Adab dan Sunnah Puasa
13.1
Sahur dan Keutamaannya
Sahur
adalah makan yang dilakukan di akhir malam dengan niat untuk berpuasa. Sahur memiliki
keberkahan yang sangat besar dan menjadi pembeda antara Puasa kaum Muslimin
dengan Puasa ahli kitab. Disunnahkan untuk mengakhirkan sahur mendekati waktu
fajar.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«تَسَحَّرُوا
فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً»
“Makan sahurlah
kalian, karena sungguh pada sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Al-Bukhori
no. 1923 dan Muslim no. 1095)
Beliau ﷺ juga bersabda:
«فَصْلُ
مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ»
“Pembeda
antara Puasa kita dengan Puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim
no. 1096)
Alloh Ta’ala
berfirman tentang waktu sahur:
﴿وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ﴾
“Dan
orang-orang yang memohon ampun (beristighfar) di waktu sahur.” (QS. Ali ‘Imron:
17)
13.2
Menyegerakan Berbuka
Disunnahkan
bagi orang yang berpuasa untuk segera berbuka apabila telah yakin matahari
telah terbenam. Hal ini merupakan wujud ketaatan dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَا
يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ»
“Manusia
akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR.
Al-Bukhori no. 1957 dan Muslim no. 1098)
Nabi ﷺ juga bersabda dalam sebuah Hadits Qudsi dari Alloh Ta’ala:
«أَحَبُّ
عِبَادِي إِلَيَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا»
“Hamba-Ku
yang paling Aku cintai adalah yang paling bersegera dalam berbuka.” (HR.
At-Tirmidzi no. 700, dho’if namun maknanya shohih karena ada syawahid)
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿ثُمَّ
أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ﴾
“Kemudian
sempurnakanlah Puasa itu sampai malam.” (QS. Al-Baqoroh: 187)
13.3
Doa Berbuka Puasa
Saat
berbuka adalah salah satu waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Nabi ﷺ mengajarkan doa yang shohih saat berbuka setelah beliau
membatalkan puasanya.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ»
“Sungguh
bagi orang yang berpuasa saat ia berbuka memiliki doa yang tidak akan ditolak.”
Ibnu Abi Mulaikah berkata: Aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Amr berdoa ketika ia
berbuka Puasa:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ
شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي»
“Ya
Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu dengan rohmat-Mu yang meliputi segala
sesuatu, agar Engkau mengampuni aku.” (HHR. Ibnu Majah no. 1753)
Adapun
lafazh doa maka bebas, di antara yang diajarkan oleh Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhuma
saat Nabi ﷺ berbuka adalah:
«ذَهَبَ
الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ»
“Rasa
haus telah hilang, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insya
Alloh.” (HSR. Abu Dawud no. 2357)
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿وَإِذَا
سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾
“Dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa
apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqoroh: 186)
13.4
Menjaga Lisan dan Perilaku
Puasa bukan
hanya menahan perut, tetapi juga menahan lisan dari ghibah, dusta, dan ucapan
sia-sia. Akhlak mulia adalah penyempurna bagi ibadah Puasa agar tidak sekadar
menjadi lapar dan dahaga.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا
كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَصْخَبْ»
“Apabila
pada hari salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah ia
berbuat kotor dan jangan berteriak-teriak.” (HR. Muslim no. 1151)
Beliau ﷺ juga memperingatkan:
«مَنْ
لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ
طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ»
“Siapa
yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Alloh tidak
butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhori no. 1903)
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿يَٰٓأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Alloh dan katakanlah
perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)
13.4
Memperbanyak Amal Sholih
Bulan
Romadhon adalah musim ketaatan. Disunnahkan untuk memperbanyak shodaqoh,
memberi makan orang yang berbuka, dan meningkatkan intensitas ibadah harian.
Ibnu Abbas
(68 H) menceritakan kedermawanan Nabi ﷺ:
«كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ»
“Rosululloh
ﷺ adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau jauh lebih
dermawan lagi saat bulan Romadhon.” (HR. Al-Bukhori no. 6 dan Muslim no.
2308)
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾
“Dan
perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj: 77)
Rosululloh ﷺ juga bersabda:
«مَنْ
فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ
الصَّائِمِ شَيْئًا»
“Siapa yang
memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala seperti
orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu
sedikit pun.” (HSR. At-Tirmidzi no. 807)
