Cari Artikel

Mempersiapkan...

Pesona Surga dalam Peristiwa Masuk Jannah

 

Tidak diragukan lagi bahwa kebahagiaan orang-orang Mu’min tidak tertandingi oleh kebahagiaan apa pun, ketika mereka digiring dalam rombongan (zumar) yang dimuliakan dan dihormati menuju Jannah An-Na’im. Hingga ketika mereka sampai di Jannah, pintu-pintunya pun dibuka, dan para Malaikat yang mulia menyambut mereka, mengucapkan selamat atas keselamatan kedatangan mereka, setelah mereka melalui berbagai kesulitan dan menyaksikan kengerian.

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى? إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

orang-orang yang bertaqwa kepada Robb mereka dibawa ke Jannah berombongan (zumar), sehingga apabila mereka sampai ke Jannah itu, dan pintu-pintunya telah dibuka, penjaga-penjaga Jannah itu berkata kepada mereka: “Kesejahteraan (salam) dilimpahkan kepadamu. Berbahagialah (thib-tum)! Masuklah ke dalamnya, sedang kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zumar: 73)

Maksud dari “طِبْتُمْ” (berbahagialah) adalah amal perbuatan, perkataan, dan keyakinan kalian telah baik (thoyyib), sehingga jiwa kalian menjadi suci (zakiyah), dan hati kalian menjadi bersih (thohiroh). Dengan itulah kalian berhak mendapatkan Jannah.

1.1 Syafa’at dalam Masuk Jannah

Telah tetap (tsabit) dalam Hadits-Hadits shohih bahwa ketika orang-orang Mu’min lama berdiri di Mauqif (tempat pemberhentian) pada hari Pembalasan, mereka akan meminta para Nabi untuk membukakan pintu Jannah untuk mereka. Namun, semua Nabi menolak dan enggan, seraya berkata: “Aku tidak berhak untuk itu,” hingga perkaranya sampai kepada Nabi kita Muhammad ?. Beliau kemudian memberikan syafa’at dalam hal itu, dan syafa’atnya diterima.

Dalam Shohih Muslim, dari Hudzaifah bin Al-Yaman dan Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhuma, keduanya berkata: Rosululloh ? bersabda:

يَجْمَعُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى النَّاسَ، فَيَقُومُ الْمُؤْمِنُونَ، حَتَّى تُزْلَفَ لَهُمُ الْجَنَّةُ، فَيَأْتُونَ آدَمَ، فَيَقُولُونَ: يَا أَبَانَا، اسْتَفْتِحْ لَنَا الْجَنَّةَ، فَيَقُولُ: وَهَلْ أَخْرَجَكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ إِلَّا خَطِيئَةُ أَبِيكُمْ، لَسْتُ بِصَاحِبِ ذَلِكَ...

“Alloh ? akan mengumpulkan manusia, lalu orang-orang Mu’min berdiri, hingga Jannah didekatkan kepada mereka. Mereka pun mendatangi Adam ‘alaihis salam, lalu berkata: ‘Wahai Bapak kami, mohonkanlah dibukakan pintu Jannah untuk kami.’ Maka Adam menjawab: ‘Bukankah yang mengeluarkan kalian dari Jannah adalah kesalahan Bapak kalian? Aku tidak berhak atas hal itu...” (HR. Muslim no. 195)

Dalam Hadits tersebut disebutkan bahwa para Nabi saling menolak untuk melaksanakan syafa’at itu, hingga akhirnya mereka mendatangi Muhammad ?, lalu beliau diizinkan.

1.2 Pembersihan dan Penyucian Orang-Orang Mu’min Sebelum Masuk

Setelah orang-orang Mu’min melewati Shiroth (jembatan), mereka akan ditahan di sebuah qantharoh (jembatan kecil) yang berada di antara Jannah dan Naar. Kemudian mereka akan disucikan dan dibersihkan. Hal itu dilakukan dengan cara di-qishosh-kan (dituntaskan) di antara sebagian mereka dari sebagian yang lain jika terdapat kedzoliman di antara mereka selama di dunia, hingga ketika mereka masuk Jannah, mereka dalam keadaan suci dan baik (abror), tidak ada lagi kedzoliman (kezhaliman) bagi salah seorang dari mereka atas yang lain, dan tidak ada yang menuntut yang lain dengan suatu apa pun.

Al-Bukhori meriwayatkan dalam Shohih-nya, dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:

يَخْلُصُ الْمُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ، فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، فَيُقْتَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا، حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى بِمَنْزِلَةٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلَةٍ كَانَ فِي الدُّنْيَا

“Orang-orang Mu’min telah bebas dari Naar, lalu mereka ditahan di sebuah qantharoh di antara Jannah dan Naar. Kemudian sebagian mereka di-qishosh-kan atas sebagian yang lain karena kedzoliman yang ada di antara mereka di dunia. Hingga jika mereka telah dibersihkan dan disucikan, mereka diizinkan masuk Jannah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, sungguh salah seorang dari mereka lebih mengetahui tempat tinggalnya di Jannah daripada mengetahui tempat tinggalnya ketika di dunia.” (HR. Al-Bukhori. Fathul Baari: 11/395)

Rosululloh ? adalah orang pertama yang membukakan pintu Jannah, setelah Abu Basyar (Bapak Manusia) Adam ‘alaihis salam dan para Rosul Ulul ‘Azmi menolak untuk melakukan tugas ini.

1.3 Orang-Orang Pertama yang Masuk Jannah

Orang pertama dari umat manusia yang masuk Jannah secara mutlak adalah Rosul kita Muhammad ?. Umat pertama yang masuk Jannah adalah umat beliau. orang pertama yang masuk Jannah dari umat ini setelah Nabi mereka adalah Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu.

Ibnu Katsir (774 H) telah menyebutkan Hadits-Hadits yang menjelaskan hal itu. (An-Nihayah, Ibnu Katsir: 2/213)

Di antara Hadits-Hadits itu adalah yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohih-nya, dari Anas rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:

أَنَا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ

“Aku adalah orang pertama yang mengetuk (pintu Jannah).”

Juga di dalamnya disebutkan:

أَنَا أَوَّلُ شَفِيعٍ فِي الْجَنَّةِ

“Aku adalah orang pertama yang memberikan syafa’at di Jannah.” (HR. Muslim no. 197)

Muslim juga meriwayatkan dari Anas rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:

آتِي بَابَ الْجَنَّةِ فَأَسْتَفْتِحُ، فَيَقُولُ الْخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ: مُحَمَّدٌ، فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لَا أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ

“Aku mendatangi pintu Jannah, lalu aku minta dibukakan. Penjaga (khazin) bertanya: ‘Siapa engkau?’ Aku menjawab: ‘Muhammad.’ Ia berkata: ‘Denganmu aku diperintahkan (untuk membukanya), aku tidak akan membukanya untuk seorang pun sebelummu.’” (HR. Muslim no. 197)

Telah tetap dalam Shohihain (Al-Bukhori dan Muslim) dan Sunan An-Nasa’i, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ?, beliau bersabda:

نَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ

“Kita adalah orang-orang yang terakhir (datang) tetapi yang pertama (dihisab) pada hari Kiamat, dan kita adalah yang pertama masuk Jannah.” (HR. Al-Bukhori di beberapa tempat: 238, 876, 896, 2956. Muslim no. 855)

Dalam Sunan Abu Dawud, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ?, beliau bersabda:

أَتَانِي جِبْرِيلُ، فَأَرَانِي بَابَ الْجَنَّةِ الَّذِي تَدْخُلُ مِنْهُ أُمَّتِي

“Jibril mendatangiku, lalu ia memperlihatkan kepadaku pintu Jannah yang akan dimasuki oleh umatku.”

