Cari Artikel

Mempersiapkan...

Puasa Romadhon bagi Wanita

 


12.1 Puasa Wanita Haid

Wanita yang sedang mengalami haid diharomkan untuk melaksanakan ibadah Puasa. Jika darah haid keluar sedikit saja sebelum matahari terbenam, maka Puasa pada hari itu dianggap batal dan wajib diganti di hari lain. Sebaliknya, jika seorang wanita mendapati dirinya suci sebelum terbit fajar, maka ia wajib berniat dan berpuasa meskipun belum sempat mandi wajib.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَآءَ فِى الْمَحِيضِ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: ‘Haid itu adalah kotoran (gangguan), maka hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid.’” (QS. Al-Baqoroh: 222)

Rosululloh memberikan ketetapan hukum yang jelas mengenai hal ini:

«أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا»

“Bukankah wanita itu jika sedang haid ia tidak Sholat dan tidak pula berpuasa? Itulah kekurangan dalam agamanya (karena faktor udzur).” (HR. Al-Bukhori no. 304 dan Muslim no. 80)

12.2 Puasa Wanita Nifas

Nifas adalah darah yang keluar disebabkan oleh proses melahirkan. Ketentuan hukum bagi wanita nifas sama persis dengan wanita haid, yaitu harom berpuasa dan wajib meng-qodho. Masa maksimal nifas menurut para Salaf adalah 40 hari, kecuali jika ia telah suci sebelum masa itu berakhir.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqoroh: 286)

Ummu Salamah (59 H) rodhiyallahu ‘anha berkata:

«كَانَتْ النُّفَسَاءُ تَجْلِسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا»

“Dahulu para wanita yang sedang nifas duduk (tidak melakukan Sholat dan Puasa) di zaman Rosululloh selama empat puluh hari.” (HSR. At-Tirmidzi no. 139)

12.3 Puasa Wanita Hamil

Wanita hamil diberikan rukhsoh (keringanan) untuk tidak berpuasa jika ia khawatir akan keselamatan dirinya atau janin yang dikandungnya. Jika ia berbuka, maka ia wajib menggantinya sesuai dengan pendapat yang paling kuat di kalangan ulama (qodho atau fidyah tergantung kondisi kesehatannya).

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تَقْتُلُوٓا أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sungguh Alloh adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29)

Rosululloh bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ الصَّوْمَ وَشَطْرَ الصَّلَاةِ وَعَنِ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ»

“Sungguh Alloh ‘Azza wa Jalla menggugurkan kewajiban Puasa dan separuh Sholat bagi musafir, serta menggugurkan kewajiban Puasa bagi wanita hamil dan menyusui.” (HSR. At-Tirmidzi no. 715)

12.4 Puasa Wanita Menyusui

Sama halnya dengan wanita hamil, ibu yang sedang menyusui diperbolehkan tidak berpuasa jika Puasanya dikhawatirkan mengganggu produksi ASI atau membahayakan kesehatan bayi dan ibunya. Ibadah ini tidak boleh menjadi sebab terhalangnya hak anak untuk mendapatkan nutrisi.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَالْوَٰلِدَٰتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَٰدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. Al-Baqoroh: 233)

Anas bin Malik al-Ka’bi rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi :

«إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ الصَّوْمَ وَشَطْرَ الصَّلَاةِ، وَعَنِ الْحَامِلِ أَوِ الْمُرْضِعِ الصَّوْمَ»

“Sungguh Alloh Ta’ala menggugurkan kewajiban Puasa bagi musafir dan separuh Sholat baginya, serta (menggugurkan) Puasa bagi wanita hamil atau menyusui.” (HSR. At-Tirmidzi no. 715)

12.5 Kesalahan Umum Wanita Saat Puasa

Di antara kesalahan yang sering terjadi adalah seorang wanita tetap berpuasa saat ia melihat tanda-tanda haid karena malu, atau ia tidak meng-qodho Puasanya karena lalai hingga bertemu Romadhon berikutnya. Kesalahan lainnya adalah menyengaja minum obat penunda haid tanpa berkonsultasi secara medis dan syar’i.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَٰطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 42)

Rosululloh bersabda:

«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

“Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url