Niat dan Waktu Puasa
4.1
Makna Niat dalam Puasa
Niat adalah
kehendak hati untuk melakukan suatu ibadah demi mendekatkan diri kepada Alloh.
Dalam Puasa, niat berfungsi sebagai pembeda antara sekadar menahan lapar karena
kebiasaan atau kesehatan dengan menahan lapar sebagai bentuk pengabdian kepada
Sang Pencipta. Niat bertempat di dalam hati dan tidak disyariatkan untuk
dilafazhkan.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿وَمَآ
أُمِرُوٓا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ﴾
“Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Rosululloh ﷺ menegaskan kedudukan niat dalam setiap amalan:
«إِنَّمَا
الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»
“Sungguh
setiap amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan
mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhori no. 1 dan Muslim no. 1907)
4.2
Waktu Berniat Puasa Romadhon
Khusus
untuk Puasa wajib seperti Romadhon, niat harus sudah tertanam di dalam hati
sebelum terbitnya fajar shodiq. Seseorang harus sudah memiliki ketetapan hati
untuk berpuasa pada malam harinya (tabyitun niyah).
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ»
“Siapa yang
tidak bermalam dengan niat Puasa sebelum fajar, maka tidak ada Puasa baginya.” (HSR.
An-Nasa’i no. 2333)
Hal ini
berbeda dengan Puasa sunnah, di mana seseorang diperbolehkan berniat di siang
hari selama belum makan atau minum apa pun sejak fajar. Sebagaimana disebutkan
dalam Hadits Aisyah rodhiyallahu ‘anha:
قَالَ
لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ: «يَا عَائِشَةُ،
هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ؟» قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا عِنْدَنَا شَيْءٌ
قَالَ: «فَإِنِّي صَائِمٌ»
“Suatu hari
Rosululloh ﷺ bertanya kepadaku: ‘Wahai Aisyah, apakah kalian punya sesuatu
(makanan)?’ Aku menjawab: ‘Wahai Rosululloh, kami tidak punya apa-apa.’ Beliau
pun bersabda: ‘Kalau begitu, aku berpuasa.’” (HR. Muslim no. 1154)
4.3
Niat Puasa Setiap Malam atau Sekali
Terdapat
pembahasan ilmiyyah mengenai apakah cukup niat sekali untuk sebulan penuh atau
harus diperbaharui setiap malam. Pendapat yang lebih kuat dan hati-hati adalah
meniatkannya setiap malam karena setiap hari di bulan Romadhon adalah ibadah
mandiri yang terpisah dari hari lainnya. Namun, aktivitas sahur itu sendiri
sudah merupakan bentuk niat yang nyata di dalam hati.
Alloh Ta’ala
berfirman mengenai perintah menyempurnakan ibadah setiap harinya:
﴿ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ﴾
“Kemudian
sempurnakanlah Puasa itu sampai malam.” (QS. Al-Baqoroh: 187)
Ayat ini
menunjukkan bahwa “Puasa” (dalam bentuk tunggal) harus diselesaikan hingga
malam, yang mengisyaratkan bahwa setiap hari adalah satu kesatuan ibadah yang
memerlukan niatnya masing-masing. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«لِكُلِّ
امْرِئٍ مَا نَوَى»
“Bagi
setiap orang apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhori no. 1)
4.4
Niat Puasa bagi yang Lupa
Jika
seseorang tertidur sebelum sempat berniat secara sadar atau lupa meniatkannya
hingga fajar menyingsing, maka ia tetap wajib menahan diri (imsak) sebagai
bentuk penghormatan terhadap bulan Romadhon, namun ia wajib menggantinya
(qodho) di hari lain menurut mayoritas ulama.
Alloh Ta’ala
berfirman mengenai kekhilafan:
﴿رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ
أَوْ أَخْطَأْنَا﴾
“Wahai Robb
kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (QS.
Al-Baqoroh: 286)
Meskipun
Alloh memaafkan dosanya karena lupa, namun kewajiban Puasa tetap harus
ditunaikan secara sah dengan syarat niat yang benar. Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ، وَالنِّسْيَانَ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ»
“Sungguh
Alloh telah memaafkan bagi umatku (dosa karena) kesalahan yang tidak sengaja,
lupa, dan apa yang dipaksakan kepada mereka.” (HSR. Ibnu Hibban no. 7219)
4.5
Kesalahan Umum dalam Niat Puasa
Di antara
kesalahan yang sering terjadi adalah melafazhkan niat secara berjamaah yang
tidak memiliki tuntunan dari Nabi ﷺ,
atau meragukan niatnya sendiri. Niat adalah amalan hati, maka cukup dengan
adanya keinginan kuat di hati untuk berpuasa esok hari, itu sudah dianggap sah.
Alloh Ta’ala
mencela orang yang melakukan ibadah tanpa petunjuk-Nya:
﴿أَمْ لَهُمْ شُرَكَٰٓؤُا شَرَعُوا لَهُم مِّنَ
الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ﴾
“Apakah
mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Alloh yang mensyariatkan untuk mereka
agama yang tidak diidzinkan Alloh?” (QS. Asy-Syuro: 21)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ»
“Siapa
yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya,
maka amalan itu tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718)