Maka Abu Bakr berkata: “Wahai Rosululloh, sungguh aku ingin bersamamu sampai aku melihatnya.” Rosululloh ? bersabda:

أَمَا إِنَّكَ يَا أَبَا بَكْرٍ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي

“Ketahuilah, sungguh engkau, wahai Abu Bakr, adalah orang pertama dari umatku yang akan masuk Jannah.” (HR. Abu Dawud no. 4652)[1]

1.4 Mereka yang Masuk Jannah Tanpa Hisab

Rombongan pertama dari umat ini yang akan memasuki Jannah adalah orang-orang yang mencapai puncak keimanan, ketaqwaan, amal sholih, dan istiqomah di atas agama yang benar. Mereka akan masuk Jannah dalam satu barisan (shoff), yang awal tidak masuk sebelum yang akhir masuk. Wajah mereka seperti wajah bulan di malam purnama.

Al-Bukhori meriwayatkan dalam Shohih-nya, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:

أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَلِجُ الْجَنَّةَ صُورَتُهُمْ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، لَا يَبْصُقُونَ فِيهَا وَلَا يَمْتَخِطُونَ، وَلَا يَتَغَوَّطُونَ، آنِيَتُهُمْ فِيهَا الذَّهَبُ، أَمْشَاطُهُمْ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَمَجَامِرُهُمُ الْأَلُوَّةُ، وَرَشْحُهُمُ الْمِسْكُ، وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ يُرَى مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ مِنَ الْحُسْنِ، لَا اخْتِلَافَ بَيْنَهُمْ وَلَا تَبَاغُضَ، قُلُوبُهُمْ قَلْبُ رَجُلٍ وَاحِدٍ، يُسَبِّحُونَ اللَّهَ بُكْرَةً وَعَشِيًّا

“Rombongan pertama yang akan masuk Jannah, rupa mereka seperti rupa bulan di malam purnama. Mereka tidak meludah di dalamnya, tidak mengeluarkan ingus, dan tidak buang hajat. Bejana mereka di dalamnya dari emas. Sisir mereka dari emas dan perak. Tempat perapian mereka adalah al-alwah (kayu gaharu wangi). Keringat mereka adalah misik. bagi setiap orang dari mereka ada dua istri, yang sumsum betisnya terlihat dari balik daging karena keindahannya. Tidak ada perselisihan di antara mereka, dan tidak ada kebencian. Hati mereka adalah hati satu orang. Mereka bertasbih kepada Alloh di pagi dan sore hari.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim no. 2834)

Al-Bukhori meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ?, beliau bersabda:

لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا أَوْ سَبْعُمِائَةِ أَلْفٍ لَا يَدْخُلُ أَوَّلُهُمْ حَتَّى يَدْخُلَ آخِرُهُمْ، وُجُوهُهُمْ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ

“Sungguh akan masuk Jannah dari umatku 70.000, atau 7 ratus ribu—yang awal tidak akan masuk hingga yang akhir masuk. Wajah mereka seperti rupa bulan di malam purnama.” (Fathul Baari: 6/319)

Telah shohih bahwa Alloh ? memberikan kepada Rosul-Nya ? tambahan 70.000 untuk setiap satu orang dari 70.000 yang pertama itu. Dalam Musnad Ahmad, dengan sanad shohih dari Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ? bersabda:

أُعْطِيتُ سَبْعِينَ أَلْفًا مِنْ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ، وُجُوهُهُمْ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، قُلُوبُهُمْ عَلَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ، فَاسْتَزَدْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ، فَزَادَنِي مَعَ كُلِّ وَاحِدٍ سَبْعِينَ أَلْفًا

“Aku diberi 70.000 dari umatku yang masuk Jannah tanpa hisab. Wajah mereka seperti bulan di malam purnama. Hati mereka seperti hati satu orang. Lalu aku meminta tambahan kepada Robb-ku ‘Azza wa Jalla, maka Dia memberiku tambahan 70.000 untuk setiap satu orang.” (HR. Al-Jami’: no. 1068)

Dalam Musnad Ahmad, Sunan At-Tirmidzi, dan Shohih Ibnu Hibban, dari Abu Umamah rodhiyallahu ‘anhu, dengan sanad shohih, bahwa Rosululloh ? bersabda:

وَعَدَنِي رَبِّي أَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعِينَ أَلْفًا بِلَا حِسَابٍ عَلَيْهِمْ وَلَا عَذَابٍ، مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ، وَثَلَاثُ حَثَيَاتٍ مِنْ حَثَيَاتِ رَبِّي

“Robb-ku menjanjikanku untuk memasukkan Jannah dari umatku 70.000 tanpa hisab dan tanpa adzab. Bersama setiap seribu, ada 70 (ribu), dan tiga kali cakupan (dengan dua tangan) dari cakupan-cakupan Robb-ku.” (HR. Al-Jami’: no. 6988)

Hadits ini menyebutkan tambahan tiga kali cakupan.

Rosululloh ? juga telah menjelaskan ciri-ciri 70.000 yang pertama itu. Dalam Shohih Al-Bukhori, dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Nabi ? bersabda:

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ، فَأَخَذَ النَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الْأُمَّةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ النَّفَرُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الْعَشَرَةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الْخَمْسَةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ وَحْدَهُ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ كَثِيرٌ، قُلْتُ: يَا جِبْرِيلُ، هَؤُلَاءِ أُمَّتِي؟ قَالَ: لَا، وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ كَثِيرٌ. قَالَ: هَؤُلَاءِ أُمَّتُكَ، وَهَؤُلَاءِ سَبْعُونَ أَلْفًا قُدَّامَهُمْ لَا حِسَابَ عَلَيْهِمْ وَلَا عَذَابَ، قُلْتُ: وَلِمَ؟ قَالَ: كَانُوا لَا يَكْتَوُونَ، وَلَا يَسْتَرْقُونَ، وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Diperlihatkan kepadaku umat-umat. Maka ada Nabi yang lewat bersama satu umat, ada Nabi yang lewat bersama sekelompok orang, ada Nabi yang lewat bersama 10 orang, ada Nabi yang lewat bersama 5 orang, dan ada Nabi yang lewat sendirian. Lalu aku melihat sawad (rombongan) yang banyak. Aku bertanya: ‘Wahai Jibril, apakah mereka ini umatku?’ Ia menjawab: ‘Bukan, tapi lihatlah ke ufuk.’ Aku pun melihat, ternyata ada sawad yang banyak. Ia berkata: ‘Itu umatmu, dan mereka ini 70.000 yang berada di depan, yang tidak ada hisab atas mereka dan tidak ada adzab.’ Aku bertanya: ‘Kenapa?’ Ia menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta kay (pengobatan dengan besi panas), tidak meminta ruqyah (jampi-jampi), tidak tathoyyur (menganggap sial), dan hanya kepada Robb mereka, mereka bertawakkal.’”

‘Ukasyah bin Mihshon berdiri lalu berkata: “Mohonlah kepada Alloh agar Dia menjadikanku termasuk dari mereka.” Nabi ? bersabda:

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ

“Ya Alloh, jadikanlah dia termasuk dari mereka.”

Kemudian laki-laki lain berdiri dan berkata: “Mohonlah kepada Alloh agar Dia menjadikanku termasuk dari mereka.” Nabi ? bersabda:

سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ

“Engkau telah didahului oleh ‘Ukasyah.” (HR. Al-Bukhori. Fathul Baari: 11/450)

Mungkin mereka inilah yang Alloh sebut dengan Al-Muqorrobun (orang-orang yang didekatkan), dan As-Sabiqun (orang-orang yang terdepan)

وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ أُولَ?ئِكَ الْمُقَرَّبُونَ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

orang-orang yang terdepan (dalam beriman) adalah yang terdepan (dalam meraih Jannah). Mereka itulah orang-orang yang didekatkan (kepada Alloh), berada di Jannah An-Na’im.” (QS. Al-Waqi’ah: 10-12)

Mereka ini adalah tsullatun minal awwalin (sekelompok besar dari orang-orang terdahulu) dan qoliilun minal akhirin (sekelompok kecil dari orang-orang kemudian)

ثُلَّةٌ مِّنَ الْأَوَّلِينَ وَقَلِيلٌ مِّنَ الْآخِرِينَ

“Sekelompok besar dari orang-orang terdahulu, dan sekelompok kecil dari orang-orang kemudian.” (QS. Al-Waqi’ah: 13-14)

1.5 Orang-Orang Fakir Mendahului Orang-Orang Kaya ke Jannah

Muslim meriwayatkan dalam Shohih-nya, dari ‘Abdulloh bin ‘Amr rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:

إِنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ يَسْبِقُونَ الْأَغْنِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا

“Sungguh, orang-orang fakir dari kaum Muhajirin akan mendahului orang-orang kaya ke Jannah pada hari Kiamat dengan selisih 40 musim gugur (yaitu 40 tahun).” (Muslim no. 2979)

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Sa’id, dan Ahmad, At-Tirmidzi, serta Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:

فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِخَمْسِمِائَةِ سَنَةٍ

“Orang-orang fakir dari kaum Muhajirin akan masuk Jannah 5 ratus tahun sebelum orang-orang kaya mereka.” (HR. At-Tirmidzi no. 2351)

Nabi ? menjelaskan di tempat lain bahwa mereka tidak memiliki sesuatu yang perlu dihisab. Ini di samping Jihad dan keutamaan mereka.

