Cari Artikel

Mempersiapkan...

Qodho, Fidyah, dan Kaffarot

 


11.1 Pengertian Qodho Puasa

Qodho secara bahasa berarti membayar atau menunaikan. Dalam konteks Puasa, Qodho adalah mengganti Puasa Romadhon yang ditinggalkan karena udzur syar’i di hari-hari lain di luar bulan Romadhon.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqoroh: 184)

Batas waktu meng-qodho Puasa adalah sebelum datangnya bulan Romadhon tahun berikutnya. Aisyah rodhiyallahu ‘anha berkata:

«كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ»

“Dahulu aku memiliki hutang Puasa Romadhon, dan aku tidak mampu meng-qodho-nya kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Al-Bukhori no. 1950 dan Muslim no. 1146)

11.2 Siapa yang Wajib Qodho

Golongan yang wajib meng-qodho Puasa adalah mereka yang berbuka karena alasan sementara, seperti orang sakit yang bisa sembuh, musafir, wanita haid dan nifas, serta orang yang membatalkan puasa karena alasan mendesak lainnya.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ

“Dan siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqoroh: 185)

Bagi wanita haid, dasar kewajibannya adalah sabda Nabi yang diriwayatkan Aisyah rodhiyallahu ‘anha:

«فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ»

“Maka kami diperintahkan untuk meng-qodho Puasa dan tidak diperintahkan meng-qodho Sholat.” (HR. Muslim no. 335)

Empat madzhab sepakat bumil dan bunsui jika tidak berpuasa maka qodho tanpa fidyah. Ini pendapat jumhur (Hanafiyyah, Syafiiyyah, Hanabilah) bahwa Ibnu Qudamah berpendapat tidak ada khilaf dalam masalah ini.

Akan tetapi sebagian ulama memandang bumil dan bunsui yang tidak mampu berpuasa maka cukup baginya membayar fidyah tanpa qodho. Demikian yang dipilih penulis Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah dan merujuk kepada beberapa dalil:

Ibnu Abbas berkata:

«وَالحُبْلَى وَالمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا»

“Perempuan hamil dan perempuan menyusui, apabila keduanya khawatir (terhadap diri atau anaknya), maka keduanya boleh berbuka dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari (yang ditinggalkan).” (HSR. Al-Baihaqi no. 8156)

Ia juga berkata:

«إِذَا خَافَتِ الْحَامِلُ عَلَى نَفْسِهَا، وَالْمُرْضِعُ عَلَى وَلَدِهَا فِي رَمَضَانَ، قَالَ: يُفْطِرَانِ، وَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا، وَلَا يَقْضِيَانِ صَوْمًا»

“Apabila wanita hamil khawatir atas dirinya sendiri, dan wanita menyusui khawatir atas anaknya pada bulan Ramadhan, maka beliau berkata: keduanya berbuka, dan keduanya memberi makan seorang miskin sebagai pengganti setiap satu hari, dan keduanya tidak mengqodho Puasa.” (HSR. Ath-Thobari no. 2758. Al-Albani menilai shohih sesuai syarat Muslim dalam Al-Irwa 4/19)

Nafi berkata:

كَانَتْ بِنْتٌ لِابْنِ عُمَرَ تَحْتَ رَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ، وَكَانَتْ حَامِلًا، فَأَصَابَهَا عَطَشٌ فِي رَمَضَانَ، فَأَمَرَهَا ابْنُ عُمَرَ أَنْ تُفْطِرَ، وَتُطْعِمَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا.

“Dahulu ada seorang putri Ibnu ‘Umar yang menikah dengan seorang lelaki dari Quraisy. Saat itu ia sedang hamil. Pada bulan Ramadhan, ia mengalami rasa haus yang berat. Maka Ibnu ‘Umar memerintahkannya untuk berbuka Puasa dan memberi makan seorang miskin sebagai pengganti setiap hari yang ia tinggalkan.” (HSR. Ad-Daruquthni no. 2389)

Jalan tengah, bumil dan bunsui pada asalnya qodho bukan fidyah, tetapi jika tidak memungkinan —seperti hamil dan menyusui tiap tahun tanpa ada jeda— maka memilih pendapat fidyah lebih bijak.

