Siapa yang Wajib Berpuasa?
3.1
Syarat Wajib Puasa
Tidak
setiap manusia dibebani kewajiban Puasa Romadhon. Syariat telah menetapkan
kriteria tertentu agar seseorang terikat dengan hukum wajib ini. Syarat
tersebut adalah Islam, baligh, berakal, sehat, dan mukim (tidak sedang
bepergian).
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿يَٰٓأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa.” (QS. Al-Baqoroh:
183)
Ayat ini
menunjukkan bahwa syarat pertama adalah Iman/Islam. Orang kafir tidak wajib
berpuasa dalam artian amalannya tidak diterima sebelum ia masuk Islam. Kemudian
Alloh berfirman mengenai syarat sehat dan mukim:
﴿فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ
سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ﴾
“Maka siapa
di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka
(wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari
yang lain.” (QS. Al-Baqoroh: 184)
3.2
Puasa bagi Muslim Baligh dan Berakal
Kewajiban
syariat (taklif) hanya dibebankan kepada mereka yang sudah memiliki
kesempurnaan akal dan telah mencapai usia dewasa (baligh).
Rosululloh ﷺ bersabda:
«رُفِعَ
الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ
حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ»
“Pena
(catatan amal) diangkat dari tiga golongan: orang yang tidur sampai ia bangun,
anak kecil sampai ia bermimpi basah (baligh), dan orang gila sampai ia berakal
kembali.” (HSR. Abu Dawud no. 4403)
Alloh Ta’ala
berfirman mengenai penggunaan akal:
﴿كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ﴾
“Demikianlah
Alloh menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya agar kamu mengerti (menggunakan akal).”
(QS. Al-Baqoroh: 242)
3.3
Puasa bagi Anak-anak
Meskipun
anak kecil belum wajib berpuasa secara hukum syar’i, namun para orang tua
diperintahkan untuk melatih mereka sejak dini agar terbiasa saat baligh nanti.
Hal ini dilakukan selama tidak membahayakan fisik sang anak.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿يَٰٓأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوٓا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ
نَارًا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Naar.” (QS.
At-Tahrim: 6)
Para
Shohabat membiasakan anak-anak mereka berpuasa. Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz rodhiyallahu
‘anha menceritakan:
«فَكُنَّا
نَصُومُهُ بَعْدُ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ العِهْنِ،
فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ
الإِفْطَارِ»
“Kami
berpuasa dan mengajak anak-anak kami berpuasa. Kami membuatkan untuk mereka
mainan dari bulu domba. Jika salah seorang dari mereka menangis karena lapar,
kami berikan mainan itu kepadanya sampai tiba waktu berbuka.” (HR.
Al-Bukhori no. 1960 dan Muslim no. 1136)
3.4
Orang yang Tidak Wajib Puasa
Terdapat
golongan yang diberikan keringanan untuk tidak berpuasa, baik secara permanen
maupun sementara. Mereka adalah orang kafir, anak kecil, orang gila, orang yang
sakit parah tanpa harapan sembuh, dan orang tua renta.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿لَا
يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا﴾
“Alloh
tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqoroh:
286)
Mengenai
orang tua yang tidak mampu, Alloh berfirman:
﴿وَعَلَى
الَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ﴾
“Dan bagi
orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah dengan memberi makan
seorang miskin.” (QS. Al-Baqoroh: 184)
Ibnu Abbas rodhiyallahu
‘anhuma menjelaskan:
«لَيْسَتْ
بِمَنْسُوخَةٍ هُوَ الشَّيْخُ الكَبِيرُ، وَالمَرْأَةُ الكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ
أَنْ يَصُومَا، فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا»
“Ayat ini
tidaklah dihapus hukumnya; ia berlaku bagi laki-laki tua dan wanita tua yang
tidak sanggup berpuasa, maka keduanya memberi makan seorang miskin untuk setiap
hari yang ditinggalkan.” (HR. Al-Bukhori no. 4505)
3.5
Perbedaan Wajib, Sunnah, dan Harom Puasa
Memahami
klasifikasi hukum Puasa sangat penting agar seorang Muslim dapat menempatkan
prioritas ibadahnya. Puasa wajib adalah Romadhon, Kaffarot, dan Nadzar. Puasa
sunnah contohnya adalah puasa Senin-Kamis atau Arofah. Sedangkan harom
contohnya berpuasa di hari raya.
Alloh Ta’ala
berfirman tentang kewajiban menunaikan nadzar:
﴿ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ﴾
“Kemudian
hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah
mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka.” (QS. Al-Hajj: 29)
Abu Sa’id
berkata mengenai larangan berpuasa di hari raya:
«نَهَى
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الفِطْرِ وَالنَّحْرِ»
“Sungguh
Rosululloh ﷺ melarang berpuasa pada dua hari: hari raya Idul Fitri dan hari
raya Idul Adha.” (HR. Al-Bukhori no. 1991 dan Muslim no. 1137)
Dalam Hadits
lain, Nabi ﷺ menjelaskan prioritas amalan:
«وَمَا
تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ»
“Dan
tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku
cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.” (HR. Al-Bukhori no.
6502)