Al-Hakim (405 H) meriwayatkan dalam Mustadrok-nya, dari ‘Abdulloh bin ‘Amr rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:

أَتَعْلَمُ أَوَّلَ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي؟ قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، فَقَالَ: فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِينَ، يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى بَابِ الْجَنَّةِ، وَيَسْتَفْتِحُونَ، فَيَقُولُ لَهُمُ الْخَزَنَةُ: أَوَ قَدْ حُوسِبْتُمْ؟ فَيَقُولُونَ: بِأَيِّ شَيْءٍ نُحَاسَبُ، وَإِنَّمَا كَانَتْ أَسْيَافُنَا عَلَى عَوَاتِقِنَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى مُتْنَا عَلَى ذَلِكَ؟ قَالَ: فَيُفْتَحُ لَهُمْ، فَيَقِيلُونَ فِيهِ أَرْبَعِينَ عَامًا قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَهَا النَّاسُ

“Tahukah engkau rombongan pertama dari umatku yang masuk Jannah?” Aku menjawab: “Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Orang-orang fakir dari kaum Muhajirin. Mereka datang pada hari Kiamat ke pintu Jannah, lalu meminta dibukakan. Para penjaga (khazanah) bertanya kepada mereka: ‘Apakah kalian sudah dihisab?’ Mereka menjawab: ‘Dengan apa kami dihisab? Sesungguhnya pedang-pedang kami berada di atas pundak-pundak kami di jalan Alloh sampai kami mati di atas keadaan itu (Jihad).’ Maka pintu Jannah dibukakan untuk mereka, dan mereka beristirahat qoilulah (istirahat siang) di dalamnya selama 40 tahun, sebelum orang-orang (yang lain) memasukinya.”[2]

Dalam Shohih Al-Bukhori, dari Usamah bin Zaid rodhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi ?, beliau bersabda:

قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ، وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوسُونَ غَيْرَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّارِ قَدْ أُمِرَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ

“Aku berdiri di pintu Jannah, maka kebanyakan yang memasukinya adalah orang-orang miskin. Sedangkan Ash-habul Jadd (orang-orang yang punya keberuntungan) tertahan, hanya saja Ash-habun Naar (penduduk Naar) telah diperintahkan untuk dimasukkan ke Naar.” (HR. Al-Bukhori. Fathul Baari: 2/345)

Ash-habul Jadd adalah orang-orang kaya dari kaum Muslimin.

Telah terdapat dalam Hadits-Hadits sebelumnya bahwa orang-orang fakir mendahului orang-orang kaya dengan selisih 40 musim gugur (tahun), dan dalam Hadits lain disebutkan 5 ratus tahun.

Al-Qurthubi (671 H) menjelaskan cara mengkompromikan kedua Hadits tersebut: bahwa kondisi orang-orang fakir berbeda-beda, begitu juga orang-orang kaya (At-Tadzkiroh, Al-Qurthubi: 470). Orang-orang fakir pun bertingkat-tingkat dalam kekuatan iman dan keunggulan mereka, begitu juga orang-orang kaya. Maka, jika perhitungan didasarkan pada orang fakir pertama yang masuk Jannah dan orang kaya terakhir yang masuk Jannah, selisihnya adalah 5 ratus tahun. Namun, jika dilihat dari orang fakir terakhir yang masuk Jannah dan orang kaya pertama yang masuk Jannah, maka selisihnya adalah 40 musim gugur (tahun), berdasarkan orang fakir pertama dan orang kaya terakhir, Wallohu A’lam. (An-Nihayah, Ibnu Katsir: 2/345)

1.6: Tiga Orang Pertama yang Masuk Jannah

At-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad hasan, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ?, beliau bersabda: Diperlihatkan kepadaku tiga orang pertama yang masuk Jannah:

شَهِيدٌ، وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ، وَعَبْدٌ أَحْسَنَ عِبَادَةَ اللَّهِ، وَنَصَحَ مَوَالِيَهُ

“Orang yang mati syahid, orang yang menjaga kehormatan diri dan berusaha menahan diri (dari meminta-minta), dan hamba (budak) yang beribadah kepada Alloh dengan baik, serta menasihati tuannya.” (Jami’ul Ushul: 20/535)[3]

1.7 Masuknya Orang-Orang Mu’min yang Durhaka ke Jannah

1.7.1 Dikeluarkannya Mereka dari Naar dan Dimasukkannya ke Jannah dengan Syafa’at

Muslim meriwayatkan dalam Shohih-nya, dari Abu Sa’id rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:

أَمَّا أَهْلُ النَّارِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُهَا فَإِنَّهُمْ لَا يَمُوتُونَ فِيهَا وَلَا يَحْيَوْنَ، وَلَكِنْ نَاسٌ أَصَابَتْهُمُ النَّارُ بِذُنُوبِهِمْ (أَوْ قَالَ: بِخَطَايَاهُمْ) فَأَمَاتَتْهُمْ إِمَاتَةً، حَتَّى إِذَا كَانُوا فَحْمًا، أُذِنَ بِالشَّفَاعَةِ فَجِيءَ بِهِمْ ضَبَائِرَ ضَبَائِرَ، فَبُثُّوا عَلَى أَنْهَارِ الْجَنَّةِ، ثُمَّ قِيلَ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ أَفِيضُوا عَلَيْهِمْ، فَيَنْبُتُونَ نَبَاتَ الْحَبَّةِ تَكُونُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ

“Adapun penduduk Naar yang memang penduduknya, maka mereka tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Namun, ada sekelompok manusia yang disentuh Naar karena dosa-dosa mereka (atau beliau bersabda: karena kesalahan-kesalahan mereka), lalu Naar mematikan mereka dengan kematian (sebenarnya), hingga ketika mereka menjadi arang, diizinkanlah untuk memberikan syafa’at. Maka mereka didatangkan bergepok-gepok (dhoba’ir dhoba’ir: berkelompok-kelompok), lalu disebarkan di atas sungai-sungai Jannah. Kemudian Ada yang berpendapat: ‘Wahai penduduk Jannah, siramkanlah air kepada mereka!’ Maka mereka tumbuh seperti tumbuhnya biji-bijian di hamiil as-sayl (lumpur yang dibawa air bah).” (HR. Muslim no. 185)

Dari Hadits Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallahu ‘anhu yang marfu’ (sampai kepada Nabi ?), di Muslim:

إِنَّ أَقْوَامًا يَخْرُجُونَ مِنَ النَّارِ يَحْتَرِقُونَ فِيهَا، إِلَّا دَارَاتِ وُجُوهِهِمْ، حَتَّى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ

“Sungguh, ada kaum yang keluar dari Naar dalam keadaan terBakr, kecuali lingkaran-lingkaran wajah mereka, hingga mereka masuk Jannah.” (HR. Muslim, 1/178)

Orang-orang yang keluar dari Naar dan masuk Jannah ini disebut oleh penduduk Jannah dengan Al-Jahannamiyyun. Dalam Shohih Al-Bukhori, dari ‘Imron bin Hushain rodhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi ?, beliau bersabda:

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنَ النَّارِ بِشَفَاعَةِ مُحَمَّدٍ - ? -، فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ، يُسَمَّوْنَ الْجَهَنَّمِيِّينَ

“Sekelompok kaum akan keluar dari Naar dengan syafa’at Muhammad ?, lalu mereka masuk Jannah, mereka disebut Al-Jahannamiyyun.” (HR. Al-Bukhori. Fathul Baari: 11/418)

Juga dalam Shohih Al-Bukhori, dari Jabir rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ? bersabda:

يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ بِالشَّفَاعَةِ كَأَنَّهُمُ الثَّعَارِيرُ

“Akan keluar (yakhruju: yakni sekelompok kaum) dari Naar dengan syafa’at, seolah-olah mereka adalah ats-tsa’ariir (mentimun kecil).”

