّهِ وَأُولَ?ئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ *
يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيهَا
نَعِيمٌ مُّقِيمٌ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Apakah kalian menjadikan pemberian minum kepada orang-orang
yang menunaikan Haji dan mengurus Masjidil Harom, sama seperti orang yang
beriman kepada Alloh dan hari Akhir serta berjihad di jalan Alloh? Mereka tidak
sama di sisi Alloh. Alloh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zholim. Orang-orang
yang beriman dan berhijroh serta berjihad di jalan Alloh dengan harta dan diri
mereka, lebih agung derajatnya di sisi Alloh. mereka
itulah orang-orang yang beruntung Robb mereka memberikan kabar gembira kepada
mereka dengan rohmat dari-Nya, keridhoan, dan Jannah yang di dalamnya
mereka memperoleh keni’matan yang kekal. Mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya. Sungguh, di sisi Alloh ada pahala yang besar.” (QS. At-Taubah:
19-22)
Alloh ?
berfirman:
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ
سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي
الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Apakah orang yang q?nit (beribadah) di malam hari
dalam keadaan sujud dan berdiri, karena takut terhadap (adzab) Akhiroh dan
mengharapkan rohmat Robb-nya, (sama dengan orang yang tidak beriman)?
Katakanlah: ‘Apakah
sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya hanya ulul
alb?b (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran.” (QS.
Az-Zumar: 9)
firman-Nya ?:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا
مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Alloh akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di
antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (darajat). Alloh
Maha Teliti terhadap apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11) (Majmu’
Fatawa Syaikhul Islam: 11/188)
Al-Bukhori meriwayatkan dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu,
ia berkata: Nabi ? bersabda:
مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ
وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَصَامَ رَمَضَانَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ
الْجَنَّةَ، جَاهَدَ فِي سَبِيلِ، أَوْ جَلَسَ فِي أَرْضِهِ الَّتِي وُلِدَ فِيهَا
“Siapa yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, mendirikan Sholat,
dan berpuasa Romadhon, maka menjadi hak Alloh untuk memasukkannya ke Jannah,
baik ia berjihad di jalan Alloh, maupun ia hanya duduk di negeri tempat ia
dilahirkan.”
Mereka berkata: “Wahai Rosululloh, apakah tidak sebaiknya
kami menyampaikan kabar gembira ini kepada manusia?”
Beliau ? bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ
دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ
كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ، فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ
فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ، أَرَاهُ قَالَ: وَفَوْقَهُ عَرْشُ
الرَّحْمَنِ – وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ
“Sungguh di Jannah ada 100 tingkatan (darajat) yang
Alloh persiapkan bagi para mujahid di jalan Alloh. Jarak antara dua tingkatan
adalah seperti jarak antara langit dan bumi. Maka jika kalian meminta kepada
Alloh, mintalah Al-Firdaus, karena ia adalah Jannah yang paling tengah (yakni terbaik) dan Jannah
yang paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy Ar-Rohman, Darinya memancar
sungai-sungai Jannah.’” (HR. Al-Bukhori. Fathul Baari: 6/11)
Telah tetap juga dalam Shohih, dari Anas rodhiyallahu ‘anhu,
bahwa Ummu Haritsah rodhiyallahu ‘anha datang menemui Rosululloh ?. Haritsah rodhiyallahu ‘anhu telah gugur pada perang
Badar, ia terkena panah nyasar. Ia berkata: “Wahai Rosululloh, sungguh engkau
tahu kedudukan Haritsah di hatiku. Jika ia berada di Jannah, aku tidak
akan menangisinya. Jika tidak, engkau akan melihat apa yang akan aku lakukan.”
Beliau ? bersabda kepadanya:
أَجَنَّةٌ وَاحِدَةٌ هِيَ؟ إِنَّهَا
جِنَانٌ كَثِيرَةٌ، وَإِنَّهُ فِي الْفِرْدَوْسِ الْأَعْلَى
“Apakah Jannah itu hanya satu? Sesungguhnya Jannah
itu banyak. sungguh ia berada di
Al-Firdaus Al-A’la (tingkat tertinggi).” (HR. Al-Bukhori,. Fathul Baari:
11/418)
Rosululloh ? menjelaskan bahwa
penduduk Jannah itu bertingkat-tingkat di dalamnya sesuai dengan
kedudukan mereka. Dalam Shohih Al-Bukhori dan Muslim, dari Abu Sa’id
Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ?,
beliau bersabda:
إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَتَرَاءَوْنَ
أَهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ كَمَا يَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الْغَابِرَ
فِي الْأُفُقِ مِنَ الْمَشْرِقِ أَوِ الْمَغْرِبِ، لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ
“Sungguh penduduk Jannah melihat penduduk ghurof
(kamar-kamar/istana-istana tinggi) dari atas mereka, sebagaimana mereka melihat
al-kawkab ad-durr?y (bintang yang berkilauan) yang ghobir
(jauh/terbenam)[5] di ufuk timur atau barat,
karena adanya perbedaan tingkatan di antara mereka.”
Mereka (para Shohabat) berkata: “Wahai Rosululloh, itu
adalah kedudukan para Nabi yang tidak akan dicapai oleh selain mereka?”
Beliau ? bersabda:
بَلَى وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ،
رِجَالٌ آمَنُوا بِاللَّهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ
“Tentu, demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, (mereka
adalah) orang-orang yang beriman kepada Alloh dan membenarkan para Rosul.” (HR.
Al-Bukhori. Fathul Baari: 6/220. Muslim no. 2831)
Dalam Musnad Ahmad, Sunan At-Tirmidzi, Sunan
Ibnu Majah (273 H), dan Shohih Ibnu Hibban, dari Abu Sa’id Al-Khudri
rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ?, beliau bersabda:
إِنَّ أَهْلَ الدَّرَجَاتِ الْعُلَى
يَرَاهُمْ مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْهُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْكَوْكَبَ الطَّالِعَ فِي
أُفُقِ السَّمَاءِ، وَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ مِنْهُمْ وَأَنْعَمَا
“Sungguh penduduk tingkatan-tingkatan tinggi akan dilihat
oleh orang yang berada di bawah mereka, sebagaimana kalian melihat bintang yang
terbit di ufuk langit. sungguh
Abu Bakr dan ‘Umar termasuk dari mereka, dan betapa ni’matnya mereka berdua.” (HR.
Al-Jami’ Ash-Shoghir: 2/187, no. 2026)
Al-Qurthubi (671 H) berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya ghurof
(kamar-kamar atau istana-istana tinggi) ini berbeda-beda ketinggian dan
sifatnya, sesuai dengan perbedaan amal pemiliknya. Sebagiannya lebih tinggi
dari sebagian yang lain. sabda
beliau:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ رِجَالٌ
آمَنُوا بِاللَّهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ
‘Demi
Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, (mereka adalah) orang-orang yang beriman
kepada Alloh dan membenarkan para Rosul.’
Beliau tidak menyebutkan amal, atau sesuatu yang lain selain
iman dan membenarkan para Rosul. Itu agar diketahui bahwa yang beliau maksud adalah
iman yang mencapai tingkat membenarkan para Rosul tanpa meminta ?yah
(tanda/mukjizat) dan tanpa keraguan. Jika tidak demikian, bagaimana mungkin ghurof?t
dapat diraih hanya dengan iman dan pembenaran yang dimiliki oleh orang awam?
Jika seperti itu, niscaya semua orang muwahhid (yang mentauhidkan Alloh) berada
di a’?l? al-ghurof?t (tempat tertinggi di istana-istana tinggi) dan
tingkatan yang paling tinggi, dan ini mustahil.
Sungguh Alloh ?
berfirman:
أُولَ?ئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ
بِمَا صَبَرُوا
‘Mereka
itu akan dibalas dengan al-ghurfah (istana tinggi di Jannah) atas
kesabaran mereka.’ (QS. Al-Furqon: 75)
Kesabaran adalah mengorbankan diri dan tetap teguh di hadapan-Nya
dengan hati yang penuh penghambaan (‘ub?diyyah), dan ini adalah sifat al-muqorrob?n
(orang-orang yang didekatkan).
Alloh berfirman dalam ayat lain:
وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُم
بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِندَنَا زُلْفَى? إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَ?ئِكَ
لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ
“bukan pula
harta atau anak-anak kalian yang menjadikan kalian dekat kepada Kami di tempat
yang mulia, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih. Maka mereka
itu memperoleh balasan yang berlipat ganda atas apa yang telah mereka kerjakan,
dan mereka aman tenteram di al-ghurof?t (istana-istana tinggi).” (QS.
Saba’: 37)
Maka Dia menyebutkan urusan ghurfah, dan bahwa ia
tidak dapat diraih dengan harta dan anak-anak, melainkan diraih dengan iman dan
amal sholih. Kemudian Dia menjelaskan bahwa bagi mereka ada balasan yang
berlipat ganda (jaz?’u adh-dhi’fi) dan tempat mereka adalah al-ghurof?t,
yang mengajarkanmu bahwa ini adalah ?m?n thuma’ninah (iman yang tenang)
dan keterikatan hati padanya, yang tenteram dengannya dalam segala hal yang
menimpanya, dan dalam semua urusan serta hukum-hukumnya. Jika ia beramal
sholih, ia tidak mencampurnya dengan kebalikannya, yaitu yang rusak (fasid).
Maka, amal sholih yang tidak tercampuri kerusakan tidak akan
ada kecuali bersama keimanan yang sempurna dan tenang, di mana pemiliknya
tenteram dengan Dzat yang ia imani dan dengan semua urusan serta hukum-Nya.
Sedangkan orang yang mencampur (amal sholih dengan yang rusak), keimanan dan
amalnya tidak seperti itu, oleh karena itu kedudukannya di bawah yang lain.” (At-Tadzkiroh,
Al-Qurthubi: 464)
Penduduk tingkatan tinggi (ad-daraj?tul ‘?liy?t) akan
berada dalam keni’matan yang lebih tinggi daripada yang di bawah mereka. Alloh
telah menyebutkan bahwa Dia telah mempersiapkan dua Jannah bagi mereka
yang takut kepada-Nya:
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ
جَنَّتَانِ
“bagi siapa
yang takut kepada kedudukan (Robb)-nya, ada dua Jannah.” (QS.
Ar-Rohman: 46)
Dia menjelaskan sifat keduanya. Kemudian Dia berfirman:
وَمِن دُونِهِمَا جَنَّتَانِ
“selain dari
dua Jannah itu ada dua Jannah lagi.” (QS. Ar-Rohman: 62)
Maksud dari min d?nihim? adalah di bawah dua Jannah
sebelumnya dalam kedudukan dan tingkatan. Siapa yang merenungkan sifat dua Jannah
yang Alloh sebutkan terakhir, ia akan tahu bahwa keduanya di bawah dua Jannah
yang pertama dalam keutamaan. Maka dua Jannah yang pertama adalah untuk al-muqorrob?n
(orang-orang yang didekatkan), dan dua yang terakhir adalah untuk ash-h?bul
yam?n (golongan kanan), sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas dan Abu
Musa Al-Asy’ari rodhiyallahu ‘anhum.
