Sifat Ketinggian (Uluw) dan Keberadaan Allah Ta’ala di Atas yang Menurut Asyairoh Diklaim Sebagai Ahlus Sunnah
Salah satu persoalan terbesar yang di dalamnya kalangan
Asy’ariyah menyelisihi mazhab Salaf Ahlussunnah wal Jama’ah adalah tentang
sifat ketinggian (Uluw) Alloh Ta’ala.
Ahlussunnah wal Jama’ah secara keseluruhan menetapkan sifat
ketinggian bagi Alloh, dan mereka meyakini bahwa Alloh berada di atas langit.
Bahkan, masyarakat awam yang memiliki fitroh yang masih lurus pun meyakini hal tersebut. Namun, kalangan
Asy’ariyah justru membuat-buat pendapat baru yang tidak pernah diucapkan oleh
siapa pun sebelum mereka, yaitu klaim bahwa Alloh itu tidak di dalam alam dan
tidak di luar alam, tidak di atas dan tidak pula di bawah.
Berikut ini saya nukilkan perkataan tokoh-tokoh Asy’ariyah
yang mengingkari ketinggian Alloh Azza wa Jalla dan mengingkari bahwa
Dia berada di langit, diambil dari kitab-kitab otoritatif mereka. Setelah itu,
saya akan menyajikan dalil-dalil dari Al-Kitab, Sunnah, dan ijma’ yang
menetapkan sifat Uluw bagi Alloh Azza wa Jalla dan bahwa Dia berada di
langit. Pembaca akan menemukan sendiri betapa jauhnya jarak antara aqidah dan
manhaj Salaf Ahlussunnah wal Jama’ah yang sesungguhnya dengan aqidah
Asy’ariyah.
(A) Perkataan tokoh-tokoh Asy’ariyah mengenai sifat
ketinggian (Uluw) Alloh Ta’ala
1. Al-Qusyairi (465 H) berkata tentang Alloh Tabaroka wa Ta’ala:
لا له جِهةٌ ولا مَكانٌ، ولا يَجْري عليه وَقْتٌ وزَمانٌ
“Dia tidak memiliki arah maupun tempat, dan tidak pula
berlaku bagi-Nya waktu dan zaman.” (Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, 1/32).
Ia
juga berkata saat menafsirkan firman Alloh Ta’ala:
﴿أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ
يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ﴾
“Apakah kalian merasa aman terhadap (Alloh) yang di langit bahwa
Dia akan menenggelamkan kalian ke dalam bumi” (QS. Al-Mulk: 16):
مَنْ فِي السَّمَاءِ: أرادَ بهم المَلائِكةَ الَّذين يَسكُنونَ السَّماءَ
“Maksud dari ‘Siapa yang di langit’ adalah para Malaikat yang
menghuni langit!” (Latho’if al-Isyarot, 3/614).
2. Al-Ghozali
(505 H) berkata:
أَدِلَّةُ العُقولِ دَلَّت على اسْتِحالةِ المَكانِ، والجِهةِ ... على الله سُبْحانَه؛
فوَجَبَ التَّأويلُ بأَدِلَّةِ العُقولِ
“Dalil-dalil logika menunjukkan mustahilnya tempat dan arah
bagi Alloh Subhanahu, maka wajib melakukan takwil berdasarkan
dalil-dalil logika tersebut.” (Tahafut al-Falasifah, hal. 293).
3. Fakhruddin Ar-Razi (606 H) menyatakan:
الباري سُبحانَه وتعالى موجودٌ لا داخِلَ العالَمِ ولا خارِجًا عنه، ولا متَّصِلًا
بالعالَمِ ولا منفَصِلًا عنه
“Sang Pencipta Subhanahu wa Ta’ala itu ada,
namun tidak di dalam alam dan tidak di luar alam, tidak bersambung dengan alam
dan tidak pula terpisah darinya.” (Al-Matholib al-‘Aliyah min al-‘Ilm al-Ilahi, 7/50).