Aku (rowi) bertanya: “Apa itu ats-tsa’ariir?” Beliau menjawab: “Adh-dhoghoobis (tumbuhan tipis seukuran sejengkal atau setipis jari, tanpa daun, rasanya asam).” (HR. Al-Bukhori. Fathul Baari: 11/416)

Al-Bukhori meriwayatkan dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ?, beliau bersabda:

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنَ النَّارِ بَعْدَمَا مَسَّهُمْ مِنْهَا سَفْعٌ، فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ، فَيُسَمِّيهِمْ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَهَنَّمِيِّينَ

“Sekelompok kaum akan keluar dari Naar setelah mereka disentuh oleh saf’ (warna merah kehitaman karena api), lalu mereka masuk Jannah, dan penduduk Jannah menamai mereka Al-Jahannamiyyun.” (Fathul Baari: 11/416)

Dalam Shohih Muslim, dari Hadits Abu Huroiroh yang panjang mengenai Akhirah:

حَتَّى إِذَا فَرَغَ اللَّهُ مِنَ الْقَضَاءِ بَيْنَ الْعِبَادِ، وَأَرَادَ أَنْ يُخْرِجَ بِرَحْمَتِهِ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، أَمَرَ الْمَلَائِكَةَ أَنْ يُخْرِجُوا مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، مِمَّنْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَرْحَمَهُ، مِمَّنْ يَقُولُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَيَعْرِفُونَهُمْ فِي النَّارِ، يَعْرِفُونَهُمْ بِأَثَرِ السُّجُودِ، تَأْكُلُ النَّارُ مِنِ ابْنِ آدَمَ إِلَّا أَثَرَ السُّجُودِ، حَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ، فَيُخْرِجُونَ مِنَ النَّارِ وَقَدِ امْتَحَشُوا (احْتَرَقُوا) ، فَيُصَبُّ عَلَيْهِمْ مَاءُ الْحَيَاةِ، فَيَنْبُتُونَ مِنْهُ، كَمَا تَنْبُتُ الْحَبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ

“Hingga ketika Alloh selesai memutuskan perkara di antara para hamba, dan Dia ingin mengeluarkan dengan Rohmat-Nya siapa yang Dia kehendaki dari penduduk Naar, Dia memerintahkan para Malaikat untuk mengeluarkan dari Naar siapa saja yang tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apa pun, dari orang yang Alloh kehendaki untuk Dia rohmati, dari orang yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh. Maka mereka (Malaikat) mengenali mereka di Naar. Mereka mengenalinya dari bekas sujud. Naar akan memakan (memBakr) anak Adam, kecuali bekas sujud. Alloh mengharomkan Naar untuk memakan bekas sujud. Maka mereka dikeluarkan dari Naar dalam keadaan hangus (terBakr). Lalu disiramkanlah kepada mereka air kehidupan, dan mereka pun tumbuh darinya, sebagaimana biji-bijian tumbuh di hamiil as-sayl (lumpur yang dibawa air bah).” (HR. Muslim, no. 182)

Telah disebutkan dalam lebih dari satu Hadits bahwa Alloh akan mengeluarkan dari Naar siapa yang di hatinya ada keimanan seberat din?r (emas) atau setengah din?r, atau seberat dzarrah (biji sawi). Bahkan, Alloh akan mengeluarkan kaum yang sama sekali tidak pernah berbuat kebaikan.

Dalam Hadits Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:

يُدْخِلُ اللَّهُ أَهْلَ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ بِرَحْمَتِهِ، وَيُدْخِلُ أَهْلَ النَّارِ النَّارَ، ثُمَّ يَقُولُ: انْظُرُوا مَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ حَبَّةً مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجُوهُ

“Alloh akan memasukkan penduduk Jannah ke Jannah. Dia memasukkan siapa yang Dia kehendaki dengan Rohmat-Nya. Dia memasukkan penduduk Naar ke Naar. Kemudian Dia berfirman: ‘Lihatlah, siapa yang kalian dapati di hatinya ada sebiji sawi keimanan, maka keluarkanlah dia.’” (HR. Muslim, 1/172)

Dalam Hadits Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallahu ‘anhu tentang mendatangi Naar:

ثُمَّ تَحِلُّ الشَّفَاعَةُ، وَيَشْفَعُونَ حَتَّى يَخْرُجَ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَكَانَ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مِثْقَالُ شَعِيرَةٍ، فَيُجْعَلُونَ بِفِنَاءِ الْجَنَّةِ، وَيَجْعَلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ يَرُشُّونَ عَلَيْهِمُ الْمَاءَ، حَتَّى يَنْبُتُوا نَبَاتَ الشَّيْءِ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ، وَيَذْهَبُ حَرَاقُهُ، ثُمَّ يُسْأَلُ حَتَّى يُجْعَلَ لَهُ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا مَعَهَا

“Kemudian syafa’at diperbolehkan, dan mereka memberikan syafa’at hingga keluar dari Naar orang yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh dan di hatinya ada kebaikan seberat biji sya’irah (gandum). Mereka ditempatkan di halaman Jannah, dan penduduk Jannah menyiramkan air kepada mereka, hingga mereka tumbuh seperti tumbuhnya sesuatu di hamiil as-sayl (lumpur yang dibawa air bah). hilanglah huroqoh (bekas terBakr) mereka (orang-orang yang dikeluarkan dari Naar). Kemudian ia (orang yang dikeluarkan) meminta, hingga dijadikan baginya dunia dan 10 kali lipatnya bersamanya.” (HR. Muslim, 1/178)

Dalam Hadits Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, Nabi ? bersabda:

يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَكَانَ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ شَعِيرَةً، ثُمَّ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَكَانَ فِي قَلْبِهِ مَا يَزِنُ بُرَّةً، ثُمَّ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَانَ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ الذَّرَّةَ

“Akan keluar dari Naar siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh dan di hatinya ada kebaikan seberat sya’irah (gandum). Kemudian akan keluar dari Naar siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh dan di hatinya ada (kebaikan) seberat burroh (biji gandum), kemudian akan keluar dari Naar siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh dan di hatinya ada kebaikan seberat dzarroh (biji sawi).”

Hadits-Hadits dalam masalah ini sangat banyak (HR. Muslim, 1/182)

1.7.2 Sikap Kelompok-Kelompok (Firqoh) terhadap Syafa’at

Kelompok Khowarij dan Mu’tazilah (Al-Khowarij: kelompok yang keluar setelah pertempuran Shiffin, mengkafirkan Ali dan Mu’awiyah, dan orang yang bersama keduanya, serta menganggap ahlul ma’aashi (pelaku dosa besar) kekal di Naar. Al-Mu’tazilah: pengikut Washil bin ‘Ath?’ (131 H), berpendapat bahwa ashabul kab?’ir (pelaku dosa besar) kekal di Naar, tetapi berhenti (tangguh) dalam urusan mereka di dunia) mengingkari syafa’at bagi para pemberi syafa’at terhadap ahlul kab?’ir (pelaku dosa besar) dan mereka yang diperintahkan masuk Naar agar tidak memasukinya, atau terhadap mereka yang telah memasukinya agar dikeluarkan darinya. Al-Qurthubi (671 H) berkata: “Syafa’at ini diingkari oleh para mubtadi’ah (ahli bid’ah) dari Khowarij dan Mu’tazilah. Mereka menolaknya berdasarkan prinsip-prinsip mereka yang rusak (fasid), yaitu Al-Isti?q?q Al-’Aqliy (hak yang didasarkan pada akal) yang dibangun di atas At-Ta?s?n (menganggap baik) dan At-Taqb?? (menganggap buruk).” (At-Tadzkiroh, Al-Qurthubi: 249)