Al-Qurthubi (671 H) berkata: “Ketika Dia (Alloh) mensifati
dua Jannah, Dia mengisyaratkan perbedaan di antara keduanya. Maka Dia
berfirman tentang dua yang pertama:
فِيهِمَا عَيْنَانِ تَجْرِيَانِ
“Di dalam kedua Jannah itu ada dua mata air yang
mengalir.” (QS. Ar-Rohman: 50)
Dia berfirman tentang dua yang terakhir:
فِيهِمَا عَيْنَانِ نَضَّاخَتَانِ
“Di dalam kedua Jannah itu ada dua mata air yang
memancar.” (QS. Ar-Rohman: 66)
Yaitu memancar dengan air, tetapi tidak seperti yang
mengalir, karena memancar di bawah mengalir.
Dia berfirman tentang dua yang pertama:
فِيهِمَا مِن كُلِّ فَاكِهَةٍ
زَوْجَانِ
“Di dalam kedua Jannah itu terdapat segala macam
buah-buahan yang berpasangan.” (QS. Ar-Rohman: 52)
Yaitu yang dikenal dan yang aneh, yang basah dan yang
kering. Ini umum dan tidak mengkhususkan.
tentang dua
yang terakhir:
فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ
“Di dalam kedua Jannah itu ada buah-buahan, kurma,
dan delima.” (QS. Ar-Rohman: 68)
Dia tidak berfirman: min kulli f?kihatin zawj?n (dari
segala macam buah-buahan yang berpasangan).
Dia berfirman tentang dua yang pertama:
مُتَّكِئِينَ عَلَى? فُرُشٍ بَطَائِنُهَا
مِنْ إِسْتَبْرَقٍ
“Mereka bersandar di atas permadani yang lapisan dalamnya
dari istabroq (sutra tebal).” (QS. Ar-Rohman: 54)
Yaitu ad-d?b?j (sutra).
tentang dua
yang terakhir:
مُتَّكِئِينَ عَلَى? رَفْرَفٍ
خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ
“Mereka bersandar pada rofrof (bantal-bantal besar)
yang hijau dan permadani-permadani yang indah (abqor?y ?is?n).” (QS.
Ar-Rohman: 76)
Abqor?y adalah sulaman. tidak
diragukan bahwa ad-d?b?j lebih tinggi dari sulaman, dan ar-rofrof
adalah lembaran-lembaran tirai. tidak
diragukan bahwa permadani yang disiapkan untuk bersandar lebih utama dari
tirai.
Dia berfirman tentang dua yang pertama mengenai sifat
bidadari (al-??r al-‘?n):
كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ
“Seakan-akan mereka adalah yaqut dan marjan.” (QS.
Ar-Rohman: 58)
tentang dua
yang terakhir:
فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ
“Di dalam Jannah itu ada bidadari-bidadari yang baik
dan cantik.” (QS. Ar-Rohman: 70)
tidak setiap
kecantikan itu seperti kecantikan yaqut dan marjan.
Dia berfirman tentang dua yang pertama:
ذَوَاتَا أَفْنَانٍ
“Yang memiliki cabang-cabang (pohon).” (QS. Ar-Rohman:
48)
tentang dua
yang terakhir:
مُدْهَامَّتَانِ
“Kedua-duanya (Jannah) hijau tua warnanya.” (QS.
Ar-Rohman: 64)
Yaitu sangat hijau, seakan-akan kehitaman karena saking
hijaunya, dan karena pepohonannya yang saling bertautan. Dia mensifati dua yang
pertama dengan banyaknya cabang, dan dua yang terakhir hanya dengan hijaunya
saja.” (At-Tadzkiroh, Al-Qurthubi: 440)
Dalam Shohih Al-Bukhori dan Muslim, dari Abu Musa
Al-Asy’ari rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ?
bersabda:
جَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ، آنِيَتُهُمَا
وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَمَا بَيْنَ
الْقَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوا إِلَى رَبِّهِمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ
عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ
“Dua Jannah dari perak, bejana-bejana dan isinya, dan
dua Jannah dari emas, bejana-bejana dan isinya. tidak ada yang menghalangi kaum (Mu’min) untuk melihat Robb
mereka kecuali Rid?’ Al-Kibriy?’ (Selendang Keagungan) di Wajah-Nya di Jannah
‘Adn.” (Jami’ul Ushul: 10/498, no. 8029)
Dalam riwayat At-Tirmidzi: “Sungguh di Jannah ada dua
Jannah dari perak...” dan ia menyebutkan Hadits tersebut.
Alloh ?
menyebutkan bahwa Al-Abror (orang-orang yang berbakti) minum dari gelas (k?’s) yang campurannya k?f?r:
إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ
مِن كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا
“Sungguh, orang-orang yang Abror (berbakti) minum dari gelas
(berisi minuman) yang campurannya adalah k?f?r.” (QS. Al-Insan: 5)
Dia berfirman di tempat lain:
وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ
مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا
“di sana
mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah zanjab?l
(jahe).” (QS. Al-Insan: 17)
Tampaknya ini – dan ilmu hanya di sisi Alloh – adalah untuk
Ash-h?bul Yam?n (golongan kanan).
Dia berfirman di tempat lain:
وَمِزَاجُهُ مِن تَسْنِيمٍ عَيْنًا
يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ
“campurannya
dari tasn?m (yaitu) mata air yang diminum oleh al-muqorrob?n
(orang-orang yang didekatkan).” (QS. Al-Muthoffifin: 27-28)
Maka Ash-h?bul Yam?n minum minuman yang dicampur dari tasn?m,
yaitu mata air di Jannah. Sedangkan al-muqorrob?n minum dari tasn?m
secara murni, tidak dicampur.
3.3.2 Kedudukan
Tertinggi dan Terendah Penduduk Jannah
Muslim meriwayatkan dalam Shohih-nya, dari
Al-Mughiroh bin Syu’bah rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ? bersabda:
سَأَلَ مُوسَى رَبَّهُ: مَا أَدْنَى
أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً؟
“Musa (alaihis salam) bertanya kepada Robb-nya: ‘Siapakah
penduduk Jannah yang paling rendah kedudukannya?’”
Dia (Alloh) berfirman:
هُوَ رَجُلٌ يَجِيءُ بَعْدَمَا
أُدْخِلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، فَيُقَالُ لَهُ: ادْخُلِ الْجَنَّةَ. فَيَقُولُ:
أَيْ رَبِّ كَيْفَ؟ وَقَدْ نَزَلَ النَّاسُ مَنَازِلَهُمْ، وَأَخَذُوا أَخَذَاتِهُمْ؟
فَيُقَالُ لَهُ: أَتَرْضَى أَنْ يَكُونَ لَكَ مِثْلُ مُلْكِ مَلِكٍ مِنْ مُلُوكِ الدُّنْيَا؟
فَيَقُولُ: رَضِيتُ رَبِّ، فَيَقُولُ: لَكَ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ، وَمِثْلُهُ، وَمِثْلُهُ،
وَمِثْلُهُ. فَقَالَ فِي الْخَامِسَةِ: رَضِيتُ، رَبِّ. فَيَقُولُ: لَكَ هَذَا وَعَشَرَةُ
أَمْثَالِهِ، وَلَكَ مَا اشْتَهَتْ نَفْسُكَ، وَلَذَّتْ عَيْنُكَ. فَيَقُولُ: رَضِيتُ
رَبِّ
“Dia adalah seorang laki-laki yang datang setelah penduduk Jannah
dimasukkan ke Jannah. Dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke Jannah.’
Ia berkata: ‘Wahai Robb, bagaimana (mungkin)? Sedangkan manusia telah menempati
tempat-tempat mereka, dan mengambil bagian-bagian mereka?’ Dikatakan kepadanya:
‘Apakah engkau ridho jika engkau mendapatkan (ni’mat) seperti kerajaan seorang
raja dari raja-raja dunia?’ Ia berkata: ‘Aku ridho, Robb.’ Dia berfirman: ‘Engkau
mendapatkan itu, dan yang semisalnya, dan yang semisalnya, dan yang semisalnya,
dan yang semisalnya.’ Maka pada yang kelima, ia berkata: ‘Aku ridho, Robb.’ Dia
berfirman: ‘Engkau mendapatkan ini (5 bagian) dan 10 lagi
seperti itu. engkau
mendapatkan apa yang diinginkan jiwamu, dan yang menyenangkan di matamu.’ Ia berkata: ‘Aku
ridho, Robb.’”
Musa bertanya: “Wahai Robb, lalu siapa yang paling tinggi
kedudukannya?”
Dia (Alloh) berfirman:
أُولَ?ئِكَ الَّذِينَ أَرَدْتُ،
غَرَسْتُ كَرَامَتَهُمْ بِيَدِي وَخَتَمْتُ عَلَيْهَا، فَلَمْ تَرَ عَيْنٌ، وَلَمْ
تَسْمَعْ أُذُنٌ، وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Mereka itulah yang Aku kehendaki. Aku menanam kemuliaan
mereka dengan Tangan-Ku dan Aku menyegelnya. Maka (mereka mendapatkan ni’mat yang) belum
pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas
di hati manusia.”
Beliau bersabda: “pembenarannya
ada dalam Kitabulloh ‘Azza wa Jalla:
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ
لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ
“Maka tidak seorang pun mengetahui berbagai ni’mat yang
tersembunyi, yang (secara istimewa) dipersiapkan untuk mereka, sebagai balasan
atas apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17).” (HR. Muslim
no. 189)
3.3.3 Kedudukan
Tertinggi di Jannah
Kedudukan tertinggi di Jannah yang akan diraih oleh satu
orang saja dinamakan Al-Was?lah. Nabi yang terpilih, pilihan Alloh dari
makhluk-Nya, Nabi kita Muhammad ?, akan meraihnya – In
sy?’ Alloh.
Ibnu Katsir (774 H) berkata dalam An-Nihayah: “Disebutkan
kedudukan tertinggi di Jannah, yaitu Al-Was?lah. Di dalamnya ada maqom
(kedudukan) Rosululloh ?.”
