Cari Artikel

Mempersiapkan...

Makruh dan Kesalahan Saat Puasa

 


9.1 Perbuatan Makruh Saat Puasa

Makruh adalah perbuatan yang jika ditinggalkan mendapat pahala, namun jika dilakukan tidak berdosa, akan tetapi dapat mengurangi kualitas dan pahala Puasa. Di antaranya adalah berlebihan dalam berkumur, mencicipi makanan tanpa keperluan mendesak, serta melakukan hal-hal yang dapat memicu syahwat bagi yang tidak mampu menahannya.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تُبْطِلُوٓا أَعْمَالَكُمْ

“Dan janganlah kamu merusak amal-amalmu.” (QS. Muhammad: 33)

Mencicipi makanan diperbolehkan hanya jika ada kebutuhan mendesak, seperti juru masak yang khawatir masakannya rusak, namun harus segera diludahkan. Ibnu Abbas (68 H) berkata:

«لَا بَأْسَ أَنْ يَذُوقَ الْخَلَّ أَوِ الشَّيْءَ، مَا لَمْ يَدْخُلْ حَلْقَهُ وَهُوَ صَائِمٌ»

“Tidak mengapa seseorang mencicipi cuka atau sesuatu, selama tidak masuk ke tenggorokannya, padahal ia sedang berpuasa.” (HHR. Ibnu Abi Syaibah no. 9277. Al-Irwa no. 937)

9.2 Mengucapkan Perkataan Sia-sia

Banyak orang berpuasa hanya menahan lapar namun lisannya tetap melakukan ghibah, dusta, dan ucapan sia-sia. Hal ini tidak membatalkan Puasa secara hukum, namun dapat menghanguskan pahala Puasa secara total atau sebagiannya, sesuai kadar dosanya.

Rosululloh memberikan peringatan keras:

«مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ»

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan justru mengamalkannya, maka Alloh tidak butuh terhadap tindakannya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhori no. 1903)

Alloh Ta’ala berfirman mengenai lisan:

﴿مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qof: 18)

9.3 Marah dan Emosi Berlebihan

Puasa seharusnya menjadi sarana pengendalian emosi. Seseorang yang terpancing emosinya hingga mengeluarkan kata-kata kasar telah mencoreng kesucian ibadahnya.

Rosululloh mengajarkan cara menghadapi orang yang memancing amarah saat kita berpuasa:

«وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ»

“Apabila pada hari salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah ia berbuat kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ada orang lain yang menghinanya atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia berkata: ‘Sungguh aku sedang berpuasa.’” (HR. Al-Bukhori no. 1904 dan Muslim no. 1151)

Alloh Ta’ala memuji orang yang menahan amarah:

﴿وَالْكَٰظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imron: 134)

9.4 Menyia-nyiakan Waktu Puasa

Di antara kesalahan besar adalah menghabiskan waktu Puasa hanya dengan tidur seharian tanpa melakukan ibadah lain, atau sibuk dengan hiburan yang tidak bermanfaat. Hal ini bertentangan dengan tujuan Romadhon sebagai bulan peningkatan amal.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَٰكُمْ عَبَثًا

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja)?” (QS. Al-Mu’minun: 115)

Rosululloh bersabda:

«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»

“Dua ni’mat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhori no. 6412)

9.5 Puasa Tanpa Menjaga Akhlak

Puasa yang sempurna adalah yang melibatkan seluruh anggota badan. Perut berpuasa dari makanan, mata berpuasa dari melihat yang harom, dan telinga berpuasa dari mendengar kemaksiatan. Jika akhlak tidak dijaga, Puasa hanyalah beban fisik tanpa nilai tinggi.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا * وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)

Rosululloh bersabda:

«رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ»

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun bagian yang didapatkannya hanyalah lapar dan haus.” (HSR. Ahmad no. 8856)

Jabir bin Abdillah (74 H) berkata:

«إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَبَصَرُكَ وَلِسَانُكَ عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَآثِمِ، وَدَعْ أَذَى الْخَادِمِ، وَلْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌ وَسَكِينَةٌ يَوْمَ صِيَامِكَ، وَلَا تَجْعَلْ يَوْمَ فِطْرِكَ وَيَوْمَ صِيَامِكَ سَوَاءً»

“Jika engkau berpuasa, maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu, dan lisanmu juga berpuasa dari dusta dan hal-hal harom. Tinggalkanlah gangguan terhadap budak, dan hendaknya engkau bersikap tenang serta berwibawa pada hari engkau berpuasa. Jangan kamu samakan hari tidak berpuasa dengan hari puasamu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 8880)


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url