Cari Artikel

Mempersiapkan...

Tujuan dan Hikmah Puasa


 

Tujuan dan Hikmah Puasa

2.1 Puasa dan Taqwa

Tujuan utama dan tertinggi dari disyariatkannya Puasa adalah untuk membentuk pribadi yang bertaqwa. Taqwa secara istilah adalah menjalankan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya di atas cahaya ilmu karena mengharap pahala dan takut akan adzab-Nya. Puasa melatih seseorang untuk merasa diawasi oleh Alloh (muroqobah) karena ia tidak makan dan minum meskipun tidak ada manusia yang melihatnya.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿يَٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامَ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqoroh: 183)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) menjelaskan bahwa Puasa adalah sarana paling kuat untuk mempersempit jalan syaithon dalam tubuh manusia, sehingga ketaatan menjadi ringan dan kemaksiatan menjadi berat. Rosululloh bersabda:

«إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ»

“Sungguh syaithon itu berjalan di dalam tubuh anak Adam melalui aliran darah.” (HR. Al-Bukhori no. 2038 dan Muslim no. 2175)

2.2 Puasa sebagai Latihan Kesabaran

Puasa sering disebut sebagai separuh dari kesabaran. Dalam ibadah ini, seorang Muslim melatih tiga jenis sabar sekaligus: sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar menghadapi takdir Alloh yang terasa berat (rasa lapar dan haus).

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sungguh hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Para ulama menyebutkan bahwa ayat ini mencakup orang yang berpuasa karena mereka adalah orang-orang yang bersabar.

Rosululloh juga menamakan bulan Romadhon sebagai bulan kesabaran:

«صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ، وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، صَوْمُ الدَّهْرِ»

“Berpuasa pada bulan kesabaran (Romadhon) dan tiga hari setiap bulan adalah seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HSR. Ahmad no. 7577)

2.3 Puasa dan Pengendalian Diri

Puasa merupakan perisai yang melindungi seseorang dari gejolak syahwat yang tidak terkendali. Dengan melemahnya kekuatan fisik melalui Puasa, maka keinginan untuk berbuat maksiat pun akan menurun. Ini adalah obat bagi jiwa yang sering mengajak kepada keburukan.

Rosululloh bersabda:

«يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ»

“Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang sudah mampu membiayai pernikahan maka menikahlah, karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena Puasa itu adalah tameng baginya.” (HR. Al-Bukhori no. 5066 dan Muslim no. 1400)

Alloh Ta’ala juga berfirman tentang pengendalian hawa nafsu:

﴿وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Robb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh Jannah-lah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40-41)

2.4 Puasa untuk Membersihkan Hati

Hati yang bersih adalah kunci diterimanya amal. Puasa melatih kejujuran batin karena pelakunya menyadari bahwa Alloh Maha Melihat segala lintasan pikiran dan keinginan hatinya. Dengan Puasa, kotoran-kotoran hati seperti kesombongan dan ketergantungan pada dunia dapat terkikis.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) di hari di mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Alloh dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)

Rosululloh bersabda mengenai pembersihan jiwa melalui ibadah:

«أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ»

“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR. Al-Bukhori no. 52 dan Muslim no. 1599)

2.5 Puasa dan Kepedulian Sosial

Melalui rasa lapar yang dirasakan saat Puasa, seorang Muslim diajak untuk merasakan penderitaan fakir miskin yang seringkali tidak menemukan makanan untuk mengganjal perut mereka. Hal ini akan menumbuhkan rasa syukur atas ni’mat Alloh dan memicu semangat untuk berbagi.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَىْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sungguh Alloh mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imron: 92)

Kedermawanan Rosululloh pun meningkat tajam saat Romadhon. Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma menceritakan:

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ»

“Rosululloh adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi saat bulan Romadhon, ketika Jibril menemui beliau.” (HR. Al-Bukhori no. 6 dan Muslim no. 2308)

Rosululloh juga menjanjikan pahala besar bagi mereka yang memberi makan orang yang berpuasa:

«مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HSR. At-Tirmidzi no. 807)


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url