Beliau ? bersabda:
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ:
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا
الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ،
حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Siapa yang mengucapkan ketika mendengar adzan: ‘All?humma
robba h?dzihid da’watit t?mmah, wash-shol?til q?’imah, ?ti Mu?ammadan
al-was?lah wal fadh?lah, wab’ats-hu maq?man ma?m?danilladz? wa’adtah (Ya
Alloh, Robb seruan yang sempurna ini dan Sholat yang didirikan, berikanlah
kepada Muhammad Al-Was?lah dan Al-Fadh?lah, dan bangkitkanlah dia di maqom
ma?m?d (kedudukan terpuji) yang telah Engkau janjikan),’ maka ia berhak
mendapatkan syafa’at pada hari Kiamat.” (HR. Al-Bukhori no. 614)
ia (Ibnu
Katsir) menyebutkan Hadits ‘Abdulloh bin ‘Amr bin Al-‘Ash rodhiyallahu ‘anhuma
dalam Shohih Muslim, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh ? bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ
فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ
صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ تَعَالَى لِي الْوَسِيلَةَ،
فَإِنَّ مَنْ سَأَلَ اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti yang
ia ucapkan. Kemudian bersholawatlah kepadaku, karena siapa yang bersholawat
kepadaku satu kali, Alloh akan bersholawat kepadanya 10 kali. Kemudian mintalah
kepada Alloh Ta’ala untukku Al-Was?lah, karena siapa yang meminta kepada
Alloh untukku Al-Was?lah, ia berhak mendapatkan syafa’at.” (HR. Muslim, no.
189)
Para Shohabat bertanya kepada Rosululloh ?:
“Apakah Al-Was?lah itu?” Beliau bersabda:
أَعْلَى دَرَجَةٍ فِي الْجَنَّةِ،
لَا يَنَالُهَا إِلَّا رَجُلٌ وَاحِدٌ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ هُوَ
“Tingkatan tertinggi di Jannah. Tidak ada yang
meraihnya kecuali satu orang laki-laki, dan aku berharap akulah orangnya.” (HR.
Ahmad dari Abu Huroiroh)
dalam Musnad
Ahmad, dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh
? bersabda:
الْوَسِيلَةُ دَرَجَةٌ عِنْدَ
اللَّهِ، لَيْسَ فَوْقَهَا دَرَجَةٌ، فَسَلُوا اللَّهَ أَنْ يُؤْتِيَنِي الْوَسِيلَةَ
“Al-Was?lah adalah tingkatan di sisi Alloh, tidak ada
tingkatan lain di
atasnya. Maka mintalah kepada Alloh agar Dia memberiku Al-Was?lah.” (Lihat Hadits-Hadits ini
dalam An-Nihayah karya Ibnu Katsir: 2/2332)
3.3.4 Mereka yang Menempati Tingkatan Tinggi
Di antara mereka yang menempati tingkatan tinggi
(Ad-Daraj?tul ‘?liy?t) di Jannah adalah para Syuhada’. Yang paling utama
dari mereka adalah yang berperang di barisan pertama, yang tidak menoleh hingga
mereka gugur.
Dalam Musnad Ahmad dan Mu’jam Ath-Thobroni,
dari Nu’aim bin Hammar rodhiyallahu ‘anhu, dengan sanad shohih, dari
Nabi ?, beliau bersabda:
أَفْضَلُ الشُّهَدَاءِ الَّذِينَ
يُقَاتِلُونَ فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ، فَلَا يَلْفِتُونَ وُجُوهَهُمْ حَتَّى يُقْتَلُوا،
أُولَئِكَ يَتَلَبَّطُونَ فِي الْغُرَفِ الْعُلَى مِنَ الْجَنَّةِ، يَضْحَكُ إِلَيْهِمْ
رَبُّهُمْ، فَإِذَا ضَحِكَ رَبُّكَ إِلَى عَبْدٍ فِي مَوْطِنٍ فَلَا حِسَابَ عَلَيْهِ
“Syuhada’ yang paling utama adalah yang berperang di barisan
pertama, yang tidak memalingkan wajah mereka hingga mereka gugur. Mereka itu
bersemayam di al-ghurof al-‘ul? (istana-istana tinggi) di Jannah. Robb mereka
tersenyum kepada mereka. Jika Robb-mu tersenyum kepada seorang hamba di suatu
tempat, maka tidak ada hisab atasnya.” (Musnad Ahmad: 5/287. Shohih
Al-Jami’ Ash-Shoghir: 1/363, no. 1118)[6]
Orang yang berusaha (mencari nafkah) untuk janda dan orang
miskin memiliki kedudukan seperti mujahid di jalan Alloh. Dalam Shohih
Muslim, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ?, beliau bersabda:
السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ
وَالْمِسْكِينِ، كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ – وَأَحْسَبُهُ قَالَ: وَكَالْقَائِمِ لَا يَفْتُرُ، وَكَالصَّائِمِ
لَا يُفْطِرُ
“Orang yang berusaha (mencari nafkah) untuk janda dan orang
miskin, adalah seperti mujahid di jalan Alloh, dan seperti
orang yang Sholat malam tanpa henti, dan seperti orang yang berpuasa tanpa absen.’” (HR. Muslim, no.
2982)
Kedudukan penanggung jawab anak yatim itu dekat dengan
kedudukan Rosululloh ?. Dalam Shohih
Muslim, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi ? bersabda:
كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ
لِغَيْرِهِ، أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ
“Penanggung jawab anak yatim, baik anak itu miliknya sendiri
maupun milik orang lain (maksudnya: apakah ia menanggungnya dengan hartanya,
atau dengan harta anak yatim itu dengan perwalian syar’i), aku dan dia seperti
ini di Jannah.” Malik (179 H) mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan
jari tengahnya. (Sumber sebelumnya)
Alloh akan mengangkat derajat para ayah berkat doa anak-anak
mereka. Dalam Musnad Ahmad, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu,
ia berkata: Rosululloh ? bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ
لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟ فَيَقُولُ:
بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ
“Sungguh, Alloh akan mengangkat derajat hamba yang sholih di
Jannah. Ia berkata: ‘Wahai Robb, kenapa aku mendapatkan ini?’ Dia berfirman: ‘Karena istighfar (permohonan ampun) anakmu untukmu.’”
Ibnu Katsir (774 H) berkata: “Sanad Hadits ini shohih, dan
tidak ada seorang pun dari pemilik enam kitab Hadits utama yang
mengeluarkannya. Namun ia memiliki sy?hid (penguat) dalam Shohih
Muslim, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh
? bersabda:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ
عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ
وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
‘Jika anak Adam meninggal, terputuslah amalnya kecuali dari
tiga hal: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholih yang
mendoakannya.’” (An-Nihayah, Ibnu Katsir: 2/340)
3.4 Tanah Jannah
Telah tetap dalam Shohihain, dari Anas bin Malik rodhiyallahu
‘anhu, dari Abu Dzarr rodhiyallahu ‘anhu, dalam Hadits Mi’roj, ia
berkata: Rosululloh ? bersabda:
أُدْخِلْتُ الْجَنَّةَ، فَإِذَا
فِيهَا جَنَابِذُ اللُّؤْلُؤِ، وَإِذَا تُرَابُهَا الْمِسْكُ
“Aku dimasukkan ke Jannah, ternyata di dalamnya ada
kubah-kubah mutiara, dan ternyata tanahnya adalah (beraroma) misik.”
Dalam Shohih Muslim dan Musnad Ahmad, dari Abu
Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Ibnu Shoyyad bertanya kepada Rosululloh
? tentang tanah Jannah. Beliau bersabda:
هِيَ دَرْمَكَةٌ بَيْضَاءُ مِسْكٌ
خَالِصٌ
“Ia adalah darmakah (tepung halus) putih, misik murni.”
Dalam Musnad Ahmad, dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallahu
‘anhu, ia berkata: Rosululloh ? bersabda tentang
orang-orang Yahudi:
إِنِّي سَائِلُهُمْ عَنْ تُرْبَةِ
الْجَنَّةِ، وَهِيَ دَرْمَكَةٌ بَيْضَاءُ، فَسَأَلَهُمْ، فَقَالُوا: هِيَ خُبْزَةٌ
يَا أَبَا الْقَاسِمِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ?: الْخُبْزُ مِنَ الدَّرْمَكِ
“Sungguh aku akan bertanya kepada mereka tentang tanah Jannah,
dan ia adalah darmakah putih.” Maka beliau bertanya kepada mereka. Mereka menjawab: “Ia adalah
roti, wahai Abul Qosim.” Rosululloh ? bersabda: “Roti itu
dari darmak.’” (Lihat Hadits-Hadits ini dalam An-Nihayah karya Ibnu
Katsir: 2/242)
Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ad-Darimi meriwayatkan dari Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku bertanya: “Wahai Rosululloh,
dari apa makhluk diciptakan?” Beliau bersabda:
مِن مَاءٍ
“Dari air.”
Kami bertanya: “Jannah, apa bangunannya?” Beliau
bersabda:
لَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ، وَلَبِنَةٌ
مِنْ فِضَّةٍ، وَمِلَاطُهَا الْمِسْكُ الْأَظْفَرُ، وَحَصْبَاؤُهَا الدُّرُّ وَالْيَاقُوتُ،
وَتُرْبَتُهَا الزَّعْفَرَانُ، مَنْ يَدْخُلُهَا يَنْعَمُ، وَلَا يَبْأَسُ، وَيَخْلُدُ
وَلَا يَمُوتُ، وَلَا يَبْلَى ثِيَابُهُمْ، وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُمْ
“Ada yang batanya dari emas, dan ada pula batanya dari perak. Adukannya
adalah misik yang sangat wangi, kerikilnya adalah durr (mutiara besar) dan yaqut, dan
tanahnya adalah za’faron. Siapa yang
memasukinya akan merasakan keni’matan dan tidak akan sengsara. Dia akan kekal
dan tidak akan mati, pakaiannya tidak akan usang, dan masa mudanya tidak akan
sirna.” (Misykatul Mashobih: no. 5630)[7]
3.5 Sungai-Sungai Jannah
Alloh ?
mengabarkan kepada kita bahwa Jannah mengalir di bawahnya sungai-sungai.
وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
“sampaikanlah
kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholih, bahwa untuk
mereka (disediakan) Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS.
Al-Baqoroh: 25)
Terkadang Dia berfirman: tajr? ta?tahal anh?r (mengalir di
bawah mereka sungai-sungai):
أُولَ?ئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ
تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ
“Mereka itulah yang memperoleh Jannah ‘Adn,
yang mengalir di bawah mereka sungai-sungai.” (QS. Al-Kahfi: 31)
Rosululloh ? telah menceritakan
kepada kita tentang sungai-sungai Jannah dengan penjelasan yang
gamblang.
Dalam kisah Isro’ beliau ?:
رَأَى أَرْبَعَةَ أَنْهَارٍ يَخْرُجُ
مِنْ أَصْلِهَا نَهْرَانِ ظَاهِرَانِ وَنَهْرَانِ بَاطِنَانِ، فَقُلْتُ: يَا جِبْرِيلُ،
مَا هَذِهِ الْأَنْهَارُ؟ قَالَ: أَمَّا النَّهْرَانِ الْبَاطِنَانِ: فَنَهْرَانِ فِي
الْجَنَّةِ وَأَمَّا الظَّاهِرَانِ: فَالنِّيلُ وَالْفُرَاتُ
Beliau melihat 4 sungai yang keluar dari asalnya[8].