4. Al-Jurjani (816 H) berkata:
اللهُ تعالى ليس في جهةٍ من الجِهاتِ ولا في مكانٍ من الأمكِنةِ
“Alloh Ta’ala tidak berada di arah mana pun dan tidak
pula di tempat mana pun.” (Sumber yang sama, 3/32, 36).
5. Sa’id Faudah
(kontemporer) mengatakan:
العُلُوُّ الثَّابِتُ للهِ عندَ أهلِ الحَقِّ ليس على طريقِ كَونِ اللهِ في جِهةِ
العُلُوِّ، أي: عاليًا على خَلقِه بالمسافةِ؛ لأنَّ هذا لا يكونُ إلَّا بينَ الأجسامِ
“Ketinggian yang ditetapkan bagi Alloh menurut pengikut
kebenaran (Ahlu Haqq) bukanlah bermakna Alloh berada di arah atas, yaitu tinggi
di atas makhluk-Nya secara jarak; karena hal semacam ini hanya terjadi di
antara benda-benda fisik.” (Sumber yang sama, hal. 276).
Ia
juga berkata:
كَذَب مَن قال: إنَّ اللهَ تعالى في جِهةِ الفَوقِ، مدَّعيًا أنَّ الفَوقَ أشرَفُ
الجِهاتِ
“Dusta orang yang mengatakan bahwa Alloh Ta’ala
berada di arah atas dengan klaim bahwa atas adalah arah yang paling mulia.” (Asy-Syarh
al-Kabir ‘ala al-‘Aqidah
ath-Thohawiyyah,
hal. 724).
Inilah ucapan-ucapan mereka mengenai ketinggian dan
keberadaan Alloh di atas, dan inilah aqidah mereka. Mereka mengingkari bahwa Alloh
berada di atas makhluk-Nya dan mengingkari bahwa Dia berada di langit. Tidak
ditemukan satu pun orang Asy’ari yang meyakini hal itu, meskipun dalil-dalil
dari Al-Kitab, Sunnah, serta banyaknya perkataan Salaf sangatlah melimpah dan
sejelas matahari di siang bolong.
(B) Dalil-dalil ketinggian Alloh di atas
makhluk-Nya dan bahwa Dia di langit dari Kitabullah Azza wa Jalla
Tidak ada satu pun sifat Alloh Ta’ala yang disebutkan
dalam Al-Qur’an sebanyak penyebutan sifat ketinggian (Uluw). Hal ini disebutkan
dengan ayat-ayat yang sangat jelas, lugas, dan menggunakan berbagai redaksi
yang semuanya menunjukkan makna ketinggian dan keberadaan di atas;
Kadang disebutkan dengan redaksi pengangkatan (rof’u), kenaikan (‘uruj),
dan pendakian (shu’ud) kepada-Nya. Kadang pula dengan redaksi penurunan
(nuzul) dan kejatuhan (hubuth) dari sisi-Nya. Dan yang lebih
tegas dari itu semua adalah pernyataan bahwa Dia Subhanahu berada di atas langit. Dalam Al-Qur’an
terdapat puluhan ayat yang menunjukkan ketinggian dan keberadaan Alloh di atas,
serta bahwa Dia berada di atas langit, namun kemudian kalangan Asy’ariyah
mengingkari semua itu!
Di sini saya cukupkan dengan tiga ayat saja:
1. Firman Alloh Ta’ala:
﴿أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ
يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ﴾
“Apakah kalian merasa aman terhadap (Alloh) yang di langit
bahwa Dia akan menenggelamkan kalian ke dalam bumi, lalu tiba-tiba bumi itu
berguncang?” (QS. Al-Mulk: 16).
2. Firman-Nya:
﴿إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ
وَالْعَمَلُ الصَّالحُ يَرْفَعُهُ﴾
“Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal sholih
diangkat-Nya.” (QS. Fathir: 10).
3. Firman-Nya:
﴿وَآَمِنُوا بِمَا
أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ﴾
“Dan berimanlah kalian kepada apa yang telah Aku turunkan
(Al-Qur’an) yang membenarkan apa yang ada pada kalian.” (QS. Al-Baqoroh: 41).
