Cari Artikel

Mempersiapkan...

Nuzul (Turun) Alloh ke Langit Dunia Menurut Ibnu Taimiyyah

 

Dalam Shohihain (kitab shohih Al-Bukhori dan Muslim) dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Robb kita turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: ‘Siapa yang berdo’a kepada-Ku, maka Aku kabulkan do’anya. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku berikan permintaannya. Siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku ampuni dia’” (HR. Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no. 758)

Hadits ini diriwayatkan dari Nabi oleh sekitar 28 orang Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, dan Ahlus Sunnah telah bersepakat untuk menerimanya dengan penuh penerimaan.

Turun-Nya Alloh ke langit dunia termasuk sifat fi’liyyah (sifat perbuatan) yang berkaitan dengan kehendak dan hikmah-Nya. Dan ia adalah turun yang hakiki yang layak dengan kebesaran dan keagungan-Nya.

Tidak benar menyelewengkan maknanya menjadi turunnya perintah-Nya, rohmat-Nya, atau Malaikat dari Malaikat-Nya. Sungguh ini bathil dari beberapa sisi:

1. Bertentangan dengan zhohir (makna lahiriah) Hadits.

Karena Nabi menyandarkan turun itu kepada Alloh, dan asalnya sesuatu disandarkan kepada yang melakukannya atau yang melekat padanya. Jika dipalingkan kepada selainnya, maka itu adalah tahrif (penyelewengan) yang menyalahi asal.

2. Penafsiran seperti itu menuntut adanya kata yang dibuang (mahdzuf) dalam kalimat, padahal asalnya adalah tidak ada penghapusan.

3. Turunnya perintah-Nya atau rohmat-Nya tidak dikhususkan pada bagian malam ini, bahkan perintah dan rohmat-Nya turun setiap saat.

Jika dikatakan: “Yang dimaksud adalah turunnya perintah khusus atau rohmat khusus, maka ini tidak harus terjadi setiap saat.”

Jawabannya: Seandainya pun perkiraan dan ta’wil (penyelewengan makna) ini benar, Hadits ini menunjukkan bahwa batas akhir turunnya sesuatu ini adalah langit dunia.

Dan apa manfaatnya bagi kita dengan turunnya rohmat ke langit dunia sampai Nabi mengabarkannya kepada kita?!

4. Hadits ini menunjukkan bahwa Dzat yang turun itu berfirman: “Siapa yang berdo’a kepada-Ku, maka Aku kabulkan do’anya. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku berikan permintaannya. Siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku ampuni dia.” (HR. Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no. 758)

Dan tidak ada yang bisa mengatakan itu kecuali Alloh subhanahu wa ta’ala.

Menggabungkan Nash-Nash ‘Uluw Alloh dengan Dzat-Nya dan Nuzul-Nya ke Langit Dunia

Fashl (Subbagian)

Uluw Alloh adalah sifat dzatiyyah yang tidak mungkin terpisah dari-Nya.

Ia tidak bertentangan dengan apa yang datang dalam nash-nash tentang nuzul (turun)-Nya ke langit dunia. Penggabungan antara keduanya dari dua sisi:

1. Nash-nash telah menggabungkan keduanya, dan nash-nash tidak datang dengan hal yang mustahil, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

2. Alloh tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dalam semua sifat-Nya, maka turun-Nya tidak seperti turunnya makhluk sehingga dikatakan bertentangan dengan ‘Uluw-Nya dan kontradiktif.

Wallahu a’lam.


 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url