Dua sungai tampak jelas (zh?hir), dan dua sungai tersembunyi (b?thin).
“Aku bertanya: ‘Wahai Jibril, sungai-sungai apa ini?’ Ia menjawab: ‘Adapun dua
sungai yang tersembunyi, keduanya adalah sungai di Jannah. adapun dua yang tampak jelas, keduanya
adalah Nil dan Furoot.’” (HR. Muslim no. 164)
Dalam Shohih Al-Bukhori, dari Anas bin Malik rodhiyallahu
‘anhu, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:
رُفِعَتْ لِي السِّدْرَةُ، فَإِذَا
أَرْبَعَةُ أَنْهَارٍ: نَهْرَانِ ظَاهِرَانِ، وَنَهْرَانِ بَاطِنَانِ، فَأَمَّا الظَّاهِرَانِ:
فَالنِّيلُ وَالْفُرَاتُ، وَأَمَّا الْبَاطِنَانِ: فَنَهْرَانِ فِي الْجَنَّةِ
“Ditampakan
untukku Sidroh (pohon Sidr). Ternyata ada 4 sungai: dua sungai tampak jelas (zh?hir),
dan dua sungai tersembunyi (b?thin). Adapun dua yang tampak jelas adalah
Nil dan Furoot. adapun dua yang
tersembunyi adalah dua sungai di Jannah.” (Jami’ul Ushul: 10/507)[9]
Dalam Shohih Muslim, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu
‘anhu, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:
سَيْحَانُ وَجَيْحَانُ وَالْفُرَاتُ
وَالنِّيلُ كُلٌّ مِنْ أَنْهَارِ الْجَنَّةِ
“Saihan,
Jaihan, Furoot, dan
Nil, semuanya adalah sungai-sungai dari Jannah.” (HR. Muslim, no.
2839)[10]
“Bisa jadi maksud dari keberadaan sungai-sungai ini dari Jannah
adalah bahwa asalnya dari sana, sebagaimana asal manusia dari Jannah.
Ini tidak bertentangan dengan apa yang diketahui secara nyata bahwa
sungai-sungai ini mengalir dari sumber-sumbernya yang dikenal di bumi. Jika ini
bukan maknanya atau yang serupa dengannya, maka Hadits ini termasuk urusan ghoib
yang wajib diimani, dan menyerahkan (pengetahuannya) kepada Dzat yang
mengabarkannya.” (Silsilatu Al-Ahadits Ash-Shohihah: 1/18)
Al-Q?ri’ (1014 H) berkata: “Sungai-sungai yang 4 itu
dijadikan sungai Jannah karena kelezatan dan kemudahannya, dan karena
mengandung keberkahan Ilahi, serta mendapat kemuliaan karena didatangi dan
diminum oleh para Nabi.” (Misykatul Mashobih: 3/80)
Di antara sungai Jannah adalah Al-Kautsar, yang Alloh
anugerahkan kepada Rosul-Nya ?:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
“Sungguh, Kami telah memberimu Al-Kautsar.” (QS.
Al-Kautsar: 1)
Rosululloh ? telah melihatnya dan
menceritakannya kepada kita. Dalam Shohih Al-Bukhori, dari Anas bin
Malik rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ?,
beliau bersabda:
بَيْنَمَا أَنَا أَسِيرُ فِي الْجَنَّةِ،
إِذْ أَنَا بِنَهْرٍ حَافَتَاهُ قِبَابُ الدُّرِّ الْمُجَوَّفِ، قُلْتُ: مَا هَذَا
يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَذَا الْكَوْثَرُ الَّذِي أَعْطَاكَ رَبُّكَ، فَإِذَا طِيبُهُ
– أَوْ طِينُهُ – مِسْكٌ أَذْفَرُ
“Ketika aku sedang berjalan di Jannah, tiba-tiba aku
berada di sebuah sungai yang kedua tepinya adalah kubah-kubah dari mutiara
berongga. Aku bertanya: ‘Apa ini, wahai Jibril?’ Ia menjawab: ‘Ini adalah
Al-Kautsar yang Robb-mu anugerahkan kepadamu.’ Tiba-tiba bau wanginya – atau
tanahnya[11] – adalah misik yang
sangat wangi.” (HR. Al-Bukhori. Fathul Baari: 11/464)
Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma menafsirkan
Al-Kautsar sebagai kebaikan yang banyak (al-khoyr al-kats?r) yang Alloh
anugerahkan kepada Rosul-Nya ?. Abu Bisyr (rowi)
berkata kepada Sa’id bin Jubair (rowi tafsir ini dari Ibnu ‘Abbas): “Sungguh
ada orang-orang yang mengklaim bahwa ia adalah sungai di Jannah.” Sa’id
berkata: “Sungai yang ada di Jannah adalah termasuk kebaikan yang Alloh
berikan kepadanya.” (HR. Al-Bukhori. Fathul Baari: 11/463)
Al-Hafizh Ibnu Katsir (774 H) telah mengumpulkan
Hadits-Hadits yang Rosululloh ? kabarkan mengenai
Al-Kautsar.
Di antara Hadits-Hadits ini adalah yang diriwayatkan oleh Muslim
dalam Shohih-nya, dari Anas rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ?, ketika diturunkan kepadanya:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
“Sungguh, Kami telah memberimu Al-Kautsar.” (QS.
Al-Kautsar: 1)
Beliau bersabda:
أَتَدْرُونَ مَا الْكَوْثَرُ؟
قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: هُوَ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ اللَّهُ عَزَّ
وَجَلَّ، عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ
“Tahukah kalian apa itu Al-Kautsar?” Mereka menjawab: “Alloh
dan Rosul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Ia adalah sungai yang Alloh ‘Azza
wa Jalla janjikan kepadaku, di atasnya ada kebaikan yang banyak.”
ia menyebutkan
Hadits Anas rodhiyallahu ‘anhu dalam Musnad Ahmad, dari Rosululloh
?, beliau bersabda:
أُعْطِيتُ الْكَوْثَرَ، فَإِذَا
نَهْرٌ يَجْرِي عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ، حَافَتَاهُ قِبَابُ اللُّؤْلُؤِ، لَيْسَ مَسْقُوفًا،
فَضَرَبْتُ بِيَدِي إِلَى تُرْبَتِهِ، فَإِذَا تُرْبَتُهُ مِسْكٌ أَذْفَرُ، وَحَصْبَاؤُهُ
اللُّؤْلُؤُ
“Aku dianugerahi Al-Kautsar. Ternyata ia adalah sungai yang
mengalir di atas permukaan bumi. Kedua tepinya adalah kubah-kubah dari mutiara,
tidak beratap. Aku sentuhkan tanganku ke tanahnya, ternyata tanahnya misik yang
sangat wangi, dan kerikilnya adalah mutiara.”
Dalam riwayat lain di Musnad Ahmad, dari Anas rodhiyallahu
‘anhu yang marfu’:
هُوَ نَهْرٌ أَعْطَانِيهِ اللَّهُ
فِي الْجَنَّةِ، تُرَابُهُ مِسْكٌ، مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَى مِنَ
الْعَسَلِ، تَرِدُهُ طُيُورٌ أَعْنَاقُهَا مِثْلُ أَعْنَاقِ الْجُزُرِ
“Ia adalah sungai yang Alloh anugerahkan kepadaku di Jannah.
Tanah liatnya misik, airnya lebih putih dari susu, dan lebih manis dari madu.
Burung-burung mendatanginya, lehernya seperti leher unta.”
Al-Hafizh Ibnu Katsir (774 H) telah menyebutkan banyak
riwayat lain mengenai masalah ini, maka rujuklah kepadanya jika engkau ingin
lebih banyak (An-Nihayah, Ibnu Katsir: 2/246).
Sungai-sungai Jannah bukan hanya air saja, melainkan
ada yang dari air, dari susu, dari khomr (minuman keras), dan dari madu murni.
Alloh ?
berfirman:
مَّثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ
الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِّن مَّاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِّن لَّبَنٍ
لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ
مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى
“Perumpamaan Jannah yang dijanjikan kepada
orang-orang yang bertaqwa. Di dalamnya terdapat sungai-sungai dari air yang
tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tidak berubah
rasanya, sungai-sungai dari khomr (minuman keras) yang lezat bagi peminumnya, dan
sungai-sungai dari madu yang disaring.” (QS. Muhammad: 15)
Dalam Sunan At-Tirmidzi, dengan sanad shohih, dari
Hakim bin Mu’awiyah (kakek dari Bahz bin Hakim), bahwa Rosululloh ? bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَحْرَ الْعَسَلِ،
وَبَحْرَ الْخَمْرِ، وَبَحْرَ اللَّبَنِ، وَبَحْرَ الْمَاءِ، ثُمَّ تَنْشَقُّ الْأَنْهَارُ
بَعْدُ
“Sungguh di Jannah ada lautan madu, lautan khomr,
lautan susu, dan lautan air. Kemudian sungai-sungai itu terbelah dari sana.” (Jami’ul
Ushul: 10/507)[12]
Maka sungai-sungai Jannah terbelah dari lautan-lautan
yang disebutkan Rosululloh ? itu.
Rosululloh ? juga mengabarkan
kepada kita tentang sungai yang dinamakan B?riq, yang berada di pintu Jannah.
Para Syuhada’ berada di barzakh (alam kubur) di dekat sungai ini. Dalam Musnad
Ahmad, Mu’jam Ath-Thobroni, dan Mustadrok Al-Hakim, dari Ibnu
‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, dengan sanad ?asan, bahwa Rosululloh ? bersabda:
الشُّهَدَاءُ عَلَى بَارِقٍ نَهَرٍ
بِبَابِ الْجَنَّةِ، فِي قُبَّةٍ خَضْرَاءَ، يَخْرُجُ عَلَيْهِمْ رِزْقُهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ
بُكْرَةً وَعَشِيًّا
“Para Syuhada’ berada di B?riq, yaitu sungai di pintu Jannah,
di dalam kubah hijau. Rizqi mereka didatangkan kepada mereka dari Jannah
di pagi dan sore hari.” (HR. Al-Jami’ Ash-Shoghir: 3/235, no. 3636)
3.6: Mata Air Jannah (‘Uy?n)
Di Jannah terdapat banyak mata air yang berbeda rasa
dan minumannya.
