Sifat Kalam Nafsi (Berfirman) Bagi Allah yang Diklaim Asyairoh Sebagai Ahlus Sunnah
Kalangan Asy’ariyah tampil beda dengan menetapkan apa yang
disebut sebagai Kalam Nafsi (firman di dalam diri) bagi Alloh Subhanahu wa
Ta’ala. Mereka tidak menetapkan apa yang ditetapkan oleh Ahlussunnah wal
Jama’ah bahwa Alloh itu berbicara kapan pun Dia kehendaki dengan suara dan
huruf. Sebaliknya, menurut Asy’ariyah, firman Alloh itu tanpa suara yang
didengar dan tanpa huruf yang dibaca!
Di sini saya nukilkan perkataan para tokoh Asy’ariyah
mengenai sifat Kalam bagi Alloh Azza wa Jalla dari kitab-kitab mereka.
Setelah itu, saya sajikan dalil-dalil dari Al-Kitab, Sunnah, dan ijma’ atas
penetapan sifat ini bagi Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Pembaca akan
menemukan sendiri jurang perbedaan yang sangat lebar antara perkataan serta
keyakinan Salaf mengenai firman Alloh dengan perkataan serta keyakinan
Asy’ariyah.
(A) Perkataan tokoh-tokoh Asy’ariyah mengenai sifat
firman (Kalam) Alloh
1. Al-Baqillani (403 H) berkata:
َูุฌِุจُ ุฃู ُูุนَูู
َ ุฃَّู ุงَููู ุชَุนุงูู ูุง َูุชَّุตُِู َููุงู
ُู ุงَููุฏูู
ُ ุจุงูุญُุฑِูู
ูุงูุฃุตْูุงุชِ
“Wajib diketahui bahwa Alloh Ta’ala, firman-Nya yang
qodim (terdahulu)
tidaklah disifati dengan huruf maupun suara.” (At-Tamhid, hal. 94).
2. Thohir
bin Muhammad Al-Asfiroyini (429 H) berkata:
َููุงู
ُ ุงِููู ุชَุนุงูู ููุณ ุจุญَุฑٍْู ููุง ุตَْูุชٍ
“Firman Alloh Ta’ala bukanlah berupa huruf dan bukan
pula suara.” (At-Tabshir fi ad-Din wa Tamyiz al-Firqoh an-Najiyah ‘an al-Firoq al-Halikin, hal. 167).
3. Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini (478 H) menyatakan:
ุงَูููุงู
َ ุนْูุฏَ ุฃِْูู ุงูุญَِّู ู
َุนًูู ูุงุฆِู
ٌ ุจุงَّْูููุณِ ููุณ ุจุญَุฑٍْู ููุง ุตَْูุชٍ
“Berbicara menurut pengikut kebenaran (Ahlu Haqq) adalah
makna yang ada di dalam diri, bukan berupa huruf dan bukan suara.” (Sumber
yang sama, hal. 147).
4. Abu Hamid Al-Ghozali (505 H) berkata:
ู
ูุณู ๏ทบ ุณَู
ِุนَ َููุงู
َ ุงِููู ุจุบَْูุฑِ ุตَْูุชٍ ููุง ุญَุฑٍْู!
“Musa ‘alaihis salam mendengar firman Alloh tanpa
suara dan tanpa huruf![1]” (Qowa’id al-‘Aqo’id, hal. 59).
5. Fakhruddin Ar-Rozi (606 H) berkata tentang firman Alloh Azza wa Jalla:
ููู ููุณ ุจุญَุฑٍْู ููุง ุตَْูุชٍ
“Ia bukanlah huruf dan bukan pula suara.” (Al-Isyaroh fi ‘Ilm al-Kalam, hal.
205).
