Cari Artikel

Mempersiapkan...

SAAT PENUNDAAN GAJI MENGHANCURKAN KEHIDUPAN

 

Seorang majikan mungkin melihat angka di layar komputer atau di dalam buku kas sebagai sekadar angka finansial. Namun bagi seorang pekerja, angka tersebut adalah nafas, harapan, dan martabat keluarga mereka. Ketika seorang bos memutuskan untuk menunda pembayaran gaji dengan alasan “cash flow” (arus kas) perusahaan yang terhambat, atau sekadar karena kelalaian, ia sebenarnya sedang melepaskan serangkaian bom waktu yang siap menghancurkan struktur kehidupan sosial karyawannya.

3.1: Rantai Kewajiban yang Terputus

Pekerja Anda bukan hidup di ruang hampa. Mereka memiliki jadwal kewajiban yang sangat ketat. Setiap tanggal 1, 5, atau 10, ada tagihan yang tidak bisa menunggu. Ada sewa rumah yang harus dibayar, tagihan listrik agar lampu tetap menyala, dan yang paling menyedihkan: biaya pendidikan anak-anak mereka.

﴿لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Alloh kepadanya.” (QS. At-Tholaq: 7)

Ketika Anda menunda gaji, Anda secara paksa menjadikan pekerja Anda “orang yang disempitkan rezekinya”. Akibatnya, mereka gagal menunaikan kewajiban nafkah. Bayangkan seorang ayah yang harus menunduk malu di depan sekolah anaknya karena SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) belum terbayar. Anak tersebut mungkin harus menerima teguran di depan kelas, atau bahkan dilarang mengikuti ujian. Semua itu bukan karena sang ayah malas bekerja, tapi karena haknya ditahan oleh tangan-tangan zholim.

3.2: Terjerumus ke Lubang Hutang dan Riba

Satu dampak paling mengerikan dari penundaan gaji adalah pekerja terpaksa mencari pinjaman darurat. Seringkali, karena desakan perut yang lapar dan tangisan anak yang meminta susu, mereka terjebak pada pinjaman “rentenir” atau pinjaman online yang mengandung riba.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqoroh: 278)

Secara tidak langsung, majikan yang menunda gaji telah mendorong bawahannya menuju pintu kemaksiatan riba. Setiap bunga yang dibayarkan oleh pekerja tersebut, setiap tetes keringat tambahan yang ia keluarkan untuk melunasi hutang gara-gara gajinya terlambat, akan menjadi tuntutan yang berat di hadapan Alloh . Sang majikan telah menjadi sebab saudaranya tercekik hutang.

3.3: Hilangnya Keharmonisan Rumah Tangga

Berapa banyak pertengkaran suami-istri yang terjadi di rumah pekerja hanya karena dapur yang tidak mengepul? Ketika seorang suami pulang dengan tangan hampa di hari gajian, sementara sang istri sudah menunggu untuk membeli kebutuhan pokok, maka muncullah ketegangan.

Nabi bersabda:

«كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ»

“Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.” (HHR. Abu Dawud no. 1692)

Wahai para majikan, saat Anda sedang makan malam mewah di restoran bersama keluarga, ingatlah bahwa di luar sana ada pekerja Anda yang sedang tertunduk lesu menghadapi tangisan istrinya. Anda telah membuat seorang Mu’min merasa gagal menjadi kepala keluarga yang wibawa. Anda telah merusak kebahagiaan sebuah rumah tangga.

3.4: Beban Psikologis dan Hilangnya Harga Diri

Pekerja yang gajinya ditunda akan bekerja dengan hati yang hancur. Ia merasa tidak dihargai. Ia merasa diperas tenaganya seperti mesin, namun tidak dirawat layaknya manusia. Rasa minder (rendah diri) mulai muncul saat ia harus menghindar dari pemilik kontrakan atau pemilik warung karena belum bisa melunasi bon makanan.

Nabi bersabda:

«لَا يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ»

“Alloh tidak akan menyayangi siapa yang tidak menyayangi manusia.” (HR. Al-Bukhori no. 7376 dan Muslim no. 2319)

Jika Anda tidak memiliki rasa belas kasihan melihat pekerja Anda menderita secara mental, maka bersiaplah kehilangan kasih sayang Alloh . Uang yang Anda simpan di rekening dengan cara menunda gaji mereka tidak akan membawa ketenangan, melainkan kecemasan yang akan Alloh tanamkan dalam hati Anda sebagai balasan di dunia.

Wahai para Bos, sebelum Anda menutup buku laporan keuangan bulan ini, tanyakanlah pada diri Anda: “Sudahkah aku menjadi jalan kemudahan bagi hamba-hamba Alloh , atau justru aku menjadi penghalang bagi anak-anak mereka untuk berangkat sekolah dengan senyuman?”


 


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url