Ibadah Pendamping di Bulan Romadhon
14.1
Sholat Tarowih
Sholat Tarowih
atau yang dikenal dengan Qiyam Romadhon adalah Sholat sunnah yang sangat
ditekankan pelaksanaannya secara berjamaah pada malam hari di bulan Romadhon. Sholat
ini merupakan sarana penggugur dosa bagi siapa saja yang melaksanakannya dengan
penuh keimanan.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
“Siapa
yang berdiri (menunaikan Sholat malam) di bulan Romadhon karena iman dan
mengharap pahala (dari Alloh), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Al-Bukhori no. 37 dan Muslim no. 759)
Aisyah (58
H) menceritakan bahwa Rosululloh ﷺ
tidak pernah menambah jumlah roka’at Sholat malam beliau, baik di bulan
Romadhon maupun di luarnya, lebih dari sebelas roka’at. (HR. Al-Bukhori no.
1147)
Namun, para
Salaf memiliki keluasan dalam jumlah roka’at selama dilakukan dengan khusyuk.
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿وَمِنَ
الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةً لَّكَ﴾
“Dan
pada sebagian malam hari Sholat Tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan
bagimu.” (QS. Al-Isro: 79)
Dalam
Hadits Ibnu Umar disebutkan Sholat malam boleh dikerjakan tiap dua roka’at
salam, tanpa batasan. Sehingga Hadits Aisyah dimaknai sebagai batasan maksimal
Sholat Witir.
14.2
Tadarus Al-Qur’an
Romadhon
adalah bulan Al-Qur’an. Maka, menyibukkan diri dengan membaca, menyimak, dan
mentadabburi ayat-ayat-Nya adalah ibadah yang sangat utama. Malaikat Jibril ‘alaihissalam
senantiasa mendatangi Nabi ﷺ setiap malam Romadhon untuk
menyimak bacaan Al-Qur’an beliau.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿شَهْرُ
رَمَضَانَ الَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ﴾
“Bulan
Romadhon adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS.
Al-Baqoroh: 185)
Ibnu Abbas
(68 H) meriwayatkan:
«كَانَ
جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ»
“Jibril
menemui beliau (Nabi ﷺ) pada setiap malam di bulan
Romadhon, lalu ia saling menyimak Al-Qur’an bersama beliau.” (HR. Al-Bukhori
no. 6 dan Muslim no. 2308)
Rosululloh ﷺ bersabda tentang syafaat Al-Qur’an:
«الصِّيَامُ
وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
“Puasa dan
Al-Qur’an akan memberikan syafaat bagi seorang hamba pada hari Kiamat.” (HHR.
Ahmad no. 6626)
14.3
Shodaqoh dan Berbagi
Kedermawanan
seorang Muslim harus mencapai puncaknya di bulan Romadhon, meneladani
Rosululloh ﷺ yang kedermawanannya melebihi hembusan angin yang dikirim. Shodaqoh
di bulan ini mencakup memberi makan orang berbuka, membantu janda, anak yatim,
dan kaum dhuafa.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿مَّن
ذَا الَّذِى يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَٰعِفَهُۥ لَهُۥ أَضْعَافًا كَثِيرَةً﴾
“Siapakah
yang mau memberi pinjaman kepada Alloh, pinjaman yang baik, maka Alloh akan
melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” (QS.
Al-Baqoroh: 245)
Rosululloh ﷺ bersabda mengenai keutamaan memberi makan orang yang berbuka:
«مَنْ
فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ
الصَّائِمِ شَيْئًا»
“Siapa yang
memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala seperti
orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu
sedikit pun.” (HSR. At-Tirmidzi no. 807)
14.4
I’tikaf
I’tikaf
adalah berdiam diri di dalam Masjid dengan niat ibadah untuk mendekatkan diri
kepada Alloh. Disunnahkan melakukannya pada sepuluh malam terakhir Romadhon
guna mengejar keutamaan malam Lailatul Qodar. Jika tidak mampu 10 hari, maka
semampunya meskipun hanya beberapa jam saat ke Masjid.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿وَلَا
تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَٰكِفُونَ فِى الْمَسَٰجِدِ﴾
“Tetapi
janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu ber-i’tikaf dalam Masjid.” (QS.
Al-Baqoroh: 187)
Aisyah rodhiyallahu
‘anha menceritakan:
«أَنَّ
النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ
اللَّهُ»
“Sungguh
Nabi ﷺ senantiasa ber-i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan
Romadhon sampai Alloh mewafatkan beliau.” (HR. Al-Bukhori no. 2026 dan
Muslim no. 1172)
14.5
Mencari Lailatul Qodar
Malam
Lailatul Qodar adalah malam yang sangat istimewa, lebih baik dari seribu bulan.
Umat Islam diperintahkan untuk mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh
malam terakhir Romadhon dengan memperbanyak Sholat, doa, dan dzikir.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿لَيْلَةُ
الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ﴾
“Malam
kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qodar: 3)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«تَحَرَّوْا
لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»
“Carilah
Lailatul Qodar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Romadhon.”
(HR. Al-Bukhori no. 2017)
Beliau ﷺ juga bersabda:
«مَنْ
قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ
ذَنْبِهِ»
“Siapa yang
berdiri (Sholat) pada malam Lailatul Qodar karena iman dan mengharap pahala,
maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhori no. 1901
dan Muslim no. 760)