Dalam Al-Qur’an terdapat lebih dari 100 ayat yang
menyebutkan bahwa sesuatu itu turun dari sisi Alloh (dengan kata kerja: nazala,
anzalna, nazzala, anzalnahu, unzilat, dan sebagainya). Dalam surat Al-Baqoroh saja terdapat 20 ayat.
(C) Dalil-dalil dari Sunnah:
1. Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu,
beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَلَا تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي
السَّمَاءِ، يَأْتِينِي خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً»
“Tidakkah kalian memercayaiku, padahal aku adalah orang
kepercayaan dari (Alloh) yang ada di atas langit? Berita dari langit datang kepadaku pagi dan sore...”
(HR. Al-Bukhori no. 4351 dan Muslim no. 1064).
2. Hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami rodhiyallahu
‘anhu, di dalamnya diceritakan bahwa ia pernah memukul seorang budak
perempuannya lalu ingin memerdekakannya:
فأتَيْتُ رَسولَ اللهِ ﷺ فَعَظَّمَ ذلكَ عَلَيَّ، قُلتُ: يا رَسولَ اللهِ، أفلا أُعْتِقُهَا؟ قالَ: «ائْتِنِي
بهَا» فأتَيْتُهُ بهَا، فَقالَ لَهَا: «أيْنَ اللَّهُ؟» قالَتْ: في السَّمَاءِ، قالَ:
«مَن أنَا؟» قالَتْ: أنْتَ رَسولُ اللهِ، قالَ: «أعْتِقْهَا، فإنَّهَا مُؤْمِنَةٌ»
“...Lalu aku mendatangi Rosululloh ﷺ
dan beliau menganggap perbuatanku itu sebagai perkara yang besar (salah). Aku
pun berkata: ‘Wahai Rosululloh, apakah aku tidak memerdekakannya saja?’ Beliau
bersabda: ‘Bawa dia kemari’
Lalu aku membawanya kepada beliau. Beliau bertanya kepada budak itu: ‘Di mana Alloh?’
Budak itu menjawab: ‘Di langit’
Beliau bertanya lagi: ‘Siapa aku?’ Ia menjawab: ‘Anda adalah utusan Alloh’ Beliau bersabda: ‘Merdekakanlah
dia, karena sungguh ia adalah seorang wanita yang beriman’” (HR. Muslim no. 537).
3. Dari Anas rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
فَكَانَتْ زَيْنَبُ تَفْخَرُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ ﷺ، تَقُولُ: زَوَّجَكُنَّ أَهَالِيكُنَّ،
وَزَوَّجَنِي اللَّهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَوَاتٍ
“...Zainab dulu sering membanggakan diri di hadapan
istri-istri Nabi ﷺ yang lain, ia berkata: ‘Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian,
sedangkan aku dinikahkan oleh Alloh Ta’ala dari atas tujuh langi?’” (HR.
Al-Bukhori no. 7420).
Adakah dalil yang lebih tegas daripada hadits-hadits ini
untuk membuktikan bahwa Alloh berada di atas langit?!
Bahkan seandainya tidak ada dalil kecuali perbuatan
mengangkat kedua tangan ke arah langit saat berdoa, itu pun sudah cukup menjadi
bukti;
Sebab doa adalah ibadah yang tidak boleh dipalingkan dan
diarahkan kecuali kepada Alloh Azza wa Jalla[1]
sementara dalil-dalil Sunnah tentang mengangkat tangan ke langit dalam doa
sangatlah banyak tak terhitung.
(D) Ijma’ (Kesepakatan) Ulama Salaf atas ketinggian
Alloh dan keberadaan-Nya di atas, serta bahwa Dia berada di langit
1. Imam Utsman bin Sa’id Ad-Darimi (280 H) berkata:
وقد اتَّفَقَتِ الكَلِمةُ مِنَ المُسلِمينَ والكافِرينَ أنَّ اللهَ في السَّماءِ
“Telah sepakat kalimat dari kalangan Muslimin maupun orang
kafir bahwa Alloh itu berada di langit.” (Naqdh Al-Imam Abi Sa’id ‘ala
Al-Jahmi Al-’Anid, 1/228).