Pendapat yang bertentangan dengan Hadits-Hadits shohih yang mutaw?tir ini muncul ketika para Shohabat masih hidup. Muslim meriwayatkan dalam Shohih-nya, dari Yazid Al-Faqir, ia berkata: “Dahulu aku sangat tergila-gila dengan pendapat Khowarij. Kami pun keluar bersama sekelompok orang untuk Haji, kemudian kami berencana keluar (memberontak) kepada manusia. Kami melewati Madinah, ternyata Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallahu ‘anhu sedang menyampaikan Hadits kepada suatu kaum, duduk di dekat sebuah tiang. Tiba-tiba ia menyebutkan Al-Jahannamiyyun (orang-orang yang keluar dari Naar). Aku berkata kepadanya: ‘Wahai Shohabat Rosululloh, apa yang engkau ceritakan ini? Padahal Alloh berfirman:

إِنَّكَ مَن تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ

“Sungguh, siapa yang Engkau masukkan ke dalam Naar, maka sungguh Engkau telah menghinakannya.” (QS. Ali ‘Imron: 192)

firman-Nya:

كُلَّمَا أَرَادُوا أَن يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا

“Setiap kali mereka hendak keluar dari Neraka, mereka dikembalikan lagi ke dalamnya.” (QS. As-Sajdah: 20)

Maka apa yang kalian katakan ini?” Ia bertanya: “Apakah engkau membaca Al-Qur’an?” Aku menjawab: “Ya.”

Ia bertanya: “Apakah engkau pernah mendengar Maqom Muhammad (kedudukan Muhammad) ‘alaihis salam (yaitu tempat yang Alloh akan mengutusnya ke sana)?”

Aku menjawab: “Ya.” Ia berkata: “Itulah Maqom Al-Ma?m?d (kedudukan yang terpuji) milik Muhammad ?, yang dengannya Alloh akan mengeluarkan siapa yang Dia kehendaki.”

Kemudian ia menjelaskan sifat Shiroth (jembatan) dan bagaimana manusia melewatinya. Ia berkata: “Aku khawatir aku tidak menghafal bagian itu. Hanya saja ia (Jabir) mengklaim bahwa ada kaum yang keluar dari Naar setelah mereka berada di dalamnya. Mereka keluar seperti ‘?dan as-sam?sim (batang wijen yang tipis). Lalu mereka masuk ke salah satu sungai Jannah, mandi di dalamnya, kemudian mereka keluar seperti al-qorothiish (kertas putih yang biasa digunakan untuk menulis). Kami pun kembali (ke kelompok kami) dan berkata: ‘Celaka kalian! Apakah kalian mengira Syaikh (Jabir) berbohong atas nama Rosululloh ??’

Kami pun kembali (ke Jabir), demi Alloh, tidak ada yang keluar dari kami (kelompok Khowarij) selain satu orang saja (yang tetap pada keyakinan Khowarij).” (HR. Muslim, no. 191)

Khowarij dan Mu’tazilah bersikap ekstrem dalam masalah ini, karena mereka menganggap bahwa ahlul kab?’ir (pelaku dosa besar) tidak akan keluar dari Naar, dan syafa’at para pemberi syafa’at tidak bermanfaat bagi mereka. Sebaliknya, kelompok Murji’ah bersikap ekstrem di sisi yang berlawanan, di mana mereka tidak memastikan masuknya salah seorang dari ahlul kab?’ir ke Naar, bahkan mereka menganggap semua ahlul kab?’ir akan masuk Jannah tanpa adzab. Kedua kelompok ini bertentangan dengan Sunnah yang mutaw?tir yang tetap dari Rosululloh ?, dan mereka bertentangan dengan Ijma’ para Salaf Al-Ummah dan para Imam mereka.

Alloh ? telah memberikan petunjuk kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Ahli Sunnah dan Jama’ah) dalam hal yang mereka perselisihkan mengenai kebenaran dengan izin-Nya, di mana mereka berpendapat bahwa ahlul kab?’ir berada di bawah masy?’atulloh (kehendak Alloh). Jika Dia berkehendak, Dia akan mengampuni mereka dengan Rohmat-Nya, dan jika Dia berkehendak, Dia akan mengadzab mereka karena dosa-dosa mereka, kemudian memasukkan mereka ke Jannah dengan Rohmat-Nya.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَ?لِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sungguh, Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa’: 48)

Alloh ? berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى? أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rohmat Alloh. Sungguh, Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia adalah Al-Ghofur (Maha Pengampun), Ar-Rohim (Maha Penyayang).” (QS. Az-Zumar: 53)

Maka syirik (menyekutukan Alloh) tidak Dia ampuni, dan dosa selain syirik berada di bawah kehendak-Nya. orang yang t?’ib (bertaubat) dari dosa adalah seperti orang yang tidak berdosa.

Alasan Khowarij menafikan syafa’at ini adalah ayat-ayat yang menafikan syafa’at yang ditetapkan oleh Ahlus Syirk (orang-orang musyrik). Ahlus Syirk meyakini bahwa syafa’at di sisi Alloh adalah seperti syafa’at di dunia, di mana seorang pemberi syafa’at bisa memberikan syafa’at kepada yang lain tanpa izin darinya, dan pemberi syafa’at bisa memberikan syafa’at kepada yang lain meskipun Dia tidak ridho kepada orang yang diberi syafa’at. Hal ini tidak akan terjadi di sisi Alloh ?. telah datang nash-nash yang membatalkan jenis syafa’at ini.

Sebagaimana firman Alloh ?:

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَّا تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ

takutlah pada hari (ketika) seseorang tidak dapat membela orang lain sedikit pun, dan tidak diterima syafa’at darinya, dan tidak pula diambil tebusan.” (QS. Al-Baqoroh: 48)

firman-Nya:

فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.” (QS. Al-Muddatstsir: 48)

firman-Nya:

مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

“Bagi orang-orang zholim (zalim) itu tidak ada teman akrab dan tidak ada pula pemberi syafa’at yang diterima.” (QS. Ghofir: 18)

telah datang nash-nash yang menjelaskan bahwa syafa’at di sisi Alloh tidak terjadi kecuali dengan izin-Nya, dan tidak terjadi kecuali setelah Dia ridho kepada pemberi syafa’at dan orang yang diberi syafa’at.

مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Siapa yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya? (QS. Al-Baqoroh: 255)

firman-Nya:

وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى?

mereka (para Malaikat) tidak memberi syafa’at melainkan kepada orang yang Dia ridhoi.” (QS. Al-Anbiya’: 28)

firman-Nya:

وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِن بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَن يَشَاءُ وَيَرْضَى?

betapa banyak Malaikat di langit, syafa’at mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali apabila Alloh telah memberi izin kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridhoi.” (QS. An-Najm: 26)

Alloh berfirman tentang para Malaikat juga:

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى? وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

“Dia (Alloh) mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka (para Malaikat) tidak memberi syafa’at melainkan kepada orang yang Dia ridhoi, dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS. Al-Anbiya’: 28)

firman-Nya:

وَلَا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ عِندَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ

syafa’at di sisi-Nya hanya berguna bagi orang yang telah Dia beri izin.” (QS. Saba’: 23)

Nash-nash ini menafikan dan membatalkan syafa’at yang ditetapkan oleh orang-orang musyrik untuk para Malaikat, para Nabi, dan orang-orang sholih. nash-nash ini menetapkan syafa’at yang terjadi dengan izin Alloh dan ridho-Nya kepada pemberi syafa’at dan yang diberi syafa’at. Alloh tidak akan ridho kepada orang-orang kafir yang musyrik. Adapun ‘ush?tu ahlit taw??d (pelaku dosa besar dari ahli tauhid), para pemberi syafa’at akan memberikan syafa’at kepada mereka, namun mereka tidak akan memberikan syafa’at kepada orang musyrik.

Al-Bukhori meriwayatkan dalam Shohih-nya, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata: Aku bertanya: “Wahai Rosululloh, siapa orang yang paling bahagia dengan syafa’atmu pada hari Kiamat?”