6. Al-Amidi (631 H) mengatakan:
ู
َุนْูู َِْูููู ู
ُุชَِّููู
ًุง ุนْูุฏَ ุฃุตْุญุงุจِูุง: ุฃَّูู ูุงู
َ ุจุฐุงุชِู َููุงู
ٌ، َูุฏูู
ٌ،
ุฃุฒٌَِّูู َْููุณุงٌّูู، ุฃَุญَุฏٌّู ุงูุฐَّุงุชِ، ููุณ ุจุญُุฑٍูู، ููุง ุฃุตْูุงุชٍ
“Makna keberadaan-Nya sebagai Yang Berbicara menurut
kawan-kawan kami (Asy’ariyah) adalah: Bahwa pada zat-Nya terdapat Kalam yang
qadim, azali, bersifat psikis (nafsani), zat yang tunggal, tidak berupa
huruf-huruf dan tidak pula suara-suara.” (Abkar al-Afkar fi Ushul ad-Din,
1/353).
7. Ash-Shawi (1241 H) berkata:
ุชَْูููู
ُ ุงِููู ูู
ูุณู ุนูู ุงูุฌَุจَِู ูุงู ุจุงَูููุงู
ِ ุงَّْูููุณِّู ุนูู ุงูุชَّุญِْููู
ุนْูุฏَ ุงูุฃุดุงุนِุฑุฉِ
“Pembicaraan Alloh kepada Musa di atas gunung adalah dengan
Kalam Nafsi, menurut pendapat yang benar di sisi Asy’ariyah.” (Syarh Ash-Showi
‘ala Jauharot at-Tauhid, hal. 183).
Inilah ucapan-ucapan para tokoh Asy’ariyah dan keyakinan
mereka bahwa firman Alloh adalah Kalam Nafsi, bukan berupa huruf yang ditulis
dan bukan pula suara yang didengar. Perkataan semacam ini tidak pernah
diucapkan walau satu huruf pun oleh seorang pun dari kalangan Salaf Ahlussunnah
wal Jama’ah serta generasi tiga kurun terbaik dari para Sohabat, Tabi’in, dan
pengikut Tabi’in. Maka, apakah masih benar setelah ini jika Asy’ariyah
menisbatkan diri kepada mereka, padahal mereka tidak sejalan sedikit pun,
bahkan dalam satu huruf pun dari ucapan mereka mengenai salah satu sifat Alloh Azza
wa Jalla yang paling agung? Bahkan para Salaf berada pada posisi yang
sangat bertolak belakang dengan semua itu!
(B)
Dalil-Dalil Dari Al-Kitab, Sunnah, dan Ijma’ Bahwa Alloh Berbicara dengan Suara yang Terdengar dan Huruf yang Terbaca
Dalil-dalil dari Al-Kitab dan Sunnah yang menyatakan bahwa Alloh
berbicara dengan suara yang terdengar sangatlah banyak, dan datang dengan
berbagai macam istilah;
Kadang menggunakan istilah berkata (al-qoul), memanggil (an-nida’),
berbicara (at-taklim), dialog (at-tahawur), serta tanya jawab.
Semuanya menunjukkan bahwa firman Alloh itu terdengar.
Adapun klaim Asy’ariyah bahwa firman Alloh adalah Kalam
Nafsi (bisikan jiwa), maka hal semacam ini tidak dikenal oleh bangsa Arob,
karena apa yang ada di dalam jiwa tidaklah dinamakan pembicaraan (kalam).
(a) Dalil-dalil
dari Al-Kitab:
1. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿َََّูููู
َ ุงَُّููู ู
ُูุณَٰู ุชَِْูููู
ًุง﴾
“Dan Alloh telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (QS.
An-Nisa: 164).
2. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿ََููุฏْ َูุงَู َูุฑٌِูู
ู
ُِّْููู
ْ َูุณْู
َุนَُูู ََููุงู
َ ุงَِّููู﴾
“Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Alloh.” (QS.
Al-Baqoroh: 75).
3. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿َูุฅِْู ุฃَุญَุฏٌ
ู
َِّู ุงْูู
ُุดْุฑَِِููู ุงุณْุชَุฌَุงุฑََู َูุฃَุฌِุฑُْู ุญَุชَّٰู َูุณْู
َุนَ ََููุงู
َ ุงَِّููู﴾
“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik itu meminta
perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Alloh.”
(QS. At-Taubah: 6).
Ayat-ayat mengenai hal ini sangat banyak, bisa ditemukan
lebih lengkap di sumber aslinya.