2. Al-Hafizh Abu Nu’aim Al-Ashbahani (430 H) dalam kitabnya Al-I’tiqod menyatakan:
طريقتُنا طريقةُ السَّلَفِ المتَّبِعينَ للكِتابِ والسُّنَّةِ وإجماعِ الأمَّةِ،
وممَّا اعتقدوه: ... أنَّ اللهَ بائنٌ مِن خَلقِه، والخَلقُ بائنون منه، لا يَحُلُّ
فيهم ولا يمتزِجُ بهم، وهو مستوٍ على عرشِه في سمائِه من دونِ أرضِه
“Jalan kami adalah jalan para Salaf yang mengikuti Al-Kitab,
Sunnah, dan ijma’ umat. Di antara yang mereka yakini adalah: ... bahwa Alloh
itu terpisah dari makhluk-Nya, dan makhluk terpisah dari-Nya; Dia tidak
menempati mereka dan tidak bercampur dengan mereka. Dia bersemayam di atas
Arsy-Nya di langit-Nya, bukan di bumi-Nya.” (Lihat: Al-‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar karya Adz-Dzahabi, hal.
243).
3. Ibnu Abdil Barr (463 H) berkata setelah menyebutkan
hadits nuzul (turunnya Alloh):
فيه دليلٌ على أنَّ اللهَ عزَّ وجَلَّ في السَّماءِ على العرشِ من فوقِ سَبعِ
سَمواتٍ، كما قالت الجماعـةُ
“Di dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa Alloh Azza
wa Jalla berada di langit, di atas Arsy, di atas tujuh langit, sebagaimana
yang dikatakan oleh Al-Jama’ah (Ahlussunnah).” (At-Tamhid, 7/129).
Mereka itulah Salaf umat ini dari kalangan Sohabat, Tabi’in,
dan para pengikut Tabi’in. Tidak ada yang mengingkari bahwa merekalah
Ahlussunnah wal Jama’ah. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali menetapkan
sifat ketinggian bagi Alloh dan bahwa Dia berada di langit dengan zat-Nya.
Lantas, adakah satu saja orang Asy’ari yang mampu membawakan satu saja ucapan
dari salah seorang mereka yang mengingkari ketinggian Alloh Subhanahu wa
Ta’ala atau menafikan bahwa Dia berada di langit dengan zat-Nya?!
Bagaimana mungkin mereka menisbatkan diri kepada Salaf dan
kepada Ahlussunnah wal Jama’ah, padahal mereka telah menyelisihi Ahlussunnah
wal Jama’ah, bahkan menyelisihi kesepakatan mereka?!
Ini adalah sebuah kerancuan logika dan sikap keras kepala,
yang sayangnya telah mengelabui sebagian orang yang tidak memiliki ilmu tentang
perkataan para Salaf.
[1] Di antara keanehan sebagian orang Asy’ariyah adalah
ketika mereka didebat dengan argumen ini, mereka menjawab: Sesungguhnya
mengangkat tangan dalam doa ke arah langit itu hanyalah karena langit adalah
kiblat doa, bukan karena Alloh berada di langit! Sebagaimana Ka’bah adalah
kiblat Sholat. Lalu Al-‘Umroni Asy-Syafi’i (558 H) membantah mereka dalam
kitabnya Al-Intishor (2/609) dengan berkata: “Ini adalah pengaburan
fakta dan bentuk pembangkangan terhadap apa yang tertera dalam Al-Qur’an,
Sunnah, serta apa yang diyakini oleh para ulama dari kalangan Sohabat dan
Tabi’in. Adapun ucapannya bahwa langit adalah kiblat doa, maka dikatakan
kepadanya: Jika benar seperti yang kau katakan, niscaya doa seseorang tidak sah
kecuali jika ia menghadapkan tangannya ke langit, sebagaimana Sholat tidak sah
kecuali dengan menghadap Ka’bah.”