Beliau ? bersabda:

لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ

“Aku sungguh telah menduga, wahai Abu Huroiroh, bahwa tidak ada seorang pun yang akan bertanya kepadaku tentang Hadits ini pertama kali selain engkau, karena aku melihat betapa bersemangatnya dirimu terhadap Hadits. Orang yang paling bahagia dengan syafa’atku pada hari Kiamat adalah siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh dengan ikhlas dari lubuk hatinya.” (HR. Al-Bukhori. Fathul Baari: 11/418)

1.8 Orang Terakhir yang Masuk Jannah

Rosululloh ? menceritakan kepada kita kisah orang terakhir yang keluar dari Naar dan masuk Jannah, serta dialog yang terjadi antara dia dengan Robb-nya, dan kemuliaan agung yang Alloh berikan kepadanya, yang dia sendiri tidak percaya bahwa Alloh memuliakannya dengan kemuliaan yang begitu besar.[4]

1- Dari ‘Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ? bersabda:

إِنِّي لَأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا، وَآخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولًا الْجَنَّةَ: رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ حَبْوًا، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَيَأْتِيهَا، فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى، فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، وَجَدْتُهَا مَلْأَى، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا، وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا أَوْ إِنَّ لَكَ مِثْلَ عَشَرَةِ أَمْثَالِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: أَتَسْخَرُ بِي أَوْ أَتَضْحَكُ بِي وَأَنْتَ الْمَلِكُ؟ قَالَ: فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ - ? - ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ، فَكَانَ يُقَالُ: ذَلِكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً

“Sungguh aku mengetahui penduduk Naar yang paling terakhir keluar darinya, dan penduduk Jannah yang paling terakhir masuk Jannah: yaitu seorang laki-laki yang keluar dari Naar dengan merangkak. Alloh berfirman kepadanya: ‘Pergilah dan masuklah ke Jannah.’ Maka ia mendatanginya, dan terbayang olehnya bahwa Jannah telah penuh. Ia pun kembali dan berkata: ‘Wahai Robb-ku, aku mendapatinya telah penuh.’ Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Pergilah dan masuklah ke Jannah, karena sungguh engkau akan mendapatkan (ni’mat) seperti dunia dan 10 kali lipatnya,’ atau, ‘Sungguh engkau akan mendapatkan (ni’mat) seperti 10 kali lipat dunia.’ Ia berkata: ‘Apakah Engkau mengolok-olokku – atau Engkau menertawakanku – padahal Engkau adalah Al-Malik (Maha Raja)?’ Rowi berkata: ‘Aku sungguh melihat Rosululloh ? tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya.’ Maka Ada yang berpendapat: ‘Itu adalah penduduk Jannah yang paling rendah kedudukannya.’” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim, Rosululloh ? bersabda:

إِنِّي لَأَعْرِفُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنَ النَّارِ: رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنْهَا زَحْفًا، فَيُقَالُ لَهُ: انْطَلِقْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ، قَالَ: فَيَذْهَبُ فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ، فَيَجِدُ النَّاسَ قَدْ أَخَذُوا الْمَنَازِلَ، فَيُقَالُ لَهُ: أَتَذْكُرُ الزَّمَانَ الَّذِي كُنْتَ فِيهِ؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، فَيُقَالُ لَهُ: تَمَنَّ، فَيَتَمَنَّى فَيُقَالُ لَهُ: لَكَ الَّذِي تَمَنَّيْتَ، وَعَشَرَةُ أَضْعَافِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: أَتَسْخَرُ بِي وَأَنْتَ الْمَلِكُ؟ قَالَ: فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ - ? - يَضْحَكُ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ

“Sungguh aku mengetahui penduduk Naar yang paling terakhir keluar dari Naar: yaitu seorang laki-laki yang keluar darinya dengan merangkak. Dikatakan kepadanya: ‘Berangkatlah dan masuklah ke Jannah.’ Ia pun pergi dan masuk Jannah. Ia mendapati manusia telah mengambil tempat-tempat tinggal. Dikatakan kepadanya: ‘Apakah engkau ingat waktu ketika engkau berada di dalamnya?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Dikatakan kepadanya: ‘Berharaplah.’ Ia pun berharap. Dikatakan kepadanya: ‘Engkau mendapatkan apa yang engkau harapkan, dan 10 kali lipat dunia.’ Ia berkata: ‘Apakah Engkau mengolok-olokku padahal Engkau adalah Al-Malik (Maha Raja)?’ Rowi berkata: ‘Aku sungguh melihat Rosululloh ? tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya.’”[5]

2- Dari ‘Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ? bersabda:

آخِرُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ رَجُلٌ، فَهُوَ يَمْشِي مَرَّةً، وَيَكْبُو مَرَّةً، وَتَسْفَعُهُ النَّارُ مَرَّةً، فَإِذَا مَا جَاوَزَهَا الْتَفَتَ إِلَيْهَا، فَقَالَ: تَبَارَكَ الَّذِي نَجَّانِي مِنْكِ، لَقَدْ أَعْطَانِي اللَّهُ شَيْئًا مَا أَعْطَاهُ أَحَدًا مِنَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ، فَتُرْفَعُ لَهُ شَجَرَةٌ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، أَدْنِنِي مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ فَلَأَسْتَظِلَّ بِظِلِّهَا، وَأَشْرَبَ مِنْ مَائِهَا، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: يَا ابْنَ آدَمَ لَعَلِّي إِنْ أَعْطَيْتُكَهَا سَأَلْتَنِي غَيْرَهَا؟ فَيَقُولُ: لَا، يَا رَبِّ وَيُعَاهِدُهُ أَنْ لَا يَسْأَلَهُ غَيْرَهَا، قَالَ: وَرَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَعْذِرُهُ، لِأَنَّهُ يَرَى مَا لَا صَبْرَ لَهُ عَلَيْهِ، فَيُدْنِيهِ مِنْهَا، فَيَسْتَظِلُّ بِظِلِّهَا، وَيَشْرَبُ مِنْ مَائِهَا، ثُمَّ تُرْفَعُ لَهُ شَجَرَةٌ هِيَ أَحْسَنُ مِنَ الْأُولَى، فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ، أَدْنِنِي مِنَ الشَّجَرَةِ لِأَشْرَبَ مِنْ مَائِهَا وَأَسْتَظِلَّ بِظِلِّهَا، لَا أَسْأَلُكَ غَيْرَهَا فَيَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ، أَلَمْ تُعَاهِدْنِي أَنْ لَا تَسْأَلَنِي غَيْرَهَا؟ فَيَقُولُ: لَعَلِّي أَنْ أَدْنَيْتُكَ مِنْهَا تَسْأَلُنِي غَيْرَهَا؟ فَيُعَاهِدُهُ أَنْ لَا يَسْأَلَهُ غَيْرَهَا، وَرَبُّهُ تَعَالَى يَعْذِرُهُ، لِأَنَّهُ يَرَى مَا لَا صَبْرَ لَهُ عَلَيْهِ، فَيُدْنِيهِ مِنْهَا، فَيَسْتَظِلُّ بِظِلِّهَا، وَيَشْرَبُ مِنْ مَائِهَا، ثُمَّ تُرْفَعُ لَهُ شَجَرَةٌ عِنْدَ بَابِ الْجَنَّةِ، وَهِيَ أَحْسَنُ مِنَ الْأُولَيَيْنِ، فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ أَدْنِنِي مِنْ هَذِهِ لِأَسْتَظِلَّ بِظِلِّهَا، وَأَشْرَبَ مِنْ مَائِهَا، لَا أَسْأَلُكَ غَيْرَهَا، فَيَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ، أَلَمْ تُعَاهِدْنِي أَنْ لَا تَسْأَلَنِي غَيْرَهَا؟ قَالَ: بَلَى، يَا رَبِّ لَا أَسْأَلُكَ غَيْرَهَا وَرَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَعْذِرُهُ، لِأَنَّهُ يَرَى مَا لَا صَبْرَ لَهُ عَلَيْهِ، فَيُدْنِيهِ مِنْهَا، فَإِذَا أَدْنَاهُ مِنْهَا سَمِعَ أَصْوَاتَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ أَدْخِلْنِيهَا، فَيَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ، مَا يُصْرِينِي مِنْكَ، أَيُرْضِيكَ أَنْ أُعْطِيَكَ الدُّنْيَا وَمِثْلَهَا مَعَهَا؟ قَالَ: يَا رَبِّ، أَتَسْتَهْزِئُ مِنِّي وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ فَضَحِكَ ابْنُ مَسْعُودٍ، فَقَالَ: أَلَا تَسْأَلُونِي مِمَّ أَضْحَكُ؟ فَقَالُوا: مِمَّ تَضْحَكُ؟ قَالَ: هَكَذَا ضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ - ? - فَقَالُوا: مِمَّ تَضْحَكُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَقَالَ: مِنْ ضَحِكِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حِينَ قَالَ: أَتَسْتَهْزِئُ مِنِّي وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ فَيَقُولُ: إِنِّي لَا أَسْتَهْزِئُ مِنْكَ، وَلَكِنِّي عَلَى مَا أَشَاءُ قَادِرٌ