(b) Dalil-dalil
dari Sunnah:
Di antara dalil paling tegas yang membedakan antara
pembicaraan (kalam) dengan bisikan jiwa (hadits nafsi) adalah hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ๏ทบ bahwa beliau bersabda:
«ุฅَِّู ุงََّููู ุชَุฌَุงَูุฒَ ุนَْู ุฃُู
َّุชِู ู
َุง ุญَุฏَّุซَุชْ
ุจِِู ุฃَُْููุณََูุง ู
َุง َูู
ْ ุชَุนْู
َْู ุฃَْู ุชَุชَََّููู
ْ»
“Sungguh Alloh memaafkan bagi umatku apa yang dibisikkan
oleh jiwanya, selama ia belum mengerjakannya atau membicarakannya.” (HR.
Al-Bukhori no. 5269 dengan redaksi ini, dan Muslim no. 127).
Dalam hadits ini terdapat pembedaan yang jelas antara
bisikan jiwa dengan pembicaraan (kalam), dan bahwa bisikan jiwa itu tidak
dianggap sebagai pembicaraan, sehingga seseorang tidak dihukum karenanya.
Dalil lain yang membedakan antara pembicaraan dengan bisikan
jiwa —atau yang disebut Asy’ariyah sebagai Kalam Nafsi— adalah sabda Nabi ๏ทบ:
«ุฅَِّู
َูุฐِِู ุงูุตََّูุงุฉَ َูุง َูุตُْูุญُ َِูููุง ุดَْูุกٌ ู
ِْู ََููุงู
ِ ุงَّููุงุณِ، ุฅَِّูู
َุง َُูู
ุงูุชَّุณْุจِูุญُ َูุงูุชَّْูุจِูุฑُ َِููุฑَุงุกَุฉُ ุงُْููุฑْุขِู»
“Sungguh Sholat ini tidak boleh ada sedikit pun pembicaraan
manusia di dalamnya. Sholat itu hanyalah tasbih, takbir, dan membaca
Al-Qur’an.” (HR. Muslim no. 537 dari hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami
rodhiyallahu ‘anhu).
Pembicaraan (kalam) membatalkan Sholat, sedangkan bisikan
jiwa tidak membatalkannya. Hal ini menunjukkan perbedaan nyata antara keduanya.
1. Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, di dalamnya
disebutkan:
«ََููุฃْุชِِููู
ُ
ุงَُّููู ََُُููููู: ุฃََูุง ุฑَุจُُّูู
ْ، َََُُููููููู: َูุฐَุง ู
ََูุงَُููุง ุญَุชَّู َูุฃْุชََِููุง
ุฑَุจُّูุง، َูุฅِุฐَุง ุฌَุงุกَ ุฑَุจُّูุง ุนَุฑََْููุงُู، ََููุฃْุชِِููู
ُ ุงَُّููู ََُُููููู: ุฃََูุง
ุฑَุจُُّูู
ْ، َََُُููููููู ุฃَْูุชَ ุฑَุจُّูุง، ََููุฏْุนُُููู
ْ َُููุถْุฑَุจُ ุงูุตِّุฑَุงุทُ ุจََْูู
ุธَْูุฑَุงَْูู ุฌَََّููู
َ»... ุงูุญุฏูุซ
“...Maka Alloh mendatangi mereka lalu berfirman: ‘Akulah Robb kalian?’ Mereka pun berkata: ‘Inilah tempat
kami sampai Robb kami
datang. Jika Robb kami telah datang, kami pasti mengenali-Nya’ Lalu Alloh
mendatangi mereka dan berfirman: ‘Akulah Robb kalian’ Mereka pun menjawab:
‘Engkau adalah Tuhan kami’ Kemudian Dia memanggil mereka, lalu dibentangkanlah
jembatan (shiroth) di atas Neraka Jahannam...” (HR. Al-Bukhori no.
806 dengan redaksi ini, dan Muslim no. 182).
Jawaban mereka yang mengatakan: “Engkau adalah Robb kami,” merupakan dalil
nyata bahwa mereka benar-benar mendengar Robb mereka saat Dia berfirman: “Akulah Robb kalian.”