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ
وَعُيُونٍ
“Sungguh, orang-orang yang bertaqwa berada di Jannah
dan mata air.” (QS. Al-Hijr: 45)
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي ظِلَالٍ
وَعُيُونٍ
“Sungguh, orang-orang yang bertaqwa berada di bawah naungan
dan mata air.” (QS. Al-Mursalat: 41)
Dia berfirman dalam menjelaskan sifat dua Jannah yang
Dia persiapkan bagi siapa yang takut kepada Robb-nya:
فِيهِمَا عَيْنَانِ تَجْرِيَانِ
“Di dalam kedua Jannah itu ada dua mata air yang
mengalir.” (QS. Ar-Rohman: 50)
Dia berfirman dalam menjelaskan sifat dua Jannah yang
di bawahnya:
فِيهِمَا عَيْنَانِ نَضَّاخَتَانِ
“Di dalam kedua Jannah itu ada dua mata air yang
memancar.” (QS. Ar-Rohman: 66)
Di Jannah ada dua mata air yang diminum oleh al-muqorrob?n
(orang-orang yang didekatkan) secara murni, tidak dicampur, dan diminum oleh al-abroor
(orang-orang yang berbakti) sebagai minuman yang dicampur.
Mata air pertama: Mata Air K?f?r. Alloh ?
berfirman:
إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ
مِن كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا
تَفْجِيرًا
“Sungguh, orang-orang yang Abror (berbakti) minum dari gelas
(berisi minuman) yang campurannya adalah k?f?r (Yaitu) mata air yang diminum
oleh hamba-hamba Alloh, yang mereka alirkan terus-menerus dengan pengaliran
yang deras.” (QS. Al-Insan: 5-6)
Maka Dia mengabarkan bahwa al-abroor minum minuman mereka yang
dicampur dari mata air k?f?r, sementara ‘ib?dulloh (hamba-hamba Alloh)
meminumnya secara murni.
Mata air kedua: Mata Air Tasn?m. Alloh ?
berfirman:
إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ
عَلَى الْأَرَائِكِ يَنظُرُونَ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ يُسْقَوْنَ
مِن رَّحِيقٍ مَّخْتُومٍ خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَ?لِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
وَمِزَاجُهُ مِن تَسْنِيمٍ عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ
“Sungguh, orang-orang yang Abror (berbakti) benar-benar
berada dalam keni’matan yang abadi. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan
sambil memandang. Engkau dapat melihat pada wajah mereka kilauan keni’matan. Mereka
diberi minum dari ro??q (minuman yang murni) yang disegel. Laknya
adalah misik. untuk (meraih) itu,
hendaknya orang-orang yang berlomba-lomba bersaing. campurannya dari tasn?m. (Yaitu)
mata air yang diminum oleh al-muqorrob?n (orang-orang yang didekatkan).”
(QS. Al-Muthoffifin: 22-28)
Di antara mata air Jannah adalah mata air yang
dinamakan Salsab?l. Alloh ?
berfirman:
وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ
مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّى? سَلْسَبِيلًا
“di sana
mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah zanjab?l
(jahe). (Yang diambil) dari sebuah mata air di Jannah yang
dinamakan salsab?l.” (QS. Al-Insan: 17-18)
Mungkin ini adalah mata air yang pertama itu juga.
3.7 Istana Jannah (Qush?r)
dan Kemah-Kemahnya (Khiy?m)
Alloh membangun untuk penduduk Jannah tempat tinggal
yang baik dan indah. Sebagaimana firman-Nya ?:
وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ
عَدْنٍ
“tempat
tinggal yang baik di Jannah ‘Adn.” (QS. At-Taubah: 72)
Alloh juga menamakan tempat tinggal ini di beberapa tempat
dalam Kitab-Nya dengan Al-Ghurof?t (kamar-kamar/istana-istana tinggi).
وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ
“Sedang mereka di al-ghurof?t (istana-istana tinggi)
itu aman tenteram.” (QS. Saba’: 37)
tentang
balasan bagi ‘ib?dur ro?m?n (hamba-hamba Ar-Rohman):
أُولَ?ئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ
بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا
“Mereka itu akan dibalas dengan al-ghurfah (istana
tinggi di Jannah) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut
dengan penghormatan dan salam.” (QS. Al-Furqon: 75)
Alloh ?
menyifati al-ghurof?t ini:
لَ?كِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ
لَهُمْ غُرَفٌ مِّن فَوْقِهَا غُرَفٌ مَّبْنِيَّةٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ الْمِيعَادَ
“Tetapi orang-orang yang bertaqwa kepada Robb mereka, bagi
mereka ada kamar-kamar (ghurof) di atasnya dibangun pula kamar-kamar
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Itulah) janji Alloh. Alloh tidak akan
menyalahi janji-Nya.” (QS. Az-Zumar: 20)
Ibnu Katsir (774 H) berkata: “Alloh ‘Azza wa Jalla
mengabarkan tentang hamba-hamba-Nya yang berbahagia bahwa bagi mereka ada ghurof
(kamar-kamar raksasa) di Jannah, yaitu istana-istana yang menjulang
tinggi. Min fawqih? ghurofun mabniyyah (di atasnya dibangun pula
kamar-kamar), yaitu bertingkat-tingkat di atas tingkatan, dibangun dengan
kokoh, dihias, dan tinggi.”
Rosululloh ? telah menjelaskan
sifat istana-istana ini. Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya,
dan Ibnu Hibban dalam Shohih-nya, dari Abu Malik Al-Asy’ari, dan
At-Tirmidzi dari ‘Ali rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ? bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا
يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا، وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا، أَعَدَّهَا اللَّهُ
تَعَالَى لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَأَلَانَ الْكَلَامَ، وَتَابَعَ الصِّيَامَ،
وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ
“Sungguh di Jannah ada ghurof (kamar-kamar)
yang bagian luarnya terlihat dari dalamnya, dan bagian dalamnya terlihat dari
luarnya. Alloh Ta’ala mempersiapkannya untuk siapa yang memberi makan,
melembutkan ucapan, terus-menerus berpuasa, dan Sholat di malam hari ketika
manusia sedang tidur.” (HR. Al-Jami’ Ash-Shoghir: 2/220, no. 2119)
Alloh ?
juga mengabarkan kepada kita bahwa di Jannah terdapat kemah-kemah (khiy?m).
Alloh ? berfirman:
حُورٌ مَّقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ
“Bidadari-bidadari yang dipingit di dalam kemah-kemah (khiy?m).”
(QS. Ar-Rohman: 72)
Kemah-kemah ini adalah kemah-kemah yang menakjubkan. Ia
terbuat dari mutiara, bahkan dari satu mutiara berongga yang panjangnya
di langit 60 mil (sekitar 96 km). Dalam sebagian riwayat, lebarnya
adalah 60 mil.
Dalam Shohih Al-Bukhori, dari ‘Abdulloh bin Qoys rodhiyallahu
‘anhu, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:
الْخَيْمَةُ دُرَّةٌ مُجَوَّفَةٌ
طُولُهَا فِي السَّمَاءِ ثَلَاثُونَ مِيلًا، فِي كُلِّ زَاوِيَةٍ مِنْهَا لِلْمُؤْمِنِ
أَهْلٌ لَا يَرَاهُمُ الْآخَرُونَ
“Al-Khoimah
(kemah) adalah mutiara berongga yang panjangnya di langit 30 mil. Di setiap
sudutnya ada keluarga (ahl) bagi orang Mu’min yang tidak terlihat oleh yang
lain.”
Abu ‘Abd As-Shomad dan Al-Harits meriwayatkan dari Abu ‘Imron: “60 mil.” (HR. Al-Bukhori.
Fathul Baari: 6/318)
Muslim meriwayatkan dari ‘Abdulloh bin Qoys rodhiyallahu ‘anhu,
dari Nabi ?, beliau bersabda:
إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ فِي الْجَنَّةِ
لَخَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ وَاحِدَةٍ مُجَوَّفَةٍ، طُولُهَا سِتُّونَ مِيلًا، لِلْمُؤْمِنِ
فِيهَا أَهْلُونَ، يَطُوفُ عَلَيْهِمُ الْمُؤْمِنُ، فَلَا يَرَى بَعْضُهُمْ بَعْضًا
“Sungguh bagi seorang Mu’min di Jannah ada kemah dari
satu mutiara berongga, panjangnya 60 mil. Bagi Mu’min ada keluarga (istri-istri) di dalamnya, Mu’min
mengelilingi mereka, dan sebagian mereka tidak melihat sebagian yang lain.”
Dalam riwayat lain di Muslim:
فِي الْجَنَّةِ خَيْمَةٌ مِنْ
لُؤْلُؤَةٍ مُجَوَّفَةٍ عَرْضُهَا سِتُّونَ مِيلًا فِي كُلِّ زَاوِيَةٍ مِنْهَا أَهْلٌ،
مَا يَرَوْنَ الْآخَرِينَ، يَطُوفُ عَلَيْهِمُ الْمُؤْمِنُ
“Di Jannah ada kemah dari mutiara berongga, lebarnya 60
mil. Di setiap sudutnya ada istri-istri,
mereka tidak melihat yang lain. Mu’min menggilir mereka.” (HR. Muslim, no.
2838)
Rosululloh ? juga mengabarkan
kepada kita tentang sifat istana sebagian istri beliau dan sebagian Shohabat
beliau. Dalam Shohih Al-Bukhori dan Muslim, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu
‘anhu, ia berkata: Jibril ‘alaihis salam mendatangi Nabi ? lalu berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ
قَدْ أَتَتْ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ وَطَعَامٌ، فَإِذَا أَتَتْكَ فَاقْرَأْ
عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا وَمِنِّي، وَبَشِّرْهَا بَبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ
مِنْ قَصَبٍ، لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ
“Wahai Rosululloh, ini Khodijah (rodhiyallahu ‘anha)
telah datang membawa wadah berisi lauk-pauk dan makanan. Jika ia mendatangimu,
sampaikanlah salam kepadanya dari Robb-nya dan dariku. berikan kabar gembira kepadanya dengan rumah di Jannah
yang terbuat dari qoshob (rongga mutiara/emas/perak), yang di dalamnya
tidak ada kebisingan dan tidak ada keletihan.” (Misykatul Mashobih: 3/266)
Dalam Shohih Al-Bukhori dan Muslim, dari Jabir rodhiyallahu
‘anhu, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:
دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَإِذَا أَنَا
بِالرُّمَيْصَاءِ امْرَأَةِ أَبِي طَلْحَةَ وَسَمِعْتُ خَشْفَةً، فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟
فَقَالَ: هَذَا بِلَالٌ، وَرَأَيْتُ قَصْرًا بِفِنَائِهِ جَارِيَةٌ، فَقُلْتُ: لِمَنْ
هَذَا؟ فَقَالُوا: لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَدْخُلَهُ فَأَنْظُرَ
إِلَيْهِ فَذَكَرْتُ غَيْرَتَكَ
“Aku masuk Jannah, tiba-tiba aku melihat Ar-Rumaysho’
(Ummu Sulaim) istri Abu
Tholhah (rodhiyallahu ‘anhu). aku
mendengar khosf?h (suara langkah). Aku bertanya: ‘Siapa ini?’ Ada yang menjawab: ‘Ini Bilal.’ aku melihat sebuah istana di halamannya
ada seorang gadis. Aku bertanya: ‘Milik siapa ini?’ Mereka menjawab: ‘Milik ‘Umar
bin Al-Khoththob.’ Aku ingin memasukinya dan melihatnya, tetapi aku teringat gh?roh
(kecemburuan)mu.”