“Orang terakhir yang masuk Jannah adalah seorang laki-laki. Ia berjalan sesekali, tersandung sesekali, dan api Naar menyentuhnya sesekali. Ketika ia telah melewatinya, ia menoleh ke Naar dan berkata: ‘Maha Suci Dzat yang telah menyelamatkanku darimu. Sungguh Alloh telah memberiku sesuatu yang belum pernah Dia berikan kepada seorang pun dari orang-orang terdahulu dan yang kemudian.’ Kemudian sebuah pohon diangkat untuknya. Ia berkata: ‘Wahai Robb-ku, dekatkanlah aku ke pohon ini, agar aku dapat berteduh di bawah naungannya, dan minum dari airnya.’ Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Wahai anak Adam, mungkin jika Aku memberimu ini, engkau akan meminta yang lain kepada-Ku?’ Ia menjawab: ‘Tidak, wahai Robb-ku.’ Ia berjanji kepada-Nya bahwa ia tidak akan meminta yang lain. Rowi berkata: ‘Robb-nya ‘Azza wa Jalla memaklumi (menguzurkan)nya, karena ia melihat apa yang ia tidak sanggup untuk bersabar.’ Maka Dia mendekatkannya ke pohon itu, lalu ia berteduh di bawah naungannya, dan minum dari airnya. Kemudian sebuah pohon lain diangkat untuknya, yang lebih indah dari yang pertama. Ia berkata: ‘Wahai Robb-ku, dekatkanlah aku ke pohon ini, agar aku dapat minum dari airnya dan berteduh di bawah naungannya. Aku tidak akan meminta yang lain kepada-Mu.’ Dia berfirman: ‘Wahai anak Adam, bukankah engkau telah berjanji kepada-Ku bahwa engkau tidak akan meminta yang lain kepada-Ku?’ Dia berfirman: ‘Mungkin jika Aku mendekatkanmu kepadanya, engkau akan meminta yang lain kepada-Ku?’ Ia berjanji kepada-Nya bahwa ia tidak akan meminta yang lain, dan Robb-nya Ta’ala memaklumi (menguzurkan)nya, karena ia melihat apa yang ia tidak sanggup untuk bersabar. Maka Dia mendekatkannya kepadanya, lalu ia berteduh di bawah naungannya, dan minum dari airnya. Kemudian sebuah pohon lain diangkat untuknya, di dekat pintu Jannah, dan pohon itu lebih indah dari dua pohon sebelumnya. Ia berkata: ‘Wahai Robb-ku, dekatkanlah aku ke pohon ini, agar aku dapat berteduh di bawah naungannya, dan minum dari airnya. Aku tidak akan meminta yang lain kepada-Mu.’ Dia berfirman: ‘Wahai anak Adam, bukankah engkau telah berjanji kepada-Ku bahwa engkau tidak akan meminta yang lain kepada-Ku?’ Ia menjawab: ‘Ya, wahai Robb-ku. Aku tidak akan meminta yang lain kepada-Mu.’ – Robb-nya ‘Azza wa Jalla memaklumi (menguzurkan)nya, karena ia melihat apa yang ia tidak sanggup untuk bersabar. Maka Dia mendekatkannya kepadanya. Ketika Dia mendekatkannya, ia mendengar suara-suara penduduk Jannah. Ia berkata: ‘Wahai Robb-ku, masukkanlah aku ke dalamnya.’ Dia berfirman: ‘Wahai anak Adam, m? yushr?niy (apa yang akan memuaskanku darimu)? (maksudnya: apa yang akan membuatmu ridho dan menghentikan permintaanmu, tashriyah artinya memotong/menghentikan) Apakah engkau ridho jika Aku memberimu dunia dan yang semisalnya bersamanya?’

Ia berkata: ‘Wahai Robb-ku, apakah Engkau mengolok-olokku padahal Engkau adalah Robbul ‘Alamin (Robb semesta alam)?’

Maka Ibnu Mas’ud (rodhiyallahu ‘anhu) tertawa. Ia berkata: ‘Mengapa kalian tidak bertanya kepadaku mengapa aku tertawa?’

Mereka bertanya: ‘Mengapa engkau tertawa?’

Ia berkata: ‘Begitulah Rosululloh ? tertawa.’ Mereka bertanya: ‘Mengapa engkau tertawa, wahai Rosululloh?’

Beliau bersabda: ‘Karena tawa Robbul ‘Alamin, ketika ia berkata: ‘Apakah Engkau mengolok-olokku padahal Engkau adalah Robbul ‘Alamin?’

Maka Dia berfirman: ‘Sungguh Aku tidak mengolok-olokmu, tetapi Aku Maha Kuasa atas segala yang Aku kehendaki.’” (HR. Muslim no. 187)

Hadits ini hanya dikeluarkan oleh Al-Humaidi (219 H) sendiri dalam riwayat-riwayat Afr?d (tunggal) Muslim, sedangkan yang sebelumnya ada dalam Al-Muttafaq ‘Alaihi (disepakati Al-Bukhori dan Muslim). Ia berkata: “Kami mengeluarkannya secara tunggal karena adanya tambahan di dalamnya.”

Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ? bersabda:

إِنَّ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً: رَجُلٌ صَرَفَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ قِبَلَ الْجَنَّةِ، وَمُثِّلَ لَهُ شَجَرَةٌ ذَاتُ ظِلٍّ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، قَرِّبْنِي مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ لِأَكُونَ فِي ظِلِّهَا..

“Sesungguhnya penduduk Jannah yang paling rendah kedudukannya adalah seorang laki-laki yang Alloh palingkan wajahnya dari Naar ke arah Jannah, dan digambarkan kepadanya sebuah pohon yang teduh. Ia berkata: ‘Wahai Robb-ku, dekatkanlah aku ke pohon ini agar aku dapat berada di bawah naungannya...’ “

Lalu beliau menceritakan Hadits serupa dengan Hadits Ibnu Mas’ud, namun tidak menyebutkan: “Dia berfirman: Wahai anak Adam, m? yushr?niy (apa yang akan memuaskanku darimu)?”.. sampai akhir Hadits.

beliau menambahkan di dalamnya:

وَيُذَكِّرُهُ اللَّهُ، سَلْ كَذَا وَكَذَا، فَإِذَا انْقَطَعَتْ بِهِ الْأَمَانِيُّ، قَالَ اللَّهُ: هُوَ لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ، قَالَ: ثُمَّ يَدْخُلُ بَيْتَهُ، فَتَدْخُلُ عَلَيْهِ زَوْجَتَاهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، فَيَقُولَانِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَاكَ لَنَا، وَأَحْيَانَا لَكَ، قَالَ: فَيَقُولُ: مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُعْطِيتُ

“Alloh mengingatkannya: ‘Mintalah ini dan itu.’ Ketika semua harapannya telah terpenuhi, Alloh berfirman: ‘Itu untukmu dan 10 kali lipatnya.’ Rosululloh ? bersabda: ‘Kemudian ia masuk ke rumahnya, dan dua istrinya dari bidadari bermata jeli (al-??r al-’?n) masuk menemuinya, lalu keduanya berkata: ‘Segala puji bagi Alloh yang telah menghidupkanmu untuk kami, dan menghidupkan kami untukmu.’ Rosululloh ? bersabda: ‘Maka ia berkata: ‘Tidak ada seorang pun yang diberi seperti yang aku berikan.’” (HR. Muslim no. 188)

1.9 Mereka yang Masuk Jannah Sebelum Hari Kiamat

Orang pertama dari umat manusia yang masuk Jannah adalah Bapak Manusia, Adam ‘alaihis salam.

