Cari Artikel

Mempersiapkan...

ADAB MEMBACA AL-QUR’AN MENURUT IBNU TAIMIYYAH

 

6.1 Adab Terhadap Al-Qur’an

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) menjelaskan beberapa adab yang semestinya dimiliki oleh penghafal dan pembaca Al-Qur’an, di antaranya:

6.1.1 Mengamalkan Al-Qur’an

Ini adalah adab yang paling utama, yaitu mengamalkannya dan mengikuti jalan Salafus Sholih dari Shohabat dan Tabi’in.

6.1.2 Menghindari Hasad

Wajib menghindari hasad terhadap sesama penghafal Al-Qur’an atau penuntut ilmu.

Hasad yang tercela (madzmum): Membenci ni’mat yang didapatkan orang lain dan berharap ni’mat itu hilang darinya. Ini adalah dosa besar.

Hasad yang tidak tercela  (disebut juga ghibthoh): Melihat orang lain dalam keadaan baik, lalu berharap mendapatkannya juga tanpa menginginkan ni’mat itu hilang darinya. Rosululloh bersabda:

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَقَامَ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُنْفِقُهُ فِي الْحَقِّ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

“Tidak boleh hasad (dengki) kecuali pada dua hal: kepada siapa yang Alloh anugerahkan Al-Qur’an dan ia membacanya siang dan malam, dan siapa yang Alloh anugerahkan harta dan ia menginfakkannya di jalan kebenaran siang dan malam.” (HR. Al-Bukhori no. 5025)

6.1.3 Memeriksa Diri: Apakah Bagian Kita dari Al-Qur’an Hanya Suara?

Hendaknya seorang Qoori’ (pembaca Al-Qur’an) tidak hanya mendapatkan suara saja dari Al-Qur’an, tanpa pemahaman, tadabbur, atau pengamalan, karena ini termasuk golongan yang dicela.

6.1.4 Memperbanyak Bacaan (Tilawah) Al-Qur’an

Ini bertujuan agar hati tidak keras dan agar tidak terlalu panjang masa meninggalkan Al-Qur’an.

6.1.5 Khosyah (Takut kepada Alloh)

Yaitu, hadirnya rasa takut dan khusyu’ ketika berinteraksi dengan firman Alloh.

6.1.6 Membaca di Tempat yang Disyari’atkan

Tidak boleh membaca di tempat-tempat yang kotor atau najis (seperti tempat mandi umum).

6.1.7 Tidak Mengeraskan Suara (Jahar) Jika Mengganggu

Tidak boleh mengeraskan suara dalam bacaan (meski di Masjid) jika dapat mengganggu orang lain, karena Nabi bersabda, “Janganlah sebagian kalian mengeraskan suara di atas yang lain dalam bacaan, karena sungguh setiap kalian bermunajat kepada Robb-nya.”

6.1.8 Menghindari Menutup Mulut Saat Membaca/Sholat

Ini dilarang karena dapat menghilangkan sebagian huruf dan mengganggu bacaan.

6.1.9 Berwudhu, Bersiwak, dan Bersuci Sebelum Membaca

Hendaknya bersuci, membersihkan mulut dengan siwak, dan berwudhu sebelum membaca Al-Qur’an.

6.1.10 Membaca Ta’awwudz dan Basmalah Sebelum Memulai

Ta’awudz merupakan anjuran. Sebagian ulama berpandangan wajib di dalam Sholat. Basmalah juga Sunnah, tetapi sebagian ulama berpandangan wajib di dalam Sholat pada Al-Fatihah.

6.2 Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an adalah sebab mendapatkan Syafa’at. Rosululloh bersabda tentang Suroh Al-Baqoroh dan Aali ‘Imron:

يُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا

“...yang akan membela orang yang membacanya.” (HR. Muslim no. 804)

Membaca Al-Qur’an adalah jamuan Alloh.

Mengulang-ulang Ayat untuk Tafakkur. Dibolehkan mengulang-ulang ayat untuk tafakkur (merenungkan maknanya), karena Nabi sendiri pernah mengulang-ulang satu ayat, firman Alloh:

إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sungguh mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sungguh Engkau adalah Al-’Aziiz (Mahaperkasa) lagi Al-Hakiim (Mahabijaksana).” (QS. Al-Maaidah: 118)

Dianjurkan menangis dan khusyu’ saat membaca.

Menghindari menamatkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. Ini makruh (dibenci) karena dapat menghilangkan tadabbur dan tafakkur terhadap makna ayat.

6.3 Hukum Meninggalkan Al-Qur’an dan Melupakan Ayatnya

Hukum Melupakan Al-Qur’an. Melupakan Al-Qur’an adalah dosa. Maksud melupakan di sini adalah meninggalkannya (tidak mengamalkan dan tidak lagi mengingat apa pun darinya).

Larangan berkata, “Aku melupakan ayat ini..” Nabi bersabda:

بِئْسَمَا لأَحَدِكُمْ أَنْ يَقُولَ نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ بَلْ هُوَ نُسِّيَ

“Alangkah buruknya perkataan seseorang di antara kalian, ‘Aku melupakan ayat ini dan ini.’ Tetapi, ia dilupakan.” (HR. Al-Bukhori no. 5032 dan Muslim no. 790)

Nabi mengajarkan agar menggunakan kalimat “Aku dilupakan” (nussiya), yaitu dilupakan oleh Syaithon, bukan menggunakan kata “Aku melupakan” (nasiitu) yang mengandung unsur kesengajaan.


 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url