2. Darinya,
bahwa Rosululloh ๏ทบ bersabda:
«َูุชَุนَุงَูุจَُูู ُِูููู
ْ ู
ََูุงุฆَِูุฉٌ ุจِุงَِّْูููู
َูู
ََูุงุฆَِูุฉٌ ุจِุงَّูููุงุฑِ، ََููุฌْุชَู
ِุนَُูู ِูู ุตََูุงุฉِ ุงูุนَุตْุฑِ َูุตََูุงุฉِ ุงَููุฌْุฑِ،
ุซُู
َّ َูุนْุฑُุฌُ ุงَّูุฐَِูู ุจَุงุชُูุง ُِูููู
ْ ََููุณْุฃَُُููู
ْ ََُููู ุฃَุนَْูู
ُ ุจُِูู
ْ،
ََُُููููู: ََْููู ุชَุฑَْูุชُู
ْ ุนِุจَุงุฏِู؟ َََُُููููููู: ุชَุฑََْููุงُูู
ْ َُููู
ْ ُูุตََُّููู،
َูุฃَุชََْููุงُูู
ْ َُููู
ْ ُูุตََُّููู»
“Para Malaikat bergantian menjaga kalian di waktu malam dan
siang. Mereka berkumpul pada waktu Sholat Ashar dan Sholat Fajar. Kemudian para
Malaikat yang bermalam bersama kalian naik ke atas, lalu Alloh bertanya kepada
mereka —padahal Dia lebih tahu tentang kalian—: ‘Bagaimana kalian meninggalkan
hamba-hamba-Ku?’ Mereka menjawab: ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan Sholat,
dan kami mendatangi mereka pun dalam keadaan Sholat.’” (HR. Al-Bukhori no. 7429 dengan
redaksi ini, dan Muslim no. 632).
Ini adalah dalil nyata bahwa para Malaikat mendengar Robb mereka saat Dia
bertanya: “Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku?” Mereka pun
menjawabnya. Hal ini juga menjadi dalil bahwa pembicaraan tersebut terjadi pada
waktu tertentu yang baru (hadits), dan inilah yang diingkari oleh Asy’ariyah!!
3. Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu, dari
Nabi ๏ทบ beliau bersabda:
«َُُูููู ุงَُّููู ุชَุนَุงَูู َูุง ุขุฏَู
ُ، ََُُููููู:
َูุจََّูู، َูุณَุนْุฏََْูู، َูุงْูุฎَْูุฑُ ِูู َูุฏََْูู. ََُُููููู: ุฃَุฎْุฑِุฌْ ุจَุนْุซَ ุงَّููุงุฑِ،
َูุงَู: َูู
َุง ุจَุนْุซُ ุงَّููุงุฑِ؟ َูุงَู: ู
ِْู ُِّูู ุฃٍَْูู ุชِุณْุนَู
ِุงุฆَุฉٍ َูุชِุณْุนَุฉً
َูุชِุณْุนَِูู»... ุงูุญุฏูุซ
“Alloh Ta’ala berfirman: ‘Wahai Adam?’ Maka Adam
menjawab: ‘Aku penuhi panggilan-Mu dengan penuh kebahagiaan, dan segala
kebaikan ada di tangan-Mu’ Alloh berfirman: ‘Keluarkanlah rombongan penghuni Neraka’
Adam bertanya: ‘Apa itu rombongan penghuni Neraka?’ Alloh menjawab: ‘Dari
setiap seribu orang, ada 999
orang.’” (HR. Al-Bukhori no. 3348 dengan redaksi ini, dan Muslim no. 222).
Di sini terdapat khitob (percakapan) dari Alloh dan perintah
dari-Nya kepada Adam ‘alaihis salam tanpa perantara. Adam mendengarnya
lalu meminta penjelasan kepada Robbnya,
dan Dia pun menjawab
sesuai dengan keagungan-Nya. Hadits-hadits mengenai ini sangatlah banyak, bisa
ditemukan lebih lengkap di sumber aslinya.