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا

“Kami berfirman: “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di Jannah, dan makanlah dengan ni’mat (makanan-makanan) di sana sepuasnya, dari mana saja yang kamu berdua sukai.” (QS. Al-Baqoroh: 35)

Alloh berfirman:

وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَ?ذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di Jannah, maka makanlah dari (buah-buahan) di mana saja yang kamu berdua sukai, dan janganlah kamu mendekati pohon yang satu ini, (jika kamu mendekatinya) maka kamu berdua termasuk orang-orang yang zholim.” (QS. Al-A’roof: 19)

Akan tetapi, Adam ‘alaihis salam durhaka kepada Robb-nya dengan memakan buah dari pohon yang Alloh larang untuk dimakan. Maka Alloh pun menurunkannya dari Jannah ke Dar Asy-Syaq?’ (negeri kesengsaraan)

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى? آدَمَ مِن قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى? فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَ?ذَا عَدُوٌّ لَّكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى? إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى? وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَى? فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى? شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَى? فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَى? آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى? ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى? قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ

sungguh, telah Kami janjikan kepada Adam sebelumnya, lalu dia lupa, dan Kami tidak mendapati kemauan yang kuat padanya Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam!” Maka mereka sujud, kecuali Iblis, ia menolak Kemudian Kami berfirman: “Wahai Adam! Sungguh ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari Jannah, yang menyebabkan kamu menjadi sengsara Sungguh, (ada jaminan) bagimu di Jannah, engkau tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang sungguh, engkau tidak akan kehausan di dalamnya dan tidak akan terkena terik matahari Kemudian Syaitan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya, dengan berkata: “Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuld) dan kerajaan yang tidak akan binasa?” Lalu keduanya memakan (buah) dari pohon itu, maka tampaklah bagi keduanya aurat-aurat mereka, dan mulailah keduanya menutupi (aurat) mereka dengan daun-daun Jannah. Adam telah durhaka kepada Robb-nya, lalu tersesat Kemudian Robb-nya memilihnya, maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk Dia (Alloh) berfirman: “Turunlah kamu berdua dari Jannah bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain.” (QS. Thoha: 115-123)

Rosululloh ? pernah melihat Jannah. Dalam Shohih Al-Bukhori, dari ‘Imron bin Hushain rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ?, beliau bersabda:

اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

“Aku melihat ke Jannah, lalu aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir. aku melihat ke Naar, lalu aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita.” (HR. Al-Bukhori. Fathul Baari: 6/318)

Di antara mereka yang masuk Jannah sebelum hari Kiamat adalah para Syuhada’ (orang-orang yang mati syahid). Dalam Shohih Muslim, dari Masruq, ia berkata: Kami bertanya kepada ‘Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu tentang ayat ini:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Robb mereka dengan mendapat rizqi.” (QS. Ali ‘Imron: 169)

Ia berkata: “Kami telah menanyakan hal itu (kepada Nabi ?), lalu beliau bersabda:

أَرْوَاحُهُمْ فِي أَجْوَافِ طَيْرٍ خُضْرٍ، لَهَا قَنَادِيلُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ، تَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ، ثُمَّ تَأْوِي إِلَى تِلْكَ الْقَنَادِيلِ، فَاطَّلَعَ إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ اطِّلَاعَةً، فَقَالَ: هَلْ تَشْتَهُونَ شَيْئًا؟ قَالُوا: أَيَّ شَيْءٍ نَشْتَهِي، وَنَحْنُ نَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شِئْنَا، فَفَعَلَ بِهِمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَلَمَّا رَأَوْا أَنَّهُمْ لَنْ يُتْرَكُوا مِنْ أَنْ يَسْأَلُوا: قَالُوا: يَا رَبِّ، نُرِيدُ أَنْ تَرُدَّ أَرْوَاحَنَا فِي أَجْسَادِنَا حَتَّى نُقْتَلَ فِي سَبِيلِكَ مَرَّةً أُخْرَى، فَلَمَّا رَأَى أَنْ لَيْسَ لَهُمْ حَاجَةٌ تُرِكُوا

‘Roh-roh mereka berada di dalam perut burung-burung hijau, yang memiliki lentera-lentera tergantung di ‘Arsy (Singgasana), ia terbang bebas di Jannah ke mana pun ia kehendaki. Kemudian ia kembali ke lentera-lentera itu. Robb mereka menengok kepada mereka dengan penengokan, lalu berfirman: “Apakah kalian menginginkan sesuatu?” Mereka berkata: “Apalah yang kami inginkan, padahal kami terbang bebas di Jannah ke mana pun kami kehendaki?” Beliau melakukannya tiga kali. Ketika mereka melihat bahwa mereka tidak akan dibiarkan tanpa meminta, mereka berkata: “Wahai Robb, kami ingin Engkau kembalikan roh-roh kami ke jasad-jasad kami agar kami bisa gugur di jalan-Mu sekali lagi.” Ketika Dia melihat bahwa mereka tidak memiliki kebutuhan lagi, mereka pun dibiarkan.’” (Misykatul Mashobih: no. 3804)

Siapa yang mati, maka tempatnya di Jannah atau di Naar diperlihatkan kepadanya di pagi dan sore hari. Dalam Shohih Muslim, dari Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rosululloh ? bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، يُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sungguh, jika salah seorang dari kalian mati, tempat tinggalnya diperlihatkan kepadanya di pagi dan sore hari. Jika ia dari penduduk Jannah, maka (ia diperlihatkan tempat) penduduk Jannah. jika ia dari penduduk Naar, maka (ia diperlihatkan tempat) penduduk Naar. Ada yang berpendapat: ‘Ini adalah tempat tinggalmu hingga Alloh membangkitkanmu ke sana pada hari Kiamat.’” (HR. Muslim)



[1] Al-Albani memasukkannya dalam Dho’if Abi Dawud.

[2] Lihat Silsilatu Al-Ahadits Ash-Shohihah: 2/532, no. 853. Syaikh Nashir (Al-Albani) berkata mengenainya: “Dikeluarkan oleh Al-Hakim, dan ia berkata: Shohih menurut syarat Asy-Syaikhoin (Al-Bukhori dan Muslim), dan Adz-Dzahabi (748 H) menyetujuinya.” Aku (Syaikh Nashir) katakan: “Ia hanya menurut syarat Muslim saja.”

[3] Dinisbatkan oleh muhaqqiq Jami’ul Ushul kepada Ahmad dalam Musnad-nya, Al-Hakim dalam Mustadrok-nya, dan Al-Baihaqi dalam Sunan-nya. Hadits ini juga ada di Sunan At-Tirmidzi no. 1642, dan At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan.” Al-Albani memasukkannya dalam Dho’if At-Tirmidzi.

[4] Ibnul Atsir (606 H) telah mengumpulkan riwayat-riwayat Hadits ini dalam Jami’ul Ushul, dan dari situlah kami menukil Hadits-Hadits ini (Jami’ul Ushul: 10/553).

[5] Riwayat At-Tirmidzi (2598) serupa dengan riwayat Muslim (186): Al-Bukhori: 11/386, dalam Kitab Ar-Riqoq, bab: Shifatul Jannah wan Naar, dan dalam At-Tauhid, bab: Kalaamur Robb ‘Azza wa Jalla Yawmal Qiyamah ma’a Al-Anbiya’ wa Ghoyrihim. Muslim no. 186 dalam Kitab Al-Iiman, bab: Aakhir Ahlun Naar Khuruujan. At-Tirmidzi no. 2598 dalam Shifatu Jahannam, bab no. 10.


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url