Maka ‘Umar rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Ayah dan
ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rosululloh, apakah kepadamu aku akan cemburu?” (Misykatul
Mashobih: 3/226)
Rosululloh ? juga mengabarkan
tentang cara seorang Mu’min mendapatkan tambahan rumah di Jannah. Siapa
yang membangun Masjid karena Alloh, maka Alloh akan membangunkan untuknya rumah
di Jannah. Dalam Musnad Ahmad, dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma,
dengan sanad shohih, bahwa Rosululloh ?
bersabda:
مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا،
وَلَوْ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ لِبَيْضِهَا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Siapa yang membangun Masjid karena Alloh, meskipun sekecil
sarang burung qoth?h untuk telurnya, Alloh akan membangunkan untuknya
rumah di Jannah.” (HR. Al-Jami’ Ash-Shoghir: 5/265, no. 6005)
Dalam Musnad Ahmad, Shohihain, Sunan At-Tirmidzi,
dan Sunan Ibnu Majah, dari ‘Utsman rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh
? bersabda:
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا، يَبْتَغِي
بِهِ وَجْهَ اللَّهِ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ
“Siapa yang membangun Masjid, semata-mata mengharapkan Wajah
Alloh, Alloh akan membangunkan untuknya yang semisalnya di Jannah.” (HR.
Al-Jami’: no. 6234)
Dalam Shohih Muslim, Musnad Ahmad, Sunan
Abu Dawud, Sunan An-Nasa’i (303 H), dan Sunan Ibnu Majah,
dari Ummu Habibah rodhiyallahu ‘anha, bahwa Rosululloh ?
bersabda:
مَنْ صَلَّى فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ
اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Siapa yang Sholat dalam sehari semalam dua belas roka’at Sholat
tathowwu’ (sunnah), Alloh akan membangunkan untuknya rumah di Jannah.”
(HR. Al-Jami’: no. 6234)
3.8 Cahaya Jannah (N?r)
Al-Qurthubi (671 H) berkata: “Para ulama berkata: ‘Di Jannah
tidak ada siang dan malam, melainkan mereka berada dalam cahaya abadi
selamanya. Mereka hanya mengetahui perkiraan malam dengan menurunkan tirai dan
menutup pintu-pintu, dan mereka mengetahui perkiraan siang dengan mengangkat
tirai dan membuka pintu-pintu.’ Ini disebutkan oleh Abul Faroj Ibnul Jawzi (597
H).” (At-Tadzkiroh, Al-Qurthubi: 504)
Ibnu Katsir (774 H) berkata dalam menafsirkan firman Alloh ?:
وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيهَا بُكْرَةً
وَعَشِيًّا تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَن كَانَ تَقِيًّا
“di dalamnya
bagi mereka ada rizqi mereka di pagi dan sore hari. Itulah Jannah
yang Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertaqwa.” (QS.
Maryam: 62-63)
“Yaitu pada waktu seperti pagi dan sore, bukan berarti di
sana ada malam dan siang. Akan tetapi, mereka berada pada waktu-waktu yang
berurutan, yang mereka ketahui berlalunya dengan cahaya dan penerangan.” (Tafsir
Ibnu Katsir: 4/471)
Ibnu Taimiyyah (728 H) berkata mengenai masalah ini: “Di Jannah
tidak ada matahari dan bulan, tidak ada malam dan siang, tetapi pagi dan sore
diketahui dengan cahaya yang muncul dari arah ‘Arsy (Singgasana).” (Majmu’
Fatawa Syaikhul Islam: 4/312)
3.9 Aroma Jannah
(R??)
Jannah memiliki aroma wangi semerbak yang memenuhi
setiap penjuru. Aroma ini dapat dirasakan oleh orang-orang Mu’min dari jarak
yang sangat jauh.
Dalam Musnad Ahmad, Sunan An-Nasa’i, Ibnu
Majah, dan Mustadrok Al-Hakim, dengan sanad shohih, bahwa Rosululloh
? bersabda:
مَنْ قَتَلَ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ
الذِّمَّةِ لَمْ يَجِدْ رِيحَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ
سَبْعِينَ عَامًا
“Siapa yang membunuh seorang laki-laki dari ahli dhimmah
(kafir yang tinggal dan membayar pajak di negeri Muslimin), ia tidak akan
mencium bau Jannah. Padahal bau Jannah tercium dari jarak
perjalanan 70 tahun.” (HR. Al-Jami’ Ash-Shoghir: 5/335, no. 6324)
Dalam Shohih Al-Bukhori, Musnad Ahmad, Sunan
An-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah, dari ‘Abdulloh bin ‘Amr rodhiyallahu
‘anhuma, bahwa Rosululloh ? bersabda:
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ
رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا
“Siapa yang membunuh mu’?had (kafir yang terikat
perjanjian damai), ia tidak akan mencium bau Jannah. Padahal bau Jannah
tercium dari jarak perjalanan 40 tahun.” (HR. Al-Jami’: no. 6333. ia ada di Shohih Al-Bukhori no.
3166)
3.10 Pohon dan Buah-Buahan Jannah
3.10.1 Pohon dan
Buahnya Banyak, Beragam, dan Abadi
Pohon-pohon Jannah banyak, indah, dan beragam. Alloh
telah mengabarkan bahwa di Jannah terdapat pohon anggur, kurma, dan
delima, sebagaimana di dalamnya terdapat pohon sidr dan thol?.
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا
حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا
“Sungguh, bagi orang-orang yang bertaqwa ada kemenangan (yaitu)
kebun-kebun dan pohon-pohon
anggur.” (QS. An-Naba’: 31-32)
فِيهَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ
“Di dalamnya ada buah-buahan, kurma, dan delima.” (QS. Ar-Rohman:
68)
وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ
الْيَمِينِ فِي سِدْرٍ مَّخْضُودٍ وَطَلْحٍ مَّنضُودٍ وَظِلٍّ مَّمْدُودٍ وَمَاءٍ مَّسْكُوبٍ
وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ
“golongan
kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu, berada di antara pohon sidr
yang tidak berduri (makhdh?d), dan pohon thol? yang bersusun rapi
(man??d). naungan yang
terbentang luas. air yang
tercurah. buah-buahan
yang banyak.” (QS. Al-Waqi’ah: 27-32)
Sidr adalah pohon nabq (bidara) yang berduri. Tetapi
di Jannah, durinya telah dicabut (makhdh?d).
Thol? adalah pohon dari Hijaz yang termasuk jenis ‘idh?h
(pohon berduri), tetapi di Jannah ia bersusun rapi, siap dipetik tanpa
kesulitan dan kesusahan.
Apa yang disebutkan Al-Qur’an tentang pohon-pohon Jannah
ini hanyalah sedikit dari yang dikandung Jannah. Oleh karena itu, Alloh
berfirman:
فِيهِمَا مِن كُلِّ فَاكِهَةٍ
زَوْجَانِ
“Di dalam kedua Jannah itu terdapat segala macam
buah-buahan yang berpasangan.” (QS. Ar-Rohman: 52)
Karena banyaknya, penduduk Jannah meminta buah apa pun
yang mereka inginkan, dan memilih apa yang mereka sukai.
يَدْعُونَ فِيهَا بِفَاكِهَةٍ
كَثِيرَةٍ وَشَرَابٍ
“Di dalamnya mereka meminta berbagai macam buah-buahan yang
banyak, dan minuman.” (QS. Shod: 51)
وَفَاكِهَةٍ مِّمَّا يَتَخَيَّرُونَ
“buah-buahan dari
apa yang mereka pilih.” (QS. Al-Waqi’ah: 20)
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي ظِلَالٍ
وَعُيُونٍ وَفَوَاكِهَ مِمَّا يَشْتَهُونَ
“Sungguh, orang-orang yang bertaqwa berada di bawah naungan
dan ‘uy?n (mata air),
dan buah-buahan dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al-Mursalat:
41-42)
Secara umum, di Jannah terdapat segala jenis
buah-buahan dan keni’matan yang diinginkan jiwa dan lezat di mata.
يُطَافُ عَلَيْهِم بِصِحَافٍ مِّن
ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ
“Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan gelas-gelas,
dan di dalamnya terdapat apa yang diinginkan oleh nafsu dan sedap dipandang
mata.” (QS. Az-Zukhruf: 71)
Ibnu Katsir (774 H) menyebutkan perkataan yang indah yang
menunjukkan keagungan buah-buahan Jannah. Ia menyimpulkan bahwa Alloh
mengingatkan kita tentang yang sedikit untuk menunjukkan yang banyak, dan
tentang yang remeh untuk menunjukkan yang agung, ketika Dia menyebutkan sidr
dan thol?. Ia berkata: “Jika sidr yang di dunia hanya menghasilkan
buah yang lemah yaitu nabq (bidara), dan durinya banyak, dan thol?
yang di dunia hanya dicari naungannya, keduanya berada di Jannah dalam
puncak banyaknya buah dan keindahannya. Sampai-sampai satu buah darinya
terbelah menjadi 70 jenis rasa dan warna, yang sebagiannya menyerupai yang
lain. Maka bagaimana dugaanmu tentang buah-buahan dari pohon-pohon yang di
dunia sudah menghasilkan buah yang indah, seperti apel, kurma, anggur, dan
lain-lain? bagaimana dugaanmu
tentang jenis-jenis tanaman wangi dan bunga-bunga? Secara umum, di dalamnya
terdapat apa yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan
belum pernah terlintas di hati manusia. Kami memohon kepada Alloh karunia-Nya
dari Jannah.” (An-Nihayah, Ibnu Katsir: 2/262)
Pohon-pohon Jannah memberikan buah terus-menerus. Ia
tidak seperti pohon-pohon dunia yang berbuah pada waktu tertentu dan musim
tertentu. Bahkan, ia terus-menerus berbuah dan teduh.
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ
الْمُتَّقُونَ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا
“Sifat Jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang
bertaqwa, mengalir di bawahnya sungai-sungai, buah-buahannya tidak henti-henti
dan naungannya (juga demikian).” (QS. Ar-Ro’d: 35)
وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ لَّا مَقْطُوعَةٍ
وَلَا مَمْنُوعَةٍ
“buah-buahan
yang banyak, yang
tidak putus (berbuah),
dan tidak dilarang (memakannya).”
(QS. Al-Waqi’ah: 32-33)
Yaitu terus-menerus dan berkelanjutan. meskipun terus-menerus, ia tidak
dihalangi dari penduduk Jannah.
Di antara keindahan yang dirasakan penduduk Jannah
ketika buah-buah itu datang kepada mereka adalah bahwa buah-buah itu serupa
dalam penampilan luar, tetapi berbeda dalam rasa di dalamnya.
كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِن
ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ? قَالُوا هَ?ذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا
“Setiap kali mereka diberi rizqi buah-buahan dari Jannah,
mereka berkata: ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.’ mereka diberi (buah-buahan) yang serupa.”
(QS. Al-Baqoroh: 25)
Pohon-pohon Jannah memiliki cabang dan ranting yang
menjulang tinggi dan tumbuh.
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ
جَنَّتَانِ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ذَوَاتَا أَفْنَانٍ
“bagi siapa
yang takut kepada kedudukan (Robb)-nya, ada dua Jannah. Maka ni’mat
Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan. Yang memiliki cabang-cabang (pohon).” (QS.
Ar-Rohman: 46-48)
Ia sangat hijau:
وَمِن دُونِهِمَا جَنَّتَانِ فَبِأَيِّ
آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ مُدْهَامَّتَانِ
“selain dari
dua Jannah itu ada dua Jannah lagi. Maka ni’mat
Robb kalian yang manakah yang kalian dustakan. Kedua-duanya (Jannah) hijau tua
warnanya.” (QS. Ar-Rohman: 62-64)
Jannah tidak akan disifati mud-h?mah (hijau
tua) kecuali jika pohon-pohonnya condong ke warna hitam karena sangat hijaunya,
dan karena pohon-pohonnya saling bertautan.
Adapun buah-buahan dari pohon-pohon itu, ia dekat (d?niyah),
mudah dijangkau (mudzallalah), yang dapat diraih oleh penduduk Jannah
dengan mudah dan tanpa susah payah.
مُتَّكِئِينَ عَلَى? فُرُشٍ بَطَائِنُهَا
مِنْ إِسْتَبْرَقٍ وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ
“Mereka bersandar di atas permadani yang lapisan dalamnya
dari istabroq (sutra tebal). buah-buahan
di kedua Jannah itu dapat dipetik dari dekat.” (QS. Ar-Rohman: 54)
وَذُلِّلَتْ قُطُوفُهَا تَذْلِيلًا
“buah-buahannya
dimudahkan untuk dipetik.” (QS. Al-Insan: 14)
Adapun naungannya, sebagaimana firman-Nya ?:
وَنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيلًا
“Kami masukkan mereka ke dalam naungan yang teduh.” (QS.
An-Nisa’: 57)
وَظِلٍّ مَّمْدُودٍ
“naungan yang
terbentang luas.” (QS. Al-Waqi’ah: 30)
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي ظِلَالٍ
وَعُيُونٍ
“Sungguh, orang-orang yang bertaqwa berada di bawah naungan
dan mata air.” (QS. Al-Mursalat: 41)
3.10.2 Deskripsi Sebagian Pohon Jannah
Rosululloh ? menceritakan kepada
kita tentang sebagian pohon Jannah dengan cerita yang menakjubkan, yang
mengabarkan kepadamu tentang ciptaan yang luar biasa agung, yang membuat
khayalan berenang lama dalam mengukurnya dan mengenalnya. Kami akan menyebutkan
kepadamu sebagian yang beliau ? ceritakan.
1- Pohon yang Dilewati Penunggang Kuda Selama 100 Tahun:
Ini adalah pohon yang sangat besar, yang tidak dapat
diketahui ukurannya kecuali oleh Dzat yang menciptakannya. Rosululloh ? menjelaskan keagungan pohon ini dengan mengabarkan bahwa
seorang penunggang kuda yang cepat membutuhkan 100 tahun untuk melewatinya,
jika ia berjalan dengan kecepatan maksimal.
Dalam Shohihain, dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu
‘anhu, ia berkata:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً
يَسِيرُ الرَّاكِبُ الْجَوَادَ الْمُضْمَرَ السَّرِيعَ مِائَةَ عَامٍ وَمَا يَقْطَعُهَا
“Sungguh di Jannah ada sebuah pohon yang dilewati selama
100 tahun oleh penunggang kuda yang cepat dan dipersiapkan untuk pacuan (jaw?d
al-mudhmar), dan ia belum melewatinya.” (HR. Al-Bukhori Fathul Baari:
11/416. Muslim no. 2828)
Dalam Shohih Al-Bukhori, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu
‘anhu, dari Nabi ?, beliau bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً
يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ سَنَةٍ، وَاقْرَؤُوا إِنْ شِئْتُمْ: وَظِلٍّ
مَّمْدُودٍ
“Sungguh di Jannah ada sebuah pohon yang dilewati
penunggang kuda di bawah naungannya selama 100 tahun, dan ia belum melewatinya.
bacalah jika kalian mau: “naungan yang terbentang luas.” (QS.
Al-Waqi’ah: 30).” (HR. Al-Bukhori. Fathul Baari: 6/319)
Muslim meriwayatkannya dari Abu Huroiroh dan Sahl bin Sa’d rodhiyallahu
‘anhuma, dari Rosululloh ?, beliau bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً
يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ سَنَةٍ لَا يَقْطَعُهَا
“Sungguh di Jannah ada sebuah pohon yang dilewati
penunggang kuda di bawah naungannya selama 100 tahun, dan ia belum melewatinya.”
(HR. Muslim no. 2826, 2827)
2- Sidrotul Muntah?:
Pohon ini disebutkan Alloh dalam Kitab-Nya. Alloh mengabarkan bahwa Rosul kita
Muhammad ? melihat Jibril ‘alaihis salam dalam bentuk aslinya, yang
Alloh ciptakan, di dekatnya. pohon
ini berada di dekat Jannatul Ma’w? (Jannah tempat kembali). Alloh juga
memberitahu kita bahwa Sidroh diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, yang
tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh, ketika Rosululloh ?
melihatnya.
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى?
عِندَ سِدْرَةِ الْمُنتَهَى? عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى? إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ
مَا يَغْشَى? مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى?
“sungguh, dia
(Muhammad) telah melihatnya (Jibril dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain,
yaitu di Sidrotul Muntah? (pohon Sidr yang paling ujung). Di dekatnya ada
Jannatul Ma’w?. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidroh diliputi oleh sesuatu
yang meliputinya. Penglihatan (Muhammad) tidak menyimpang dan tidak (pula)
melampaui batas.” (QS. An-Najm: 13-17)
Rosululloh ? mengabarkan kepada
kita tentang pohon ini dengan sebagian yang beliau lihat:
ثُمَّ رُفِعَتْ لِي سِدْرَةُ الْمُنْتَهَى،
فَإِذَا نَبْقُهَا مِثْلُ قِلَالِ هَجَرَ وَإِذَا وَرَقُهَا مِثْلُ آذَانِ الْفِيَلَةِ.
قَالَ: (أَيْ جِبْرِيلُ) هَذِهِ سِدْرَةُ الْمُنْتَهَى، وَإِذَا أَرْبَعَةُ أَنْهَارٍ،
نَهْرَانِ بَاطِنَانِ، وَنَهْرَانِ ظَاهِرَانِ، قُلْتُ: مَا هَذَانِ يَا جِبْرِيلُ؟
قَالَ: أَمَّا الْبَاطِنَانِ فَنَهْرَانِ فِي الْجَنَّةِ، وَأَمَّا الظَّاهِرَانِ فَالنِّيلُ
وَالْفُرَاتُ
“Kemudian Sidrotul Muntah? ditampakkan untukku. Ternyata buahnya
seperti qil?l (guci-guci besar) Hajar, dan daunnya seperti telinga
gajah. Ia (Jibril) berkata: ‘Ini adalah Sidrotul Muntah?.’ ternyata ada 4 sungai: dua sungai
tersembunyi (b?thin), dan dua sungai tampak jelas (zh?hir). Aku
bertanya: ‘Apa dua sungai ini, wahai Jibril?’ Ia menjawab: ‘Adapun dua yang
tersembunyi adalah dua sungai di Jannah. adapun dua yang tampak jelas adalah Nil dan Furoot.’” (HR.
Al-Bukhori dan Muslim)[13]
Juga dalam Shohihain:
ثُمَّ انْطُلِقَ بِي حَتَّى انْتُهِيَ
إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى، وَنَبْقُهَا مِثْلُ قِلَالِ هَجَرَ، وَوَرَقُهَا مِثْلُ
آذَانِ الْفِيَلَةِ، تَكَادُ الْوَرَقَةُ تُغَطِّي هَذِهِ الْأُمَّةَ، فَغَشِيَهَا
أَلْوَانٌ لَا أَدْرِي مَا هِيَ، ثُمَّ أُدْخِلْتُ الْجَنَّةَ، فَإِذَا فِيهَا جَنَابِذُ
اللُّؤْلُؤِ، وَإِذَا تُرَابُهَا الْمِسْكُ
“Kemudian aku dibawa pergi hingga sampai pada Sidrotul
Muntah?. Buahnya (nabq) seperti qil?l (guci-guci besar) Hajar,
dan daunnya seperti telinga gajah. Satu daun hampir menutupi umat ini. Lalu ia
diliputi oleh warna-warna yang aku tidak tahu apa itu. Kemudian aku dimasukkan
ke Jannah, ternyata di dalamnya ada kubah-kubah mutiara, dan ternyata
tanahnya adalah misik.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)
3- Pohon Th?b?:
Ini adalah pohon yang sangat besar dan agung, yang darinya
dibuat pakaian penduduk Jannah.
Dalam Musnad Ahmad, Tafsir Ibnu Jarir (310 H),
dan Shohih Ibnu Hibban, dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu,
dari Rosululloh ?, beliau bersabda:
طُوبَى شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ،
مَسِيرَةُ مِائَةِ عَامٍ، ثِيَابُ أَهْلِ الْجَنَّةِ تَخْرُجُ مِنْ أَكْمَامِهَا
“Th?b? adalah pohon di Jannah, perjalanan (di
bawahnya) 100 tahun. Pakaian penduduk Jannah keluar dari
kelopak-kelopaknya.” (Silsilatu Al-Ahadits Ash-Shohihah: 4/639, no. 1985. sanad Hadits ini ?asan)
Bahwa pakaian penduduk Jannah terbelah dari buah Jannah,
ditunjukkan oleh Hadits yang diriwayatkan Ahmad dalam Musnad-nya, dari ‘Abdulloh
bin ‘Amr rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Seorang laki-laki datang
kepada Nabi ? lalu berkata: “Wahai Rosululloh, beritahu kami tentang pakaian
penduduk Jannah. Apakah ia diciptakan (tercipta sendiri), atau ditenun?”
