Cari Artikel

Mempersiapkan...

Menjadikan Puasa sebagai Jalan Hidup

 


17.1 Evaluasi Diri Setelah Romadhon

Setelah sebulan penuh menjalani madrosah Romadhon, setiap Muslim harus merenung dan menghisab dirinya sendiri. Apakah kualitas Sholat, Puasa, dan interaksinya dengan Al-Qur’an sudah meningkat? Evaluasi ini penting agar kesalahan di masa lalu tidak terulang kembali.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿يَٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhiroh).” (QS. Al-Hasyr: 18)

Umar bin Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata:

«حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا»

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Alloh).” (HR. At-Tirmidzi secara mu’allaq(

17.2 Menjaga Amal Pasca Romadhon

Latihan menahan diri di bulan Romadhon seharusnya terbawa dalam kehidupan sehari-hari di luar bulan tersebut. Kebiasaan Sholat malam, shodaqoh, dan menjaga lisan harus tetap dipertahankan sebagai wujud syukur atas hidayah yang diberikan.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Robb-mu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99)

Rosululloh menganjurkan untuk menyambung Puasa Romadhon dengan Puasa sunnah sebagai bentuk penjagaan amal:

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ»

“Siapa yang berpuasa Romadhon kemudian mengikutinya dengan Puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim no. 1164)

17.3 Puasa sebagai Bekal Kehidupan

Puasa melatih kekuatan tekad (irodah) dan kesabaran yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi ujian hidup. Nilai-nilai kejujuran dan kedisiplinan yang didapat selama Puasa harus dijadikan fondasi dalam berkeluarga, bekerja, dan bermasyarakat.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” (QS. Al-Baqoroh: 197)

Rosululloh bersabda:

«الصَّوْمُ جُنَّةٌ»

“Puasa adalah perisai.” (HR. Al-Bukhori no. 1894 dan Muslim no. 1151)

Perisai ini melindungi pelakunya dari api Naar di Akhiroh dan dari kemaksiatan di dunia.

17.4 Doa dan Harapan

Seorang Muslim harus senantiasa berada di antara rasa takut (khouf) amalnya ditolak dan rasa harap (roja’) amalnya diterima. Doa adalah senjata utama agar Alloh mengokohkan hati di atas ketaatan.

Alloh Ta’ala berfirman tentang sifat orang beriman:

﴿وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Robb mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)

Aisyah rodhiyallahu ‘anha bertanya kepada Nabi tentang ayat ini: “Apakah mereka orang yang berzina dan mencuri?” Beliau menjawab: “Bukan, wahai putri Ash-Shiddiq. Mereka adalah orang yang berpuasa, Sholat, dan bershodaqoh, namun mereka takut amal mereka tidak diterima.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3175)


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url