(c) Dalil-dalil
dari Ijma’ (Kesepakatan Ulama):
1. Abu Nashr As-Sijzi (444 H) berkata:
ุงูุฅุฌْู
َุงุนُ ู
ُْูุนَِูุฏٌ ุจََْูู ุงูุนََُููุงุกِ ุนََูู َِْููู ุงََูููุงู
ِ ุญَุฑًْูุง َูุตَْูุชًุง
“Telah terjalin kesepakatan di antara orang-orang berakal
bahwa yang namanya pembicaraan (kalam) itu pastilah berupa huruf dan suara.” (Risalah
As-Sijzi ila Ahli Zubaid, hal. 118).
2. Qiwamussunnah (535 H) menyatakan:
ู
َุฐَْูุจُ ุฃَِْูู ุงูุณَُّّูุฉِ ุฌَู
ِูุนًุง ุฃََّู ุงُْููุฑْุขَู ََููุงู
ُ ุงَِّููู ุขَูุฉً
ุขَูุฉً، ََِูููู
َุฉً َِููู
َุฉً، َูุญَุฑًْูุง ุญَุฑًْูุง ِูู ุฌَู
ِูุนِ ุฃَุญَْูุงِِูู، ุญَْูุซُ ُูุฑِุฆَ
َُููุชِุจَ َูุณُู
ِุนَ
“Mazhab Ahlussunnah semuanya meyakini bahwa Al-Qur’an adalah
firman Alloh ayat demi ayat, kata demi kata, dan huruf demi huruf dalam segala
kondisinya, baik saat dibaca, ditulis, maupun didengar.” (Al-Hujjah fi Bayan
al-Mahajjah, 1/370-373).
3. Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah (620 H) berkata:
َูุฅِْู َِููู: َูู
َุง ุงูุฏَّูุงَูุฉُ ุนََูู ุงูุตَّْูุชِ ِูู َููุงู
ِ ุงَِّููู ุชَุนَุงَูู؟
َُْูููุง: ุงِْููุชَุงุจُ َูุงูุณَُّّูุฉُ َูุงูุฅِุฌْู
َุงุนُ ... َูุฃَู
َّุง ุงูุฅِุฌْู
َุงุนُ: َูุฅََِّููุง
ุฃَุฌْู
َุนَْูุง ุนََูู ุฃََّู ู
ُูุณَู ุณَู
ِุนَ َููุงู
َ ุงَِّููู ุชَุนَุงَูู ู
ُِْูู ุจِุบَْูุฑِ َูุงุณِุทَุฉٍ،
َูุงูุตَّْูุชُ َُูู ู
َุง ุณُู
ِุนَ
“Jika ada yang bertanya: ‘Apa dalil adanya suara dalam
firman Alloh Ta’ala?’ Kami jawab: ‘Al-Kitab, Sunnah, dan ijma?’.. Adapun
ijma’, maka sungguh kita telah sepakat bahwa Musa mendengar firman Alloh Ta’ala
dari-Nya tanpa perantara, dan suara adalah apa yang didenga?’” (Al-Burhan fi
Bayan Al-Qur’an, hal. 158).
Dengan demikian, menjadi sangat jelas bahwa Alloh Subhanahu
benar-benar telah berfirman dalam Al-Qur’an dengan huruf-hurufnya. Jibril ‘alaihis
salam mendengarnya dari Alloh, lalu Jibril memperdengarkannya kepada
Muhammad ๏ทบ, dan Muhammad ๏ทบ memperdengarkannya kepada umatnya. Inilah
mazhab Salaf Ahlussunnah wal Jama’ah, dan dalil-dalil dari Al-Kitab, Sunnah,
serta ijma’ Salaf telah dipaparkan sebelumnya.
Adapun kalangan Asy’ariyah, mereka justru menyalahi itu
semua. Mereka menyifati Alloh dengan Kalam Nafsi, suatu pendapat yang mereka
buat-buat sendiri dan tidak pernah dikatakan oleh siapa pun sebelum mereka.
Mereka mengingkari bahwa Alloh berbicara dengan suara yang terdengar,
mengingkari adanya huruf, sehingga mereka telah menyelisihi dalil Al-Qur’an,
Sunnah, dan apa yang disepakati oleh Salafus Sholih Ahlussunnah wal Jama’ah.
[1] Ini adalah kontradiksi! Sebab segala sesuatu yang
didengar dan ditangkap oleh telinga pastilah berupa suara.
