Cari Artikel

Mempersiapkan...

Puasa yang Diterima dan Puasa yang Sia-sia


 

16.1 Tanda Puasa yang Diterima

Indikator utama diterimanya suatu amal, termasuk Puasa, adalah adanya perubahan ke arah yang lebih baik setelah ibadah tersebut usai. Para Salaf menyebutkan bahwa balasan dari sebuah kebaikan adalah taufiq untuk melakukan kebaikan selanjutnya. Jika seseorang menjadi lebih bertaqwa dan takut kepada Alloh pasca Romadhon, itu adalah tanda keberkahan ibadahnya.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sungguh Alloh hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)

Rosululloh juga menjelaskan bahwa setiap amal bergantung pada penutupnya. Beliau bersabda:

«وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ»

“Dan sungguh amal-amal itu ditentukan oleh penutupnya (akhirnya).” (HR. Al-Bukhori no. 6607)

16.2 Puasa yang Hanya Menahan Lapar

Sangat disayangkan jika seseorang bersusah payah menahan lapar dan haus sejak fajar hingga maghrib, namun di sisi lain ia tetap melakukan kemaksiatan yang menghapus pahala Puasanya atau menguranginya. Puasa seperti ini sah secara hukum fikih (tidak perlu qodho), namun kosong atau berkurang dari nilai pahalanya.

Rosululloh bersabda:

«رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ»

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa pun dari Puasanya kecuali rasa lapar, dan betapa banyak orang yang Sholat malam namun tidak mendapatkan apa pun kecuali begadang.” (HSR. Ibnu Majah no. 1690)

Alloh Ta’ala berfirman tentang orang yang merugi amalnya:

﴿قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَٰلًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيَٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)

16.3 Keikhlasan dalam Puasa

Keikhlasan adalah syarat mutlak diterimanya ibadah. Puasa yang dikerjakan karena ingin dipuji manusia (riya) atau sekadar ikut-ikutan tradisi tanpa landasan iman akan menjadi amal yang sia-sia bagaikan debu yang beterbangan.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَمَآ أُمِرُوٓا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Rosululloh menegaskan pentingnya niat yang tulus:

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

“Siapa yang berpuasa Romadhon karena iman dan mengharap pahala (hanya dari Alloh), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhori no. 38 dan Muslim no. 760)

16.4 Puasa dan Perubahan Akhlak

Puasa yang benar harus membuahkan akhlak yang mulia. Jika seseorang masih suka mencela, berdusta, dan berbuat zholim saat berpuasa, maka ia belum memahami hakikat Puasa yang diinginkan oleh syariat.

Rosululloh bersabda:

«مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ»

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan justru mengamalkannya, maka Alloh tidak butuh terhadap tindakannya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhori no. 1903)

Alloh Ta’ala berfirman tentang fungsi ibadah dalam mencegah keburukan:

﴿إِنَّ الصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ

“Sesungguhnya Sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Demikian pula dengan Puasa yang bertujuan membentuk ketaqwaan.

16.5 Menjaga Semangat Romadhon Setelahnya

Banyak orang menjadi “Muslim musiman” yang hanya taat di bulan Romadhon namun kembali bermaksiat setelah bulan itu berlalu. Sejatinya, Robb bulan Romadhon adalah Robb yang sama di bulan-bulan lainnya. Istiqomah adalah kunci kesuksesan seorang hamba.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿فَاسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar (istiqomah), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersamamu.” (QS. Hud: 112)

Rosululloh bersabda tentang amal yang paling dicintai Alloh:

«أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»

“Amal yang paling dicintai oleh Alloh adalah yang terus-menerus dilakukan (konsisten) meskipun sedikit.” (HR. Al-Bukhori no. 6465 dan Muslim no. 783)


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url