Sebagian kaum tertawa. Rosululloh ?
bersabda:
وَمِمَّ تَضْحَكُونَ، مِنْ جَاهِلٍ
سَأَلَ عَالِمًا؟ ثُمَّ أَكَبَّ رَسُولُ اللَّهِ ? ثُمَّ قَالَ: أَيْنَ السَّائِلُ؟ قَالَ: هُوَ ذَا أَنَا
يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: لَا بَلْ تَشَقَّقُ عَنْهَا ثَمَرُ الْجَنَّةِ، ثَلَاثَ
مَرَّاتٍ
“Mengapa kalian tertawa? Apakah karena orang bodoh bertanya
kepada orang yang berilmu?” Kemudian Rosululloh ?
menundukkan kepala. Kemudian beliau bersabda: “Di mana orang yang bertanya?” Ia
menjawab: “Ini aku, wahai Rosululloh.” Beliau bersabda: “Bukan, tetapi ia
terbelah dari buah Jannah,” (diucapkan) tiga kali. (Sumber
sebelumnya: 4/640)
3.10.3 Pemimpin
Tanaman Wangi Jannah (Sayyid Roi??n Al-Jannah)
Alloh mengabarkan kepada kita bahwa di Jannah
terdapat tanaman wangi (roi??n).
فَأَمَّا إِن كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ
فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ
“Maka adapun jika dia termasuk al-muqorrob?n
(orang-orang yang didekatkan), maka (ia memperoleh) rau? (ketenangan/rohmat)
dan roi??n (tanaman yang harum), dan Jannah An-Na’im.” (QS.
Al-Waqi’ah: 88-89)
Rosululloh ? mengabarkan kepada
kita bahwa pemimpin tanaman wangi penduduk Jannah adalah al-?inn?’
(pacar/inai).
Dalam Mu’jam Ath-Thobroni Al-Kabiir, dengan sanad
shohih menurut syarat Asy-Syaikhoin, dari ‘Abdulloh bin ‘Amr rodhiyallahu ‘anhuma,
dari Nabi ?, beliau bersabda:
سَيِّدُ رَيْحَانِ الْجَنَّةِ
الْحِنَّاءُ
“Pemimpin tanaman wangi Jannah adalah al-?inn?’.”
(Silsilatu Al-Ahadits Ash-Shohihah: no. 1420)
3.10.4 Batang Pohon Jannah dari Emas
Di antara yang menakjubkan yang Rosululloh ?
kabarkan kepada kita adalah bahwa batang pohon Jannah terbuat dari emas.
Dalam Sunan At-Tirmidzi, Shohih Ibnu Hibban,
dan Sunan Al-Baihaqi (458 H), dengan sanad shohih, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu
‘anhu, bahwa Rosululloh ? bersabda:
مَا فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةٌ إِلَّا
وَسَاقُهَا مِنْ ذَهَبٍ
“Tidak ada pohon di Jannah melainkan batangnya dari
emas.” (HR. Al-Jami’ Ash-Shoghir: 5/150)[14]
3.10.5 Bagaimana
Seorang Mu’min Memperbanyak Bagiannya dari Pohon Jannah?
Khol?lur Ro?m?n (Kekasih Alloh), Bapak para Nabi Ibrohim ‘alaihis
salam, meminta kepada Nabi kita Muhammad ?
pada malam Isro’ agar menyampaikan salam kepada umatnya dan mengabarkan kepada
mereka cara mereka bisa memperbanyak bagian mereka dari pohon Jannah.
At-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad ?asan, dari Ibnu Mas’ud
rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ?
bersabda:
لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ
أُسْرِيَ بِي، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَقْرِئْ أُمَّتَكَ أَنَّ الْجَنَّةَ أَرْضٌ
طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ، عَذْبَةُ الْمَاءِ، وَأَنَّهَا قِيعَانٌ، وَأَنَّ غِرَاسَهَا
سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ
“Aku bertemu Ibrohim pada malam aku di-Isro’-kan. Ia berkata: ‘Wahai Muhammad,
sampaikanlah salam kepada umatmu, (dan beritahu) bahwa Jannah itu
tanahnya subur, airnya segar, dan ia adalah q?’?n (dataran datar yang
luas). sungguh tanamannya adalah Sub??nalloh,
Al?amdulill?h, L? il?ha illalloh, dan All?hu Akbar.” (Al-Jami’
Ash-Shoghir: no. 5028)
3.11 Hewan Melata (Daw?bb)
dan Burung Jannah (THuy?r)
Di Jannah terdapat burung dan hewan melata yang
jumlahnya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh Ta’ala.
Alloh ?
berfirman mengenai keni’matan yang akan diraih penduduk Jannah:
وَلَحْمِ طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُونَ
وَحُورٌ عِينٌ
“daging burung
dari apa yang mereka inginkan
dan bidadari bermata jeli.” (QS. Al-Waqi’ah:
21-22)
Dalam Sunan At-Tirmidzi, dari Anas rodhiyallahu ‘anhu,
ia berkata: Rosululloh ? ditanya tentang
Al-Kautsar.
Beliau bersabda:
ذَاكَ نَهْرٌ أَعْطَانِيهِ اللَّهُ
– يَعْنِي فِي الْجَنَّةِ – أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ،
فِيهِ طَيْرٌ أَعْنَاقُهَا كَأَعْنَاقِ الْجُزُرِ
“Itu adalah sungai yang Alloh berikan kepadaku – maksudnya
di Jannah – lebih putih dari susu, dan lebih manis dari madu. Di
dalamnya ada burung yang lehernya seperti leher juzur (unta).”
‘Umar rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Sungguh burung itu
sangat ni’mat (dipandang).”
Rosululloh ? bersabda:
أَكَلَتْهَا أَنْعَمُ مِنْهَا
“Yang memakannya lebih ni’mat darinya.” (Misykatul
Mashobih: 2/91)[15]
Abu Nu’aim (430 H) mengeluarkan dalam Al-?ilyah, dan
Al-Hakim (405 H) dalam Mustadrok-nya, dari Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu,
ia berkata: “Seorang laki-laki datang membawa unta yang sudah diberi tali
kekang lalu berkata: ‘Wahai Rosululloh, unta ini untuk di jalan Alloh.’ Beliau
bersabda:
لَكَ بِهَا سَبْعُمِائَةِ نَاقَةٍ
مَخْطُومَةٍ فِي الْجَنَّةِ
‘Engkau mendapatkan sebagai gantinya 700 unta betina yang sudah diberi tali
kekang di Jannah.’”[16]
Muslim meriwayatkan dalam Shohih-nya, dari Abu Mas’ud
Al-Anshori rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Seorang laki-laki datang
membawa unta yang sudah diberi tali kekang, lalu berkata: “Ini di jalan Alloh.”
Rosululloh ? bersabda:
لَكَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
سَبْعُمِائَةِ نَاقَةٍ كُلُّهَا مَخْطُومَةٌ
“Engkau mendapatkan sebagai gantinya pada hari Kiamat 700 unta betina, semuanya
sudah diberi tali kekang.” (HR. Muslim no. 1892)
[1] Ini adalah teks
Hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah (273 H) dalam Sunan-nya, Kitab
Az-Zuhd, bab: Shifatul Jannah: 2/1448, no. 4332. Kami tidak
menisbatkannya kepada Rosululloh karena dalam sanadnya ada maq?l
(pembahasan/kelemahan), meskipun Ibnu Hibban (354 H) memasukkannya dalam Shohih-nya,
dan maknanya indah serta didukung oleh nash-nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah.
[2] Hadits ini shohih
dengan berbagai thor?q (jalur periwayatannya), sebagaimana yang
ditunjukkan oleh muhaqqiq (peneliti) Misykatul Mashobih.
[3] Maksud dari Balha
adalah: tinggalkan apa yang telah Alloh perlihatkan kepada kalian, karena yang
belum Dia perlihatkan kepada kalian lebih agung. Seakan-akan Hadits ini
berpaling dari menyebutkan yang telah Dia perlihatkan karena dianggap kecil
dibandingkan dengan yang belum Dia perlihatkan. Ini dijelaskan oleh An-Nawawi
(676 H) dalam Syarh ‘ala Muslim: 17/166.
[4] Penelitian ini kami
ambil dengan sedikit ringkasan dari Silsilatu Al-Ahadits Ash-Shohihah
karya Syaikh Nashiruddin
Al-Albani: 4/273, no. 1698.
[5] Maksudnya adalah
bintang itu pada saat terbit dan terbenamnya jauh dari pandangan, sehingga
tampak kecil karena jauhnya.
[6] Ibnu Hajar (852 H)
berkata dalam Taqrib At-Tahdzib: Nu’aim bin Hammar (atau Habbar, atau Khommar) Al-Ghothofani, seorang
Shohabat. mayoritas menguatkan
bahwa nama bapaknya adalah Hammar.
[7] Muhaqqiq Misykatul
Mashobih berkata: “Ia memiliki beberapa thor?q (jalur periwayatan)
dan syaw?hid (penguat), dan ia memasukkannya dalam Silsilatu
Al-Ahadits Ash-Shohihah.
[8] Dhomir (kata
ganti) ashlih? kembali kepada Sidrotul Muntaha, sebagaimana yang
ditunjukkan oleh konteks sebagian Hadits.
[9] Muhaqqiq berkata:
“Diriwayatkan oleh Al-Bukhori secara ta’liq (tanpa sanad bersambung)
dalam Kitab Al-Asyribah. Al-Hafizh (Ibnu Hajar, 852 H) berkata dalam
Al-Fath: ‘Dihubungkan sanadnya oleh Abu ‘Awanah (316 H), Al-Isma’ili (371
H), dan Ath-Thobroni (360 H) dalam Ash-Shoghir dari jalurnya.’”
[10] Syaikh Nashir
(Al-Albani) menisbatkannya dalam Silsilatu Al-Ahadits Ash-Shohihah: 1/6
kepada Muslim, Ahmad, Al-Ajurri (360 H), dan Al-Khothib (463 H).
[11] Perowi Hudbah (236
H) ragu.
[12] Muhaqqiq berkata:
“Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Shifatu Anhari Al-Jannah, dan
diriwayatkan juga oleh Ad-Darimi. At-Tirmidzi berkata: ‘Hadits ini ?asan shoh??
ghor?b.’ itu benar sebagaimana
yang ia katakan.”
[13] Shohih Al-Jami’
Ash-Shoghir: 3/18, no. 2861, dinisbatkan kepada Al-Bukhori, Muslim, Ahmad,
dan At-Tirmidzi.
[14] Ibnu Katsir
berkata dalam An-Nihayah: 2/254, “Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan ia berkata:
?asan shoh??.”
[15] Muhaqqiq berkata:
“At-Tirmidzi berkata: Hadits ?asan ghor?b.” Aku (Syaikh Nashir) katakan:
“Sanadnya ?asan, bahkan shoh??.”
[16] Al-Hakim berkata:
“Shohih menurut syarat Asy-Syaikhoin,” dan Adz-Dzahabi (748 H) menyetujuinya,
dan Syaikh Nashiruddin Al-Albani (1420 H) menyetujui keduanya (Silsilatu
Al-Ahadits Ash-Shohihah: 2/228, no. 634).