11.3 Pengertian dan Bentuk Fidyah

Fidyah adalah tebusan berupa pemberian makan kepada fakir miskin sebagai pengganti ibadah Puasa yang tidak bisa dilaksanakan. Ukuran fidyah adalah satu mud (sekitar 750 gram) makanan pokok atau memberi makan satu orang miskin sampai kenyang untuk satu hari yang ditinggalkan.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqoroh: 184)

Ayyub As-Sikhtiyani berkata:

«أَنَّهُ ضَعُفَ عَنِ الصَّوْمِ عَامًا فَصَنَعَ جَفْنَةً مِنْ ثَرِيدٍ وَدَعَا ثَلَاثِينَ مِسْكِينًا فَأَشْبَعَهُمْ»

Anas bin Malik (93 H) ketika sudah tua dan tidak mampu berpuasa, beliau mengumpulkan tiga puluh orang miskin dan memberi mereka makan roti dan daging sampai kenyang. (HHR. Ad-Daruquthni no. 4505)

Fidyah boleh disalurkan kapanpun saat ia memiliki dana, maupun dicicil atau sekali waktu, baik berupa beras atau makanan siap saji, baik disalurkan di awal Romadhon atau tengahnya atau setelah Romadhon.

11.4 Siapa yang Wajib Fidyah

Fidyah wajib ditunaikan oleh orang yang tidak mampu berpuasa secara permanen dan tidak ada harapan untuk meng-qodho-nya di masa depan. Ini mencakup orang tua yang sudah sangat renta dan orang sakit yang menurut keterangan medis tidak akan sembuh.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqoroh: 286)

Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma berkata mengenai orang tua:

«يُطْعِمُ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا، وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ»

“Hendaknya ia memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya, dan tidak ada kewajiban qodho baginya.” (HSR. Ad-Daruquthni no. 2380)

11.5 Kaffarot Puasa dan Urutannya

Kaffarot adalah denda berat bagi orang yang sengaja merusak kesucian Puasa Romadhon dengan melakukan hubungan suami istri di siang hari. Denda ini memiliki urutan yang ketat dan tidak boleh melompat kecuali jika benar-benar tidak mampu.

Dari Abu Huroiroh (58 H), seorang laki-laki datang kepada Nabi dan mengaku telah berhubungan badan dengan istrinya di siang hari Romadhon. Nabi bersabda:

«هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا؟» قَالَ: لاَ، قَالَ: «فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ»، قَالَ: لاَ، فَقَالَ: «فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا». قَالَ: لاَ

“Apakah engkau memiliki budak untuk dimerdekakan? Ia menjawab: ‘Tidak’. Beliau bertanya: ‘Apakah engkau sanggup berpuasa dua bulan berturut-turut?’ Ia menjawab: ‘Tidak’. Beliau bertanya: ‘Apakah engkau memiliki makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin?’ Dia menjawab: ‘Tidak.’”

Maka Nabi pun menunggu. Ketika kami masih dalam keadaan seperti itu, Nabi didatangi dengan sebuah ‘aroq yang berisi kurma — dan ‘aroq itu adalah sebuah keranjang. Beliau bersabda, “Di mana orang yang bertanya tadi?” Orang itu menjawab, “Saya, wahai Rosulullah.” Maka beliau bersabda, “Ambillah ini, lalu shodaqohkanlah.” Orang itu berkata, “Apakah (aku harus menyedekahkannya) kepada orang yang lebih fakir dariku, wahai Rosulullah? Demi Allah, tidak ada di antara dua labah (yakni dua tanah berbatu di Madinah) satu pun keluarga yang lebih fakir daripada keluargaku.” Mendengar itu, Nabi tertawa hingga tampak gigi taring beliau. Kemudian beliau bersabda, “Berikanlah makanan itu kepada keluargamu.” (HR. Al-Bukhori no. 1936 dan Muslim no. 1111)

Alloh Ta’ala berfirman mengenai pentingnya menjaga sumpah dan janji (yang dalam hal ini adalah komitmen Puasa):

﴿ذَٰلِكَ كَفَّٰرَةُ أَيْمَٰنِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوٓا أَيْمَٰنَكُمْ

“Yang demikian itu adalah kaffarot sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan melanggarnya). Dan jagalah sumpahmu.” (QS. Al-Ma’idah: 89)


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url